Joe William

Joe William
Touring



Satu unit sepeda motor BMW S 1000 RR memasuki pelataran kampus dan berhenti tepat di depan sekelompok mahasiswa dan mahasiswi yang entah sedang melakukan diskusi atau apa.


Kehadiran seorang pemuda yang mengendarai sepeda motor itu sontak saja menjadi pusat perhatian bagi mereka.


Mereka mengira, siapakah gerangan pemuda tersebut. Apakah mahasiswa baru? Namun, setelah diperhatikan, mereka melihat logo J7 pada bagian dada kanan di jaket yang dikenakan oleh penunggang motor tersebut.


Terlebih lagi Mira, Dewi dan Janet. Mereka mulai bertanya-tanya. Apakah itu adalah Joe atau bukan. Karena, Jericho, James, Jaiz, Jufran, dan dua orang lainnya berada di tempat itu saat ini.


"Apakah pemuda itu adalah Joe?" Tanya Janet kepada Dewi.


"Siapa lagi? Bukankah anak Cupu itu penuh kejutan? Pantas saja Geng Cobra tidak berani mencari gara-gara lagi dengan anak-anak J7. Ternyata itu karena Joe,"


"Benar juga. Aku merasa malu dan sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata. Joe ini sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu. Siapakah orang ini sebenarnya?" Gumam Mira.


"Mulai sekarang, kita jangan mencari gara-gara lagi dengannya. Aku khawatir bahwa dia akan menyodorkan sekali lagi telapak kakinya ke depan hidung kita,"


Bisik-bisik diantara mereka terus berlanjut. Dan yang menjadi buah bibir mereka tidak lain adalah Joe.


Sementara itu, Joe yang sudah membuka helm miliknya langsung saja menghampiri Jericho dan yang lainnya.


Dengan sangat bangga, Joe langsung bertanya. "Hei Gaes! Bagaimana dengan sepeda motor ini? Aku menyewa sepeda motor ini. Dua juta rupiah harga sewanya!" Kata Joe sambil menepuk Jok sepeda motor BMW S 1000 RR yang dia dapatkan dari Lalah tersebut.


"Weeees... Mantap! Sepertinya kau tidak mau kalah dengan kami!"


"Justru kita yang kalah. Lihat ini adalah BMW S 1000 RR bro. Sedangkan kita hanya punya Kawasaki ninja 250R. Julio malah hanya Yamaha R25. Ini harganya bisa membeli sepeda motor mu sampai sembilan unit!" Kata Jaiz berdecak kagum.


"Memangnya berapa sih harga sepeda motor BMW ini?" Tanya Joe yang tidak mengerti.


"Lengkap tinggal bungkus dan siap segala dokumen, setidaknya harganya mencapai 800 juta rupiah," jawab Jaiz.


"Wow. Mahal ya. Uang ku malah tidak ada 800 juta!" Kata Joe merendah. Padahal, 800 juta Dollar yang dia tidak punya. Kalau 800 juta rupiah, dia malah lebih dari punya.


"Hahaha. Maaf Joe. Memang potongan mu bukan seperti anak orang kaya sih!" Ejek Jaiz becanda.


"Hehehe. Iya. Ini saja aku dapat dari menyewa. Kartu identitas ku sebagai jaminan!" Kata Joe berbohong. Tapi, walaupun dia berbohong, tetap saja mereka percaya.


"Ok. Semuanya telah dipersiapkan. Kalian tinggal membawa perlengkapan kalian saja. Apa yang kalian butuhkan. Sore ini kita akan berangkat dan mungkin kita akan singgah di kampung Murni sari. Kita bermalam Minggu di atas puncak bukit yang terdapat di sana. Pagi Minggu, kita langsung melakukan kerja bakti. Antaranya adalah, membersihkan saluran air, memperbaiki jembatan yang rusak, memberi sumbangan kepada warga yang memerlukan, dan lain sebagainya. Pukul 3 sore di hari yang sama, kita kembali ke kota Batu!" Kata Jericho yang bertindak sebagai ketua.


"Junet! Bagaimana dengan tabung donasi? Apakah anggaran sudah mencukupi? Jika sudah, segera tutup saja!"


"Sudah di tutup. Bahkan sebelum waktunya. Entah siapa yang mentransfer uang sebesar 20 ribu Dollar. Yang tertera di sana hanya nama 'Orang biasa' selebihnya aku tidak tau. Bahkan setelah aku cek berkali-kali!" Jawab Junet.


"Wah. Anggaran kita untuk touring kali ini hanya sekitar 50 juta rupiah saja. Jika 20 ribu Dollar itu dikonversikan menjadi rupiah, itu sudah 280 juta. Siapa orang yang sungguh sangat dermawan itu?" Tanya Jericho.


Mereka semua hanya mengangkat pundak saja. Karena, mereka memang tidak tau siapa pendonasi tersebut adanya.


*********


Tepat pukul 2 sore, rombongan anak-anak J7 pun berangkat meninggalkan kota Batu menuju ke perkampungan Murni sari. Rencananya, mereka akan berkumpul di universitas Tunas bangsa dengan anggota touring dari geng lainnya.


Murni Sari dulunya adalah perkampungan transmigrasi ketika jaman orde baru. Banyak orang-orang dari luar sumatera tinggal di perkampungan ini. Di sini terdapat suku Jawa, Sunda, Melayu, Batak dan beberapa suku lagi yang hidup berdampingan tanpa membeda-bedakan antara ras, suku dan agama.


Jika musim hujan, jalanan akan berlumpur. Jika musim kemarau, debu akan beterbangan setiap kali ada kendaraan yang lalu-lalang.


Singkat cerita, mereka yang tadinya dari kota batu dan kota-kota yang lainnya berangkat dalam keadaan bersih dan sangat keren, ketika tiba di jalan menuju perkampungan Murni sari ini, mendadak mereka berubah seperti labu kundur. Seperti dilumuri bedak akibat harus terus-menerus ditaburi oleh debu.


Joe, terpaksa berhenti dan segera mengenakan masker. Begitu juga dengan Tiara.


Hampir menjelang senja, barulah mereka tiba di perkampungan Murni sari.


Mereka terpaksa menitipkan sepeda motor mereka di rumah kepala desa kampung tersebut kemudian berjalan kaki menuju puncak bukit, lalu mendirikan perkemahan di sana.


Antara geng lain yang ikut, terdapat orang-orang yang sangat dikenali oleh Joe. Mereka adalah Hendro, Udin, Putri dan Lia.


Berkali-kali Joe membuang muka. Sampailah pada akhirnya, salah seorang dari mereka melihat Tiara.


Dan hal yang paling dikhawatirkan oleh Joe pun akhirnya terjadi juga. Karena, begitu Udin dan Hendro menghampiri dirinya dan langsung menyapa sambil membungkuk hormat, semua orang yang melihat kejadian itu langsung tercengang.


Siapa yang tidak mengenal Hendro. Anak muda arogan nan sombong serta sangat songong. Tidak pernah menghormati siapa pun itu. Bahkan dosen sekalipun, ternyata membungkuk hormat ketika sedang dihadapkan dengan anak muda yang terkenal sangat cupu di universitas Kota Batu itu.


"Tuan muda. Aku tidak menduga bahwa kita akan bertemu di sini!" Kata Hendro ketika itu.


Udin yang melihat juga tidak tinggal diam. Dia langsung berlari ke arah Joe lalu memeluk sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.


"Bagaimana kabarmu, Joe? Aku sangat merindukanmu!" Sapa Udin di sela-sela pelukannya.


"Kabar ku baik!" Jawab Joe sambil menghela nafas berat.


"Hi Joe!"


"Joe. Apa kau masih ingat aku?"


"Ya. Aku ingat dengan kalian. Bukankah kalian berdua adalah Lia dan Putri? Si songong yang suka menghinaku dulu?!"


Merah padam wajah kedua gadis itu mendengar jawaban dari Joe ini.


"Siapa sebenarnya Joe ini? Apakah?"


"Jericho. Apakah kau tau siapa Joe itu?" Tanya Hendro menguji pentolan J7 itu.


"Ya. Dia adalah junior di J7. Dia juga satu universitas dengan ku di kota batu. Aku baru saja merekrut dirinya ke dalam J7." Jawab Jericho. Namun dia segera mengernyitkan dahinya ketika melihat senyuman mencibir dari Hendro.


"Apa itu J7? Sampah! Kau tau siapa sebenarnya Joe itu hah? Awas jika kau macam-macam! Aku akan berurusan dengan mu!"


"Hei. Tunggu dulu! Siapa dia sebenarnya?" Tanya Jericho.


"Kau tidak pantas. Asal kau tau saja. Paman Tigor, Ayah ku Andra, Paman Ucok dan yang lainnya adalah bawahannya. Jadi, kau bisa mengukur apa itu J7 bagi Joe!" Jawab Hendro membuat semua yang berada di tempat itu terbelalak.


Bersambung...