
Rombongan Rudolf Miller kini tampak meninggalkan Victoria peak menuju hotel tempatnya menginap.
Sesampainya di Hotel tersebut, tampak seorang pemuda sedang menunggunya di lobby hotel dan segera menyongsong kedatangan nya.
"Bagaimana pertemuan di Villa paman Adolf Ayah?" Tanya Pemuda itu.
"Pertemuan yang sangat menyebalkan." Jawab Rudolf sambil terus saja berjalan menuju lift untuk naik ke lantai atas tepatnya di kamar yang dia sewa.
"Menyebalkan bagaimana menurut Ayah?"
"Albern. Kau adalah putra ku satu-satunya. Aku tidak bisa diam saja ketika Adolf ingin menguasai dan mendominasi setiap keputusan. Sungguh tidak masuk akal. Dia dan aku sama saja. Walaupun tidak berhak menjadi kepala keluarga, tapi setidaknya antara kau dan Honor memiliki kesempatan yang setara. Aku tidak ingin mereka berkuasa sendirian sementara kita tersingkir. Dulu aku terlalu banyak mengalah. Tapi sekarang tidak lagi. Aku harus memikirkan cara bagaimana caranya agar kau yang menduduki puncak pimpinan dalam keluarga ini. Karena jika puncak kedudukan dalam keluarga kau kuasai, otomatis Pimpinan dalam perusahaan juga berada di tangan mu." Kata Rudolf.
"Pelan-pelan Ayah. Mereka mungkin mengira bahwa kita ini bodoh. Tapi aku memiliki rencana yang sedikit menyimpang. Mendiang kakek menginginkan siapapun pemimpin dalam perusahaan, harus menjadikan Empat Naga dari Metro City sebagai musuh. Namun aku ingin menjadikan mereka sahabat supaya bisa menjegal langkah Honor untuk menjadi kepala keluarga." Kata Albern.
"Kau jangan gila Albern. Menjadikan musuh sebagai sahabat, itu sama saja dengan mengkhianati amanah yang ditinggalkan oleh Kakek mu."
"Ayah. Berfikir lah secara rasional. Apa itu pengkhianat? Bukankah kita sudah berkali-kali dikhianati? Permusuhan antara mendiang kakek dengan empat naga dari Metro City adalah permusuhan kolot yang tak berujung. Apa yang didapatkan oleh kakek? Kekalahan berulang-ulang kali."
"Aku tidak ingin menghabiskan waktu yang berharga dalam hidupku hanya untuk menuntaskan dendam yang diwariskan kepada ku. Coba ayah fikirkan! Apa pernah perusahaan dari Metro City menginvasi kita di daratan sana? Apa pernah mereka mengajak kita bersaing. Kita yang mendatangi mereka seperti pencuri. Wajar lah jika mereka marah."
"Ini rumah kita. Tiba-tiba orang lain datang menumpang. Tadinya kita terima mereka dengan baik. Namun kebaikan kita disalah artikan. Penumpang itu malah ingin menguasai rumah milik kita. Menurut Ayah, apa tindakan yang patut untuk di ambil?" Tanya Albern.
"Mengusir penumpang itu." Jawab Rudolf dengan jujur tanpa merasa bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan jebakan dari Putranya.
"Begitu juga dengan mereka Ayah. Kakek yang datang ke Metro City dengan sahabatnya lalu ingin menguasai pasar di sana. Ya jelas lah mereka tidak akan tinggal diam." Kata Albern.
"Apa kau rela mengkhianati keluarga Miller kita hanya untuk menjadi kepala keluarga?" Tanya Rudolf dengan sungguh-sungguh.
"Menjadikan musuh sebagai sahabat adalah hal yang lumrah dalam hal strategi. Musuh tetaplah musuh. Tetapi kawan yang menikam dari belakang berkali-kali dan menyebabkan kita tersingkir ke Macau jauh lebih menyakitkan daripada ditendang oleh Jerry William."
"Aku tidak yakin kita akan menang melawan Jerry William itu. Musuh kakek adalah empat naga dari Metro City. Apa iya setelah kakek meninggal, kita malah menjadikan Jerry William sebagai musuh. Sampai kapan harus bermusuhan terus. Aku tidak mau mewarisi permusuhan. Itu akan membuang-buang waktu ku saja." Jawab Albern dengan tegas.
"Ayah. Kita jangan ikut campur lagi dalam masalah paman Adolf. Percuma. Apa yang ayah dapatkan dari pertemuan tadi? Hanya sakit hati."
"Benar juga kata mu itu. Aku hanya jadi bahan olok-olok di sana tadi. Lalu bagaimana cara untuk menjalin kerjasama dengan Jerry William ini?" Tanya Rudolf yang mulai tertarik dengan gagasan dari putra nya itu.
"Aku juga belum memikirkan hal ini Ayah. Tapi dengan kita tidak ikut campur dalam urusan paman Adolf, maka kesempatan untuk mendekati Jerry William ini masih terbuka lebar. Kita tunggu dan lihat saja. Mereka pasti kalah. Karena kakek pun sudah mengalami kekalahan sebanyak dua kali. Tidak terhitung jumlah nyawa yang hilang demi sebuah ambisi balas dendam. Aku tidak ingin menjadi salah satu korban dari permusuhan yang tak berujung ini."
"Apa salahnya jika kita saling berdampingan dan membuat kesepakatan yang bisa mendatangkan keuntungan bersama. Kita bukan berada di jaman dinasti Qin atau Ming yang mengandalkan peperangan sebagai jalan utama untuk menguasai sesuatu. Jaman sekarang ini serba modern di mana perang adalah hal yang tabu untuk dilakukan."
"Wajar kakek suka perang sana sini. Itu karena dia masih menganut paham kuno dari jaman kerajaan dinasti terdahulu. Jujur saja aku tidak mau. Sia-sia saja sekolah dan belajar jauh-jauh sampai ke Amerika jika masih menganut paham kuno."
"Terserah padamu saja. Tapi satu pesan Ayah. Jika kau ingin melakukan sesuatu, pastikan sampai berhasil dan jangan setengah-setengah. Karena jika sampai gagal, keluarga kita akan di cap sebagai keluarga penghianat dan itu sangat memalukan sekali." Kata Rudolf.
"Tunggu dan lihat. Saat ini mungkin Honor sedang merasa berada di atas angin karena mendapat dukungan langsung dari beberapa musuh dari Jerry William ini. Tapi menurutku, itu tidak akan banyak berguna. Orang yang pernah kalah itu motivasi nya hanya dendam. Tidak lebih."
*********
Garden Hill
Di saat yang sama, kini tampak beberapa kendaraan dari Starhill baru saja tiba di kantor besar Garden Company dan dari dalam tampak dua orang lelaki berusia sekitar 30-an dengan badan besar keluar dan menemui penjaga di depan kantor tersebut.
"Maaf Tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya pengawal tersebut.
"Apakah Tuan Moreno ada di ruangannya?" Tanya salah seorang dari lelaki berusia 30-an itu.
"Sebentar Tuan. Apakah anda ada perjanjian mengadakan pertemuan?" Tanya pengawal tadi.
"Anda temui saja bos Anda! Katakan kepadanya bahwa Tuan Barry dan Tuan Ronald dari perusahaan Future of Company ingin bertemu dengannya untuk membincangkan sesuatu."
Setelah pengawal tadi memasuki kantor untuk memberitahu staf yang ada di sana, kedua lelaki berbadan tegap itu pun kembali ke mobil dan mengawal salah satu mobil yang paling mewah diantara yang lainnya.
Tak lama kemudian dari dalam kantor tersebut berdatangan beberapa orang staf yang di pimpin oleh seorang lelaki setengah baya berusia sekitar 40-an lalu berjalan mengarah ke mobil yang di kawal tadi.
"Wah. Mimpi apa saya malam tadi sampai-sampai kantor perusahaan saya yang kecil ini kedatangan tamu yang sangat terhormat seperti Tuan Barry dan Tuan Ronald. Ini adalah suatu kehormatan yang sangat besar bagi saya." Kata bos besar di perusahaan itu sambil terbungkuk malu-malu.
Tak lama setelah lelaki yang ternyata adalah bos di perusahaan Garden Company yang bernama Moreno itu tiba, pintu mobil mewah itu pun terbuka dan dari dalam tampak dua orang lelaki berusia 60-an dengan rambut sudah memutih keluar dan langsung menjabat tangan bos perusahaan Garden Company tersebut.
"Mari Tuan silahkan masuk ke dalam!" Kata Moreno dengan hormat.
"Terimakasih Tuan Moreno. Anda terlalu sopan." Kata Tuan Barry sambil tersenyum.
Mereka bertiga pun langsung melangkah memasuki kantor perusahaan Garden Company ini. Sementara itu para pengawal yang tadi langsung berdiri sambil mengawasi keadaan.
"Maafkan saya Tuan Barry dan Tuan Ronald. Kalau boleh saya tau, ada apakah sampai Tuan berdua ini menyempatkan diri untuk datang berkunjung ke kantor perusahaan saya ini?" Tanya Moreno sambil tersenyum malu lalu mempersilahkan tamunya itu untuk duduk.
"Begini Tuan Moreno. Tuan besar kami yaitu Jerry William mendapat kabar bahwa perusahaan anda ini sedang mengalami masa sulit karena keuangan. Dengan itu, sebagai sebuah perusahaan raksasa yang memiliki banyak saham di mana-mana, Tuan besar kami ingin meringankan beban yang sedang dialami oleh perusahaan anda dan berniat untuk menginvestasikan sejumlah uang demi meringankan beban keuangan yang diderita oleh perusahaan anda ini." Jawab Tuan Barry sambil tersenyum.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan Moreno. Bos besar kami yaitu Jerry William tidak menginginkan perusahaan anda apa lagi ingin menguasai saham yang anda miliki di perusahaan ini. Cukup hanya dengan kerjasama, maka Tuan besar kami akan memberikan suntikan dana yang besar ke dalam perusahaan anda." Kata Ronald pula menambahkan agar Moreno ini tidak menyalahartikan maksud baik dari Tuan besar nya itu.
"Tuan Barry dan Tuan Ronald. Memang benar bahwa perusahaan kami saat ini sedang mengalami krisis keuangan yang sangat parah. Saya selaku pemilik perusahaan telah bersusah payah mencari investor yang bisa membantu dalam meringankan beban keuangan ini. Tapi beberapa perusahaan lainnya sepertinya tidak tertarik atau dengan sengaja menjauhkan diri dari kami. Saya memang ada terfikir untuk meminta bantuan dari perusahaan Future of Company. Tapi siapa lah kami ini. Sama sekali tidak akan dipandang sebelah mata oleh perusahaan sebesar Future of Company."
"Di luar dugaan saya, ternyata berita ini sampai juga ke telinga Tuan besar. Saya sebagai orang yang tidak kompeten ini merasa sangat terharu. Bagi saya, tidak masalah jika Tuan besar menjadikan Garden Company ini sebagai anak perusahaan miliknya atau memegang saham mayoritas di dalam perusahaan. Bagi saya, asalkan perusahaan ini bisa selamat dan terhindar dari kebangkrutan, itu sudah suatu Rahmat." Kata Moreno dengan mata berkaca-kaca.
"Ah. Anda terlalu berlebihan Tuan Moreno. Begini saja. Tuan muda kami sebentar lagi akan kembali dari luar negri. Kemungkinan besar dia akan membuka usahanya di Garden Hill ini. Oleh karena itu, saya akan memberikan proyek kepada anda dengan nilai 340 juta Dollar untuk membangun sebuah restoran, arena pacuan kuda, lapangan golf serta merenovasi Garden Villa di pinggiran Gardenhill ini. Bagaimana?" Tanya Tuan Barry.
Duaaar!
"Apakah saya tidak sedang bermimpi Tuan. Ini adalah proyek pertama dalam jumlah besar yang pernah saya dapatkan tanpa mengikuti laga tender."
Plak
Plak!
Berulang kali Moreno menampar pipinya karena masih shock dengan tawaran besar itu .
Selama ini, perusahaan miliknya hanya menjalankan proyek berskala kecil seperti renovasi, decoration, dan menjalankan proyek sekelas rumah sewa biasa. Namun kali ini berbeda. Itu yang sampai saat ini masih berusaha untuk dicerna oleh akal sehatnya.
"Begini saja Tuan Moreno. Jika anda setuju, maka anda bisa menandatangani surat kesepakatan kerjasama ini. Dengan begitu, anda tidak perlu lagi khawatir dengan masalah keuangan di perusahaan anda." Kata Tuan Barry.
"Tuan Moreno, harap dibaca terlebih dahulu butiran kesepakatan dalam surat perjanjian ini sebelum menandatangani!" Kata Ronald pula sambil menyerahkan dokumen penting dalam perjanjian kerjasama itu.
Setelah membaca dengan seksama dan sangat teliti, akhirnya Tuan Moreno pun menandatangani surat kesepakatan kerjasama dengan perusahaan Future of Company. Dan dengan ini, perusahaan kecil miliknya telah resmi menjadi Mitra bagi perusahaan raksasa sekelas Future of Company.
"Baiklah Tuan Moreno. Kesepakatan telah kita buat. Dan untuk permulaan, kami akan memberikan anda 200 juta sebagai permulaan. Semoga kesepakatan kerjasama ini bisa terus berjalan dengan baik hingga kelak jika ada proyek-proyek lain, kami bisa segera menghubungi anda."
"Terimakasih Tuhan. Terimakasih!" Kata Tuan Moreno berulang kali bersujud syukur.
"Baiklah. Kami masih memiliki pekerjaan yang lain. Kelak, sebagai pimpinan dari Proyek ini, perusahaan akan mengirim staf bernama Ryan Morgan dengan dibantu oleh orang-orang kepercayaannya. Bukannya ingin mendikte pekerjaan yang anda lakukan. Hanya saja sebagai penghubung antara perusahaan anda dengan kami pihak dari Future of Company." Kata Tuan Barry.
"Baik Tuan. Saya mengerti itu." Kata Moreno berulang kali membungkuk hormat.
"Kami permisi dulu Tuan." Kata Tuan Barry.
Dengan diantar oleh Tuan Moreno, kini Tuan Barry dan Ronald pun segera keluar dari kantor perusahaan tersebut menuju ke mobilnya kemudian berangkat untuk kembali ke Starhill.