
"Tuan muda. Rombongan Ryan saat ini sudah berada di MegaTown." Lapor seorang lelaki setengah baya berkulit hitam kepada seorang pemuda berusia delapan belas tahun yang juga berkulit hitam. Bahkan lebih hitam lagi dari lelaki setengah baya tadi.
"Wah. Aku tidak menduga mereka ini bernafsu besar. Senior Black, apakah Leo ada memberitahu hal yang lain selain tentang rombongan Paman Ryan ini?"
"Ada Tuan muda. Tadi siang, adik dari Adolf Miller yaitu Rudolf memaksa Tuan besar dari keluarga Miller itu untuk memisahkan asetnya kemudian ingin memisahkan diri sepenuhnya dari perusahaan Arold Holding Company. Dia juga ingin menjual saham miliknya sebesar 30%. Hanya saja, terkait regulasi di perusahaan yang memungkinkan Rudolf Miller ini tidak bisa dengan bebas menjual sahamnya kepada orang luar sebelum mendapatkan persetujuan dari dewan direksi. Sementara Adolf ini masih mengulur-ulur waktu membuat Rudolf terus mendesak agar saham miliknya itu bisa dia lepaskan ke siapapun yang berminat "
"Menurut laporan, Rudolf ini akan datang lagi bulan depan dan masih membawa permasalahan yang sama. Saya menduga, dengan keculasan dan kelicikan yang dimiliki oleh Adolf ini, kemungkinan terbesar adalah, dia membunuh adiknya ini. Itu salah satu kemungkinan yang terbesar." Kata Black menjelaskan.
"Oh. Ternyata ada juga masalah internal di tubuh keluarga Miller ini. Baru aku tau. Tapi kita tidak boleh berharap bahwa kita bisa mengambil keuntungan dari masalah mereka ini. Bagaimanapun, aku khawatir bahwa ini juga adalah suatu jebakan untuk kita."
"Benar sekali Tuan muda. Saya juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, jika di dalam tubuh keluarga Miller ini sedang terjadi perpecahan, apa rencana anda selanjutnya?" Tanya Black.
"Kita tunggu dan lihat saja. Pelajari dulu tentang keretakan hubungan antara Adolf dan Rudolf Miller ini. Jika kemungkinan yang Senior katakan tadi adalah kemungkinan terbesarnya, maka kita harus bersiap sedia untuk menanam Budi. Buat seolah-olah Rudolf ini berhutang budi kepada kita. Perhatikan setiap pergerakan dari Rudolf ini. Jika benar bahwa Adolf ingin menyingkirkan adiknya itu, maka kita harus bersiap-siap untuk menggagalkan rencana itu!"
"Maksudnya? Apakah kita harus menolong Rudolf ini?" Tanya Black inginkan kepastian.
"Benar. Hanya dengan begitu kita baru bisa mengetahui sampai di mana keretakan hubungan mereka ini. Tapi untuk saat ini, jangan pedulikan mereka. Kita fokus saja dulu terhadap apa yang telah kita rencanakan. Terutama, apa tanggapan dari Paul ketika melihat bahwa posisinya telah digantikan oleh Paman Ryan, Riko dan Arslan. Setelah itu, kembali merencanakan bagaimana caranya agar Frank dan Diana Regnar ini berhasil disingkirkan dari perusahaan mereka."
"Sebagai Tuan rumah di negaranya sendiri, aku tidak ingin ada perusahaan lain yang masuk ke sini dengan petantang-petenteng ingin menguasai pasar bisnis di negara kita ini. Fokus ku saat ini adalah mengusir mereka dari MegaTown, lalu menarik minat mereka ke Indonesia. Di Indonesia nanti kita hancurkan mereka sampai tak kenal wujud."
"Baiklah Tuan muda. Saya akan melakukan penyelidikan lagi tentang perselisihan antara keluarga ini sebelum anda mengambil kesimpulan." Kata Black.
"Terimakasih senior Black." Kata pemuda itu yang di balas anggukan oleh Black.
*********
Kini di MegaTown, rombongan Ryan, Riko dan Arslan baru saja tiba di komunitas elite real estate MegaTown.
Dari dalam rumah besar itu, tampak beberapa staf telah berkumpul menunggu kedatangan tiga orang lelaki yang cukup memiliki pengaruh sebenarnya di Starhill itu.
Adolf Miller. Kepala keluarga Miller sendiri bahkan sampai turun sendiri untuk menyambut kedatangan rombongan Ryan ini.
Dia dengan senyum yang sangat antusias bahkan sempat terlihat beberapa kali bertepuk tangan ketika salah satu dari ketiga lelaki itu turun dari mini bus tersebut.
Mendengar ini, Leo hanya bisa tersenyum kepada Ryan. Namun, hanya mereka saja yang tau apa arti dari senyuman itu.
"Ah. Ternyata Tuan Adolf adalah orang yang sangat ramah sekali. Sungguh saya tidak menduga bahwa Tuan Adolf yang terkenal itu rela menunggu kedatangan kami. Saya merasa sangat terhormat." Kata Ryan sambil menjabat tangan Adolf Miller kemudian diikuti oleh Riko dan Arslan.
"Hahaha. Anda bisa saja memuji." Kata Adolf Miller dengan cuping hidung kembang-kempis.
"Oh ya. Mari silahkan. Mari silahkan masuk ke gubuk saya!" Kata Tuan Adolf Miller berusaha merendah lalu mendahului untuk melangkah yang kemudian diikuti oleh Ryan, Riko dan Arslan.
"Mari silahkan duduk Tuan Ryan, Tuan Riko dan Tuan Arslan!" Kata Adolf Miller mempersilahkan.
"Perkenalkan. Ini adalah asisten saya bernama Douglas dan yang ini adalah Jacky. Saya memiliki seorang lagi asisten. Namun saat ini sedang berada di Indonesia. Tepatnya kota Tasik Putri." Kata Adolf.
"Hallo Tuan Ryan. Senang bertemu dengan anda." Kata Douglas dan Jacky sambil menyalami mereka bertiga segara bergantian.
"Yang ini mungkin anda sudah saling kenal. Tapi tidak apa. Saya akan memperkenalkan sekali lagi. Ini adalah Tuan Frank dan adik perempuan nya bernama Diana. Mereka ini dari keluarga Regnar." Kata Adolf kembali memperkenalkan.
"Sudah lama tak bertemu dengan anda Paman Frank dan Bibi Diana. Bagaimana dengan kabar kalian akhir-akhir ini?" Tanya Ryan.
"Kabar kami pastinya tidak lebih buruk dari kalian yang tersingkir dari perusahaan Future of Company yang kalian perjuangkan itu." Kata Diana menyela.
"Harap jaga tutur bahasa anda Bibi Diana. Jika bukan karena wajah Kenny, sudah ku hancurkan kalian ini." Kata Riko yang sangat mudah tersulut emosi.
"Riko..!" Tegur Aslan membuat Riko kembali duduk di kursinya.
"Kata-kata orang tua yang sudah dekat pintu kubur ini terlalu menyakitkan hati ku kak!" Kata Riko sambil mendengus.
"Hahaha. Sakit hati? Sakit hati seperti apa yang kalian alami sekarang ini juga aku rasakan puluhan tahun yang lalu. Bahkan sampai saat ini aku masih merasa sakit. Mengapa harus marah jika kenyataannya kalian memang orang-orang yang tersingkir?!" Kata Diana.
"Ah. Sudah! Jangan seperti ini. Kali ini kita bukan untuk membahas masa lalu. Tujuan ku ini adalah untuk membahas tentang masa depan. Mari kita bersama-sama melupakan yang telah terjadi lalu sama-sama menyongsong masa depan yang lebih baik." Kata Adolf berusaha untuk melerai dan meredakan amarah Riko.
"Maafkan sahabat saya ini Tuan Adolf. Dia memang seperti ini sejak dari dalam perut. Tapi jenis-jenis orang seperti Riko ini sangat dibutuhkan dalam sebuah organisasi. Karena, kekuatan otak ku tidak akan bisa diimplementasikan tanpa kekuatan otot dari Riko ini dan juga tidak akan terealisasi tanpa adanya nasehat bijak dari saudara tua saya yaitu Kak Arslan ini. Sayang kami kurang satu lagi. Jika kami berempat, jangankan dunia bisnis. Lautan pun bisa kami surutkan airnya. Tentunya ketika air laut pasang, akan meluap lagi." Kata Ryan bermain dengan kata-kata.