
Kriiiing..!
Kriiiing..!
Seorang lelaki paruh baya segera merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponselnya.
Ketika melihat siapa yang menelepon, dia segera menjawab panggilan tersebut dan berkata, "hallo ketua!"
"Paman Ameng. Bagaimana kabar mu, Paman?" Tanya sang penelepon.
"Kabar ku dan semuanya baik. Bagaimana dengan kuliah anda, ketua?" Tanya lelaki paruh baya yang ternyata adalah Ameng tersebut.
"Panggil dengan nama saja, Paman! Joe saja cukup! Kuliah ku baik dan lancar," ternyata di si penelepon adalah Joe.
"Baguslah kalau begitu. Tapi.., ada apa kau menelepon, Joe?"
"Paman. Aku ingin bertanya beberapa hal kepada anda. Apakah anda mengenal orang yang bernama Panjol?"
"Panjol? Apakah dia ada mengusik mu?" Tanya Ameng buru-buru.
"Tidak, Paman. Kenal saja tidak. Bagaimana dia bisa mengusik ku? Hanya saja, aku sedang memiliki sedikit gesekan dengan Putranya. Saat ini, Putranya sedang patah kaki oleh ku. Jika paman tau informasi tentang Panjol ini, tolong terangkan kepada ku siapa orang ini!"
"Joe! Panjol ini adalah bekas anak buah Ronggur. Setelah orang-orang ini dulu berhasil kami basmi dari kota Kemuning, beberapa orang yang tersisa mulai berdiri sendiri-sendiri dan mendirikan usaha mereka sendiri-sendiri pula. Mereka ini hanya menunggu Marven bebas untuk kembali memulai gebrakan baru. Berulang kali kami ingin membantai mereka. Hanya saja, Ayah mu, yaitu Tuan besar Jerry William tidak mengizinkan. Selain Panjol ini, masih ada ratusan orang lagi yang saat ini menunggu waktunya Marven bebas. Mereka ini adalah bekas anak buah Ronggur, sisa-sisa dari geng tengkorak dan kucing hitam," jawab Ameng.
"Mereka ini sangat berbahaya sekali, Paman. Apa tujuan Ayahku melarang ya?" Tanya Joe yang lebih kepada dirinya sendiri.
"Ayah selalu begitu. Nanti yang susahnya menjadi bagian ku," keluh Joe dengan kesal.
"Apakah kau lupa tujuan mu berguru ke sana dan kemari? Kau itu adalah penerus. Jika semuanya harus diselesaikan oleh ayah mu, maka apa lagi yang bisa kau lakukan? Kau dipersiapkan untuk menjadi seorang Tuan muda yang handal. Bukan cengeng dan suka mengeluh!" Ameng memberanikan diri menegur atasannya ini.
"Hehehe. Oh ya, Paman. Bagaimana dengan izin untuk menjadikan pantai Kuala Nipah sebagai pusat rekreasi? Apakah sudah mendapatkan izin dari pemerintah setempat?"
"Bang Tigor sudah memegang izin dari pemerintah setempat. Siapa yang tidak kenal dan menyegani bang Tigor? Proyek itu di jangka akan selesai empat tahun. Kita akan menyulap lokasi pantai Kuala Nipah menjadi pantai yang memiliki daya tarik bagi pelancong,"
"Bagus, Paman! Aku memiliki cita-cita untuk berinvestasi di Kuala Nipah, Indra sakti, sampai ke Tasik Putri. Jika itu terwujud, Epic Town akan berdiri dengan megahnya. Kita akan mengerjakan Site plan nya bersama-sama!" Ujar Joe dengan sangat bersemangat.
"Butuh biaya yang sangat besar dan waktu yang lama, Joe. Belum lagi hadangan dari pesaing lainnya. Jika merujuk kepada persaingan dan permusuhan antara keluarga mu dan keluarga Miller, aku merasa bahwa mereka pasti akan sedaya upaya untuk menghalang-halangi usaha mu ini!" Kata Ameng memperingatkan.
"Harus berani mengambil resiko, Paman! Jika tidak berani mengambil resiko, maka segala sesuatunya tidak akan menjadi. Ada atau tanpa proyek tersebut, mereka juga adalah musuh yang nyata bagi kita. Yang bisa kita lakukan adalah, untuk mencegah taktik kotor mereka. Kemungkinan, ini tidak akan sesederhana yang kita bayangkan. Untuk itu, aku sudah siap rugi, Paman!" Kata Joe dengan mantap.
"Segala sesuatunya telah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan mereka. Begitu Marven bebas, bang Tigor telah mempersiapkan mata-mata yang akan kita susupkan di sana! Dia adalah Karman. Hanya saja, aku mohon kepada mu untuk menjaga keluarga Karman ini. Andai ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, setidaknya keluarganya mendapat jaminan untuk hidup layak dimasa depan!"
"Paman jangan khawatir. Setelah Karman ini bergerak, kita juga harus bergerak cepat untuk mengamankan keluarganya. Bila perlu, aku akan memindahkan mereka ke Starhill!"
"Baiklah, Paman! Aku akan berangkat dulu ke kampus. Oh ya?! Sabtu-Minggu aku tidak bisa diganggu! Aku memiliki kegiatan amal. Paman Tigor dan yang lainnya sudah cukup untuk meninjau proyek Tower Sole propier," kata Joe mengakhiri panggilan.
Setelah panggilan telepon seluler tersebut berakhir, Joe pun segera bersiap-siap untuk berangkat menuju ke kampus dengan mengendarai sepeda motor Vespa antik miliknya.
Bersambung...