Joe William

Joe William
Joe memikirkan Tengku Mahmud



Tepat pukul delapan di Martins Hotel yang sekarang dikelola oleh Tigor, Joe dan yang lainnya pun segera menuju ke lantai paling atas untuk memenuhi undangan dari Tigor dalam acara makan malam.


Dia yang memang ketakutan di dalam lift itu hanya berpegang saja ke tangan Namora dengan pikiran mulai kemana-mana.


"Apakah anda ketakutan ketua?" Tanya Namora dengan hormat namun tetap bernada dingin.


"Pertama kali aku takut dalam hidupku adalah ketika Ayahku menjemput ku di Mountain Slope dengan mengendarai helikopter. Itu adalah ketakutan pertama dalam hidup ku."


"Yang ke dua adalah ketika berangkat dari Starhill ke Kuala namu. Berulang kali aku ke toilet karena mendadak perut ku mulas."


"Yang ke tiga, aku ketakutan dengan tangga yang bergerak sendiri di Tower Mall tadi. Ini yang ke empat." Kata Joe menjawab dengan polosnya.


Sementara itu, Tiara yang berdandan sangat anggun dengan gaun mahal hadiah dari Joe hanya bisa tersenyum dan membuang muka ke samping agar Joe tidak merasa diremehkan.


"Aku akan menegur paman Tigor. Ada ruangan di bawah, mengapa harus bertingkah naik ke atas segala." Kata Joe mengomel.


"Maaf ketua. Di atas adalah room private. Di sana kita tidak akan merasa terganggu oleh pengunjung yang lain. Karena, selain ketua, hanya ayah ku yang boleh mengundang orang memasuki ruangan itu." Jawab Namora.


"Joe. Kau harus membiasakan diri. Fobia itu obatnya adalah dengan melawan." Kata Tiara.


Dia sengaja mengatakan itu karena tidak ingin melihat Joe dengan wajah seperti keledai yang kebelet buang air.


"Ketua. Benar kata Tiara itu. Bagaimanapun, ketua adalah orang penting yang akan menjalankan berbagai kegiatan. Bagaimana jika dalam sebulan ketua harus mondar-mandir ke luar negeri dengan pesawat? Bisa berabe urusan kalau setiap naik pesawat, ketua malah sakit perut." Kata Namora sengaja membangkitkan keberanian atasan Ayahnya itu.


"Benar juga kata mu. Tapi butuh waktu dan proses. Jujur aku tidak biasa dengan semua ini."


Saat itu, pintu lift pun terbuka dan di luar, tampak ramai lelaki berbadan tegap membuat barisan lalu membungkuk ketika Joe keluar dari lift dan melewati mereka.


Joe yang berusaha untuk terlihat keren berulang kali mengelus dada menghilangkan kegugupannya.


"Selamat datang di Diamond box ketua." Kata mereka serentak.


"Terimakasih. Di mana paman Tigor?" Tanya Joe kepada mereka yang berdiri menunduk itu.


"Menjawab Ketua. Saat ini Bang Tigor sedang menunggu anda di ruang jamuan."


"Hmmm..."


Hanya itu saja yang sebagai jawaban dari Joe. Lalu diapun berjalan sambil diikuti oleh Tiara, lestari, Namora, Udin dan Hendro di belakangnya.


Begitu dia memasuki satu ruangan, kini di sana sudah ada Andra, Jabat, Ucok, Monang serta beberapa sahabat Tigor. Sedangkan Tigor sibuk mengatur para pelayan yang menyajikan berbagai menu spesial malam itu didampingi oleh Mirna.


"Selamat datang ketua. Bagaimana acara shopping nya?" Tanya Tigor seraya menghampiri Joe.


"Lumayan Paman. Aku ketakutan dengan tangga seperti itu." Jawab Joe.


"Silahkan duduk ketua." Kata Tigor sambil menarik sebuah kursi di kepala meja yang memang khusus untuk Joe.


"Mari Ketua silahkan anda cicipi masakan Favorit di Hotel ini." Kata Tigor mempersilahkan.


"Terimakasih Paman." Jawab Joe.


Lalu dia segera mengambil sepotong daging dan tanpa menggunakan garpu dan pisau, langsung saja menggunakan tangan.


"Hmmm... Sangat enak." Kata Joe dalam hati. Namun dia segera menghentikan makannya.


Sesaat Joe memikirkan Tengku Mahmud.


"Aku di sini makan enak. Kira-kira Kakek Tengku makan apa ya di rumah?"


Mengingat hal ini, Joe langsung kehilangan selera makan. Namun untuk tidak merusak acara itu, dia tetap juga memakan sedikit demi sedikit. Sedangkan yang lainnya kini tampak sangat bersemangat sekali.


"Ketua. Apakah Anda baik-baik saja?" Tanya Andra yang melihat Joe seperti tidak memiliki nafsu makan.


"Oh. Ya. Aku baik-baik saja. Aku hanya mengkhawatirkan kakek Tengku. Selama hampir tiga tahun ini, aku tidak pernah berpisah darinya." Jawab Joe dengan wajah sendu.


"Paman Tigor. Besok suruh koki di hotel ini untuk memasak seperti ini. Aku ingin agar kakek Tengku Mahmud juga bisa merasakan menu spesial ini di Kuala Nipah. Aku tidak bisa makan enak sementara dia entah makan apa di rumah." Kata Joe.


Untung saja mereka sudah selesai makan. Jika tidak, pasti Tigor tidak akan mampu menelan makanan itu.


Betapa perkataan dari Joe ini seolah-olah menampar kesadarannya.


Menjerit Tigor dalam hatinya mendengar teguran langsung dari ketua nya itu.


Memang dia memiliki rencana besok untuk mengunjungi Kakek Tengku Mahmud sekalian mengiring kepulangan Joe ke Kuala Nipah. Namun yang tidak terpikirkan olehnya adalah, untuk membawakan sesuatu kepada kakek nya itu.


"Bodoh nya cucu celaka seperti aku ini." Kata Tigor dalam hati.


"Paman! Apakah kau mendengar perkataan ku?" Tanya Joe heran karena tidak mendapat respon dari Tigor.


"Oh..., Eh. Iya ketua. Saya mendengar. Baiklah. Besok saya akan mempersiapkan segala sesuatunya. Karena besok saya juga akan ikut ke Kuala Nipah untuk mengunjungi Kakek Tengku Mahmud setelah bebas dari penjara ini." Kata Tigor.


Joe sangat senang mendengar jawaban dari Tigor ini.


Dia kini tampak sangat bersemangat dan berharap besok bisa memakan makanan enak ini berdua dengan kakek guru nya itu. Apa lagi jika rebutan dan di bumbui oleh kemarahan Tengku Mahmud. Pasti nikmat sekali.


Selesai dengan bersantap malam itu, Joe kini di ajak oleh Namora untuk melihat-lihat pemandangan malam dari tingkat paling atas hotel itu.


Awalnya Joe agak ketakutan. Namun setelah sedikit terbiasa, kini dia tidak lagi merasakan gamang di ketinggian itu.


Ketika dia sedang asyik melamun, tiba-tiba pundaknya di sentuh oleh jari tangan lembut dari belakang.


"Kau melamun Joe?" Tanya satu suara lembut yang sangat dia kenal.


"Eh. Kau rupanya Tiara. Aku tidak melamun. Aku hanya sedang menikmati kelap-kelip lampu kota Kemuning ini." Jawab Joe.


"Apa yang sedang ada dalam fikiran mu Joe?" Tanya gadis itu lagi.


"Tidak ada." Jawab Joe berbohong.


"Kau pasti berbohong." Desak Tiara.


"Memang sulit untuk berbohong." Kata Joe lalu melanjutkan. "Aku sedang memikirkan tentang semua kejadian yang aku alami seharian ini. Dari mulai di hina, lalu di hormati, bermasalah di Tower Mall. Namun selesai begitu saja. Sebenarnya aku tadi sengaja menguji mereka di Tower Mall itu. Seberapa berkuasanya ayah ku. Ternyata dugaan ku tentang kesabaran mereka meleset. Dari sini aku berpikir bahwa siapa ayah ku ini sebenarnya?" Kata Joe seperti bergumam namun seperti bertanya juga. Namun lebih ke dirinya sendiri.


"Aku juga tidak tau Joe. Kau saja tidak tau apa lagi aku."


"Namun satu hal yang ingin aku ketahui. Andai kau adalah orang kaya, lalu apa rencana mu?" Tanya Tiara ingin tahu.


"Emmm.., andai aku orang kaya, aku ingin merenovasi sekolah kita. Aku juga ingin menjadikan pantai Kuala Nipah menjadi tujuan para wisatawan. Lalu, aku ingin menggabungkan antara Kuala Nipah, Indra sakti dan kota Tasik Putri menjadi satu kota besar dengan nama EpicTown." Jawab Joe sambil mengepalkan tinjunya.


"Butuh perjuangan keras dan waktu yang tidak singkat selain dana yang besar." Kata Tiara pula.


"Tadi kan kau katakan andai aku orang kaya. Ya kalau aku kaya, pastinya dana ada lah. Ya kan?" Kata Joe sambil tersenyum.


"Benar juga." Kata Tiara.


"Sudah malam Tiara. Kau pergilah Tidur. Besok pagi kita harus segera berangkat pulang ke Kuala Nipah. Jika kita berangkat pukul delapan, kita akan tiba sekitar pukul tiga sore." Kata Joe.


Mendengar Joe menyuruh nya untuk tidur, membuat Tiara merasa kecewa. Tadinya dia akan mengira bahwa Joe ingin berbicara dengannya dalam waktu yang lama. Tapi nyatanya Joe seperti ingin sendiri.


Dengan wajah kecewa, Tiara akhirnya berbalik badan dengan niat ingin meninggalkan Joe sendirian di tempat itu.


"Tiara!" Kata Joe memanggil gadis itu membuatnya menolehkan wajah ke arah pemuda itu.


"Ya?"


"Maaf aku lupa memuji dirimu. Malam ini dengan gaun itu, kau terlihat sangat anggun. Sudah hanya itu saja." Kata Joe lalu mengalihkan pandangannya ke arah kerlap kerlip lampu-lampu di kota Kemuning ini dari lantai hotel paling atas.


Tiara hanya mengulum senyum sambil malu-malu berbalik badan lalu meninggalkan tempat itu menemui Lestari dengan tujuan mengajak sahabat nya itu untuk segera tidur.