
Hongkong
Sebuah peti mati baru saja tiba di sebuah Villa yang dikenal sebagai milik keluarga Miller. Sebelum peti itu tiba, beberapa orang dengan penampilan cukup mencolok diantara yang lainnya tampak berdiri berbaris dengan setiap satu orang memiliki sekitar dua puluh sampai tiga puluh orang anak buah dibelakangnya.
Begitu puluhan orang melewati mereka sambil mengangkat peti mati yang tampak sangat mewah berwarna kuning keemasan itu, banyak diantara mereka yang tertunduk.
Setelah itu, seorang pemuda mengenakan jas, celana, sepatu dan kacamata serba hitam tampak melewati mereka lalu berdiri di dekat peti mati itu sambil tertunduk. Seorang wanita paruh baya tampak menangis dengan mata yang sudah membengkak terus saja meratapi sosok yang terbaring kaku didalam peti mati itu.
"Tuan muda. Kita harus segera menyelenggarakan upacara pemakaman sesegera mungkin. Ini karena jenazah ayah anda telah tiga hari dan bisa berdampak buruk jika terus di tunda," kata seorang lelaki berkulit kuning langsat sambil membungkuk hormat.
"Paman Cheong. Aku masih berat untuk melepaskan kepergian Ayah ku. Apakah tidak bisa di tunda sampai besok saja?" Tanya pemuda itu.
"Sulit, Tuan muda. Para kerabat sudah datang berkumpul. Saatnya upacara pemakaman dan sekaligus pengangkatan anda sebagai pewaris sah dalam keluarga Miller ini. Anda akan mengurus perusahaan yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Beberapa investor dan pemegang saham telah menarik diri dari perusahaan dan beberapa pengusaha dari perusahaan lain telah membatalkan kesepakatan kerja sama antara kita dengan mereka."
"Huhf..."
Terdengar tarikan nafas berat lalu dihempaskan dengan keras pula oleh pemuda itu.
"Baiklah Paman Cheong. Anda segera siapkan upacara pemakaman itu." Kata pemuda itu pasrah.
"Upacara pemakaman di mulai!" Kata lelaki bernama Cheong itu sambil menggunakan pengeras suara.
Setelah gema suara itu tak terdengar lagi, maka puluhan bahkan ratusan orang berbaris dengan rapi.
Tampak seorang lelaki paruh baya berjalan kehadapan diikuti oleh puluhan lelaki di belakangnya kemudian membungkuk hormat.
Setelah itu, dia berbalik ke arah pemuda itu kemudian membungkuk hormat pula lalu memeluknya.
"Tambahkan hati mu Honor!" Bisik lelaki tadi.
"Terimakasih Tuan Kiem," kata pemuda itu dengan wajah menunjukkan kesedihan yang mendalam.
Setelah rombongan lelaki bernama Kiem tadi mundur, kini berganti dengan rombongan yang lainnya.
Sama seperti Kiem tadi. Lelaki itu bersama dengan puluhan anak buahnya juga membungkuk hormat dan memeluk pemuda itu.
Sejenak lelaki itu membetulkan letak kacamatanya lalu kemudian berbisik. "Paman menunggumu untuk melakukan rapat setelah acara pemakaman selesai. Ada banyak hal yang ingin paman bahas dengan mu." Bisik lelaki itu.
"Paman Lim Guan. Anda bisa menunggu ku sebentar lagi," jawab pemuda itu.
"Hmmm... Baiklah," kata lelaki itu lalu segera mundur dari aula tersebut.
*********
Seorang lelaki paruh baya mengenakan kemeja putih yang lengannya di gulung sebatas siku itu tampak berjalan sendirian melewati kursi-kursi para hadirin dan kerabat yang sedang duduk mengheningkan cipta.
Dari cara berjalannya, dari gayanya dan dari penampilannya tampak lelaki 40-an ini sangat sinis, dingin dan mengintimidasi. Dari leher sampai dadanya tampak tatto harimau. Ini dapat dilihat dari beberapa kancing bajunya yang sengaja tidak di kancing kan.
"Kakak angkat. Maafkan aku yang tidak menemanimu di MegaTown. Andai aku berada di sana, tentu hal ini tidak akan pernah terjadi terhadap diri mu,"
"Aku memang tidak berbakti!"
Plak.
Plak.
Plak!
Tampak lelaki itu menampar pipinya sendiri berulang-ulang kali sebagai bentuk penyesalan dan rasa frustasinya.
"Aku, Tiger Lee bersumpah akan menuntut balas atas kematian mu ini," kata lelaki itu sambil bangkit berdiri dan menatap satu per satu orang-orang yang berada di ruangan itu.
"Siapa diantara kalian yang bernama Honor?" Tanya nya dengan mata masih berair.
Seorang pemuda tampak berdiri dari kursinya sambil berucap, "aku lah orang yang bernama Honor." Jawab pemuda itu.
"Honor. Kau mungkin tidak mengenal ku. Karena ketika itu kau masih sangat kecil ketika Ayah mu membawa mu ke Hongkong ini." Kata lelaki itu.
Sebenarnya pemuda bernama Honor itu tau bahwa lelaki yang bernama Tiger Lee ini adalah anak buah mendiang Ayah nya. Ini karena sebelum ayahnya meninggal, dia sempat berpesan untuk mencari orang yang bernama Tiger Lee. Yang tidak disangka oleh pemuda itu adalah, ternyata Tiger sendiri yang menemuinya.
Sebenarnya siapa Tiger ini?
Dia dulu adalah anak yatim yang diangkat sebagai orang suruhan oleh Tuan besar Founder sekaligus Owner dari perusahaan Arold Holding Company yaitu Tuan besar Arold Miller. Dia juga lah yang mendapat perintah dari Tuan besar itu untuk menemui Fardy ketika dia bersembunyi di Macau.
Tuan besar dari keluarga Miller ini tertarik dengan keberanian, ketangkasan serta kemampuan Tiger muda ketika itu.
Dia tidak pernah tanggung-tanggung dalam melakukan pekerjaannya.
Terkesan memiliki darah dingin, dia tidak sungkan untuk membunuh siapa saja. Asal itu adalah perintah dari Tuan nya, maka dia pasti akan melaksanakannya.
Selain memiliki ilmu beladiri yang sangat tinggi, dia juga adalah ahli dalam melacak jejak. Mungkin jika di organisasi Dragon Empire, Tiger Lee ini bisa dikatakan setara dengan Herey yang mendapat didikan langsung dari Tuan Syam.
"Benar sekali Paman. Maafkan jika aku tidak mengenal anda. Namun, sebelum meninggal, Ayah ku sempat memberitahu bahwa aku harus mencari keberadaan mu. Tidak di sangka bahwa anda datang sendiri. Ini sedikit banyaknya dapat meringankan tugas ku." Jawab pemuda itu.
"Aku sangat menyesal karena tidak sempat membantu mendiang ayah mu. Ini karena aku memiliki banyak sekali proyek yang harus aku jalankan. Tapi anda tenang saja. Begitu anda dinobatkan sebagai Tuan besar di keluarga ini, aku berjanji akan bersungguh-sungguh dalam membantu mu. Ini adalah sumpah ku kepada mendiang kakek mu dulu. Bahwa, aku akan setia dan patuh kepada siapa saja yang menjadi kepala keluarga," kata Tiger membuat pemuda bernama Honor itu tersenyum senang.
"Paman Tiger. Sebentar lagi akan diadakan rapat pembentangan budget di perusahaan. Saat ini perusahaan mengalami kemerosotan paska kegagalan kami di Garden Hill. Karena kegagalan itu, publik telah memberikan penilaian yang sangat rendah terhadap perusahaan. Sukur-sukur perusahaan tidak bangkrut. Namun kedepannya, aku merasakan akan sangat sulit bagi perusahaan untuk berkembang. Kita ambil contoh di negara 'A' Perusahaan kita diharamkan dan tidak boleh lagi memasuki negara itu. Beberapa investor juga telah menarik minat mereka untuk menanam modal di perusahaan. Lain lagi dengan kesepakatan dengan beberapa perusahaan yang telah diputus secara sepihak dan ini terjadi secara massal. Aku tidak tau lagi kedepannya seperti apa," kata pemuda itu merasakan tekanan yang sangat berat dipundaknya.
Dia jelas tidak ingin keluarga dan perusahaan hancur di tangan nya.
Selesai baca, harap tinggalkan like!
Bersambung...