Joe William

Joe William
Penyergapan di depan kantor



Bangunan tujuh lantai itu tampak berdiri angkuh dengan segala kemewahannya. Siapa pun di Garden Hill bagian barat ini tau bahwa bangunan itu adalah kantor besar milik perusahaan Future of Company cabang Garden Hill ini.


Bangunan ini telah selesai sekitar tiga bulan yang lalu dan baru selesai di renovasi sekitar seminggu yang lalu dengan rencananya, di bangunan ini lah nantinya akan bermarkas perusahaan raksasa bernama Future of Company beserta anak perusahaan lainnya termasuk Jewel Star cabang Garden Hill, Tower Sole propier cabang Garden Hill, Future steel Company cabang Garden Hill, Lotus Global Corporate cabang Garden Hill dan juga sebuah perusahaan Garden Company yang saham mayoritas di perusahaan itu adalah milik Tuan muda dari keluarga William yaitu pemilik perusahaan Future of Company.


Di depan dan bagian dalam bangunan ini tampak tertata rapi dengan berbagai pernak-pernik dan dekorasi yang indah. Hal ini menandakan bahwa akan ada acara yang akan di adakan di dalam bangunan ini tidak lama lagi.


Ya benar. Malam ini, akan ada acara peresmian kantor besar Future of Company cabang Garden Hill ini dengan Tuan Barry akan datang langsung untuk memotong pita sebagai simbol dari acara ini mewakili sang Tuan besar yang tidak dapat hadir.


Tadinya Jerry juga akan hadir dalam acara peresmian ini. Namun semuanya berubah secara mendadak karena kepulangan sang Putra dari Indonesia.


Walaupun agak kecewa, para jajaran staf dan Manager di perusahaan itu tetap tidak bisa berkata apa-apa. Ini karena mereka tau bahwa pemilik perusahaan Future of Company itu senantiasa sibuk dengan urusan yang besar. Mana dia ada waktu untuk menghadiri acara remeh-temeh seperti ini.


Di sore yang sama, puluhan unit kendaraan mewah dengan berbagai jenis dan merek mulai berdatangan dari arah Metro City, Starhill, Country home, dan Hillstreet mulai memadati area parkir di depan hotel Garden dan tempat-tempat penginapan lainnya.


Sedangkan sekitar dua puluh kendaraan langsung berangkat menuju ke kaki bukit landai Garden Hill itu menuju ke sebuah rumah yang dulunya pernah ditempati oleh Jerry, Clara, Drako dan Tuan Syam bersama istri mereka.


Rombongan ini menang sengaja senyap-senyap datang atas instruksi dari Joe William. Mereka adalah Tuan Barry, Ronald, Austin, Daniel, Ryan, Riko, Arslan, Herey, Jeff dan Regan beserta beberapa puluh orang yang cukup punya nama didalam organisasi Dragon Empire.


Di waktu yang sama di rumah milik Tuan Riot, tampak Joe William baru saja selesai memberikan instruksi kepada Tuan Riot, Nyonya Riot, Lilian, Harvey dan Renata agar tidak terlalu terburu-buru dalam menghadiri acara itu.


Baru saja mereka selesai merencanakan sesuatu, tiba-tiba ponsel milik Joe berdering.


"Tuan muda. Kami sudah tiba di kaki bukit landai." Kata seorang dengan suara seperti orang yang sudah berumur namun tegas.


"Kakek Jeff. Tetap tahan ponsel milik mereka. Jangan ada yang mendahului untuk memasuki tempat acara itu berlangsung! Biarkan Tuan Barry, Kakek Ronald dan Kakek Austin yang memasuki kantor besar tempat acara itu berlangsung. Aku ingin menjebak semua anggota Dragon empire yang berkomplot dengan tiga orang sampah ini." Kata Joe membalas pesan tersebut.


"Akan saya laksanakan Tuan muda. Sekarang katakan di mana Anda berada?" Tanya Kakek Jeff.


"Nanti aku sendiri yang akan datang ke bukit landai. Oh ya. Sebentar lagi senior Black akan bergabung dengan kalian. Ingat! Jangan berikan ponsel kepada mereka terutama ketiga paman Daniel, Ryan dan Riko!"


"Baiklah Tuan muda."


Seorang gadis cantik berusia sekitar 20-an tampak kagum melihat Joe yang masih muda ini memberikan instruksi kepada bawahannya.


"Benar-benar lelaki idaman." Katanya dalam hati.


Gadis itu adalah Renata anak dari Tuan Riot atau kakak perempuan dari Lilian yang sangat diinginkan oleh Mario putra Moreno CEO dari perusahaan Garden Company.


"Kau menatap ku Renata?" Tanya Joe dengan ekspresi salah tingkah.


"Oh.., eh. Tid-tidak. Tidak. Aku hanya.., hanya,"


"Hanya apa? Apa kau heran melihat kulit ku yang hitam legam seperti bagian bawah kuali ini?" Tanya Joe.


Joe sebenarnya juga heran. Kemarin kulitnya tidaklah sehitam ini. Mengapa semakin berganti hari semakin hitam? Hal ini jelas membuat dirinya seperti menjerit dalam hatinya. Jika hanya kusam, dia dapat menerima walaupun tetap dengan keluhan. Tapi sekarang malah menjadi hitam legam. Sungguh sangat menyiksa sekali.


"Aku hanya kagum terhadap mu. Kau begitu tegas kepada bawahan. Tegas tentang kedisiplinan. Bukan kejam."


"Aku dulu ingat ketika kau masih kecil. Berlari dengan celana sobek lalu enak saja duduk di ruang tengah rumah ku untuk menumpang nonton TV. Kau dulu sangat lucu sekaligus dekil." Kata Renata sambil menahan tawa.


"Sudahlah jangan diingat lagi! Sekarang fokus saja ke diri mu. Kau berada dalam bahaya." Kata Joe sambil menoel hidungnya.


*********


Malam itu, sesuai dengan yang sudah di jadwalkan, Tuan Barry, Ronald dan Austin pun berangkat mendahului yang lainnya untuk menghadiri acara peresmian kantor baru tersebut. Karena sebagaai presiden, beliau lah yang layak untuk memotong pita sebagai simbol bahwa kantor besar tersebut diresmikan.


Beberapa orang penting juga berada di sana dan duduk di barisan kursi-kursi kehormatan yang terletak sedikit tinggi tepat di dekat sebuah panggung dengan layar lebar terpampang di sana.


Di panggung itu lah nanti Tuan Barry akan melakukan seremonial pemotongan pita setra penandatanganan bahwa resminya kantor di buka.


Di bagian luar dan pintu masuk, tampak puluhan orang-orang berbadan besar berdiri seperti pengawal dan dengan sigap memeriksa kartu undangan dari para tamu yang hadir. Jumlah mereka sekitar tiga puluh orang yang berasal dari Garden Hill ini serta ada ratusan orang lagi yang berasal dari berbagai daerah. Hanya yang membedakan mereka adalah lambang gambar naga pada bagian dada kiri mereka.


Pemuda itu juga kini melihat keluarga Riot dengan Harvey juga tampak melewati pemeriksaan untuk memasuki aula tempat berlangsungnya acara.


"Kau siap Renata?" Tanya pemuda itu.


"Aku sedikit gugup Joe." Jawab gadis itu.


"Apa yang membuat mu gugup? Apakah kau meragukan kemampuan ku atau kau memang menyukai Mario itu?" Tanya Joe dengan dingin.


"Huh. Aku lebih baik mati jika harus menjadi santapan buaya darat itu." Jawab Renata sambil menatap wajah Joe dengan tajam.


"Siap atau tidak siap, kau harus siap. Sekali lagi aku tegaskan. Siap atau tidak, kau harus siap. Mungkin akan ada hinaan dan cacian yang akan kau terima. Kuatkan mental mu. Jika tidak, selamanya kau akan di hina oleh orang lain." Kata Joe memperingatkan.


"Kakek Jeff. Aku akan segera menuju ke bagian depan kantor itu. Persiapkan seluruh anak buah mu. Perhatikan ketiga puluh orang itu! Merekalah orang-orang yang selalu mengatasnamakan organisasi untuk memeras keluarga Riot." Kata Joe melalui pesan suara.


"Aku sudah menandai mereka satu persatu Tuan muda. Anda jangan khawatir!"


"Baiklah. Semua tamu tampaknya sudah memasuki kantor besar itu. Kini giliran ku." Kata Joe langsung membuka pintu mobil tersebut lalu berdiri sejenak untuk menunggu Renata keluar.


Penampilan Joe saat ini benar-benar sangat memperihatinkan. Dia sengaja memakai celana jeans yang sobek, baju T-shirt yang sudah molor dan rambut acak-acakan seperti orang yang baru saja disengat listrik.


Berbanding terbalik dengan Renata. Gadis itu benar-benar sangat anggun malam ini dengan pakaian gaun warna cream yang dipadu dengan tas mahal merek Hermes. Sepatu hak tinggi dengan selendang tipis melingkar di pundaknya menambah keanggunan gadis itu.


"Mari silahkan!" Kata Joe sambil mendahului.


Tadinya dia ingin berjalan duluan. Tapi batal karena Renata cepat-cepat menyambar tangannya dan mereka pun akhirnya berjalan beriringan.


Begitu pasangan yang nyaris seperti langit dan bumi itu melangkah mendekati bagian halaman kantor tersebut, kini dari arah kiri dan kanan tampak bayangan-bayangan hitam orang sedang berjalan dengan cepat mengitari bangunan tujuh lantai itu.


Ketika mata tajam Joe William melirik, dia melihat bahwa Herey sudah berada di dekat pohon bunga Bougenville. Dari sini dia tau bahwa bukan hanya anggota Dragon Empire saja yang bergerak. Namun pasukan Tiger Syam juga ingin ambil bagian dalam penyergapan ini.


"Berhenti!"


Terdengar bentakan salah satu dari pengawal yang berdiri di depan pintu masuk kantor besar tersebut yang membuat langkah Joe dan Renata segera terhenti.


"Apakah anda salah seorang dari tamu undangan?" Tanya lelaki itu.


"Ya. Aku adalah salah satu dari tamu undangan." Jawab Joe.


"Jika begitu, tunjukkan kartu undangan mu!" Perintah dari lelaki itu sambil menampung kan telapak tangannya.


"Ini!" Jawab Joe lalu meletakkan lencana Dragon Empire di telapak tangan lelaki itu.


"Ini.., ini. Apa ini?" Kata lelaki itu sambil mendelikkan matanya Seperi orang kerasukan lelembut.


Belum habis suara dari lelaki tadi, tiba-tiba dari bagian sisi lain didepan kantor itu berlompatan sosok hitam yang langsung menyergap sekitar dua puluhan lelaki yang sudah mereka tandai.


Terdengar keluhan pendek diikuti ambruknya puluhan orang-orang dari Dragon Empire cabang Garden Hill yang sudah menjadi target itu.


"Ampuni aku ketua!" Kata lelaki di depan tadi sambil jatuh berlutut.


"Kembalikan kalung itu!" Pinta Joe.


"I-in-ini Ketua." Kata lelaki itu dengan tangan bergetar sambil menyerahkan kembali lencana kepemimpinan Dragon Empire itu kepada pemiliknya.


"Kalian akan mempertanggungjawabkan semua yang telah kalian lakukan. Tunggu hukuman dari ku!" Kata Joe dengan santai memasuki aula tempat acara itu berlangsung sambil menarik tangan Renata.


Selesai baca, harap di like!


BERSAMBUNG...