
Beberapa orang lelaki yang diketahui adalah orang-orang yang biasa menagih hutang dari koperasi simpan pinjam Kuala Nipah akhirnya tiba juga sore itu di rumah pak Madun.
Mereka jelas ditugaskan oleh Tuan Kim yang langsung mendapat perintah dari Honor untuk menekan Keluarga miskin ini karena berbagai alasan.
Alasan pertama adalah, Honor kini telah menjadi budak cinta untuk Tiara. Yang kedua, Tiara dengan idea dan gagasannya sangat berbahaya bagi pabrik milik Keluarga Miller didekat jembatan Tasik Putri. Yang ketiga, mereka ingin menguasai seluruh aset milik pak Madun. Dengan begitu, kesempatan untuk mengembangkan Mega proyek di Kuala Nipah terbuka lebar.
Setelah berbasa-basi basi sejenak, akhirnya Pak Madun, sekeluarga berangkat juga ke kantor koperasi simpan pinjam Kuala Nipah untuk menemui Tuan Kim.
Seperti biasa. Sesampainya di kantor koperasi tersebut, pak Madun tetap disambut baik oleh Tuan Kim dengan senyum khasnya yang licik.
Pak Madun juga membalas senyuman itu dengan senyuman pula, walau dia tau bahwa itu hanyalah basa-basi belaka.
"Selamat datang, Pak Madun! Senang bertemu dengan anda lagi," ujar Tuan Kim sambil menjabat tangan lelaki paruh baya itu.
"Terimakasih Pak Kim. Tapi, sekali lagi saya minta diberi waktu. Saya akan mengusahakan pembayaran cicilan hutang saya di koperasi ini," mohon Pak Madun memelas.
"Ah. Itu bisa kita bicarakan nanti. Oh ya, apakah ini anak gadis anda?" Tanya Tuan Kim dengan mata jelalatan memandangi sosok langsing Tiara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan dari Tuan Kim ini jelas membuat Tiara merasa tidak nyaman.
"Silahkan duduk, Pak Madun!" Kata Tuan Kim mempersilahkan tamunya tersebut untuk duduk.
Pak Madun memperhatikan di sekitar ruangan itu. Dia melihat, tidak kurang dari 12 orang lelaki berbadan tegap dengan tampang yang sangat dingin.
Pak Madun pun segera duduk, walau dalam hatinya merasa sungguh tidak enak.
"Tuan. Saya sudah datang dengan membawa keluarga saya," kata Pak Madun.
"Ah. Anda sepertinya tidak betah di sini. Bukankah dulu ketika anda meminjam uang, anda terlihat sangat nyaman? Anda bahkan menemani saya mengobrol sambil meminum teh China. Sekarang mengapa anda berubah?" Sindir Tuan Kim sambil tetap tersenyum.
Melihat Pak Madun hanya diam saja, Tuan Kim pun melanjutkan. "Baiklah. Sama seperti anda. Saya juga tidak ingin berbasa-basi lagi.
"Begini, Pak Madun. Anda sudah absen membayar cicilan hutang anda selama tiga bulan berturut-turut. Apakah anda tau berapa tunggakan hutang anda? Anda dapat membacanya di dalam surat perjanjian. 7,5% bunga. Dan jika anda tidak membayar tiga bulan berturut-turut, anda bisa dikenakan kenaikan bunga menjadi 15%. Dan anda menyetujui itu. Jadi, bukan salah kami. Bagaimana cara anda menjelaskan hutang tersebut?" Tanya Tuan Kim yang tiba-tiba berubah ekspresi.
Semakin bungkam Pak Madun. Dia sama sekali tidak mampu menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh Tuan Kim tadi.
"Begini saja, Pak Madun. Saya bisa menangguhkan hutang anda dan mengembalikan suku bunga menjadi 7% saja. Asalkan..,"
"Asalkan apa, orang bermata sipit?" Bentak Tiara yang sejak tadi hanya diam saja.
"Sangat galak. Pantas saja Tuan besar kami menaruh hati kepada anda," kata Tuan Kim berusaha untuk memegang dagu Tiara. Akan tetapi, sebelum tangan kotor itu sampai ke tujuan, sebatang rokok yang masih berasap melesat ke arah wajah Tuan Kim membuat lelaki itu kelabakan.
Kini Tuan Kim mengalihkan perhatian ke arah pintu. Dan dia sangat terkejut begitu melihat seorang pemuda berpakaian blazer berwarna putih berdiri menatapnya bagaimana ingin memangsa.
"Aku belum pernah melihat orang yang bosan hidup seperti kamu itu, Kim! Apakah kau sudah bosan memiliki sepasang tangan?" Bentak pemuda itu dengan tatapan berapi-api.
"Oh. Ampun. Maafkan saya, Tuan besar. Saya mengaku salah. Mohon berikan hukuman!" Kata Tuan Kim berlutut.
Begitu melihat Tiara yang sangat cantik, mendadak wajah tegang pemuda tadi berubah drastis. Dia segera tersenyum sambil berkata, "maafkan bawahan ku yang kurang ajar ini!"
"Kau Kim! Jika kau tidak meminta maaf, aku pastikan akan mematahkan sebelah tangan mu!" Ancam pemuda tadi, membuat Tuan Kim ketakutan.
"Maafkan saya, Nona. Saya sudah terlalu lancang!" Kata Tuan Kim sambil merapatkan kedua tangannya di depan dada.
Tiara hanya membuang muka melihat Tuan Kim yang sangat kurang ajar. Dia tidak berkata sedikitpun juga.
"Perkenalkan. Saya adalah Honor Miller. Kepala keluarga Miller. Apakah saya sedang berhadapan dengan Pak Madun?" Tanya pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.
Pak Madun juga menyambut uluran tangan pemuda tadi sambil mengangguk canggung.
"Berbicaralah! Mengapa kau masih berlutut seperti orang lumpuh? Ayo bicara! Seperti apa masalah antara pak Madun ini dengan koperasi yang kau pimpin?!" Kata pemuda bernama Honor Miller itu.
"Begini Tuan besar. Pak Madun ini memiliki hutang sebesar 500 juta di koperasi Kuala Nipah ini. Hanya saja, dia tidak mampu untuk membayar," jawab Tuan Kim masih ketakutan. Entah itu benar ketakutan atau hanya sandiwara saja.
"Tidak mampu membayar? Jika tidak mampu untuk bayar, seharusnya bapak berfikir dulu sebelum meminjam. Begini saja. Saya mengetahui kegiatan putri bapak selama ini. Saya bisa saja menyita seluruh aset milik bapak sesuai dengan surat perjanjian. Begitu pula dengan keluarga yang lainnya. Terhitung lebih dari seratus rumah tangga yang akan aku usir hari ini, dan seluruh aset milik mereka aku sita. Dengan begitu, perkampungan Kuala Nipah ini akan menjadi perkampungan mati. Kecuali jika bapak dan putri bapak ini mau diajak kerjasama, maka saya bisa berkompromi," kata Honor Miller.
"Bekerjasama seperti apa yang anda maksudkan, Tuan?" Tanya Pak Madun.
"Jujur saja. Tidak sulit bagiku untuk mencelakai putri bapak ini. Hanya saja, dia terlalu cantik untuk disakiti. Begini saja. Aku menawarkan kepada bapak dan seluruh warga Kuala Nipah ini keringanan asalkan putri bapak ini mau menjadi kekasih ku!" Kata Honor tanpa rasa malu.
"Ayah. Aku tidak sudi dengan bajingan ini!" Berang sungguh hati Tiara mendengar perkataan tak tau malu dari Honor barusan.
"Aku memberimu waktu dua puluh empat jam untuk berfikir. Jika tidak, semua orang di kampung ini yang memiliki tunggakan hutang kepada koperasi akan di usir dan harta mereka akan di sita. Aku Honor Miller, tidak pernah main-main dengan apa yang sudah aku ucapkan. Sekarang, serahkan bukti penyelidikan mu kepada ku. Jika tidak, bayar cicilan kalian sekarang juga!" Tegas Honor yang terkenal tidak sabaran.
"Ayah!" Kata Tiara sambil memandang ke arah sang ayah.
"Anak ku. Kita tidak mempunyai pilihan. Serahkan saja bukti penelitian mu. Mulai besok, berhentilah kuliah. Ayah sudah tidak mampu lagi membiayai pendidikan mu," kata Pak Madun dengan lesu.
Ada riak kekecewaan di wajah Tiara mendengar perkataan dari ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan memang serba payah untuk saat ini. Mereka bahkan tidak punya pilihan.
"Serahkan, atau kalian gulung tikar dari kampung ini!" Pinta Honor lagi.
Dengan tangan bergetar, Tiara menyerahkan beberapa lembar kertas yang dia keluarkan dari tas miliknya, lalu Tiara menyerahkan juga satu botol kecil berisi cairan kepada Honor. Dan itu adalah sampel penelitian yang mereka lakukan di laboratorium terhadap limbah pabrik yang dikelola oleh Keluarga Miller.
Dengan tersenyum manis, Honor menerima pemberian dari Tiara tadi, lalu berkata. "Tawaran ku masih berlaku. Jadilah wanita ku, maka kau akan hidup senang. Jangan pikirkan ego mu. Pikirkan juga nasib orang-orang disekitar mu!"
"Sita ponsel mereka, lalu awasi selama 24 jam. Aku di sini untuk menunggu jawaban dari mu, Tiara!" Kata Honor lagi. Kemudian, dengan berlagak ramah, dia mempersilahkan pak Madun dan Tiara untuk kembali ke rumah mereka. Kali ini, Tuan Kim yang menjadi kacung yang bertugas mengantar kedua anak dan ayah itu kembali ke rumah mereka.
Bersambung...