
"Tuan muda. Anda sudah melihat-lihat semua property milik perusahaan Quantum entertainment. Sekarang, kemana anda akan pergi?" Tanya Tuan Baron kepada Joe William.
"Tuan Baron. Aku harus kembali ke asrama. Aku takut kemalaman. Jika aku sampai kemalaman, nanti takutnya aku akan mendapat hukuman dari kepala asrama," ujar Joe yang memang tidak ingin membuat masalah, sesuai dengan pesan yang ditekankan oleh Ayahnya.
"Tuan muda, mari saya antar anda ke asrama!"
"Oh... Tidak boleh. Tidak boleh dan sungguh tidak boleh. Aku tidak ingin nanti semua orang tau bahwa aku adalah Tuan muda dari keluarga William. Tuan Baron mungkin pernah mendengar sepak terjerang ku di tiga kota besar di negara ini bukan? Saat ini aku hanya menunggu pergerakan dari musuh-musuh ku. Lagi pula, aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Biarkan aku bebas menjalani banyak hal sebagai orang normal. Tidak menjadi pusat perhatian, tidak norak, tidak perlu di kawal dan ingin sesuatu yang alami. Di hina, di puji secara wajar, memiliki teman, musuh, dan banyak lagi. Jika aku menunjukkan identitas ku, siapa yang berani memusuhi ku? Maka dari itu, jangan membuat aku sulit di sini, Tuan Baron!" Kata Joe berpesan agar dia jangan diperlakukan secara istimewa.
"Baiklah jika begitu. Ini adalah kunci Villa nomor 12 di Top Villa Quantum entertainment ini. Villa itu sekarang milik anda, Tuan muda. Kami juga akan memberikan kartu Diamond Member kepada anda. Dengan kartu ini, anda bebas keluar masuk di pusat perbelanjaan Quantum Jewelry, Luxury Clubs, Highland Park, Pemandian air panas, Hotel dan lain sebagainya. Hanya ada beberapa orang saja yang memegang kartu ini. Mohon anda terima!"
Selesai mengatakan itu, Tuan Baron pun langsung mengulurkan sekeping kartu berwarna ungu dengan lambang permata tiga dimensi kepada pemuda itu, berikut dengan kunci Villa nomor 12 yang mulai saat ini hanya dirinya yang berhak atas Villa tersebut.
Joe tersenyum menerima pemberian dari Tuan Baron ini. Dia segera menerimanya, memasukkan kedalam dompet miliknya, lalu segera memisahkan diri dari rombongan itu untuk segera kembali turun dari Highland Park ke Luxury Clubs.
Sementara itu, Tuan Baron, Xavier, Eagle, Queiroz, Neck dan Winisky hanya geleng-geleng kepala saja memperhatikan pemuda itu yang kini hanya berjalan kaki saja.
"Aneh sekali, Tuan muda yang satu ini. Ternyata kabar angin dari Starhill yang kita dengan, banyak benarnya!" Kata Neck kepada Tuan Baron.
"Benar juga katamu, Neck. Di saat orang-orang kaya di kota ini berlomba-lomba memamerkan kekayaan orang tua mereka yang tidak seberapa, Tuan muda kita malah sangat bersahaja dan Eagle bahkan nyaris mempersulit dirinya sendiri ketika di Luxury Clubs tadi," ujar Tuan Baron sambil menendang betis lelaki tegap tinggi itu dengan sedikit perlahan.
"Hehehe. Hampir saja aku mendapat masalah besar," kata Eagle nyengir kuda.
Ketika Joe sudah tidak terlihat lagi di balik tikungan, barulah mereka berjalan kembali ke arah mobil mereka, lalu langsung bergerak menuju kantor besar milik perusahaan Quantum entertainment itu.
*********
Hongkong
Seorang lelaki setengah baya berambut jigrak tampak sedang memperhatikan beberapa foto di layar kamera mirrorles berwarna silver.
Berulang kali dia memperhatikan sosok pemuda berkulit hitam legam yang terdapat pada Kamera mini tersebut.
Ketika dia sedang fokus, seorang lelaki yang sebaya dengannya langsung mendekati kemudian bertanya.
"Tiger Lee, kau tampak sangat serius. Apakah ada gambar wanita t3lanj4ng di dalam kamera itu?" Tanya lelaki yang baru saja tiba.
"Jangan sembarang bicara kau Zacky. Aku baru saja mendapatkan kamera ini dari Tuan besar kita. Di dalam ini ada foto milik Joe William yang berhasil diambil oleh beberapa orang suruhan mendiang Tuan besar ketika berada di Metro City. Hanya saja, yang aku heran 'kan adalah, mengapa orang ini hitam sekali?" Kata Tiger Lee Seolah-olah sedang bertanya kepada dirinya sendiri.
"Lee. Kau kan pernah terlibat langsung dalam kolaborasi dengan Fardy ketika di MegaTown dulu. Kau tentu tau seperti apa Jerry William itu. Apakah dia lelaki berkulit hitam atau putih?" Tanya Zacky yang memang tau bahwa Tiger Lee ini memang pernah berada di MegaTown bersama dengan Fardy dulu, walaupun tidak lama. Karena setelah mengurus segala keperluan untuk Fardy, Tiger Lee ini langsung kembali ke Beijing China untuk mengurus bisnis Tuan Arold Miller yang berada di daratan sana.
"Itu lah yang sangat mengherankan bagi ku. Setahuku adalah, Jerry ini bukanlah orang berkulit hitam. Tapi, pemuda ini?" Kata Tiger Lee sambil memijit keningnya.
"Apa kau sudah menanyakan kepada Tuan besar Honor tentang kebenaran foto ini. Jangan-jangan anak buah yang di utus oleh Mendiang Tuan besar asal jepret saja. Yang penting, dapat uang. Ya kan?" Kata Zacky pula yang yakin bahwa kemungkinan terbesar adalah, bahwa orang yang dikirim untuk memata-matai anak dari Tuan besar di keluarga William itu telah menipu tuannya demi uang.
"Maksud mu?"
"Zacky. Coba kau berdiri di depan. Aku akan memotret mu. Siapa tau kamera ini yang rusak," pinta Tiger Lee kepada rekannya itu.
Zacky pun menurut lalu berpose seperti tiang jemuran lurus tanpa seni.
"Apakah itu gaya terbaikmu dalam berpose, Zacky?" Tanya Tiger Lee melihat Zacky yang seperti penyangga tiang jemuran.
"Hahaha. Aku mana tau. Sudahlah! Kau tinggal ckrek.., ckrek.., ckrek.., beres!" Rungut Zacky yang memang tidak bisa bergaya.
"Baiklah! Satu.., dua.., tiga!"
Ckreeek!
Foto pun berhasil di ambil dan mereka berdua kini melihat ke arah layar kamera.
"Kamera ini tidak rusak, Lee!" Kata Zacky sambil membungkuk memperhatikan ke arah layar kamera.
"Berarti?"
"Aku curiga bahwa anak dari Jerry William ini tersengat petir di dalam kandungan. Makanya dia menjadi se-hitam pantat kuali. Atau, dulu ibunya ngidam serbuk kopi. Makanya begitu lahir, langsung memiliki warna seperti bangkai kapal selam. Hitam legam tanpa berperasaan," kata Zacky yang asal njeplak saja.
"Begini saja lah. Daripada kita hanya bisa menduga-duga saja, bagaimana jika di utus saja anak buah kita ke beberapa kota di negara itu. Mungkin ini akan dapat mengurangi kepeningan yang kita hadapi," kata Zacky lagi memberikan usulan.
"Ada benarnya juga yang kau katakan itu. Baiklah.., aku akan segera mengirim beberapa orang dari orang-orang ku yang memang memiliki kemampuan khusus dalam hal melacak identitas. Kita akan lihat nanti seperti apa hasilnya," kata Tiger Lee. Dia langsung bangkit dari Sofa yang dia duduki sambil mengarah ke sebuah meja kecil di mana di meja tersebut terdapat pesawat telepon.
Dengan memutar beberapa angka, panggilan pun tersambung.
"Bagaimana, Lee?" Tanya Zacky.
"Bagaimana apanya?"
"Apakah kau jadi mengirim mata-mata ke negara Abjad itu?"
"Harus. Jika tidak, apakah kau kira kita bisa memenangkan pertarungan? Kenali musuh mu untuk memenangkan pertarungan!" Kata Tiger Lee. Lalu, enak saja dia meninggalkan Zacky yang hanya garu-garu kepala saja mendengar perkataan dari Tiger Lee. Kepala orang-orang kuat yang dua tingkat berada di atasnya. Hanya karena mereka sudah berteman sejak lama, makanya Zacky ini berani menyebut namanya saja ketika mereka bertemu.
Selesai baca jangan lupa like nya ya
Bersambung...