Joe William

Joe William
Berita dari sang Ayah



Saat ini, mobil yang dikendarai oleh Joe telah tiba di depan Villa nomor 12 di Highland Park.


Beberapa pengawal berlarian lalu membukakan pintu mobil tersebut untuk Tuan muda mereka itu.


Setelah mengucapkan terima kasih, Joe kini memasuki Villa mewah miliknya itu lalu segera menuju ke lantai atas dimana terdapat ruangan pribadi miliknya dan tanpa seizin darinya, tidak ada yang berani memasuki ruangan tersebut.


Memasuki ruangan itu, Joe kini mematikan beberapa lampu dan membiarkan ruangan itu menjadi remang-remang. Dia lalu membuka tirai jendela di ruangan itu dan mulai duduk di kursi sambil membelakangi meja.


"Keluarga Clifford ini. Benar-benar telah keterlaluan. Aku masih ingin bermain-main dengan keluarga ini. Namun sepertinya mereka sungguh tidak sabaran untuk memasuki lubang kubur mereka. Apakah tidak terlalu kejam jika aku menumbangkan keluarga ini?" Gumamnya dalam hati.


Dia segera melirik ke arah jam di tangannya.


"Baru pukul sebelas. Apakah Ayah sudah tidur?" Kata Joe berbicara sendirian.


Joe lalu mengambil ponselnya lalu mencari nomor kontak milik Ayahnya kemudian menekan tombol panggil.


Beberapa saat menunggu, akhirnya panggilan itu pun terhubung.


"Joe. Ayah baru saja akan menelepon mu," terdengar suara seorang lelaki paruh baya di seberang sana.


"Ada apa ayah ingin menghubungi, Joe?" Tanya Joe penasaran.


"Ada beberapa hal yang ingin ayah tanyakan. Kemudian, besok paman mu Riko dan Daniel akan berangkat ke Quantum City. Mereka akan membawa dua orang pemuda yang sebaya dengan mu. Salah satu dari mereka pasti kau sangat kenal,"


"Siapa, Ayah? Apakah itu adalah Lilian atau Harvey?" Tanya Joe ingin tau.


"Bukan. Tapi dia berasal dari Indonesia," kata sang Ayah pula berteka-teki.


"Dari Indonesia? Apakah Tiara?" Tanya Joe langsung berdebar.


"Apakah Tiara itu pemuda?"


"Hehehe. Iya tidak. Dia kan wanita. Tapi, siapa orang itu? Apakah Hendro atau Udin?" Tanya Joe.


"Paman mu Tigor telah mengirim putranya untuk menemani mu. Dia mengatakan bahwa kau harus didampingi oleh Namora. Jadi, saat ini mereka telah bergerak menuju Quantum City. Besok kemungkinan kalian akan bertemu di Globe's University,"


"Lalu, siapa seorang lagi, Ayah?" Tanya Joe.


"Yang seorang lagi adalah Albern anak mendiang Rudolf Miller. Pemuda itu telah menyatakan ingin perusahaan miliknya bernaung di bawah perusahaan Future of Company. Dia tau siapa yang menjadi penyebab kematian orang tua nya. Jadi, anak ini akan sangat berguna bagimu untuk mengetahui seluk-beluk keluarga Miller ini. Bahkan, dia sangat berguna untuk mengetahui seperti apa Honor Miller. Karena, yang ayah tau darinya, saat ini Honor sedang membentuk kekuatan baru. Bahkan, jauh lebih besar dibandingkan dengan kekuatan yang mereka miliki di MegaTown. Kabar yang ayah dapat dari Paman Tigor mu juga mengatakan bahwa mereka telah membuka kembali pusat hiburan, hotel dan restoran milik mendiang Martin di kota Tasik Putri. Kau membutuhkan orang ini untuk membantu mu dalam membendung niat jahat Honor itu,"


"Wah. Ternyata mereka sudah bergerak cepat. Aku kira mereka akan membuka kembali perusahaan milik mendiang Martin itu setelah Marven terbebas dari penjara. Ternyata mereka sudah tidak sabaran untuk kembali melancarkan peperangan dengan kita," kata Joe. Saat ini dia termenung memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Saat ini, kau harus memusatkan perhatian mu ke kuliah mu saja. Masih ada Paman Tigor mu di sana,"


"Iya, Ayah. Lalu, apakah Namora akan kuliah di sini? Bukankah pendaftaran mahasiswa sudah di tutup? Lalu, siapa yang mengatur segala yang dia butuhkan untuk menjadi mahasiswa di sini?" Tanya Joe heran.


"Semuanya sudah di urus oleh Paman Ryan mu. Bahkan, yang ayah dengar, Xenita Patrik dan Talia Gordon juga akan berangkat ke sana untuk melanjutkan pendidikan,"


"Kau tau jawabannya. Tidak perlu bertanya kepada ayah. Tapi ingat. Jika kau tidak bisa mencintai dengan tulus terhadap seorang wanita, maka jangan beri mereka harapan. Terserah kepada mu mau mempunyai dua atau tiga istri. Tapi, perlakukan dengan sama dan berikan ketulusan. Jangan mempermainkan para wanita. Ingat! Ibu mu juga wanita!"


"Hehehe. Menikah sampai tiga. Sangat sulit untuk berlaku adil. Joe hanya ingin Tiara,"


"Jika kau hanya menyukai Tiara, maka jangan permainkan perasaan wanita lain. Ketika wanita sudah menyimpan rasa sakit hati, maka kau tidak akan dapat membendung kemarahan mereka. Mereka tidak kuat seperti lelaki. Akaan tetapi, dengan kelembutannya, mereka bisa menggerakkan sebuah kekuatan yang akan membahayakan dirimu. Makanya, jangan main-main dengan perasaan. Atau, kau akan tenggelam olehnya!"


"Joe mendengar nasehat," kata Joe dengan patuh.


"Satu lagi. Hal yang ingin ayah tanyakan kepada mu,"


"Silahkan, Ayah!"


"Bagaimana kau bisa bermasalah dengan keluarga Clifford? Apa yang telah keluarga itu lakukan kepada mu sehingga kau menyuruh paman Ryan mu untuk menyerang perusahaan Clifford Kryptonite group?" Tanya Sang Ayah.


"Kalau masalah itu, Ayah tentu tau seperti apa anak mu ini. Joe William tidak ingin mengikuti jejak ayah yang hanya diam ketika di tindas. Joe, walau bagaimanapun berbeda dengan Ayah. Tapi, itu bukan alasan untuk Joe ingin menumbangkan keluarga itu. Ada puluhan alasan yang bisa Joe kemukakan kepada Ayah," kata Joe.


"Katakan kepada Ayah! Apa sebenarnya permasalahan kalian?"


"Mereka terlalu mendominasi Kota Quantum ini, Ayah! Bahkan, Walikota pun hanya boneka bagi mereka. Ayah tentu sudah tau mengapa Tuan Baron, Tuan Xavier dan Tuan Queiroz seta Neck bisa bangkrut. Jadi, mereka juga ingin melakukan hal yang sama kepada Tuan Johnson," kata Joe menjelaskan.


"Maksud mu, Tuan Johnson pemilik University tempat mu saat ini kuliah?" Tanya sang Ayah.


"Benar, Ayah. Memang Joe juga terlibat didalam permasalahan ini. Kedua keluarga telah sepakat untuk menjodohkan putra-putri mereka. Namun, Putri Tuan Johnson ini menolak. Sebenarnya ini hanyalah kedok semata untuk memancing Keluarga Johnson ke dalam perangkap mereka. Putra dari keluarga Clifford ini memanfaatkan kedekatan ku dengan Putri keluarga Johnson ini untuk menekan keluarga itu. Jika hanya masalah perjodohan mereka, aku pasti tidak mau ambil pusing. Hanya saja, jika keluarga Clifford ini berhasil, maka keluarga Johnson akan bangkrut. Setelah itu, untuk menutupi hutang mereka ke keluarga Clifford ini, mereka harus rela melepaskan Globe's University ke tangan Tuan Clifford. Dapat dipastikan bahwa university ini akan dihancurkan dan akan dijadikan sebagai pusat hiburan, hotel dan lain sebagainya. Joe tidak bisa diam. Keluarga Johnson harus diselamatkan agar Quantum City ini tidak kehilangan Globe's University ini yang hanya satu-satunya di kota ini," kata Joe menjelaskan secara panjang lebar.


"Hmmm. Ayah mengerti sekarang. Perusahaan milik keluarga Clifford ini bukanlah perusahaan yang terlalu besar. Hanya satu kali panggilan telepon saja, perusahaan ini pasti hancur. Tapi, itu terlalu kejam. Jangan membuat bangkrut perusahaan orang lain. Sebaiknya, beri saja mereka pelajaran! Jangan terlalu menambah musuh. Musuh yang saat ini kita punya pun belum tuntas. Ingat kata-kata Ayah!"


"Joe mengingatnya, Ayah!" Jawab Joe patuh.


"Hmmm.., baiklah. Kau lekas tidur. Besok kau harus kembali kuliah. Tinggalkan kebiasaan Troli mu itu! Mobil Lykan hypersport mu telah di kirim ke Quantum City."


"Terimakasih, Ayah. Hehehe. Untung bukan Volvo butut itu,"


"Heh. Volvo itu milik Ayah. Berani macam-macam, ayah rebus kau hidup-hidup!"


"Ampun. Lagi pula, Joe tidak sama dengan Ayah. Joe adalah anak masa kini. Tidak suka sesuatu yang lapuk. Lykan hypersport itu pun bagi Joe sudah usang. Apakah tidak ada mobil keluaran terbaru?" Tanya Joe manja.


"Pakai yang itu saja. Jangan membuat orang lain iri kepada mu. Mobil mu pemberian kakek Syam mu pun tidak pernah kau pakai di Villa top Garden Hill. Jangan menginginkan yang tidak-tidak!" Marah sang Ayah.


"Baiklah, Ayah. Jika begitu, Joe pamit tidur dulu,"


"Hmmm." Kata Sang Ayah. Lalu panggilan itu pun berakhir.


Jangan lupa like dan Vote nya ya!


Bersambung...