
Mobil BMW yang dikendarai oleh Joe, Tye dan Sylash berhenti di area parkir tepat di depan salah satu gedung yang menyediakan berbagai hiburan.
Tidak seberapa jauh dari tempat mobil mereka terparkir, tampak Daren dan Aurelie juga baru saja keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan menuju ke bagian dalam gedung tersebut.
Baru saja mereka mencapai pintu gedung itu, satu unit mobil dari arah Kryptonite pun tiba di sana.
Mungkin mereka sempat melihat Daren dan Aurelie yang berjalan tadi. Hal ini membuat mobil itu kini mencari tempat parkir.
Setelah mobil tersebut terparkir, dari dalam keluarlah tiga orang lelaki berbadan tegap. Tampaknya salah satu dari ketiga orang itu sedang menelepon seseorang.
Joe dan Sylash hanya memperhatikan saja dari dalam mobil mereka. Tapi berbeda dengan Tye. Dari mulutnya keluar gumaman, "orang-orang dari Kryptonite Club?!"
Joe dan Sylash lalu bertanya kepada Tye.
"Apa kau yakin mereka orang-orang dari Kryptonite Club'?" Tanya Sylash.
"Tidak salah lagi. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dibawah arahan Tuan Clifford," jawab Tye tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Hmmm. Sepertinya masalah ini semakin serius. Pasti Duff Clifford ini yang meminta orang-orang itu untuk mencelakai Daren," kata Joe.
Ketiga pemuda itu kini melihat beberapa unit mobil berdatangan lalu berhenti di aren parkir. Dari dalam, keluar sekitar sembilan orang lelaki berbadan besar yang kini menghampiri tiga lelaki pertama sampai tadi.
"Sah. Tidak salah lagi. Mereka ini adalah orang-orang Kryptonite Club'. Kau lihat yang berbaju coklat itu Joe? Dia adalah Boss nomor dua dari Krypton geng. Nama orang itu adalah Zarco," kata Tya menunjuk ke salah satu dari dua belas orang itu.
"Bagaimana Joe? Apakah kita akan diam saja?" Tanya Sylash.
"Maksud mu? Kau bosan hidup, mau ikut campur urusan mereka?" Tanya Joe sambil mengalihkan perhatiannya ke arah Sylash.
"Ja-ja-jadi? Bagaimana dengan Aurelie?"
"Kita lihat saja. Jika mereka berani menyentuh Aurelie, aku pastikan mereka akan binasa di tempat ini," kata Joe lalu segera mengeluarkan ponselnya.
Tut..., Tut.., Tut...,
"Halo, Tuan muda!"
"Paman Herey. Aku telah mengirim lokasi ku kepada anda. Bawa anak buah mu ke pusat kota Quantum ini. Datang saja ke titik lokasi yang aku berikan. Aku menunggu mu di sini," kata Joe memerintahkan.
"Segera saya laksanakan, Tuan muda! Tapi, ada tugas apa yang akan anda minta untuk saya kerjakan?" Tanya Herey sekedar ingin memastikan tugas apa yang akan dia laksanakan.
"Aku memiliki seorang sahabat wanita yang sedang berada di sini bersama dengan pacarnya. Tapi, pacarnya itu saat ini sedang menjadi incaran oleh orang-orangnya keluarga Clifford. Aku ingin agar paman segera menolong gadis itu, lalu bawa saja ke Highland Park!"
"Saya mengerti, Tuan muda. Anda tunggu saja saya di sana!" Kata Herey.
Joe segera mengakhiri panggilan telepon tersebut, lalu kembali memusatkan perhatian kepada orang-orang yang berada di depan sana.
"Siapa Joe?" Tanya Tye.
"Anak buah ku. Aku meminta mereka untuk segera menyelamatkan Aurelie ketika nanti orang-orang dari Kryptonite Club'itu menyerang Daren," kata Joe menjelaskan.
*********
Dua jam kemudian
Tepat ketika Herey dan dua orang anak buahnya tiba di lokasi yang telah dikirimkan oleh Joe tadi, Daren dan Aurelie pun keluar dari dalam gedung tersebut.
Tampak Daren sangat ceria sekali. Tidak henti-hentinya dia tersenyum sambil menggandeng erat tangan gadis nya itu.
"Kau suka dengan Film tadi, Rel?" Tanya Daren.
"Ya. Lumayan bagus juga Film nya," jawab gadis itu singkat.
"Kau lapar? Ayo kita makan!" Ajak Daren sambil berjalan menuju mobilnya.
Baru saja Daren membuka pintu mobil untuk Aurelie, kini satu tangan besar telah menepuk bahunya.
Daren yang terkejut segera menoleh ke arah si pemilik tangan. Namun...,
Bugh!
Sebuah bogem mentah mendarat dengan sangat manis di rahang bagian kirinya membuat Daren termiring ke samping.
"Zarco?!" Kata Daren sambil membetulkan berdirinya.
"Ampuni saya Zarco!" Kata Daren memelas.
"Ampun kata mu? Ayo lah. Bukankah kau adalah jagoan? Kau sanggup menghajar Tuan muda kami. Sekarang, kau rasakan ini!"
Bugh
Plak!
Gubrak..!
"Ugh...," Daren memuntahkan darah dari mulutnya.
"Tolooong!!! Siapa kalian hah?"
"Diamlah kau betina sialan! Atau aku akan merusak wajah cantik mu itu?!" Ancam Zarco.
Percuma saja Aurelie meminta tolong. Ini karena, tidak ada yang berani membuat urusan dengan anggota geng Krypton ini. Apa lagi mereka tau kekuatan seperti apa yang berdiri di belakang geng tersebut.
"Aurelie..! Cepat lari! Lari Aurelie!" Teriak Daren meminta kepada gadisnya itu untuk melarikan diri.
Plak!
"Mulut mu ini tidak bisa diam," kata Zarco langsung memberi tamparan.
"Hajar anak ini sampai babak belur!" Kata Zarco lalu dia pun melangkah mendekati Aurelie yang saat ini sudah gemetaran.
Plak!
"Dasar gadis sialan. Kau akan aku kirim ke rumah Tuan Clifford. Tuan muda ku menginginkan agar kau menjadi penghangat tubuhnya. Hahaha...,"
Saat ini anak buah Zarco telah mengajar Daren sampai jatuh bangun.
Sambil tertawa-tawa, Zarco menarik rambut Aurelie dengan tujuan memasukkan gadis itu ke dalam mobil. Namun, satu suara berat dan serak berhasil menahan keinginan Zarco untuk mendorong gadis itu memasuki mobil.
"Singkirkan tangan sial mu dari gadis itu!"
"Heh?"
Zarco segera menoleh ke arah datangnya suara.
Begitu dia melihat seorang lelaki berotot dengan memakai baju T-shirt hitam dan celana tentara berdiri dengan lagak tegap, Zarco pun mengernyitkan dahinya.
"Siapa kau ini? Jangan ikut campur dalam urusan ku! Atau kau akan...,"
Bugh!
Tidak sempat Zarco mengakhiri perkataan nya, sebuah tinju dengan sambaran angin seperti Yamaha Jupiter Z telak menghantam mulutnya.
"Argh...,"
"Gigi ku. Oh Tuhan. Gigi ku patah!" Teriak Zarco.
Anak-anak buahnya yang baru saja selesai memukuli Daren segera menghampiri. Mereka langsung terkesiap begitu melihat Boss mereka telah berkumur darah. Sedangkan di bawah, mereka melihat beberapa butir gigi milik Boss mereka itu telah jatuh.
"Sewang owang ila iwu!" Kata Zarco yang tidak bisa lagi berbicara dengan jelas.
"Ha? Boss bicara apa?" Tanya Ruben kepada Zarco yang saat ini masih saja menutupi mulutnya.
"Bo'oh alian seua! Sewang owang iwu!"
"Apa?" Tanya Ruben lagi.
"Ruben. Mungkin maksudnya adalah, kita disuruh menyerang orang itu!" Kata temannya yang lain.
"Oh. Ya sudah. Ayo kita hajar orang gila itu!" Ajak Ruben.
Sebelas orang lelaki anak buah Zarco pun langsung menyerang ke arah lelaki bertubuh kekar berotot itu.
Namun, kali ini mereka salah sasaran. Orang ini bukanlah Daren yang bisa mereka perlakukan dengan sesuka hati mereka.
Bersambung...