Joe William

Joe William
Jangan pancing kemarahan Joe William



Siang ini. Dengan mengabaikan Udin dan Hendro serta Lia dan Putri, Joe yang merasa bahwa mereka memang tidak cocok berteman dengannya memilih untuk jalan bersama dengan Tiara.


Hal ini membuat Lia dan Putri sedikit merasa heran dan langsung bertanya kepada Udin.


"Din. Tidak biasanya Joe seperti itu. Apakah dia tersinggung kepada kita yang meninggalkan dirinya tadi begitu saja." Tanya Putri.


"Bukan salah dia. Kau tanyakan kepada dirimu sendiri. Andai kau ditinggal begitu saja. Bagaimana perasaan mu?" Kata Udin balik bertanya lalu berjalan menuju ke kantin untuk menghampiri Joe yang akan membelikan air minuman untuk Tiara.


"Hai Joe." Sapa Udin begitu tiba di dekat sahabatnya itu.


"Hei Din. Kau belum pulang?" Tanya Joe.


"Belum. mengapa kau tidak bergabung dengan kami?" Tanya Udin.


"Aku malas Din. Level sahabat mu semuanya di atas rata-rata. Aku merasa rendah jika dekat dengan mereka." Jawab Joe seadanya.


"Jangan begitu lah Joe. Aku kan sahabat mu juga. Apakah level ku sama dengan mereka?" Tanya Udin becanda.


"Aku justru memikirkan mu Din. Jika aku di sana, kau akan selalu bertengkar dengan Hendro. Lebih baik aku dengan Tiara saja. Kami sama. Sama-sama dari golongan rendah." Kata Joe sambil membayar harga minuman yang dia pesan.


"Kau mau Din? Aku belikan satu lagi ya."


"Tidak usah Joe. Oh ya Joe. Jika kau tidak keberatan, datang saja tiga hari lagi ke Kota Kemuning. Aku akan mencari jalan agar kau bisa ikut masuk ke tempat acara itu." Kata Udin menawarkan.


"Kau terlalu mengkhawatirkan ku Din. Aku memang memiliki rencana untuk datang ke kota Kemuning tiga hari lagi. Namun tidak untuk merepotkan dirimu. Aku akan jalan-jalan ke sana bersama dengan Tiara."


"Wah. Bagus itu. Sekalian nanti aku akan mengajak mu jalan-jalan keliling kota Kemuning yang sudah sangat maju."


"Kau tau Joe, sejak perusahaan luar negeri berinvestasi di kota Kemuning, sekarang banyak bangunan tinggi dan pusat hiburan. Di kota Kemuning juga ada Tower mall. Bangunan itu ada tujuh belas lantai dan semuanya ada di sana kecuali nyawa cadangan." Kata Udin becanda.


"Hahaha. Mana ada nyawa cadangan di jual." Balas Joe pula sambil tertawa.


"Sudah selesai kalian bicaranya? Jika sudah ayo jalan pulang. Atau kau mau menghabiskan waktu dengan bule miskin ini?"


Terdengar teguran dari arah belakang membuat kedua anak remaja itu memalingkan wajah ke arah datangnya suara tadi.


Ternyata itu adalah Hendro yang sejak tadi tidak senang melihat kedekatan Udin dengan Joe.


Baru saja Udin ingin mendamprat, Joe langsung memotong pembicaraan mereka.


"Ok lah Din. Kalau begitu, aku pamit dulu. Kasihan teman mu ya kaya ini kelamaan menunggu." Kata Joe sambil tersenyum mencibir ke arah Hendro.


"Bule sialan. Kau menyindir aku ya?" Tanya Hendro yang langsung mendekat.


"Itu pun kalau kau merasa." Jawab Joe lalu memberikan botol minuman kepada Tiara.


Baru saja Joe ingin berlalu, tiba-tiba dia merasakan angin bersiur dari arah belakang.


Dengan gerakan spontan, Joe hanya sedikit saja merunduk dan tampak layangan tangan Hendro hanya satu inci lewat di atas kepalanya.


"Jangan main kasar Hendro. Aku tidak suka orang menguji kesabaran ku." Kata Joe sambil mendorong Tiara agar sedikit menjauh.


"Suka atau tidak suka, aku tidak akan puas sebelum menghajar mu." Kata Hendro lalu bersiap-siap untuk kembali menyerang.


"Ok. Jika itu mau mu, ayo sedang saja!" Tantang Joe sambil mengambil ancang-ancang.


"Sialan kau bule miskin. Terima ini!" Kata Hendro lalu mulai menyerang.


Wuz....


"Hait..."


"Ciaaaaaah..." Kata Joe menghindari serangan itu lalu kembali berdiri tegak sambil menoel hidungnya.


Entah karena terlalu bersemangat, atau terlalu marah sehingga begitu Joe berkelit ke samping, Hendro pun langsung meluruk ke depan lalu nyangsang di celah kaki meja.


Tampak kini ada benjolan sebesar telur puyuh di jidatnya karena menabrak salah satu dari kaki meja yang ada di kantin tersebut.


"Bukan salah ku. Kau yang kurang berhati-hati." Kata Joe lalu kembali menoel hidungnya layaknya seperti Bruce Lee.


Kejadian ini kontan saja membuat para siswa yang masih belum pulang menjadi tertarik untuk menyaksikan perkelahian itu.


Mereka tidak menduga bahwa Joe yang selalu diam dan sering di intimidasi oleh orang-orang ternyata bisa melawan juga. Bahkan tanpa menyentuh pun kini kening Hendro sudah benjut dengan warna merah lebam.


Sebentar saja area kantin itu sudah dipenuhi oleh para siswa yang ingin tau apa sebenarnya yang terjadi.


Karena semakin ramai orang yang menonton kejadian itu serta diliputi rasa malu yang teramat sangat, membuat Hendro jadi gelap mata.


Dia seperti hilang akal lalu mengangkat satu kursi dan melemparkannya ke arah Joe.


Joe berhasil menghindar dari lemparan kursi itu. Tapi apes bagi Tiara. Dia terkena tabrakan kursi itu lalu jatuh terduduk di tanah.


"Tiara!" Jerit Joe melihat Tiara jatuh tertimpa kursi yang dilemparkan oleh Hendro tadi.


"Kau tidak apa-apa Tiara?" Tanya Joe yang sangat khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Sudahlah jangan diteruskan. Kita harus tau diri." Kata Tiara sambil bangun dan membersihkan pasir di rok yang dia pakai.


"Kau Hendro. Jika hari ini aku tidak memberi mu pelajaran, aku berhenti jadi laki-laki." Kata Joe lalu segera melayangkan tendangannya yang tepat mengenai kepala Hendro.


Praaak!


Bugh!


"Argh...." Teriak Hendro sambil terjengkang.


"Bangun kau sialan. Ayo! Sampai di mana kemampuan berkelahi mu?!" Kata Joe menjambak kerah baju anak sebaya dengannya itu lalu mengirimkan pukulan bertubi-tubi ke arah perut Hendro sampai anak itu terbungkuk menahan mual.


"Sialan kau bule miskin. Aku pasti membalas." Kata Hendro lalu menubruk dan mendorong tubuh Joe ke arah meja.


Sedikit lagi punggung Joe akan menghantam meja yang berada dibelakangnya, dia lalu menahan sebelah kakinya dan dengan spontan mengangkat tubuh Hendro lalu membantingnya ke belakang sehingga tubuh Hendro terbanting tepat di atas meja.


"Argh... Sialan kau." Kata Hendro sambil menggeliat di atas meja lalu terguling ke bawah karena satu kaki meja itu telah patah.


"Udin, bawa teman mu ini pergi! Jika tidak, aku pastikan dia akan mati di sini hari ini." Kata Joe yang sudah mulai naik pitam.


"Sudah lah Hendro. Ayo kita pergi saja. Kau terlalu memandang enteng kepada orang lain. Kan sudah kena batunya jika begini." Kata Udin sambil membantu Hendro untuk berdiri.


"Bu. Ini ganti kerusakan meja dan makanan yang jatuh ke tanah. Maaf Bu. Yang rupiah ku tidak cukup. Aku bayar pakai ini saja. Besok beritahu kalau kurang. Akan aku tambah." Kata Joe kepada pemilik kantin sambil memberikan dua lembar uang seratus Dollar.


"Aku belum selesai dengan mu bule sialan. Besok aku pasti akan menghajar mu. Lihat saja!" Kata Hendro memberi ancaman.


"Kau tanyakan kepada seluruh orang di kawasan ini di mana rumah kakek Tengku Mahmud. Aku berada di sana. Jika mau mencari mati, datang lah ke rumah maha guru silat itu!" Kata Joe sambil menarik tangan Tiara diikuti tatapan melongo dan mulut menganga dari para siswa yang melihat perkelahian tadi.


Siapa yang tidak kenal dengan Tengku Mahmud. Benar-benar tidak waras jika ingin membuka silang sengketa dengan orang tua aneh itu.


Mereka kini saling berbisik karena kaget mendengar perkataan Joe tadi.


Memang selama ini mereka tau kalau Joe ini dari kampung Kuala Nipah. Tapi hanya Udin dan sedikit saja yang tau kalau Joe ini tinggal di rumah Tengku Mahmud.


"Sudah lah Dro! Jangan mencari masalah. Tengku Mahmud itu adalah kakek nya paman Tigor dan Joe itu adalah muridnya kakek Mahmud. Jika kau masih bersikeras juga, akibatnya akan kau tanggung sendiri. Jangankan ayah mu. Paman Tigor saja katanya takut sama kakek itu. Apa lagi kita ini." Kata Udin memperingatkan sahabatnya itu.


Mendengar perkataan Udin yang memang apa adanya ini, membuat Hendro hanya mampu menelan ludahnya sendiri.


Lalu dengan perasaan malu dan badan babak belur, dia akhirnya mau juga diajak pulang oleh Udin.