
Perahu bermesin tampak dari kejauhan menuju ke salah satu tangkahan di pinggir pantai di salah satu desa pinggir laut yang masih berada dalam kawasan kabupaten Tanjung karang ini.
Setelah perahu mesin itu bersandar di tangkahan, tampak seorang lelaki setengah baya berbadan kurus dan jangkung melompat ke atas sambil membawa seutas tali lalu menambatkan tali tersebut di satu tiang pancang agar perahu tersebut tidak terbawa arus ke tengah laut.
Setelah menambatkan tali tersebut, tampak lelaki kuris dengan kepalanya di ikat dengan handuk leher yang sudah Kumal itu kembali ke melompat ke dalam perahu kemudian mengangkat sebuah peti yang dipenuhi dengan hasil tangkapannya sejak tadi malam itu.
Beberapa orang lelaki tampak membantu lelaki setengah baya itu mengangkat peti tersebut kemudian membawanya ke arah sebuah gudang kecil lalu meletakkan peti tadi di atas timbangan.
"Sekian kilo." Kata lelaki berbadan gemuk sambil merobek buku catatan jumlah timbangan lalu menyerahkannya kepada lelaki kurus tadi.
"Wah pak Karman. Lumayan juga hasil tangkapannya hari ini ya?!" Kata lelaki gemuk itu.
"Alhamdulillah. Malam tadi laut sedikit tenang. Jadi, tidak terlalu sulit untuk membuang pukat. Apa lagi aku kan sendirian. Yah ini sudah sangat lumayan lah." Jawab lelaki kurus bernama Karman itu.
Sementara mereka asyik mengobrol, tiba-tiba dari arah pantai tampak seorang anak lelaki berlari-lari menuju gudang kecil itu sambil berteriak. "Ayah. Ada orang mencari mu. Katanya dari kota Kemuning." Kata anak itu sambil memeluk paha lelaki kurus bernama Karman tadi.
"Siapa mereka itu Karim?" Tanya Karman.
"Karim tidak tau, Ayah. Mereka menanyakan keberadaan Ayah di semua penduduk. Akhirnya salah seorang teman Ayah mengantar mereka ke rumah." Jawab anak berusia sepuluh tahun bernama Karim itu.
"Ayo kita pulang."
"Oh ya Tauke. Besok saja aku ambil uang nya ya. Sekalian kita kirahan. Berapa hutang dan berapa sisa uang ku. Aku pulang dulu." Kata Karman kepada lelaki gemuk yang dia panggil dengan sebutan Tauke itu.
"Ok lah Karman. Semoga besok hasil mu banyak lagi. Jika kau membutuhkan solar, kau SMS saja ya. Nanti pekerja ku akan mengirimkan kepada mu." Kata lelaki gemuk itu.
"Siap lah. Pokoknya Tauke tenang saja." Kata Karman lalu bergegas menggandeng tangan si Karim lalu berjalan menuju ke perkampungan yang tidak jauh dari pinggir pantai itu.
Sekilas, perkampungan ini tidak jauh berbeda dengan kampung Kuala Nipah. Ini karena perkampungan di sini itu sama-sama berada di pinggir laut.
Hanya saja, yang membedakan adalah, perkampungan di sini itu lebih ramai, lebih besar dan tampak seperti kota kecil di pinggir laut dengan beberapa pabrik juga ada di perkampungan ini.
...*********...
Karman tampak mengernyitkan kening ketika melihat ada beberapa unit kendaraan roda empat terparkir di bawah sebatang pohon akasia yang tidak jauh di depan rumah sederhana miliknya.
Dengan dada berdebar-debar, dia segera mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah.
"Assalamualaikum!" Kata Karman begitu tiba di depan pintu.
"Waalaikumsalam." Kata seorang wanita sambil menggendong seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun.
"Sudah pulang bang?" Tanya wanita itu.
"Sudah Mar." Jawab Karman.
"Mar. Mobil siapa itu?" Tanya Karman heran.
"Itu mobil orang-orang yang katanya dari kota Kemuning. Mereka mencari Abang." Jawab Marlina. Wanita yang dinikahi oleh Karman sekitar dua belas tahun yang lalu.
"Dari kota Kemuning? Di mana mereka sekarang?" Tanya Karman.
"Mereka ada di belakang rumah bang. Sambil duduk di bawah pohon mangga.
"Tidak kau persilahkan masuk?" Tanya Karman.
"Sudah bang. Tapi mereka menolak. Katanya tidak boleh lelaki asing memasuki rumah seseorang ketika suaminya tidak berada di rumah." Jawab Marlina.
"Hmmm... Sangat beretika. Aku penasaran siapa orang ini." Kata Karman sambil menyerahkan selembar kertas kepada bini nya lalu segera menuju ke bagian belakang rumah itu dari jalan di samping rumah.
Dengan sedikit usaha, akhirnya Karman tiba juga di bawah pohon mangga yang memiliki tempat peristirahatan yang terbuat dari belahan papan. Ini sengaja dibikin oleh Karman untuk sekedar beristirahat jika sedang suntuk di dalam rumah.
"Ah, selamat siang bang. Apakah anda mencari saya?" Tanya Karman yang tidak melihat wajah orang-orang itu karena posisinya membelakangi Karman.
Beberapa orang lelaki tamu tadi langsung berbalik ketika mendengar suara sapaan dari belakang dan..,
"Heh. Bang Tigor!" Kata Karman seperti tidak percaya.
"Ini kau betulan bang?" Tanya Karman lagi sembari bergegas menghampiri sekitar enam orang lelaki yang berteduh di bawah pohon mangga itu.
"Karman!" Kata Tigor sambil berdiri lalu mereka pun saling bersalaman.
"Kemana saja kau Karman. Dua hari aku mencari mu di mana-mana. Bahkan hampir dua ratus orang aku kerahkan untuk mencari keberadaan mu di seluruh kota di lima kawasan ini." Kata Tigor.
"Bagaimana Abang bisa tau kalau aku di sini?" Tanya Karman sambil mempersilahkan tamunya itu untuk kembali duduk.
"Kau pasti heran mengapa aku bisa sangat yakin bahwa ini adalah rumah mu." Kata Tigor.
"Iya bang. Mengapa Abang bisa begitu yakin?" Tanya Karman ingin tahu.
"Karena Anak laki-laki mu itu. Wajahnya sangat mirip dengan wajah mu."
"Hehehe." Kata Karman sambil tersenyum lalu menepuk pundak Andra, Ucok, Acong dan yang lainnya secara bergantian.
"Bagaimana kau bisa terbuang sampai ke kampung ini Karman?" Tanya Tigor.
"Panjang ceritanya bang." Kata Karman sambil duduk.
"Coba kau ceritakan singkatnya saja!" Kata Ucok pula.
"Selesai kita berbalas pesan itu, Abang kan menyuruh aku untuk menyingkir?! Aku memang menyingkir bang. Tapi tidak langsung lari jauh. Aku terus mengintai seluruh kejadian itu."
"Ketika pihak polisi datang, aku melihat Marven di tangkap sementara Polisi menembak mati si Birong. Aku juga sempat terkejut melihat Black Cat di tembak kakinya. Kau juga tertangkap ketika itu dan di seret memasuki mobil polisi." Kata Karman mengisahkan perjalanannya.
"Lalu?" Tanya Tigor lagi.
"Awalnya aku ingin berangkat ke kota Kemuning menemui Bang Monang dan yang lainnya. Namun karena aku melihat berita yang mengatakan bahwa Black Cat akan di hukum mati. Kemudian aku melihat Marven di hukum dengan hukuman 20 tahun penjara serta kau yang mendapat masa tahanan selama 17 tahun, aku menjadi sangat ketakutan. Apa lagi semua orang tau bahwa aku dengan Marven sangat dekat."
"Dengan sisa uang yang aku dapat dari Marven dan dari Abang, aku melarikan diri ke kampung pelosok ini lalu menanggalkan identitas ku sebagai bagian dari geng kucing hitam. Aku mulai membangun rumah ini dan mengambil pekerjaan menjadi nelayan, sampailah akhirnya setelah lima tahun berada di kampung ini, aku menikah dengan seorang gadis yang menurut ku sangat baik. Dari pernikahan itu Alhamdulillah aku dikaruniai dua orang anak. Yang satu bernama Karim. Karim ini lah yang Abang bilang mirip sama aku itu. Yang ke dua perempuan. Aku beri nama Karlina. Begitulah bang." Kata Karman mengisahkan perjalanannya setelah kejadian itu.
"Kau betah bekerja sebagai nelayan ini Karman?" Tanya Tigor.
"Mau gimana lagi lah bang. Tak kerja mana makan aku. Bini ku juga kan mau makan. Sementara itu aku tidak punya sandaran. Beruntung aku dulu mengikuti nasehat mu tidak berjudi lagi. Dengan uang hasil dari kehebatan ilmu padi ku itu lah aku bisa membeli perahu mesin dan rumah ini. Akhirnya ya begini ini lah." Kata Karman menjelaskan.
"Karman. Kau memiliki kemampuan. Sayang jika kemampuan mu ini terbuang sia-sia. Begini saja. Sebentar lagi Marven akan bebas dari penjara. Aku menduga bahwa dia pasti memiliki dendam kesumatnya pada ku. Kau tetap di sini saja. Tetap melaut. Tapi jangan fikirkan hasil. Aku akan memberikan jaminan uang kepada mu sebanyak 20 juta sebulan. Bagaimana?" Tanya Tigor.
"Tujuh belas tahun yang lalu gaji ku 10 juta. Setelah sekian lama hanya naik 10 juta. Tak mau aku. 35 juta sebulan." Kata Karman sambil tertawa.
"Sialan kau Karman. Hahaha. Ya sudah. 50 juta untuk mu sebulan. Masalah uang aku tidak pernah perhitungan. Apa lagi sekarang bisnis Martins Hotel dan yang lainnya sangat bagus." Kata Tigor.
"Hehehe. Ini baru sahabat lama namanya. Oh ya bang. Maksudmu tadi pekerjaan apa? Apa kau ingin aku bekerja lagi untuk Marven?" Tanya Karman.
"Sangat benar sekali. Namun, kau jangan mencari dirinya. Biarkan dia yang mencari diri mu. Kau tetap saja menjadi nelayan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Setelah bebas, aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Marven pasti akan mengumpulkan kembali sisa-sisa anak buahnya. Kau juga tidak terkecuali. Terima saja ajakannya untuk kembali bekerja dan jadilah mata dan telinga ku di sisinya. Bagaimana?" Tanya Tigor.
"Baiklah bang. Ini karena kita adalah sahabat. Terimakasih karena telah mengingat aku yang sudah terbuang ini." Kata Karman seolah-olah perkataan ini menampar pipi Monang dan yang lainnya yang berada di tempat itu.
"Maafkan kami Karman. Bukan maksud kami membuang dirimu. Namun kau juga harus tau bahwa banyak yang harus kami kerjakan setelah bang Tigor masuk penjara." Kata Monang sambil menepuk pundak Karman.
"Iyalah aku ngerti ko. Tidak apa-apa." Kata Karman.
"Karman. Di dalam cek ini ada seratus juta rupiah. Kau ambil saja dan perbaiki atap rumah mu yang bocor itu." Kata Tigor menyerahkan selembar cek kepada Karman.
"Makasih bang. Terimakasih banyak." Kata Karman dengan tangan bergetar menerima selembar cek itu. Matanya tampak berkaca-kaca saat ini.
"Oh ya. Berapa nomor rekening mu. Supaya aku bisa mengirim uang setiap bulannya sebagai gaji mu. Kita juga harus bertukar informasi kontak. Karena setelah ini, kita tidak boleh lagi bertemu. Aku khawatir rencana kita akan rusak karena ini." Kata Tigor.
"Siap bang. Ini nomor rekening ku dan nomor ponselku." Kata Karman sambil menyerahkan ponselnya kepada Tigor.
Selesai mencatat nomor ponsel Karman, Tigor pun mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya lalu bangkit berdiri.
"Karman. Kami berangkat dulu untuk pulang ke kota Kemuning. Masih banyak yang harus di kerjakan." Kata Tigor sambil memeluk lelaki kurus itu.
"Hati-hati dijalan bang." Kata Karman pula.
"Loh bang? Apa tidak minum dulu. Aku baru membuatkan kopi untuk kalian." Tegur seorang wanita ketika melihat Tigor dan rombongan berjalan ke arah mobil.
"Terimakasih adik ipar. Kami masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Kapan-kapan kalau sudah tenang, datang saja ke Martins Hotel. Kalian bebas keluar masuk di hotel itu." Kata Tigor sambil menyerahkan sekeping kartu VIP member kepada wanita itu.
"Kartu apa ini aku tidak mengerti." Kata wanita itu sambil menyerahkan kartu VIP member itu kepada suaminya.
"Kau mana mengerti ini. Tau mu kan uang tunai." Kata Karman.
"Baiklah Karman dan kau adik ipar. Kami pamit dulu." Kata Tigor lalu segera membuka pintu mobil nya.
Tak lama setelah itu, rombongan mereka pun bergerak meninggalkan rumah Karman menuju kembali ke kota Kemuning.
...**Selesai baca, wajib Like...
Bersambung**...