Joe William

Joe William
Pertemuan di Restoran Tower Klasik



Perkampungan pinggir laut di tanjung karang berubah menjadi gempar. Ini terjadi karena ternyata selama ini orang yang mereka kira pendiam, miskin, yang kesehariannya hanya sebagai nelayan sebenarnya adalah seorang mafia.


Siapa lagi kalau bukan Karman.


Dengan mata kepala mereka sendiri, melihat Karman yang dulunya dipandang sebelah mata, kini keluar dari dalam rumah dengan stelan jas hitam, celana hitam, kacamata hitam, serta topi koboi hitam, itu memasuki mobil Mercedes Benz S-class.


Desas desus kembali terjadi diantara mereka. Namun, siapa yang perduli?


Diantara mereka, sebenarnya ada orang-orang yang dikirim oleh Tigor untuk memata-matai pergerakan mereka. Tujuannya adalah, untuk mengintai setiap pergerakan Marven.


Kini mereka sudah mendapatkan apa yang mereka cari. Maka, merekapun memutuskan untuk segera melaporkan semuanya kepada Tigor.


*****


Kriiiing!


Kriiiing!


"Hallo."


"Bang. Kami ingin memberitahu bahwa Karman sudah dijemput oleh Marven!"


"Bagus! Sekarang, kalian segera kembali ke kota Kemuning. Sisakan hanya satu orang saja di sana!"


"Siap, Bang!"


Tigor meletakkan ponselnya diatas meja.


"Bagaimana bang?" Tanya Ameng.


"Semuanya persis seperti yang kita harapkan. Karman saat ini sudah kembali ke sisi Marven!" Jawab Tigor.


"Ini kabar yang sangat baik sekali. Oh ya, apakah sudah ada kabar dari mata-mata kita di tempat yang lain?" Tanya Ameng lagi.


"Justru karena itu lah aku memanggil kalian ke rumah ku ini. Saat ini, orang-orang dari Hongkong telah berdatangan. Menurut informasi yang aku dapat, mereka sudah mulai berkumpul di kota Tasik Putri, dan juga Kuala Nipah. Aku akan segera menemui ketua sebelum membagi-bagikan tugas kepada kalian!"


"Mereka bergerak sangat cepat," gumam Ameng sambil menatap ke wajah Acong yang duduk di sampingnya.


Belum lagi Tigor maupun Acong membuka mulut, kembali terdengar suara dering ponsel milik Tigor.


Tigor segera menyambar ponselnya yang terletak di atas meja,. Lalu menjawab panggilan tersebut.


"Hallo Geng!"


"Bang. Mereka telah tiba di Kuala Nipah. Kehadiran pengusaha dari Hongkong ini sepertinya disambut dengan sangat antusias oleh seluruh penduduk di kampung ini,"


"Apa katamu? Bagaimana bisa?"


"Sepertinya, mereka sudah lama merencanakannya. Ternyata mereka sudah mendirikan koperasi simpan pinjam. Mereka juga menampung hasil tangkapan ikan oleh para nelayan dengan harga yang tinggi. Kehadiran mereka seolah-olah seperti malaikat pembawa Rahmat bagi orang-orang kampung Kuala Nipah,"


"Hmmm. Baiklah Geng. Kau terus awasi perkembangan. Aku harus bertemu dengan ketua untuk mendiskusikan semuanya. Tunggu perintah dari ku!"


"Siap bang!"


Tigor lalu menutup panggilan itu. Lalu mengirim pesan kepada Joe yang saat ini sedang berada di kota Batu.


"Aku selalu ada waktu, Paman. Apakah ada sesuatu yang sangat penting?" Tanya Joe dalam pesan balasan.


"Ya. Sangat penting. Baiklah, saya akan bersiap terlebih dahulu. Anda bisa menunggu saya tiba di bukit batu!"


"Baik, Paman!"


*********


Tower Class Restauran


Malam itu setelah mengadakan temu janji antara Tigor dan Joe William di bukit batu, setelah menjemput pemuda itu, Tigor pun mengajak Joe untuk berangkat ke Restoran Tower Klasik yang masih terletak di kawasan kota Batu ini.


Tujuan Tigor mengajak Joe dalam pertemuan kali ini adalah untuk melaporkan sekaligus membahas tentang informasi yang dia dapat dari Sugeng.


Di restoran Tower klasik sendiri, tampak para pelayan sangat sibuk menyediakan menu makanan paling spesial. Ini karena, dua orang besar telah menyempatkan diri untuk berkunjung. Jadi, para Manager, Koki dan pelayan semaksimal mungkin memberikan pelayanan terbaik mereka. Sukur-sukur naik gaji.


Di lantai paling atas Restoran tersebut, Kini tampak Joe sedang mendengarkan penuturan dari Tigor soal masalah yang bisa saja terjadi akibat dari kedatangan orang-orang asing dari Hongkong tersebut. Namun, sejauh ini, Joe hanya tenang-tenang saja tanpa sedikitpun merasa terkejut.


"Ketua. Saya sudah menjelaskan secara terperinci tentang informasi yang diberikan oleh Sugeng. Tapi, kelihatannya anda seperti tenang-tenang saja?!" Tegur Tigor heran.


"Apakah aku harus jungkir balik, Paman? Bukankah sudah aku katakan sebelumnya, bahwa aku memang akan menggali kuburan massal di Kuala Nipah?! Aku katakan sekali lagi. Aku ingin disenggol. Sekarang, ketika mereka ingin menyenggol ku, bagaimana aku tidak senang?" Jawab Joe rada acuh.


"Maksud anda?"


"Untuk apa proyek perhotelan di Kuala Nipah? Pemandian air tawar, lalu, proyek pariwisata. Itu semua aku lakukan sebagai alasan agar mereka mau menyenggol ku. Sudah jelas tertera di sana nama Tower Sole propier. Berani melanggar, siap-siap saja untuk berurusan dengan Dragon Empire!"


"Aku bukan tak tau bahwa mereka telah mendirikan pabrik di kota Tasik Putri. Kemana limbah pabrik itu akan mereka buang jika tidak ke sungai yang langsung mengalir ke Kuala Nipah? Begitu pantai tercemar oleh limbah, bukankah mereka ingin mencari silang sengketa dengan ku? Bukan hanya aku yang akan menjadi musuh mereka. Tapi seluruh masyarakat Kuala Nipah. Jika limbah pabrik itu terus mengalir ke laut, maka para nelayan akan kesulitan menangkap ikan. Di sini kita akan melobi pemerintah daerah, tentunya dengan bantuan masyarakat. Mereka akan gulung tikar oleh kerakusan mereka sendiri," Tutur Joe dengan panjang lebar.


"Berarti, perang besar akan segera terjadi!" Gumam Tigor sambil mengusap-usap tinjunya.


"Aku tidak ingin tanggung-tanggung lagi, Paman. Ini adalah pertarungan final. Biarkan mereka memindahkan seluruh harta mereka ke Tasik Putri. Lalu, kubur mereka semuanya. Dan siapapun yang menyebelahi mereka, adalah musuh ku!"


"Baiklah. Aku sudah mengerti jalan pikiran anda. Sekarang, bagaimana selanjutnya?" Tanya Tigor ingin tau.


"Tadi paman mengatakan bahwa Karman sudah bergabung dengan Marven. Dan Marven telah menerima kebaikan dari Bruno dan Douglas. Ini sinyal yang cukup jelas. Ditambah dengan orang-orang mereka sudah mulai berdatangan ke kota Tasik Putri dan Kuala Nipah. Mungkin, sebentar lagi Honor akan tiba di Tasik Putri. Simpan kuku dengan rapi!"


"Hmmm." Tigor mengangguk. Dia tau apa yang dimaksud dengan menyimpan kuku dengan rapi.


"Mari, Paman! Kita tidak boleh terlalu lama di sini. Takutnya, kedatangan kita yang menghebohkan ini akan tercium oleh pihak musuh!"


"Baik, Ketua. Mari!" Kata Tigor yang langsung bangkit dari kursinya.


Joe segera mengenakan masker hitam, lalu segera mendahului Tigor menuju pintu lift yang langsung mengantarkan dirinya ke ruang parkir bawah tanah. Sementara Tigor, tampak masih berdiri saja memperhatikan dari luar jendela, sambil menatap lurus ke arah jalan raya.


Tidak sampai lima belas menit, satu unit mobil yang dia ketahui dikendarai oleh Joe langsung keluar dari area parkir dan kini telah berbaur dengan para pengendara lainnya.


"Dia sudah berangkat!" Kata Tigor dalam hati. Lalu dia pun segera melangkah memasuki lift untuk menuju ke area parkir yang sama.


Tak lama kemudian, satu unit mobil sport BMW i8 pun menderu dengan kecepatan tinggi menuju ke kota Kemuning.


Bersambung...