Joe William

Joe William
Apa kurangnya aku?



Hening di ruangan Apartemen milik Joe itu berlanjut beberapa menit sebelum dipecahkan oleh hembusan nafas berat dari Talia Gordon.


Joe menyingkapkan sedikit selimut yang menutupi wajahnya ketika mendengar tarikan nafas berat tadi.


"Maafkan aku kak. Mungkin memang tidak seharusnya kami datang ke Apartemen milik mu ini. Kalau begitu, kami akan pulang dulu!" Kata gadis itu meminta diri.


Joe tidak menjawab. Xenita juga tampak diam saja. Hal ini tentu saja membuat Talia merasa salah tingkah.


"Aku tau Tiara sangat cantik. Aku juga tau kalau kalian sudah menjalin hubungan yang sangat lama. Andai pertengkaran kalian disebabkan karena kedatangan kami ke sini, maka aku secara pribadi akan menemuinya dan menjelaskan semuanya kepada Tiara. Namun, satu hal yang masih menjadi tanda tanya di hatiku?!" Gumam gadis itu.


Joe segera bergeser untuk duduk. Dia segera melipat selimutnya dan meletakkan di atas pahanya. Kemudian, dengan menatap ke arah Talia, dia pun bertanya. "Tanda tanya apa, Talia?"


"Maafkan sebelumnya kak. Tiara memang cantik. Tapi, aku juga tidak kalah. Bukannya aku mau membanggakan diri. Tapi, kalau dari segi status, aku jauh lebih segalanya dibandingkan dengan dia. Aku rela mengejar mu sampai ke Quantum City. Ketika mengetahui kakak sedang berada di Indonesia, aku bahkan rela mengejar mu sampai ke sini. Aku menghinakan diriku sebagai seorang wanita hanya untuk seseorang yang aku cintai. Apa kurangnya aku dibandingkan dengan Tiara? Sedikitpun kau tidak pernah menghargai apa yang sudah aku lakukan," kata Talia menahan agar air matanya tidak mengalir.


"Huuuhf!" Terdengar suara hembusan nafas yang berat pula dari Joe.


"Begini Talia!" Kata Joe sambil meletakkan tangannya di pundak gadis itu. "Kau cantik. Kau baik dan kau berasal dari keluarga kaya raya dan terhormat. Tadi kau bertanya apa kurangnya dirimu dibandingkan dengan Tiara. Begitu kan?"


Talia mengangguk. Tapi, dia tidak berani menatap wajah pemuda yang tangannya masih berada di pundaknya. Sementara Xenita, gadis ini hanya menjadi pendengar yang budiman saja.


"Kau mengenal ku ketika aku sudah menjadi seorang Tuan muda dari keluarga William. Apa lagi karena dibumbui dengan rencana perjodohan. Maaf, bukannya aku menyepelekan cintamu padaku. Tapi, ambisi dari kedua keluarga kita yang harus aku bantah. Perbandingan antara dirimu dengan Tiara adalah, jika kau mengenalku sebagai Tuan muda dari keluarga William, Tiara jauh dari itu. Dia menerima ku disaat aku sendiri bahkan tidak tau siapa aku. Andai aku ceritakan, kau pun akan kagum dengan gadis itu." Kata Joe menarik nafas sejenak.


"Dulu, Ayah ku memang merahasiakan siapa dirinya. Pada umur satu tahun, aku dititipkan untuk di didik di Mountain slope. Setelah aku berusia 14 tahun, kakek Uyut ku meninggal dunia. Dan aku kembali dititipkan kepada guru yang lain. Selama hampir empat tahun, aku di hina, di caci, di bully. Dikatakan bule kere, bule miskin dan banyak lagi. Tidak banyak orang yang mau bersahabat dengan ku ketika itu. Hanya ada Udin, dan yang satunya lagi adalah Tiara. Dia menerima ku apa adanya. Bukan karena status. Bahkan, aku sendiri pun tidak tau siapa dan dari keluarga mana aku berasal. Entah keluarga kaya atau melarat. Itu yang membedakan kalian berdua. Aku berharap, kau bisa memahami bahwa tidak mudah untuk mencintai. Aku bisa menerima mu. Tapi bukan karena cinta. Sebaliknya, karena kasihan dan memenuhi ambisi keluarga ku, dan keluarga mu. Apa kau mau menjadi boneka?" Tanya Joe kepada gadis itu.


"Sangat sulit untuk membedakan antara cinta yang suci, dengan p nafsu. Sekali lihat langsung cinta, menurut ku itu bukan cinta. Bisa jadi itu adalah nafsu. Kau harus bisa membedakan. Aku, Joe William dilahirkan bukan untuk mengurus masalah seperti ini. Aku dilahirkan, di didik, di tempa untuk mengakhiri perseteruan antara keluarga William dan keluarga Miller. Itu tujuan utama ku. Sudah banyak waktu yang telah aku korbankan untuk menempah diri. Apakah aku harus mengalihkan fokus ku kepada hal yang lain? Tolong jangan tambah beban ku, Talia! Kau gadis baik. Pasti akan menemukan yang baik pula. Tapi, mungkin itu bukan aku. Atau, kau akan menemukan yang lebih bahkan lebih segalanya dibandingkan dengan diriku. Siapa tau?!" Kata Joe lagi dalam usahanya untuk membesarkan hati gadis itu.


"Sangat berat kalau hati sudah terpaut pada satu orang!" Kata Talia yang langsung bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan itu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Xenita yang melihat Talia pergi begitu saja langsung mengejek ke arah Joe. Lalu, gadis itu segera mengejar sahabatnya yang sudah terlebih dahulu meninggalkan ruangan apartemen milik Joe.


Joe hanya bisa melongo menyaksikan kejadian itu.


"Sudah jatuh, tertimpa genteng pula," kata Joe. Seperti orang yang kurang waras, dia segera mengacak-acak rambutnya sendiri.


Kriiiing!


Suara telepon berdering membuat Joe berhenti mengacak-acak rambutnya.


Dia segera meraba ke arah meja untuk mengambil ponselnya.


"Paman Jabat?" Tanya Joe dalam hati.


Dia segera mengusap layar untuk menjawab panggilan itu.


"Hallo Paman!" Sapa Joe.


"Ketua. Apakah anda sudah baikan?" Tanya suara Jabat di seberang sana.


"Fisik ku tidak apa-apa, Paman. Hanya batin ku yang lelah," jawab Joe apa adanya.


"Sebenarnya saya ingin memberitahu kepada anda bahwa kedua gadis itu akan datang. Namun terlambat. Semoga saja tidak ada kesalahpahaman yang terjadi!" Kata Jabat penuh harap.


"Sudah terjadi, Paman. Oh ya? Paman menelepon ku apakah ada sesuatu yang lain yang ingin paman sampaikan?" Tanya Joe penasaran. Ini karena, dia dapat merasakan bahwa bukan itu tujuan Jabat meneleponnya.


"Ternyata anda sangat jeli juga, Ketua!" Kata Jabat sedikit tertawa. Lalu dia melanjutkan, "benar bahwa saya menelepon Anda bukan untuk menanyakan masalah remeh temeh itu. Ada informasi dari orang-orang kita yang berada di kota Tasik Putri, bahwa di restoran Samporna saat ini sedang berlangsung pertemuan antara Marven, Irfan, Kedua warga negara asing itu, beserta dengan mantan ketua dari anak buah Jordan, Geng Tengkorak dan geng kucing hitam. Terhitung jumlahnya melebihi lima puluh orang!" Kata Jabat memberikan informasi yang dia dapat kepada Ketuanya tersebut.


"Hmmm. Buru-buru sekali mereka. Rupanya Marven ini sudah sangat tidak sabaran."


"Kami adalah saksi hidup dari perseteruan antara dirinya dengan Bang Tigor. Wajar jika dia sangat berambisi kali ini. Terlebih lagi, kini di balik layar sudah ada kekuatan besar yang menopang pergerakan mereka," kata Jabat pula.


"Baiklah, Paman. Tetap ikuti perkembangan. Lalu, lakukan seperti yang tadi pagi kita rencanakan. Biarkan mereka melakukan hal-hal yang mereka anggap menguntungkan bagi mereka. Aku sudah banyak memasang perangkap. Jika perangkap itu mereka senggol, maka genderang perang telah mereka palu. Kita harus seperti kucing yang pandai menyembunyikan kuku nya. Tiba saat yang tepat, baru bertindak!"


"Dimengerti, Ketua!" Kata Jabat.


Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya panggilan telepon seluler itupun berakhir. Dan kini, Joe mau tak mau harus membagi perhatiannya antara dua masalah.


Bersambung...