
Tiga unit kendaraan roda empat Mercedes Benz S-class berangkat meninggalkan mountain slope menuju ke Starhill. Di dalam salah satu dari tiga unit mobil itu tampak seorang pemuda duduk tersandar dan kelihatan sangat lelah sekali.
Ini dapat di maklumi. Karena sejak beberapa hari ini, tepatnya setelah dia mendapat kabar dari Lilian, dia terus bergerak ke sana kemari. Mulai dari Kota Kemuning, berangkat tanpa tidur ke Kuala Nipah bersama dengan Tigor. Tiba di Kuala Nipah, dia langsung di kerjai oleh Tengku Mahmud. Setelah itu berangkat ke Medan, tiba di Starhill, berangkat lagi ke Mountain Slope, kini dia harus kembali lagi ke Starhill. Benar-benar empat hari yang melelahkan baginya. Beruntung dia masih muda, jika berusia 70-an, kemungkinan terbesarnya adalah, pingsan.
Beruntung sejak kecil Joe William ini di gembleng dengan berbagai latihan fisik yang berat. Namun begitu, sekuat apapun dirinya, dia tetap juga seorang manusia biasa.
Setelah mendapat keterangan dari Lilian serta mengatur rencana, Joe yang tidak memiliki banyak waktu lagi langsung meminta Lilian dengan ditemani oleh Harvey berangkat kembali ke Garden hill. Sementara dirinya sendiri, harus pulang ke Starhill memberitahu kepada Ayahnya agar segera mengadakan rapat dadakan untuk setiap jajaran tinggi di perusahaan serta beberapa pentolan di organisasi Dragon Empire.
Dengan lelah seperti saat ini, motivasi nya hanya satu. Menghukum mereka yang terlibat dengan seberat-beratnya. Karena, jika mereka tidak melakukan penindasan terhadap sahabatnya, kemungkinan terbesar dia masih berada di kota Kemuning dan tidak akan merasakan kepenatan seperti sekarang ini.
"Berapa lama lagi kita akan tiba di Starhill kek?" Tanya Joe kepada kakek Jeff.
"Kira-kira dua jam lagi kita akan tiba. Tuan muda silahkan tidur saja. Nanti akan saya bangunkan apabila kita sudah sampai." Jawab lelaki berusia 60-an itu.
"Huh. Badan ku rasanya seperti diseruduk kambing bandot." Kata Joe sambil menggeliat.
Tak lama kemudian dia kembali memejamkan matanya dengan fikiran melayang entah kemana-mana.
***
Tiga unit mobil Mercedes Benz S-class itu berhenti tepat di sebuah Villa yang memiliki halaman yang sangat luas serta ada taman yang indah dan lapangan golf mini di samping Villa melingkar sampai ke belakang.
Hanya ada satu Villa di kawasan ini. Dan itu adalah Villa milik seorang taipan di negara ini bernama Jerry William. Founder serta Owner dari perusahaan raksasa yaitu Future of Company.
Begitu mobil tersebut berhenti, Joe yang walaupun dalam keadaan tertidur namun jiwanya masih sangat peka langsung membuka kelopak matanya lalu bertanya. "Rumah besar siapa ini Kek? Mengapa kita berhenti di sini?"
Wajar jika Joe merasa heran. Ini karena dia tidak pernah sampai di sini. Hanya ada dua tempat yang pernah dia kunjungi ketika dia berusia empat belas tahun. Yaitu, Kantor besar perusahaan, serta rumah sederhana di kawasan Starhousing yang juga masih berada di Starhill ini. Itu pun dia tidak tau alamat lengkap kantor besar tersebut. Hanya pernah sampai, tapi tidak tau nama kawasan letak kantor besar itu berada.
"Tuan muda, silahkan turun!" Kata Jeff sambil membuka pintu mobil.
"Anda belum menjawab pertanyaan ku Kek?!" Tegur Joe.
"Oh Maaf Tuan muda. Ini adalah rumah milik orang tua anda."
"Oh. Besar sekali. Mengapa aku tidak pernah di ajak ke sini?" Tanya Joe sambil keluar dari mobil kemudian memasang masker dan menutup kepalanya dengan mantel yang terdapat pada jaket Hoodie miliknya itu.
"Tuan muda. Ayah anda sengaja tidak memberi tahu kepada anda agar anda tetap rendah hati. Tapi kini anda telah beranjak dewasa. Sudah saatnya anda mengetahui seberapa kaya Ayah anda dan seberapa banyak perusahaan yang bernaung di bawah perusahaan Future of Company. Silahkan!" Kata Kakek Jeff sambil merentangkan sebelah tangannya membuat gestur mempersilahkan.
"Terimakasih kek."
Ketika Joe sudah berada di luar mobil, dia melihat ke kiri dan ke kanan dengan sangat seksama. Di sana dia melihat dengan mata tajam miliknya bahwa ada banyak pengawal di tempat-tempat tersembunyi serta ada puluhan kamera pengintai.
"Hmmm. Untuk apa semua ini. Sungguh sesuatu yang mubazir." Kata Joe dalam hati.
*********
Seorang lelaki di dampingi oleh seorang wanita tampak sangat terkejut ketika melihat seorang pemuda berpakaian serba hitam dengan masker gambar mulut kucing memasuki ruang tengah di Villa besar itu. Tampak seuntai kalung dengan liontin berlambang naga merah dan kepala harimau tergantung di lehernya.
Beberapa orang lelaki setengah baya dan dua orang lelaki tua tampak berdiri di ambang pintu dengan membuat barisan seperti pengawal hanya berdiri saja tanpa memandang ke dalam ruangan tengah Villa itu.
Entah terkejut atau tidak percaya, sepasang pasangan paruh baya itu hanya saling pandang saja kemudian serentak bergumam. "Joe?!"
"Ayah, Ibu! Aku kembali. Maaf karena tidak memberitahu kepada kalian terlebih dahulu. Kepulangan ku ini sengaja aku rahasiakan karena aku ingin menyelesaikan sesuatu dan memberikan hukuman kepada orang-orang yang telah menjual nama baik organisasi Dragon Empire ku." Kata pemuda itu sambil menjatuhkan diri berlutut di lantai.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Kau bisa menjelaskannya nanti. Sekarang bangkit lah anak ku." Kata Sang Ibu menarik tubuh putra nya yang baru tiba itu lalu menuntunnya untuk duduk di sofa mewah yang terdapat di ruangan tengah itu.
"Katakan apa maksud dari perkataan mu tadi." Kata sang Ayah meminta putranya untuk menjelaskan maksud dari perkataannya barusan.
"Aku sedang menunggu paman Daniel dan Paman Ryan. Mereka harus berada di sini baru aku bisa menceritakan semuanya. Kali ini mungkin akan ramai yang mendapat hukuman dari ku. Aku harap ayah membiarkan dan memberikan aku ruang untuk berbicara. Karena ini menyangkut nama perusahaan, nama organisasi serta orang-orang yang menjual dua nama agung ini untuk kepentingannya sendiri. Lelah ku akan aku akan menjadi kemarahan dan akan aku timpakan kepada sampah-sampah tak berguna ini." Kata Joe membuat Ayah dan Ibunya hanya bisa saling pandang saja.
Melihat sepasang mata putra nya itu berkilat-kilat, mereka faham bahwa masalah ini sangat serius.
Tidak berapa lama kemudian, tampak dari luar tiga orang lelaki yang sebaya dengan ayah Joe ini memberi salam lalu memasuki ruangan itu. Mereka adalah Riko, Daniel dan Ryan.
"Jerry. Putra mu telah kembali." Kata Ryan dan Daniel segera memeluk pemuda itu yang juga di balas dengan pelukan yang hangat juga oleh Joe.
"Paman silahkan duduk. Aku juga meminta paman Arslan dan yang lainnya untuk mengambil kursi masing-masing!" Kata Joe.
Kesemua orang yang berada di luar langsung masuk dan duduk menghadap ke arah Joe yang duduk di tengah antara Jerry dan Clara.
"Begini paman. Kalian harus tau apa yang telah terjadi belakangan ini sehingga memaksa aku untuk kembali ke Starhill ini."
Joe lalu menceritakan semuanya secara rinci dengan kemarahan yang meluap-luap.
"Kita akan mengadakan pertemuan mendadak sore ini. Boleh kan Ayah?" Semua pentolan organisasi, para jajaran tinggi di perusahaan harus hadir. Aku akan memulai rapat dan mendiskusikan tentang hukuman apa yang pantas bagi orang-orang yang mengatasnamakan organisasi demi kepentingan pribadi."
"Boleh. Ayah akan menemanimu untuk memimpin rapat nanti." Kata Jerry sambil merangkul pundak anaknya itu.
"Aku harap tidak ada yang meninggalkan Villa ini sampai semuanya berkumpul." Kata Joe di balas anggukan dari semua orang yang berada di ruangan itu.
...**SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI....
Mungkin ada kalimat dari saya yang kurang berkenan di hati anda. atau ada balasan komentar yang menyinggung perasaan teman2 semua, saya dengan kerendahan hati memohon maaf lahir dan batin kepada semua pembaca novel karya saya ini. Mohon di maafkan ya**!.