
Ratusan orang lelaki berbadan tegap bersenjata, berkeluaran dari dalam beberapa unit kapal yang bersandar di pelabuhan Kuala Nipah.
Mereka kini beramai-ramai menyongsong kedatangan puluhan kendaraan roda empat yang menggiring empat unit mobil Toyota Hiace yang masih jauh berada di ujung jalan sana.
Dari arah pinggiran pelabuhan pula, terlihat Honor sedang melakukan panggilan telepon. Sepertinya dia sedang memeras seseorang.
Tak lama setelah Honor melakukan panggilan tadi, dari arah kampung Indra sakti, meluncur laju mobil super sport Lykan hypersport berwarna hitam, dan berhenti tepat di bawah sebatang pohon kelapa. Pohon kelapa itu terlihat cacat seperti pernah ditabrak oleh kendaraan.
Dari dalam mobil, kini keluar seorang pemuda mengenakan pakaian longgar ala praktisi bela diri.
Dengan wajah menegang, pemuda itu berteriak.
"Bermain lah secara jantan, Honor Miller yang terhormat. Aku telah berada di sini!"
Bentakan pemuda yang baru turun dari mobil super sport tadi menarik perhatian semua orang. Termasuk orang-orang yang sedang bersembunyi di beberapa posisi.
Siapa pemuda itu?
Dia adalah Joe William. Dia baru saja mendapat panggilan dari nomor Tiara. Tadinya dia mengira bahwa Tiara di sekap di Manor Tasik Putri. Namun, setelah meninjau ke sana, dia tidak menemukan apapun di sana.
Sebenarnya, Bent dan Alex sudah memberitahu kepadanya bahwa Manor itu telah kosong. Namun, dia merasa belum puas sebelum memeriksanya sendiri. Barulah setelah dia melihat sendiri, dia kini percaya bahwa Manor itu telah dikosongkan.
Firasatnya mengatakan bahwa Tiara kemungkinan telah di sekap oleh Honor di Kuala Nipah. Maka, dia pun segera. Tancap gas menuju perkampungan pinggir laut tersebut.
Baru saja dia akan mencapai perbatasan antara Indra sakti dan Kuala Nipah, dia pun mendapat panggilan yang setelah dia jawab, ternyata itu adalah panggilan ancaman dari Honor Miller yang mengatakan bahwa saat ini Tiara sedang berada bersamanya.
Honor mengatakan bahwa Joe harus datang sendiri jika ingin Tiara selamat.
Terpancing dengan ancaman Honor, Joe pun segera tancap gas dan seperti yang kita ketahui, bahwa kini Joe sudah tiba di Kuala Nipah dan sedang meneriaki Honor Miller agar bermain secara jantan.
***
Teriakan pemuda yang berdiri tegak seperti batu karang itu segera menarik perhatian semua orang baik di pihak Honor, pihak Tigor, pihak Tiger Syam maupun pihak Dragon Empire yang sudah menempati posisi mereka masing-masing.
Ketika itu, suasana baru terang-terang tanah.
Tepat ketika Joe tiba, tidak sampai lima menit kemudian, rombongan kendaraan yang membawa barang-barang dari pabrik jembatan Tasik Putri juga sampai di kawasan itu.
"Celaka. Ketua kita untuk apa berada sendirian di sana?" Tanya Sugeng kepada Andra.
"Kau tau Gor?" Tanya Andra.
"Ya. Aku tau apa permasalahannya. Ndro! Kau tunggu di sini! Aku khawatir Namora akan ikut-ikutan. Bisa semakin runyam urusan!" Kata Tigor yang langsung menghubungi Namora.
"Dimana kau saat ini Hasian?" Tanya Tigor kepada anak lajangnya itu.
"Namora sudah berada di Kuala Nipah, Ayah. Saat ini Namora bersama-sama dengan Paman Ameng dan Paman Monang bersembunyi dibelakang rumah Onyang Tengku Mahmud!" Jawab Namora.
"Apa kau melihat Joe?"
"Tidak. Ada apa?"
"Oh. Tidak apa-apa. Kau di situ saja. Jangan kemana-mana!" Kata Tigor yang merasa bersyukur bahwa Namora tidak tau bahwa Joe saat ini sedang berdiri sendirian di bawah pohon kelapa.
"Bagaimana bang?" Tanya Sugeng kepada Tigor.
"Lalu, bagaimana ini? Keselamatan ketua bisa dalam bahaya?" Kata Andra pula merasa khawatir.
"Aku tidak akan membiarkan Joe berada dalam bahaya!" Ujar Tigor yang kini sudah mulai menanggalkan pakaian luarnya. Lalu, dia segera mengenakan topeng kepala kucing berwarna hitam legam.
"Segera hubungi Tuan Arslan atau Tuan Riko! Apapun alasannya, kita tidak boleh mempertaruhkan keselamatan ketua!" Kata Tigor yang sudah berubah wujud menjadi Black Cat. Lalu, entah kapan tepatnya, tiba-tiba sosok Black Cat sudah menghilang.
"Black Cat muncul lagi. Sepertinya Kuala Nipah akan mandi darah!" Gumam Andra.
"Aku harus menghubungi Tuan Arslan!" Kata Sugeng pula.
Sementara itu, di atas geladak kapal, Honor yang melihat kedatangan Joe, langsung menyerahkan tubuh Tiara kepada anak buahnya yang langsung menangkap sosok tubuh itu sambil mengacungkan pistol di kening gadis itu.
"Joe.., Joe.., Joe. Akhirnya kita bertemu juga. Aku akui bahwa kau sangat cerdik, licik dan sangat licin sekali. Sebenarnya aku sangat berharap bahwa pertemuan kita bisa lebih baik. Misalnya di restoran kelas elite dan menikmati secangkir teh China termahal. Sungguh disayangkan kita berakhir seperti ini. Padahal kita adalah anak-anak muda yang memiliki bakat. Apakah kau tidak merasa bahwa semua ini terlalu sia-sia?" Kata Honor setelah dia tiba di depan Joe William.
"Hahaha. Tidak akan bertemu antara minyak dan air. Kau Honor. Apa tadi katamu? Kita sama-sama berbakat? Sungguh jauh panggang dari api. Apa bakat mu? Ingin menyingkirkan aku dengan cara keji seperti ini? Sayang sekali bakat mu itu adalah bakat licik," jawab Joe sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha. Ya. Aku memang licik. Hari ini, aku akan mengakhiri riwayat mu, Joe. Dengan begitu, satu bibit unggul dari keluarga William akan patah. Kau lihat di sana itu? Itu adalah kekasih mu bukan? Jika kau ingin dia mati, maka melawan lah! Tapi, jika kau sayang kepadanya, maka kau harus menukar nyawamu dengan nyawanya!" Kata Honor sambil berpaling sebentar ke arah kapal. Tak lama setelah itu, dia segera merogoh ke arah sakunya, lalu mengeluarkan sebotol cairan berwarna merah jambu, kemudian menenggak tandas isi dari dalam botol tersebut. Bukan hanya sebotol saja. Melainkan, tiga botol sekaligus.
Setelah selesai menenggak cairan sejenis eliksir tadi, mendadak tubuh Honor seperti tersengat listrik.
Tubuh itu kelojotan sejenak, lalu mendesis desis kemudian tatapannya kini berubah buas ke arah Joe.
Joe tau jenis apa itu yang diminum oleh Honor. Dia bahkan bisa membuat cairan eliksir seperti itu. Bahkan 3 kali lebih kuat dari yang diminum oleh Honor tadi.
"Ramuan setan. Sedikit lagi kau tambah dosisnya, seluruh pembuluh darah mu akan pecah!" Kata Joe tersenyum mengejek.
"Diam kau bangsat. Terima saja seperti apa aku akan menyiksa mu!" Kata Honor yang langsung mengirimkan tendangan yang tepat mengenai bagian pinggang Joe.
Bugh..!
"Ugh...!" Kata Joe yang sedikit sempoyongan menerima tendangan keras tadi.
"Ku bunuh kau bangsat! Kau ikut andil dalam kematian ayah ku. Kau harus membayarnya dengan nyawa busuk mu itu!"
Bugh..!
"Hoek..!"
Joe terbungkuk setelah menerima pukulan di bagian perutnya oleh Honor.
"Hanya segini saja, Honor?" Tanya Joe terlihat menyepelekan.
Plak!
"Aku pastikan akan membunuh mu?" Kata Honor.
"Kau tidak akan mampu. Lepaskan Tiara jika kau ingin melihat seperti apa kakek mu ini mengamuk. Aku akan mengajarimu cara berkelahi dengan benar!" Kata Joe mengejek. Dia hanya membiarkan saja Honor memukulinya dengan membabi melek.
Kini di kawasan itu telah ramai menonton pertunjukan Honor menghajar Joe. Dan kesemuanya adalah anggota Honor Miller.
Bersambung...