Joe William

Joe William
12 Mei



Tanggal 12 Mei tahun dua ribu sekian.., sekian.


Di belakang rumah, tampak Joe dan Kakek Tengku Mahmud sedang menjalankan beberapa metode latihan.


Dari raut wajah kedua lelaki beda usia itu, tampak begitu serius.


Butir-butir keringat kini membasahi wajah pemuda itu. Begitu juga dengan kedua tangannya dari patas siku sampai jemari kini seperti melepuh.


Memang metode latihan kali ini adalah tentang kitab pengobatan yang ditinggalkan oleh Kakek Malik yang coba dipelajari oleh Joe William mengikuti bimbingan dari Tengku Mahmud.


"Sepuluh kali lagi Joe!" Kata lelaki tua itu ketika melihat wajah pemuda itu tidak kesakitan lagi.


Sambil menarik nafas dalam-dalam, Joe kini mencelupkan kedua tangan sampai batas lengan ke dalam air mendidih lalu dengan cepat mengangkat tangannya kembali.


"Uh... Panas sekali." Kata Joe menahan perih.


"Lagi!" Perintah Tengku Mahmud.


Clup!


"Argh..."


"Lagi! Kau sudah mulai terbiasa."


Clup!


"Argh..... Rehat dulu kek. Bisa cacat aku nanti." Kata Joe sambil menyeringai menahan kesakitan.


Tengku Mahmud hanya mengangguk pelan lalu membiarkan Joe beristirahat sebentar.


Usai beristirahat, Joe kembali melanjutkan latihannya dan setelah latihan itu selesai, kini mereka pindah ke tunggu batu yang satunya lagi.


Di tungku batu itu tampak terjerang satu Periuk besar dengan air ramuan yang mendidih mengeluarkan asap putih mengepul lalu membumbung di udara.


"Kau siap Joe?" Tanya Tengku Mahmud.


"Joe siap Kek."


"Tarik nafas mu dalam-dalam lalu dekatkan wajah mu ke mulut Periuk itu!" Perintah Tengku Mahmud.


Joe kini menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan nya. Menarik lagi nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya.


Cukup lama juga dia melakukan hal itu lalu kini dia menunduk mengarahkan wajahnya tepat di mulut Periuk yang berisi air mendidih itu.


Begitu wajahnya sudah berada di atas, Tengku Mahmud lalu menyelubungi bagian atas kepala pemuda itu hingga baik kepalanya, maupun Periuk itu seluruhnya tertutup oleh kain tebal tersebut.


Tidak sampai lima menit, kini Tengku Mahmud menyingkap selubung kain tadi dan saat ini seluruh wajah Joe berubah jadi merah padam dengan keringat sebesar-besar biji jagung mulai merembes membasahi seluruh tubuhnya.


"Duduk dulu sepuluh menit. Setelah itu bersihkan tubuh mu. Aku akan mempersiapkan metode ke dua." Kata Tengku Mahmud lalu berjalan meninggalkan pemuda itu ke arah bagian halaman depan rumah.


Sambil mengunyah sirih, lelaki tua itu kini membawa sejenis tempayan berukuran seperti tong air lima liter dan meletakkan tempayan tersebut di atas tanah.


Ketika Joe selesai mandi, dia lalu menghampiri lelaki tua itu dan duduk saling berhadap-hadapan dengan tempayan tersebut berada di tengah-tengah mereka berdua.


"Apa kau sudah siap?" Tanya Tengku Mahmud.


Sambil menarik nafas dalam-dalam, Joe pun mengangguk.


"Sekarang, masukkan tangan mu ke dalam tempayan ini!" Perintah lelaki tua itu.


"Baik Kek." Jawab Joe.


Dengan menahan nafas, pemuda itu pun langsung memasukkan tangannya ke dalam tempayan tersebut.


Begitu tangannya berada di dalam, Joe mulai merasakan sesuatu menggigit tangannya. Namun dia tidak berani menarik tangan nya itu.


"Apa yang kau rasakan?" Tanya Tengku Mahmud.


"Sesuatu menggigit jari tangan ku kek."


"Itu adalah binatang berbisa. Aku akan memeriksa sampai di mana racun nya menyebar." Kata Tengku Mahmud lalu melihat tangan Joe dari siku sampai ke bahu.


"Sekarang, tarik kembali tangan mu!" Perintah lelaki tua itu.


Joe hanya menurut saja perintah dari lelaki tua gurunya itu.


Begitu tangannya di tarik, kini dia melihat bahwa jari jemari di kedua tangannya itu telah berdarah di setiap ujung jari.


"Sampai di mana batas rasa sakit nya?"


"Hanya di jari jemari ini saja kek." Jawab Joe.


"Bagus. Berarti metode ini berhasil.


"Ambil Periuk tadi, dinginkan airnya lalu minum selama tiga pagi!" Perintah Tengku Mahmud.


"Baik Kek." Kata Joe lalu tanpa alas, enak saja dia memindahkan Periuk berisi air rebusan ramuan yang mendidik itu kemudian meletakkannya di tanah.


"Lalu, apa lagi sekarang kek?" Tanya Joe.


"Catat ramuan itu. Kelak ketika kau menemui orang yang keracunan atau di gigit kelabang, ular atau binatang berbisa lainnya, kau bisa menolong mereka dengan air rebusan ramuan tadi." Kata Tengku Mahmud.


"Baik Kek."


*********


Sorenya, setelah selesai di gojlog oleh Tengku Mahmud, Joe baru bisa sedikit santai walaupun kini kedua tangannya terasa seperti di ganggang di dekat bara api yang sangat panas.


Andai diizinkan oleh Tengku Mahmud, mungkin Joe sudah membeli es batu dalam jumlah yang banyak kemudian memasukkan kedua tangannya itu ke dalam es batu. Tapi, Tengku Mahmud dengan tegas melarang. Hal ini lah yang membuat Joe tidak berani melakukannya.


Dia hanya berjalan saja ke arah pantai lalu duduk menyendiri di sana. Tentunya setelah meminta izin dari Tengku Mahmud. Karena jika tidak izin dulu, sudah pasti Joe akan mendapat hukuman. Dan hukuman yang paling ringan adalah, menggendong lelaki tua itu di dalam tong drum.


Kini setelah Joe tiba di pantai, dia kembali mengilas balik kehidupannya ketika berada di Mountain Slope.


"Bagaimana keadaan rumah kakek Uyut ya? Apakah sudah runtuh karena lapuk atau sudah dirobohkan oleh orang-orang kampung karena tanah disekitarnya akan dijadikan lahan pertanian." Kata Joe dalam hati.


Terasa benar di dalam hatinya bahwa dia sangat merindukan suasana Mountain Slope.


"Kakek Malik. Walaupun tidak jauh berbeda dengan kakek Tengku Mahmud galaknya, namun aku sangat merindukan nya. Aku juga tidak tau andai nanti kembali ke Starhill, mungkin aku juga akan sangat merindukan Omelan dan kemarahan kakek Tengku Mahmud."


"Harvey, Lilian. Bagaimana keadaan mereka sekarang ya? Mungkin mereka juga sudah tamat sekolah dan akan melanjutkan kuliah mereka. Huh. Andai saja aku memiliki nomor ponsel mereka, sudah pasti aku akan menelepon kedua sahabatku itu." Kata Joe lagi.


"Nanti malam adalah hari ulang tahunku. Aku tidak pernah mendapat ucapan dari siapapun. Katanya aku seorang Tuan muda. Katanya aku adalah seorang ketua. Selama di sini, banyak sudah aku mendapat kejutan dan penghormatan. Bahkan ada yang ketakutan setelah melihat ku. Aku juga dikelilingi oleh enam orang pengawal. Tapi ketika aku ingin merayakan ulang tahun, satu pun diantara mereka tidak ada yang datang. Malang sungguh nasib ku." Kata Joe dalam hati sambil tertunduk menatap pasir di dekat kakinya.


Tidak terasa butiran air mata menetes juga karena walau bagaimanapun di latih luar dan dalam, dia tetaplah seorang manusia biasa, yang ada kalanya membutuhkan perhatian dan kasih sayang.


Joe kini menyandarkan punggungnya di sebuah balok kayu yang berada di dekat pantai itu. Mungkin kayu tersebut terseret ombak hingga sampai di pinggir pantai.


Kelelahan saat latihan, kelelahan saat di gojlog terus menerus oleh Tengku Mahmud, dan yang terparah adalah kelelahan di dalam hatinya membuat Joe pun tertidur sambil bersandar.


Dia baru bangun ketika satu tangan lembut memegang pundaknya.


Sambil mengerjapkan mata, Joe menatap seraut wajah ayu nan manis dengan senyum yang sangat menawan.


"Tiara." Kata Joe sambil membetulkan posisi duduknya.


"Kau tertidur di pantai ini Joe? Sepertinya kau sedang bersedih." Kata Tiara menebak-nebak.


"Ah tidak juga. Apa yang membuatku sedih?" Kata Joe balik bertanya.


"Ya mana aku tau. Mungkin kau merindukan kampung halaman mu." Kata Tiara.


"Aku juga bingung di mana kampung halaman ku. Apakah Mountain Slope, Starhill atau Kuala Nipah ini." Kata Joe sambil tersenyum.


"Aneh kau ini. Masa iya kampung halaman sendiri kau tidak tau."


"Iya benar Tiara. Memang rada aneh. Tapi aku harus bagaimana? Aku lahir di Metro City, dibesarkan di Mountain Slope, kemudian kembali ke Starhill tapi hanya tiga hari saja. Kemudian aku berangkat ke Kuala Nipah ini. Menurut mu, yang mana kampung halaman ku?" Tanya Joe William membuat Tiara juga ikut bingung.


Mereka kini tidak lagi bercakap-cakap melainkan sama-sama memandang ke arah laut dengan pikiran masing-masing.