Joe William

Joe William
Dua sejoli bertengkar lagi



"Tiara. Kamu di sini?" Tanya Joe yang langsung berdiri, kemudian menghampiri gadis yang berdiri dengan raut wajah merengut tersebut.


Sementara itu, R4 yang melihat kejadian itu sama-sama saling pandang. Mereka pernah mendengar nama Tiara. Tapi, baru kali ini melihat langsung wajah kekasih Tuan mereka itu. Dan sepertinya, kesan pertama pada pertemuan mereka kali ini tidak baik.


"Kau ini kenapa Joe? Kemarin Xenita dan Talia. Sekarang, siapa lagi keempat gadis itu?" Tanya Tiara dengan nada tinggi.


"Ramai orang di sini. Bisakah kau sedikit saja memperlembut notasi suara mu?" Kata Joe sekenanya. Mungkin dia kita, teriakan Tiara itu seperti lengkingan lagu Hardrock.


"Kau sungguh keterlaluan. Benci benar rasanya pernah mengenal dirimu. Andai waktu bisa diputar, ingin rasanya aku tak pernah mengenal dirimu!" Merah padam wajah Tiara melontarkan kata-kata barusan.


"Kau tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepada mu? Yang benar saja. Mana mungkin aku menggarap empat orang gadis sekaligus. Cobalah berfikir secara rasional wahai Tiara ku yang tersayang!" Kata Joe sambil berusaha meraih tangan gadis itu.


"Sama saja. Yang dulu pun kau berhutang penjelasan kepada ku. Kau bahkan tidak berusaha untuk memperbaiki hubungan kita. Apa aku yang harus mendatangi dirimu. Kau itu benar-benar seperti tunggul kayu yang melintang di bibir pantai Kuala Nipah,"


"Ha? Aku disamakan dengan batang kayu yang hanyut itu? Itu kan kayu yang biasa aku jadikan tempat duduk kalau lagi ingin sendiri?" Kata Joe dalam hati.


"Aku berhutang penjelasan kepada mu. Baiklah. Antara aku dan Xenita, tidak ada hubungan apa-apa. Aku menganggap Xenita Patrik itu seperti adikku sendiri. Begitu juga dengan Talia," kata Joe berterus terang. Dia berharap agar Tiara tidak terus-menerus salah faham terhadap dirinya.


"Aku melihat sendiri bagaimana dia menatap mu. Apa kau mau mengelak?" Tanya Tiara yang masih tetap ngeyel.


"Ini tidak mudah. Bagaimana jika ada yang mengenaliku? Tiara bisa jadi sasaran!" Kata Joe dalam hati.


Berfikir sampai di situ, Joe segera akan menarik tangan Tiara untuk pergi. Tapi sialnya, Tiara malah mengibaskan tangannya membuat Joe batal untuk mengajak gadis itu agar menjauh dari Kafe tempat dia minum tadi.


Joe kini serba salah. Dia ingin memberi tanda isyarat kepada R4 untuk pergi. Tapi, dia khawatir akan membuat Tiara salah faham lagi. Dia ingin menarik tangan Tiara untuk pergi, tapi gadis itu menepis tangan nya. Hal ini sekali lagi membuat Joe mati kutu.


"Tiara. Aku memiliki banyak musuh. Kau bisa jadi sasaran mereka. Sebaiknya, kita jangan di sini. Ayo lah. Sekali ini saja. Kau harus mempercayaiku!" Joe memohon pengertian kepada gadis yang sangat dia sayangi agar mau mengerti bahwa ada banyak hal yang sulit untuk dijelaskan. Karena, dijelaskan juga percuma. Otak Tiara tidak akan sampai pada level permasalahan yang dihadapi oleh Joe dan orang-orangnya.


"Kau punya banyak musuh kan? Itu alasan mu untuk menjauhi aku. Hahaha. Picik sekali kau Joe. Sekarang, aku tidak butuh lagi penjelasan dari mu. Ini pemberian mu, aku kembalikan!" Kata Tiara sambil mengeluarkan sekeping kartu kredit, dan mencabut sebentuk cincin dari jari manisnya. Dengan kesal, dia menarik tangan Joe, dan meletakkan kedua barang tersebut di telapak tangan pemuda itu.


"Begini cara mu Tiara? Baiklah! Aku menerimanya!" Kata Joe yang langsung mendahului gadis itu untuk pergi.


Ketika tiba diluar kafe, Joe segera menyalakan mesin motornya, lalu segera melaju ke arah Bukit batu.


Ketika Tiara menoleh ke arah meja dimana keempat tadi duduk, dia segera kaget, karena tidak melihat lagi keberadaan gadis itu di sana.


"Kemana perginya empat orang gadis tadi?" Tanya Tiara dalam hatinya. Dia celingukan mencari-cari. Karena, tidak mungkin gadis itu menghilang begitu saja.


Karena moodnya sudah rusak, Tiara pun segera keluar meninggalkan kafe tadi untuk kembali ke rumah kontrakan nya.


Dalam hatinya, dia tidak henti-hentinya mengumpat.


Saat ini, dia bingung dengan perasaannya sendiri. Antara benci, dan berharap bahwa Joe akan datang membujuk dirinya. Tapi apa daya, lagi-lagi ini bukan drama yang ada di tv.


*********


Sementara itu, Joe yang sudah tiba di apartemen miliknya, segera membanting helm miliknya dengan kesal.


Di ruangan itu, dia segera menggenjot latihannya.


Dia memukuli apa saja yang bisa dia pukul. Menendang apa saja yang bisa dia tendang, hingga dia jatuh terduduk dengan nafas terengah-engah.


"Tahta, harta, wanita. Begitu rumit. Kejar satu, yang satunya lepas," ucap Joe masih dalam posisi terduduk di lantai. Nafasnya masih terus memburu.


Joe segera merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponselnya. Dia berniat untuk menelepon Tiara. Tapi, dia segera mengurungkan niatnya.


"Aku kan tidak bersalah. Lagipula, dia sudah memutuskan hubungan denganku. Tapi, mengapa hatiku sakit ya?" Kata Joe dalam hati. Nyaris saja dia membanting handphone miliknya ke lantai karena terlalu geram dengan sikap Tiara tadi.


Hal yang sama juga terjadi pada Tiara. Berkali-kali dia membuka kontak milik Joe. Tapi, ketika dia ingin melakukan panggilan, hatinya terasa menolak untuk melakukannya. Dan akhirnya, Tiara hanya bisa menangis untuk menumpahkan semua kekesalannya kepada Joe.


"Sepertinya aku harus mengalah!" Kata Joe dalam hati. Dia segera meraih kembali ponselnya, lalu menekan tombol panggil.


Tiara juga melakukan hal yang sama. Sehingga, panggilan tersebut bertabrakan. Maka, terjadilah panggilan menunggu.


"Sialan. Siapa yang ditelepon oleh Tiara ini?" Tanya Joe dalam hati.


Sementara itu, Tiara juga sama. Ketika melihat di layar ponselnya bahwa panggilan tersebut sedang menunggu, maka dengan kesal dia menekan tanda merah pada layar ponselnya.


"Dasar baj*ngan! Mungkin dia sedang menelepon gadis lain untuk dijadikan korban baru!" Maki Tiara dalam hati.


Dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan, gadis itu membenamkan wajahnya pada bantal, lalu menangis sejadi-jadinya.


"Siapa yang sedang kau hubungi?" Tanya Joe melalui pesan singkat di WhatsApp.


"Justru aku yang ingin bertanya kepada mu. Siapa yang kau hubungi?" Balas Tiara balik bertanya.


"Aku tidak menghubungi siapapun. Justru kau yang sedang berada di panggilan lain!" Balas Joe.


"Kau yang berada di panggilan lain!" Jawab Tiara yang tak mau kalah.


"Iiiiiiih.... Geram betul hatiku ini!" Maki Joe sambil bertingkah seperti orang yang sedang edan dan sinting.


"Sudahlah. Terserah. Aku lelah!" Kata Joe yang terus saja ngomel sendirian.


Hal yang sama juga terjadi pada Tiara.


"Alah. Kalau memang dia masih sayang, dia pasti akan menghubungi ku!" Tapi, sudah lebih satu jam, Joe tidak juga menghubungi dirinya. Hal ini membuat Tiara menyimpulkan, bahwa Joe memang sudah tidak lagi mengharapkan dirinya. Padahal, apa susahnya sih untuk jujur bahwa keduanya masih saling menyayangi.


Bersambung...


Jangan lupa beri rating lima bintangnya ya Gaes!