
Namora baru tiba di perumahan dinas kepolisian kota batu. Tapi dia segera mengernyitkan dahi ketika melihat seorang pemuda yang sebaya dengannya tampak duduk di teras rumah sambil ongkang-ongkang. Ditangan pemuda itu tampak sebatang rokok cerutu palsu yang sebenarnya adalah permen.
"Sini kau!" Panggil pemuda yang duduk ongkang-ongkang itu kepada Namora.
Sumpah mati, Namora menggerutu dihatinya melihat tingkah tengil nan tengik dari pemuda itu.
"Heh. Bagaimana dengan gaya ku ini? Apa sudah pantas menjadi ketua Mafia kelas kakap?"
"Pantas!" Jawab Namora lemas. Dia meletakkan helm miliknya dan duduk menyamping karena tidak ingin menghadapi pemuda itu.
"Kau mau? Aku ada sebatang lagi. Aku membelinya di kaki lima. Lumayan lah untuk gaya-gayaan," kata pemuda itu sambil menyodorkan permen berbentuk rokok cerutu tersebut.
Namora menerima permen tadi, dan langsung mengunyahnya.
"Heh. Sialan kau. Itu untuk gaya-gayaan. Malah kau kunyah," maki pemuda itu membuat Namora terbeliak menahan jengkel, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ketua.., eh. Joe. Ngapain kau kemari?" Tanya Namora kemudian.
"Berikan informasi yang kau dapat!" Pinta pemuda itu sambil menadahkan tangannya. Yang membuat Namora setengah mati makan hati adalah, lagak tengil pemuda itu.
"Informasi apaan?"
"Heh. Kau lupa siapa aku? Kau tidak sadar kalau di tubuh mu sudah aku pasang chip. Suara kentut mu pun bisa aku dengar dari apartemen ku. Hahahaha!" Pemuda tengil bernama Joe itu terlihat sangat angkuh.
"Hah! Chip?" Namora tampak kalang-kabut memandangi seluruh tubuh nya.
"Kenapa? Hahahaha...!" Tawa Joe pecah juga di teras rumah milik Rio itu, dengan lagak memeragakan seperti seorangpun yang sedang mengisap cerutu.
"Aku.., eh. Kapan kau menanam chip di tubuh ku?" Namora benar-benar ketakutan. Baru kali ini dia terlihat seperti kambing kebakaran jenggot plus ekor tersebut.
"Makanya kau jangan main-main dengan ku. Aku bisa melakukan apa saja. Ingat tehnik dua belas jarum perak ku?" Tanya Joe.
"Kau.., kau.., ketua somplak namanya kau itu. Lebih baik kita bertarung saja!" Kata Namora yang mati akal.
"Kau yakin bisa menang melawan ku? Huh kau ini!" Kata Joe pula sambil menoel hidung Namora.
"Bunuh saja aku! Atau ku hajar kau membabi-buta!"
"Dekat, ku tusuk nih!" Ancam Joe. Di tangannya tampak sebatang jarum berwarna perak.
"Iiiih. Mati aja lah!" Maki Namora yang saat ini kejengkelannya sudah sampai ke ubun-ubun.
Kali ini Joe benar-benar puas bisa mengerjai si batu karang di gunung es tersebut. Dia terpingkal-pingkal sambil terduduk menjelepok di lantai teras rumah Rio. Dari menjelepok, dia terus tertawa sampai terguling-guling.
"Perut ku sakit!" Kata Joe di sela-sela tawanya. Dia terus saja berguling sambil memegangi perutnya.
Puas berguling-guling, dia pun duduk tanpa memperdulikan baju kemeja dan celana jeans nya sudah kotor.
Di dalam rumah, Rio dan Istrinya yang masih sakit hanya bisa tersenyum mendengar perdebatan antara kedua pemuda itu.
Joe, jika jiwa tengilnya sudah keluar, siapa saja bisa dijahili olehnya. Jangankan hanya Namora, Tigor pun tak luput dari kejahilannya. Bahkan, pendiri William Group pun sampai botak karena ulahnya.
"Chip dari mana? Kau ini percaya saja. Sudahlah! Aku malas bercanda dengan orang yang muda terbawa perasaan!" Kata Joe yang langsung bangkit. Dia menepuk-nepuk debu di celananya lalu kembali duduk ongkang-ongkang di atas kursi sambil memperagakan seperti seseorang yang sedang menghisap cerutu. Tidak lupa dia mengenakan kacamata hitam agar terlihat sangar. Padahal, gayanya seperti itu membuat Namora makan hati
"Keluarkan Chip yang kau tanam di tubuh ku!" Bentak Namora.
"Chip apa? Aku hanya becanda!" Jawab Joe yang seketika kembali tawanya meledak.
"Lalu, darimana kau tau kalau aku mendapatkan informasi?"
"Itulah bodohnya kau itu. Aku sudah di sini. Aku pasti bertanya kemana kau pergi kepada Paman Rio. Dia mengatakan kau pergi ke kampung Baru. Apa lagi yang kau cari di sana? Pasti kau akan menemui Dhani. Selama ini kan kau selalu cuek dengan orang-orang. Jika kau mau bersusah payah mendatangi orang itu, pasti ada sesuatu yang ingin kau korek darinya. Sekarang, katakan kepada ku! Informasi apa saja yang kau dapat?!" Tagih Joe sambil mengangkat alisnya turun naik.
Namora yang tadi tegang kini sudah mulai mengendur. Tak lama setelah itu, dia mendekatkan wajahnya ke arah telinga Joe dengan maksud untuk membisikkan sesuatu.
"Hei... Apa kau normal? Aku ini sama seperti mu. Kita sama-sama memiliki batang unik!" Kaget Joe sambil beringsut mundur. Hampir saja dia terjengkang dari kursi yang dia duduki tadi.
"Iiiiiih..... Bangsat!" Maki Namora. Dia mengertakkan giginya menahan kejengkelan. "Kau meminta informasi yang aku dapat. Aku harus membisikkan agar tidak ada yang mendengar. Sialan kau itu mengatakan aku tidak normal. Ku keremus wajah mu itu biar modar kau!"
"Ku tusuk kau pakai jarum perak ku ini. Mau kau?" Ancam Joe pula.
"Paman! Aku mau meminjam pistol mu!" Teriak Namora yang sudah mati akal.
"Urusan mu dengan ketua mu itu selesaikan sendiri. Jangan bawa-bawa orang tua!" Jawab Rio dari dalam rumah.
"Tidak ada yang membela mu. Mampus kau!" Ejek Joe seenaknya.
"Kau mau atau tidak informasi yang aku dapatkan? Jika tidak, aku akan pergi saja!" Jengkel sungguh hati Namora dipermainkan seperti itu. Jika itu bukan Joe, sudah pasti perkelahian akan pecah. Tapi, dia tau siapa pemuda gendeng itu. Orangnya memang gendeng. Tapi kemahirannya dalam berkelahi, mungkin tidak akan mampu ditandingi walau sepuluh orang seperti Namora sekaligus.
"Iya iya iya. Aku mau. Ini kuping ku!" Kata Joe pula menyodorkan kupingnya kepada Namora.
"Sudah berapa lama kau tidak membersihkan kuping mu ini hah? Aku lihat, banyak kapal selam, kapal induk dan kapal api, eh itu kan kopi," Namora jadi tertawa. Tapi tawa nya sungguh sangat jelek sekali.
"Cepatlah! Aku ingin mendengar informasi yang kau bawa. Kita harus segera mengatur siasat!"
"Ayah ku juga menginginkan informasi yang sama. Dia lah yang menyuruh ku untuk menemui Dhani."
"Aku tau itu. Paman Tigor baru saja menelepon ku. Itulah sebabnya aku menunggu mu di sini!"
"Jadi?" Namora benar-benar merasa dipermainkan oleh Joe.
"Jadi jadian. Cepatlah!" Joe tampak tidak sabaran.
"Ok!" Kata Namora, lalu membisikkan informasi apa dia dapatkan dari obrolan telepon antara Irfan dan Dhani ketika dia berada di kampung Baru.
"Hmmm. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Tapi, tetap harus mendiskusikan semuanya bersama Paman Tigor. Bagaimanapun, dia lah yang memiliki sangkut paut dengan masalah ini," ujar Joe.
Namora segera mengangguk mengerti.
"Baiklah. Ayo kita ke apartemen ku, sebelum menemui paman Tigor!" Ajak Joe.
Kedua pemuda itu segera meninggalkan rumah Rio setelah berpamitan dengan tujuan kali ini adalah Bukit batu.
Bersambung...