
Selepas di tinggal oleh Jerry dan putranya Joe William, kini tinggallah Tuan Barry, Ronald, Austin, Arslan, Ryan, Daniel dan Riko terduduk di kursi yang berada di dalam ruangan tempat mereka di sekap itu.
Tidak ada raut kegelisahan di wajah mereka, melainkan hanya merasa heran mengapa putra dari Jerry William ini begitu sangat kejam dan terkesan memiliki darah dingin.
Berbeda dengan Ryan. Dia sejak tadi berulang kali menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskan nafas itu kuat-kuat. Ada riak geram di raut wajahnya. Hal ini karena nama baiknya bakalan hancur berantakan oleh ulah dari kedua keponakan nya itu.
Andai waktu bisa diundurkan, ingin rasanya dia tidak membawa kedua keponakannya itu kuliah di Golden University ini. Terlebih lagi, mempercayakan sebagian tugas yang dia emban kepada kedua keponakan nya itu.
Memang Ryan dan semua mereka yang ada di tempat itu sangat sibuk. Semua mereka bukan hanya memegang satu jabatan. Sebagai salah satu dari orang-orang kepercayaan Jerry, mereka juga adalah anggota dewan dalam Future Fondation, pemilik saham di perusahaan patungan Lotus Global Corporate serta Ahli negosiasi dalam setiap kebijakan investasi yang akan dilakukan oleh perusahaan Future of Company. Hal ini lah yang membuat kesemua mereka ini mengandalkan beberapa asisten baik dari keluarga mereka sendiri yang memiliki kemampuan, maupun dari orang-orang luar yang juga memiliki kemampuan.
Bagi Ryan sendiri, kehadiran dua tenaga muda yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi seperti Charles dan Milner merupakan anugrah tersendiri baginya. Namun yang tidak dia sangka adalah, mereka berdua ini menyalahgunakan kecerdasan yang mereka miliki. Ini yang membuat Ryan ikut terseret dalam masalah yang ditimbulkan oleh Charles dan Milner ini.
"Tampaknya kita hanya bisa tidur di sini malam ini." Kata Riko dengan lemas sambil merapatkan tubuhnya di dinding ruangan itu.
"Apa boleh buat. Namanya juga orang bersalah." Kata Arslan pula lalu melakukan hal yang sama.
"Ini memang kesalahan kita karena tidak bisa mendidik anak buah. Selama ini kan kita tidak pernah mendapat masalah. Sesekali bolehlah. Laut juga tidak selamanya tenang. Pasti akan ada ombak dan badai. Jika tidak begitu, mana mungkin kita akan lebih berhati-hati lagi dalam bertindak." Kata Daniel.
"Tuan Barry, silahkan anda duduk di sini. Ini akan menghindari anda dari masuk angin." Kata Ryan mempersilahkan Tuan Barry untuk duduk.
"Hanya satu malam ini saja. Aku menduga pasti Tuan muda ini memiliki rencana yang sangat besar. Jelas ini sesuatu yang dapat mengecoh kan lawan." Kata Austin.
"Aku tidak menduga akan ikut terseret juga." Balas Ronald.
"Hahaha. Kalian ini selalu mengeluh. Tapi aku sedikit terkejut tadi ketika melihat anak itu seperti akan mengamuk. Matanya itu yang membuat aku ketakutan. Aku sudah berumur sebegini tua. Sudah puas makan asam garam dalam kehidupan ini. Bukan satu dua bahaya yang pernah aku hadapi. Tapi anak ini tadi benar-benar membuat ku takut. Dia bisa lupa daratan ketika sudah marah. Sebenarnya itu bagus agar musuh berfikir dua kali untuk membuat silang sengketa dengannya. Namun hal ini juga bisa menjadi bumerang bagi anak itu. Andai dia sampai salah menjatuhkan tangan kasar, maka semua kerugian akan dia tanggung sendiri." Kata Tuan Barry.
"Semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Anak itu masih labil. Dia belum tau menakar kadar emosi nya dan masih belum bisa mengendalikan amarahnya. Baginya, setiap persoalan harus selesai secepat mungkin dengan cara apa jua sekalipun."
"Yaaaah.., tidak apa-apa jika malam ini kita tidur di sini. Setidaknya dengan adanya penyekapan ini, besok aku bisa marah kepada Moreno dan menekannya dengan cara ku. Bila perlu, aku akan menyuruh dia membayar kembali harga saham milik ku atau aku yang membayar harga saham miliknya. Setelah itu, dia bukan siapa-siapa lagi di perusahaan."
"Dengan 80% saham dimiliki oleh orang-orang yang berada di dalam organisasi, pasti nya dia tidak akan mampu berbuat apa-apa." Kata Tuan Barry.
"Pokoknya kita memiliki Tugas masing-masing. Tampaknya ini tidak sederhana. Maka dari itu, persiapkan mental kalian untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi." Kata Ronald.
"Aku sudah memprediksi apa yang akan terjadi besok. Andai itu menimpa diriku, aku akan menerima dengan lapang dada." Kata Riko pula.
Tok tok tok!
"Tuan Barry, Tuan muda menyuruh kami untuk membawakan makan malam untuk kalian."
Kini mereka melihat ada puluhan lelaki berbadan tegap di luar dengan membawa makanan dan meletakkannya di atas meja.
"Apakah ini atas perintah dari Tuan muda?" Tanya Ronald.
"Benar Tuan Ronald. Sebenarnya Tuan muda sangat menyesal karena telah mengurung anda di sini. Tapi dia harus melakukan hal itu karena jika tidak, dia khawatir semua yang sudah dia rencanakan akan bocor dan menyebabkan dia gagal memberikan hukuman kepada orang-orang yang terlibat dalam penyalahgunaan nama perusahaan dan organisasi." Kata salah seorang dari lelaki berbadan tegap itu.
"Hmm... Baiklah. Berapa orang kalian yang berada di sini?" Tanya Tuan Barry.
"Lebih dari lima puluh orang. Tetua Jeff juga ada di sini. Maaf Tuan Barry. Kami tidak boleh lama. Sejujurnya, ponsel kami juga di sita oleh Tuan muda sekaligus ketua kami." Kata mereka.
"Baiklah. Oh ya. Katakan kepada Jeff bahwa aku mengucapkan terimakasih!" Kata Tuan Barry.
"Baik Tuan." Jawab mereka lalu segera meninggalkan ruangan itu.
Kini tinggallah mereka di dalam saling pandang setelah pintu ruangan itu di tutup.
"Raja baru telah tiba. Aku dapat menangkap maksud dari Tuan muda ini." Kata Austin bergumam kepada dirinya sendiri.
"Maksud anda Pak Austin?!" Kata Ryan bertanya.
"Dia ingin menyampaikan kepada dunia bahwa dia telah terjun ke dunia bisnis. Dia ingin menyampaikan kepada saingan bisnisnya secara tidak langsung bahwa jangan bermain-main dengannya. Ini adalah semacam sinyal peringatan kepada mereka yang menganggap enteng terhadap Future of Company." Kata Austin.
"Beruntung sekali Tuan besar memiliki Putra seperti ini. Tidak perlu banyak anak. Tidak perlu terlalu ramai. Cukup satu saja tapi unggul di berbagai sisi. Inilah yang dikatakan tidak perlu kuantitas melainkan kualitas lah yang berbicara."
"Aku juga sependapat dengan mu Austin. Kita akan melihat seperti apa nantinya Tuan muda ini menangkis serangan dari keluarga Miller ini." Kata Ronald.
"Maaf Tuan semuanya. Aku sedikit berbeda dengan kalian. Menurut ku, Tuan muda ini tidak terobsesi untuk menggantikan Jerry di kursi tertinggi dalam perusahaan. Anak ini cenderung menggunakan otot dibarengi dengan otak. Selama ini kita melihat peperangan antara Future of Company hanya menggunakan taktik. Namun belum pernah merambah sampai adu fisik. Kehadiran Joe ini pasti akan membuat suasana menjadi intens. Karena sepertinya anak ini tidak suka bertele-tele dalam bertindak." Kata Ryan pula.
"Ini menarik. Tinggal lagi, bagaimana kita bisa membantu Joe ini untuk mengimplementasikan idea-idea yang dia miliki. Karena, tanpa dukungan dari jajaran bawahan, tidak mungkin segala rencana bisa terealisasi dengan benar." Kata Riko.
"Kalian ini masih muda. Kalian cocok untuk mendampingi anak itu. Kami yang tua ini cukup membantu dengan taktik dan pemikiran saja." Kata Tuan Barry.
"Mari kita lihat besok apa yang akan dilakukan oleh Tuan muda ini. Aku yakin akan ada kegemparan besar yang akan dia lakukan. Aku sudah tidak sabar untuk itu." Kata Riko yang memang sangat suka bermain otot daripada menggunakan otak. Hal ini juga diamini oleh Arslan.
Selesai baca, harap tinggalkan like!
BERSAMBUNG...