Joe William

Joe William
Tugas untuk Namora



"Bang. Irfan saat ini sedang berada di kota Batu mencari keberadaan Panjol. Aku tidak tau apa yang ingin dia tugaskan kepada Panjol ini. Hanya saja, aku mendengar bahwa dia sangat membutuhkan Panjol. Minimal dia menemukan Dhani,"


Tigor tampak serius membaca isi pesan teks pada ponselnya. Sejenak dia berpikir sambil mengurut dagunya.


Seorang wanita paruh baya segera menghampiri dan duduk di sampingnya. "Ada apa bang? Abang terlihat seperti sedang berpikir keras?!"


"Abang masih bingung, Sayang. Coba baca isi pesan ini!" Kata Tigor sambil menyodorkan ponselnya kepada wanita itu.


"Oh. Ini. Mengapa tidak Abang lepaskan saja si Panjol itu?"


"Kau jangan main-main, Mirna! Kalau Panjol dilepaskan dan dibiarkan bergabung kembali dengan Irfan, mereka pasti akan membentuk kekuatan dan akan melawan ku sekali lagi," tegas Tigor.


"Tapi kan orang itu telah bersumpah tidak akan melawan mu lagi."


"Tidak bisa. Sebelum semuanya tuntas, mereka tidak boleh dilepaskan!" Tegas Tigor.


"Lalu, bagaimana Abang bisa tau apa tujuan dari Irfan mencari Panjol?"


"Dia masih punya anak. Aku akan menyuruh Namora untuk menemui anaknya itu. Semuanya pasti akan terjawab!" Kata Tigor sambil meminta kembali ponselnya yang masih dipegang oleh Mirna untuk menghubungi putranya di Kota Batu.


Tut... Tut... Tut..!


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya panggilan yang dia lakukan pun tersambung.


Dari ujung sana, terdengar suara dingin seorang pemuda mengucapkan kata 'Hallo'.


"Hallo Ayah!"


"Namora. Di mana kau saat ini nak?" Tanya Tigor.


"Namora saat ini sedang berada di rumah. Apakah ada sesuatu yang bisa Namora kerjakan untuk ayah?"


"Ada!" Jawab Tigor dengan spontan. "Begini. Kau temui anak Panjol bernama Dhani. Suruh dia mengaktifkan handphone nya. Lalu, cari tau apa yang diinginkan oleh orang bernama Irfan kepada Dhani itu. Setelah itu, segera laporkan kepada ayah. Apa kau bisa?"


"Namora lebih dari bisa, Ayah!" Jawab pemuda itu tegas.


"Bagus. Kau boleh menemuinya. Tapi jangan pancing keributan. Sudah pasti dia tidak akan melawan!"


"Iya. Namora tidak suka mendahului. Namora pergi dulu kalau begitu, Ayah!" Kata Namora yang langsung mengakhiri panggilan.


"Aku merasa bahwa semua ini ada hubung kaitannya dengan Joe yang tiba-tiba menyaksikan pertemuan di Villa milik Birong," ujar Tigor kepada istrinya.


"Bukankah Abang yang bilang kalau Karman ada memberitahu bahwa Butet menghilang. Apa mungkin?" Kata Mirna pula.


"Bisa jadi. bagaimanapun Butet adalah satu-satunya ahli waris dari Birong. Huhf... Makin rumit saja dunia ini! Dari Irfan yang tidak pulang ke kompleks elite Tasik Putri, sampailah pada menghilangkannya Butet. Jika benar dia membangunkan kembali geng Tengkorak, ini akan lebih rumit daripada Marven membangun kembali geng kucing hitam. Karena, walau bagaimanapun, aku masih punya nama di geng kucing hitam. Tapi lain halnya dengan geng tengkorak. Mereka memiliki dendam kepada ku. Joe harus segera diberitahu tentang masalah ini!" Tegas Tigor.


(Untuk mengetahui tentang semua cerita perselisihan antara Tigor dengan Geng Tengkorak, BACA KARYA SAYA YANG BERJUDUL Black Cat!)


*********


Sepeda motor Yamaha R1 melaju kencang meninggalkan perumahan dinas kepolisian kota batu menuju ke satu arah, yaitu Kampung Baru yang juga masih termasuk dalam wilayah kabupaten Kota Batu ini.


"Kau mau kemana, Namora?" Tanya pemuda yang meminta penunggang sepeda motor Yamaha itu tadi untuk berhenti.


"Ada apa Jericho? Aku buru-buru. Kau telah mengganggu perjalanan ku!" Bukannya menjawab, pemuda bernama Namora tadi langsung bertanya dengan suara dingin.


"Aku hanya bertanya. Kali aja bisa memberikan bantuan," jawab pentolan dari anak-anak J7 itu memaksakan untuk tersenyum.


"Apakah aku butuh? Dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah butuh kepada kalian. Minggir, atau aku tabrak!"


"Ya sudah. Silahkan Tuan muda!" Kata Jericho sambil merentangkan tangannya mempersilahkan Namora untuk pergi.


Begitu mendapat jalan, Namora langsung memacu kembali kendaraannya sambil diperhatikan oleh Jericho, Jaiz, Juned, James, dan yang lainnya.


"Untuk apa kau berbasa-basi dengan manusia salju itu? Buang-buang waktu saja!" Cibir Jaiz kepada Jericho yang baru saja mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari Namora.


"Kasihan, Namora. Dia semakin dingin saja," Jericho sama sekali tidak memperdulikan ejekan dari Jaiz. Karena, dia tahu benar mengapa Namora bisa menjadi sedingin itu.


Namora ini dulunya adalah anak yang periang dan suka bergaul. Tapi, sifatnya berubah dingin karena selalu mendapat penghinaan dari teman-temannya yang selalu mengatakan bahwa dia adalah seorang anak penjahat. Dan Ayahnya bahkan ditangkap polisi dan dipenjara. Hal itu yang membuat Namora ini menjadi pendiam, tidak suka bergaul, dan pada akhirnya, dia mencap bahwa semua orang sama saja. Dia akan selalu dingin kepada siapa saja.


Dulu, Namora pernah suka kepada seorang gadis yang sebaya dengannya. Tapi, pada akhirnya, dia hanya dikerjai saja. Gadis itu tidak benar-benar suka kepadanya. Dia mendekati Namora hanya karena ingin memenangkan pertaruhan dengan teman-temannya yang menantang jika dia bisa mendapatkan hati Namora, maka dia akan di traktir makan satu bulan penuh. Dan itu gratis. Setelah Namora suka kepadanya, dan dia memenangkan pertaruhan itu, dia malah menghina Namora dengan kata-kata yang sangat kesat. Itu terjadi ketika Namora masih duduk di bangku Sekolah menengah atas.


"Kau kan tau kisahnya. Lalu, kenapa masih heran?" Marah Juned kepada Jaiz.


"Aku bukannya tidak tau. Tapi, dia memandang semuanya sama. Kita ini dari sekolah dasar tidak pernah berbuat kasar kepadanya. Tapi, dia memperlakukan orang seperti sama rata. Itu tidak adil,"


"Sudahlah. Setidaknya, jika tidak ada dia, kau dulu pun bisa mati oleh Dhani. Gaya mu sok berani mengata-ngatai Namora. Kalau dia tau, pindah tuh muncung mu ke pantat!" Ejek James pula.


"Masih ada Joe yang akan membela ku!" Jaiz tetap tidak mau kalah.


"Tahi kucing. Siapa dirimu? Joe itu jauuuuuuh sekali di atas. Beruntung dulu kita tidak jahat kepadanya. Kalau jahat, niscaya kita sudah dibuat botak oleh keusilannya,"


"Eh. Tapi apa kalian tau? Merisda ingin mendekati Namora lagi,"


"Hahaha. Itu baru berita lucu. Kalau dulu Merisda bisa menghina Namora, sekarang jauh panggang dari api. Xenita Patrik saja yang super duper kaya, bintangnya kampus, punya segalanya, dan memiliki keakraban khusus dengan Joe pun masih tidak digubris oleh Namora. Merisda kata mu? Bahkan, jika Xenita Patrik jatuh ke lumpur pun, masih tidak kalah cantik dengan Merisda. Apa lagi sama-sama berdandan. Merisda akan tinggal jauh di belakang, dan akan diasapin oleh Xenita Patrik," ejek Jericho.


"Benar kata mu. Apa lagi Namora pernah terluka oleh Merisda. Tidak dicelakai saja oleh Namora, dia seharusnya sudah bersyukur!" Timpal Juned pula.


"Sudah lah. Jangan ikut campur masalah mereka. Jadi lah penonton yang baik dan budiman!"


"Hahaha. Kau benar, Jerico. Ayo lah kita pergi. Dari tadi di sini terus. Aku muak melihat muka Jaiz ini,"


"Sialan kau James!"


"Hahaha...!"


Mereka tertawa cekikikan melihat raut wajah Jaiz yang mendadak berubah seperti wajah kambing bandot yang dicuekin oleh kambing betina.


Bersambung....