Joe William

Joe William
Menelepon Harvey



Seorang lelaki setengah baya tampak berjalan memasuki lobby hotel di Martins Hotel dan tampak buru-buru sekali.


Beberapa resepsionis di hotel tersebut tampak membungkukkan badannya ketika berpapasan dengan lelaki itu.


"Selamat datang bang Tigor." Kata mereka dengan hormat.


"Terimakasih. Apakah yang lain ada datang menjenguk ketua?" Tanya Tigor.


"Belum Bang. Mereka belum ada yang datang kecuali orang-orang yang memang Abang tempatkan di sini." Jawab sang resepsionis itu.


"Oh baiklah. Terimakasih ya." Kata Tigor sambil menepuk pundak lelaki yang di sampingnya berdiri seorang wanita muda yang cantik.


"Sama-sama bang." Jawab lelaki muda itu sekali lagi membungkuk hormat.


Kini Tigor terus menuju ke lift untuk naik ke lantai di mana Joe William tinggal.


Tiba di depan pintu, Tigor langsung mengetuk dan di sambut dengan suara seorang pemuda dari dalam kamar tersebut.


"Ketua, apakah anda di dalam?" Tanya Tigor.


"Paman, pintunya tidak di kunci." Jawab Joe dari dalam.


Mendengar jawaban ini, Tigor pun langsung mendorong pintu hingga terbuka setengahnya lalu segera masuk ke dalam.


"Ketua. Seperti pesan anda. Orang-orang Tuan Arslan berhasil menemukan keberadaan sahabat anda bernama Harvey itu. Namun seorang lagi bernama Lilian masih belum berhasil ditemukan. Apakah anda ingin nomor ponsel nya?" Tanya Tigor.


"Hah? Ketemu ya Paman." Kata Joe dengan wajah cerah lalu melanjutkan. "Mau. Mana nomor ponsel nya? Aku sudah sangat rindu. Sudah tiga tahun aku tidak bertemu dan mendengar kabar dari sahabatku itu." Kata Joe.


"Ini nomornya ketua. Sekian.., sekian.., sekian." Kata Tigor menyebutkan serangkaian nomor ponsel yang langsung di tulis oleh Joe kemudian langsung di simpan di dalam daftar kontak nya.


"Terimakasih banyak Paman. Sampaikan juga kepada paman Arslan ucapan terimakasih dari ku." Kata Joe dengan wajah yang sangat ceria.


"Ketua. Mungkin anda ingin menelepon sahabat anda itu. Saya tidak akan mengganggu. Saya permisi dulu." Kata Tigor yang memang memiliki banyak urusan lain.


"Baiklah Paman. Anda sibuk lah dulu. Aku akan menelepon sahabat lama ku ini." Kata Joe.


Setelah Tigor pergi meninggalkan kamar hotel tempatnya menginap itu, kini Joe pun langsung menekan tombol panggil di layar ponselnya dan terdengar nada sambung pribadi di seberang sana dengan lagu mendayu-dayu.


"Gila si Harvey ini. Seleranya mengapa melow begini?" Kata Joe dalam hati.


***


Sementara itu, di Mountain Slope, tampak seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun berjalan memasuki kamarnya karena mendengar suara deringan di ponselnya.


Ketika dia meraih ponselnya, dia sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat serangkaian nomor asing dengan awalan +62.


"Siapa ini?" Pikirnya dalam hati lalu segera mengusap layar untuk menjawab panggilan itu.


"Halo." Katanya memulai sapa.


"Harvey. Hei Harvey. Bagaimana kabar mu?"


Terdengar suara yang rasanya tidak asing namun terasa sedikit berbeda.


"Kabar ku baik-baik saja. Maaf siapakah ini?" Tanya Harvey sedikit heran.


"Wah. Kau sudah melupakan sahabat mu. Ini aku Joe. Joe William. Apa kau lupa." Tanya suara di seberang sana itu.


"Hey Joe. Apa sial?. Kau kemana saja Joe? Sudah lama aku tidak mendengar kabar darimu semenjak kita berpisah." Kata Harvey dengan sangat antusias.


"Ya. Aku masih di sini. Tidak ada yang berubah kecuali Lilian."


"Lilian? Ada apa dengan Lilian Vey?" Tanya Joe heran.


"Lilian sudah pindah hampir setahun yang lalu Joe. Orang tuanya menjual semua aset miliknya di Mountain Slope ini kemudian pindah ke Garden Hill." Kata Harvey menjelaskan.


"Garden Hill? Apa yang mereka lakukan di sana?" Tanya Joe heran.


"Kau belum tau kan Joe. Itu lah. Kau terlalu lama di luar negri. Saat ini di Garden Hill ada dua perusahaan raksasa yang berdiri. Kota itu juga sedang dalam tahap pembangunan besar-besaran. Setelah Paman Ryan datang ke kampung kita ini, ayahnya Lilian sempat mendapat bocoran bahwa di sana ada banyak peluang untuk mengubah hidup lebih baik. Si Charles juga bolak-balik antara Starhill dan Garden Hill untuk membantu Paman Ryan bekerja."


"Ayahnya Lilian lalu menjual seluruh aset miliknya yang konon katanya laku hampir satu juta Dollar. Setelah itu mereka sekeluarga pindah ke Garden Hill. Semenjak itu lah kau tidak lagi mendengar kabar tentang sahabat kita itu. Jaraknya terlalu jauh bagi ku yang tidak memiliki banyak uang untuk mengunjunginya." Kata Harvey dengan nada sedih.


"Begitu ternyata ceritanya. Hei Vey. Apakah kau berencana untuk melanjutkan kuliah? Jika iya, kemana kau akan melanjutkan studi mu?" Tanya Joe.


"Aku masih belum tau. Apakah akan melanjutkan di Starhill karena paman Ryan menjanjikan akan membantu keuangan kuliah ku. Kau kan tau Ayah ku tidak terlalu mampu." Kata Harvey.


"Tidak mampu bagaimana? Dulu kan aku lihat keluarga mu termasuk antara keluarga yang lumayan. Bagaimana bisa dikatakan kurang mampu?" Tanya Joe heran.


"Penyakit orang kampung kalau sedikit berduit begitu lah. Mulai pamer ke sesama tetangga. Akhirnya habis semuanya hanya untuk ajang pamer."


"Ya sudah Vey. Kau terima saja ajakan dari Paman Ryan itu. Kau harus kuliah Vey! Siapa tau nanti nasib mu bisa seperti paman Ryan." Kata Joe memberi semangat kepada sahabatnya itu.


"Aamiin. Semoga saja."


"Eh Joe. Kau di negara mana sekarang? Nomor ponsel mu ini terasa aneh. Ada tiga belas angka." Tanya Harvey heran.


"Aku di Indonesia Vey. Tapi tak lama lagi aku akan segera kembali. Aku merindukan kalian. Semoga saja kau masih mengenali wajah ku." Kata Joe.


"Apakah penampilan mu berubah?" Tanya Harvey.


"Banyak perubahan pada diri ku Vey. Salah satunya tingkah ku. Lalu wajah ku kini terlalu tampan untuk ukuran orang-orang di Mountain Slope itu." Kata Joe bercanda.


"Hahaha. Kau bisa saja. Oh ya Joe. Kau kan anak orang kaya. Semua orang di kampung ini sudah mengetahui kekuasaan Ayah mu. Tapi, mengapa kau sampai merantau ke Indonesia itu Joe?" Tanya Harvey yang memang polos itu.


"Hahaha. Aku merantau di sini sambil mencari pengalaman. Siapa bilang aku kaya. Yang kaya itu ayah ku. Aku masih sama seperti dulu. Jika tidak latihan ya tidak diberi makan malam." Kata Joe sambil mengingat-ingat kenangan bersama Kakek Malik dulu.


"Joe. Kau cepatlah kembali. Kita bisa bertemu lagi lalu bermain-main bersama seperti dulu lagi." Kata Harvey.


"Aku akan menemui mu di waktu yang tepat. Saat ini dengan berbagai alasan, aku tidak bisa." Kata Joe dengan nada sedih.


"Iyalah. Aku tau siapa diri ku. Manalah kau mau bersahabat dengan aku."


"Jangan bicara seperti itu Vey. Kau adalah sahabat pertama yang baik kepada ku. Nanti setelah waktunya tepat, aku pasti menemui dirimu. Masalah kuliah mu di Starhill, jangan kau fikiran. Aku secara pribadi akan meminta Ayah ku untuk memfasilitasi selama kau belajar nantinya. Itu janji ku." Kata Joe.


"Terimakasih Joe."


"Sama-sama. Vey. Sudah dulu ya. Kau sibuk lah dulu. Aku juga akan sibuk."


"Ok Joe. Bye-bye."


"Bye." Kata Joe lalu mengakhiri panggilan telepon itu.


"Huh. Lega rasanya dapat mendengar suara sahabat ku." Kata Joe sambil melemparkan ponselnya di atas ranjang lalu mengambil handuk untuk segera mandi.


Rencananya, Joe akan berjalan-jalan ke Tower Mall sekaligus ingin menaiki Troli. Rasa rindunya dengan Troli sudah tidak terbendung lagi.