
Kampung Baru
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit dengan sepeda motornya, akhirnya Namora sampai juga di kampung Baru. Kampung di Mana Dhani tinggal.
Sebenarnya, kampung ini juga menjadi markas bagi anak-anak J7. Dhani ke sini hanya karena tekanan dari anak buah Tigor, serta pihak kepolisian yang mencari-cari dirinya.
Baru saja dia tiba di sebuah rumah berdinding papan, Namora sudah disambut oleh Rendra yang tampak tidak senang dengan kedatangannya.
"Mau apa kau kemari, Namora?" Tanya Rendra dengan sinis.
"Mana Dhani?" Tanya Namora tanpa ekspresi.
"Mau apa kau mencari Dhani?"
"Berbakat juga kau jadi wartawan. Banyak tanya kau ini. Tunjukkan, atau mulut mu berkumur darah?!" Ancam Namora yang memang tidak suka basa-basi.
Jelas saja Rendra takut kepada juara pencak silat antar kabupaten selama tiga tahun berturut-turut itu.
"Dia ada di dalam!" Ujar Rendra sambil menyingkir untuk memberi jalan kepada pemuda dingin itu.
Keletuk!
"Lain kali jangan banyak omong. Kau hanya berani ketika ada anak-anak geng Cobra yang lainnya. Tapi itu dulu. Sekarang geng mu sudah hancur. Banyak cerita kau ini!" Ejek Namora setelah menjitak kepala Rendra.
Namora memasuki rumah berdinding papan itu dengan memasang kewaspadaan yang tinggi. Manalah tau kalau-kalau Dhani tidak sendirian di dalam. Tapi, ketika dia melihat Dhani yang sedang termenung duduk di satu ruangan yang sangat usang, dia pun mulai mengendorkan kewaspadaannya.
"Ada apa kau kemari, Namora? Aku sudah cukup sengsara di sini. Apakah kau datang untuk menambah kesengsaraan ku?"
Tadinya Namora itu ingin berlagak juga di depan Dhani. Namun, begitu melihat keadaan Dhani yang sangat acak-acakan, Namora merasa kasihan juga.
"Bagaimana dengan keadaan mu, Dhani? Apakah kau kelaparan?" Namora menarik kursi plastik dan langsung duduk.
"Kau sudah tau seperti apa keadaan ku. Jangan menyindir ku! Katakan saja maksud kedatangan mu ke mari!"
"Kau seolah-olah menyalahkan aku atas penderitaan yang kau alami. Selama ini kau selalu berbuat semau mu. Kau lupa siapa diri mu, siapa ayah mu dan siapa yang kau lawan. Iya kalau orang itu lemah. Kalian adalah segerombolan katak yang merasa telah berubah menjadi lembu dengan bersuara besar. Menghadapi orang lain itu harus menggunakan otak! Menghadapi diri sendiri itu harus pakai hati. Kau pasti faham maksud ku!" Kata Namora sambil menunjuk ke arah samping kepalanya berulang kali menggunakan jari telunjuknya. Gestur seperti itu adalah menyuruh Dhani agar berfikir menggunakan otaknya.
"Apakah aku mengusik mu, Namora? Kau yang selalu ikut campur dalam urusan ku!" Bantah Dhani.
"Menjual barang dagangan mu di Universitas Kota Batu adalah satu kesalahan. Ayah mu juga menargetkan paman ku untuk di bunuh. Sekali lagi kau tidak menggunakan otak mu dengan benar!" Kena lagi Dhani dikata-katain oleh Namora.
"Kau harus tau wahai saudara Dhani. Jika kami ingin menargetkan dirimu, sudah lama kau menjadi bangkai. Apa lagi jika Joe yang menginginkan kepala mu, tidak ada tempat untuk mu mencari selamat. Joe dan kami tidak menargetkan dirimu, bukan karena kau terlalu hebat. Melainkan, kau memang tidak dianggap. Jadi, jangan langsung merasa besar kepala!"
"Ok ok ok. Aku tau kalian memang kelompok orang-orang kuat,"
"Bukan kelompok. Bukan pula gerombolan. Kekuatan yang kami miliki bahkan lebih jauh dari itu. Tidak sulit bagi kami mendirikan sebuah negara dengan kekuatan yang kami miliki. Keluarga Miller yang kau banggakan itu tidak ada sekuku hitamnya Future of Company. Paling lama tiga bulan lagi mereka pasti akan binasa. Pegang ucapakan ku ini!"
"Ya. Aku salah lagi. Sekarang, apa yang kau inginkan untuk aku kerjakan?" Tanya Dhani. Jelas dia memang berada di pihak yang cundang.
"Tidak banyak. Aku hanya menginginkan kau mengaktifkan nomor ponsel mu kembali. Lalu, aku akan menunggu di sini sampai ada yang menghubungi dirimu!" Jawab Namora dengan santainya.
Tidak sampai lima menit, berpuluh-puluh Voicemail masuk ke ponsel milik Dhani yang menandakan bahwa sudah puluhan kali ada yang menelepon ke nomor tersebut ketika nomor itu tidak aktif.
Dhani segera memandangi Namora yang hanya tenang-tenang saja mendengar deringan suara SMS yang tak henti-hentinya berbunyi.
"Jangan memandangku seperti itu. Apa kau masih normal?" Walaupun Namora berniat mengolok-olok Dhani, tetap saja wajahnya tanpa ekspresi, dan suaranya juga sangat dingin tanpa notasi.
"Sialan kau!" Maki Dhani. Dia ingin membuka mulut. Tapi, dia segera menghentikan, karena ponselnya mendadak berdering.
"Jawab! Kau pandai-pandai lah membuat alasan. Lalu, korek informasi sebanyak-banyaknya!" Kata Namora yang juga melirik ke arah ponsel milik Dhani. Dia melihat nama si penelepon.
Dhani segera meraih ponselnya dengan tangan bergetar entah takut, entah karena menahan sakau.
"Hallo, Paman!"
"Sialan kau Dhani. Dua hari aku mencari mu. Kemana saja kau hah? Ayah mu juga menghilang begitu saja," tanpa ba bi bu, si penelepon langsung menghamburkan kata-kata makian yang memekakkan telinga.
"Aku saat ini sedang bersembunyi, Paman. Pihak kepolisian sedang mencari ku. Beberapa bawahan ku ada yang tertangkap dan bernyanyi,"
"Aku tidak mau tau. Masalah dengan polisi, aku bisa mengurus nya!"
"Lalu, apa yang ingin Paman perintahkan kepada ku?" Tanya Dhani.
"Di mana Ayah mu saat ini?"
"Ayah ku berada di pulau Samosir saat ini. Dia sedang berziarah ke makam Datuk kami. Di sana susah jaringan operator. Mengapa, Paman?"
"Dhani. Dengar perkataan ku ini baik-baik! Nanti kau sampaikan kepada Ayah mu! Butet saat ini sudah membelot dan membentuk kelompok baru. Dia telah mengumpulkan anggota tua geng tengkorak. Tujuannya adalah untuk membunuh Marven demi 30% saham di perusahaan Martins Group. Aku jelas membutuhkan bantuan dari ayah mu dan kedua sahabatnya untuk melindungi Marven dari niat buruk istri celakanya itu. Jika Marven mati, otomatis saham miliknya akan diwarisi oleh Butet. Karena Butet adalah istri sah dari Marven. Ketika itu terjadi, kita semua akan gigit jari!" Ujar si penelepon.
"Aku akan segera berangkat ke pulau Samosir untuk menemui ayah ku. Paman tenang saja. Mungkin akan ada orang yang akan melindungi Marven!" Jawab Dhani setelah membaca tulisan di kertas yang ditulis oleh Namora.
"Bagus, Dhani. Segeralah berangkat. Aku menunggu kabar darimu!"
"Siap, Paman!" Jawab Dhani yang meletakkan kembali ponselnya setelah di penelepon mengakhiri panggilan tersebut.
Namora manggut-manggut tanda mengerti, dan segera berdiri.
Pemuda itu menepuk pundak Dhani sebelum berlalu meninggalkan rumah itu dengan sedikit ancaman. "Kau jangan mengkhianati aku, Dhani. Aku telah menempatkan setidaknya sepuluh orang di sekitar sini. Jika kau membocorkan masalah ini kepada siapapun, ku pastikan kau akan di tangkap dan akan menemani ayah mu di kota Kemuning. Setiap hari aku akan mengiris daging mu, dan memeraskan jeruk nipis di atas luka mu. Ingat itu!"
Prak!!!
Begitu suara kendaraan bermotor milik Namora terdengar meninggalkan halaman rumah tadi, Dhani segera menendang meja kayu yang berada di depannya dengan kesal.
"Siaaaaal...!" Teriaknya dengan kesal.
Bersambung...