Joe William

Joe William
Misi melindungi kambing hitam



Joe baru saja keluar dari area kampus untuk kembali ke bukit batu. Namun, dia segera menghentikan sepeda motornya ketika melihat seorang gadis, sedang berdiri menunggu bus mini yang biasa lewat untuk menarik penumpang yang kebanyakannya adalah mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan pribadi.


Kini, sepeda motor yang ditunggangi oleh Joe berhenti tepat didepan gadis tadi.


Heran juga hati Joe ketika melihat gadis yang sangat dia kenal itu harus menunggu bus mini yang akan lewat.


Dalam hati dia bertanya, "kemana sepeda motor yang aku belikan untuknya?"


Joe segera membuka helm miliknya, lalu segera turun dari sepeda motor yang dia tunggangi.


"Tiara?!" Sapa Joe kepada gadis yang berada di pinggir jalan tersebut.


Gadis itu tampak tergagap ketika melihat ekspresi heran di wajah pemuda itu.


"Tiara. Kau boleh benci kepada ku. Tapi, tidak seharusnya kau juga benci terhadap segala sesuatu tentang aku. Kemana sepeda motor milik mu? Apa sudah kau bakar karena terlalu benci kepada ku?" Tanya Joe dengan raut wajah tersinggung.


"Se-se.., sepeda motor ku..,"


"Kemana sepeda motor mu?" Tanya Joe sekali lagi.


"Ada. Sepeda motor ku tinggal di Kuala Nipah. Ayah ku meminjamnya," jawab Tiara berbohong. Padahal, sepeda motor pemberian dari Joe sudah dijual untuk menutupi cicilan ayahnya di koperasi simpan pinjam Kuala Nipah.


"Oh. Aku kira kau telah membakar sepeda motor pemberian ku," kata Joe menarik nafas lega.


"Maafkan aku Joe. Aku terpaksa membohongi mu," ucap Tiara dalam hati.


Dia benar-benar merasa bersalah. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu ayahnya. Dengan berat hati, dia merelakan sepeda motor pemberian Joe untuk di jual. Sedangkan untuk berterus terang kepada pemuda itu, dia tidak mampu. Apa nanti penilaian dari Joe? Bisa-bisa dia dianggap memanfaatkan hubungannya dengan Tuan muda yang kaya raya itu.


"Ayo aku antar!" Ajak pemuda itu sambil menarik tangan Tiara.


Tidak ada penolakan. Mungkin hatinya sudah melunak karena beberapa hari ini diabaikan terus oleh Joe.


Joe pun tidak banyak bicara lagi. Dia hanya fokus mengendarai sepeda motornya agar tidak nyebur ke selokan.


Ada kekakuan diantara sepasang muda-mudi ini. Mungkin benar kata pepatah. Sesuatu yang putus, patah atau pecah memang bisa disambung atau direkatkan. Namun, pasti meninggalkan bekas.


Joe terus saja melajukan motornya, hingga mereka pun tiba juga di rumah kontrakan Tiara.


Ketika melihat rumah tersebut, ada berbagai kenangan melintas diingatan Joe.


Mulai dari dia dikejar-kejar oleh geng Cobra, sampai harus menggendong Tiara. Merayu Tiara sampai-sampai Tiara menjadi pujaan jeroannya. Singkat nya, ada seribu satu kenangan di sana.


"Kita sudah sampai. Aku tidak akan singgah. Karena, jika aku singgah pun, pasti tidak akan dibenarkan. Besok aku akan menjemputmu, dan akan mengantar mu seperti biasa," kata Joe yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.


Tiara hanya terbengong melihat Joe yang pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan untuknya berbicara.


Ketika Joe sudah tidak kelihatan lagi, barulah dia memasuki rumah kontrakan nya dan langsung ke kamar. Gadis itu membenamkan wajahnya pada bantal dan menangis sejadi-jadinya.


Tiara bukan gadis yang cengeng. Tapi, dia menjadi merasa sangat bersalah karena kebaikan Joe telah dia sia-siakan. Dia sangat menyesal telah mengembalikan kartu kredit yang diberikan oleh pemuda itu, dan juga merasa bersalah telah merelakan sepeda motornya di jual untuk menutupi tunggakan hutang ayahnya.


*********


Tasik Putri


Kematian Irfan benar-benar telah menyita perhatian publik. Terutama, diantara kelompok bawah tanah. Baik itu di kota Tasik Putri, Dolok ginjang maupun kota Batu.


Di bagian pinggir kompleks elite Tasik Putri, di salah satu rumah besar seperti Manor, tampak Honor, Tiger Lee, Zacky, Paman Cheung, Tuan Liem Guan dan Tuan Kim sedang memperbincangkan masalah kematian Irfan yang diduga dibunuh oleh sekelompok anggota Gengster tersebut. Namun, karena pihak kepolisian belum bisa mengungkapkan dari kelompok mana pelaku pembangunan itu berasal, maka saat ini informasi yang mereka dapat menjadi simpang siur. Sampai pada akhirnya Zacky tiba di Manor tersebut, barulah keadaan menjadi jelas.


"Bagaimana Irfan bisa terbunuh?" Tanya Honor kepada mereka semua yang ada di tempat itu.


Tiger Lee yang sama sekali tidak mengetahui alasan mengapa Irfan di bunuh, hanya diam saja. Sedangkan yang lainnya hanya mengangkat pundak mereka masing-masing.


"Tuan besar. Pagi tadi memang Irfan ada menemui ku di pusat hiburan Dunia gemerlap malam. Dia mengatakan ingin meminta bantuan untuk mendapatkan 30% saham dari Marven. Namun saya tidak menggubrisnya. Menurut saya, tidak penting siapapun yang memegang saham tersebut. Lebih baik Marven yang memang pemilik sah dari Martins Group, dibandingkan dengan Irfan. Lagipula, kita hanya menginginkan kambing hitam. Dan kambing tersebut lebih cocoknya adalah Marven," kata Zacky pula.


"Aku tidak perduli dengan kematian Irfan itu. Apakah arti nyawanya. Bagiku, dia melakukan pekerjaannya dengan baik, dan aku memberikan imbalan yang baik pula. Hanya saja, atas dasar apa orang-orang ini menginginkan kematiannya?" Tanya Honor Miller.


"Irfan sempat mengatakan kepadaku agar memberikannya bantuan untuk melindungi Marven. Karena, istri dari Marven ini telah kembali ke kota Batu dan sekarang sedang membangun kekuatan. Ini karena, dia satu-satunya ahli waris dari Birong yang dulu adalah ketua dari komplotan Geng tersebut. Hanya saja, motif dari semua itu masih samar," jawab Zacky.


"Aku bisa menduga bahwa ini berkaitan dengan 30% saham yang dipegang oleh Marven. Kita harus melindungi Marven. Aku dapat membaca semua ini. Ini hanyalah permainan lama yang biasa dimainkan oleh anak-anak," kata Tiger Lee pula.


"Maksud Paman..? Oh. Aku tau sekarang. Berarti, ada yang menginginkan kematian Marven. Oleh karena itu, Irfan meminta bantuan kepada Zacky. Berarti, wanita itu sangat berbahaya. Jika Marven mati, maka dialah yang akan mewarisi peninggalan dari almarhum suaminya. Kotor sekali cara mainnya. Apakah dia ingin mengeruk keuntungan dari kita?" Tanya Honor yang mulai dapat meraba motif dari terbunuhnya Irfan.


"Aku yakin ini adalah cara yang paling praktis untuk mereka tempuh. Andai 30% saham itu jatuh ke tangan wanita itu, maka dia akan mendapatkan keuntungan sebesar 30% dari saham yang dia pegang. Jika menurut laba bersih dari bisnis kita, maka dia misa mendapatkan tiga juta Dollar pertahun. Benar-benar wanita sialan. Dia rela mengkhianati suaminya demi organisasi yang sedang dia bangun," geram sungguh hati Tiger Lee dengan pengkhianatan Butet ini.


"Apakah menurut Paman, kita musnahkan saja kelompok yang baru tumbuh ini?" Tanya Honor sekadar ingin meminta pendapat.


"Tidak!" Tegas jawaban dari Tiger Lee.


"Mengapa, Paman?"


"Inilah yang dikatakan, mengambil manfaat dari pergolakan di tubuh mereka. Mereka ini jika dibiayai, akan sangat berguna untuk kita memerangi Tower Sole propier. Maka, kita berkawan saja dengan mereka, dan di sisi lain, kita lindungi kambing hitam milik kita. Andai terjadi sesuatu, kita kembali ke Hongkong, dan biarkan kambing hitam yang menghadapi tuntutan hukum. Kita bisa cuci tangan kapan saja. Mereka hanya menginginkan uang. Dan kita memiliki sumber daya yang melimpah. Apa salahnya untuk memperbudak mereka,"


"Cemerlang. Itu idea yang sangat cemerlang. Mari kita lakukan!" Kata Honor pula dengan bersemangat.


Yang lain juga tampak mengangguk-anggukan kepala mereka.


Jelas mereka tau maksud dari perkataan Tiger Lee ini. Malah, mereka bersyukur atas kematian Irfan. Dengan begitu, hilang satu masalah yang bisa merepotkan mereka.


Bersambung...