Joe William

Joe William
Aurelie mulai beraksi



Beberapa pasang mata mahasiswa tampak seperti sedang melotot seolah-olah akan melompat keluar dari rongganya ketika mereka melihat seorang gadis yang juga merupakan mahasiswi di Globe's University ini sedang berjalan dari arah gerbang menuju ke kampus.


Para mahasiswa yang melotot melihat gadis itu adalah Duff Clifford, Daren Brownson, Dilon Brownson, Reynold Law dan Bernard Shawn.


Terutama, Daren. Dia seakan-akan tidak percaya terhadap apa yang dia lihat saat ini.


"Sepupu ku, bukankah gadis itu adalah Aurelie?" Tanya Dilon kepada Daren.


"Benar. Dia adalah Aurelie. Wah.., mengapa cantik sekali?" Gumam Reynold Law sambil berdecak kagum.


"Heh, Daren. Itu adalah mantan mu!" Kata Bernard Shawn pula dengan senyum mengejek.


"Diam lah kalian. Aku seperti tidak percaya terhadap apa yang aku lihat. Mengapa dia tiba-tiba tampil beda?


Sebentar! Aku masih belum bisa menalar semua ini!" Kata Daren Brownson dengan mata tak berkedip dan mulut melongo.


Saat ini, wanita cantik yang tadinya patah hati dan nyaris bunuh diri itu menatap ke arah Daren sambil memamerkan senyuman manisnya yang membuat Daren tergagap dan nyaris menumpahkan minumannya.


Tanpa sadar, Daren segera berdiri dari kursinya kemudian melangkah dengan niat untuk menyapa gadis itu. Namun sialnya, gadis itu malah menyapa Reynold Law membuat Daren mendadak emosi.


"Hi Rey.., apakah aku bisa meminta bantuan kepada mu?" Tanya Aurelie sedikit malu-malu.


"Bo-bo-boleh. Bantuan apakah itu? Eh. Bukankah kau adalah Aurelie?" Kata Reynold Law sekedar ingin memastikan dengan bertanya.


"Apakah aku telah berubah menjadi hantu?" Tanya Aurelie sambil tertawa renyah.


"Tid-tidak.., tidak juga. Kau seperti bidadari. Aku nyaris tidak mengenali mu. Tolong katakan! Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Reynold yang mulai mengabaikan keempat sahabatnya yang lain.


"Apakah kau punya waktu? Jika kau punya waktu, aku memiliki dua tiket untuk menonton film. Tapi, aku tidak punya teman. Sedangkan Naomi dan Ruby, mereka sudah ada Joe dan Sylash. Tye juga bersama Melissa," kata Aurelie sambil menunjukkan dia tiket untuk menonton film.


Reynold segera melihat tiket tersebut dan berkata, "ini tiket di kursi paling belakang. Tentu kau tidak akan nyaman. Bagaimana jika aku meminta kepada kakak ku untuk memberikan dua tiket di bangku paling depan? Apa kau suka?" Tanya Reynold sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya.


"Itu idea yang bagus. Terimakasih Rey. Kalau begitu, aku ke kelas dulu. Sampai ketemu nanti sore," kata Aurelie sambil melambaikan tangannya.


"A-ak-aku.., aku akan mengantar mu," kata Reynold buru-buru melangkah membuntuti gadis itu.


Mereka berdua lalu berjalan beriringan dengan diikuti oleh tatapan berapi-api dari Daren.


"Wah.., Rey ini. Enak saja dia memotong kartu ku," kata Daren kesal.


"Mengapa? Kau menyesal karena telah menyia-nyiakan dirinya? Atau kau merasa tersaingi oleh Reynold?" Tanya Duff Clifford yang juga merasa gatal ketika melihat betis mulus milik Aurelie yang sudah semakin jauh meninggalkan mereka.


"Aku tidak mau tau. Aku akan memberi pelajaran kepada Reynold jika dia berani memotong jalan ku,"


"Aku tidak akan ikut campur dalam masalah ini. Kalian adalah sahabat ku. Jadi, dalam hal ini, aku angkat tangan," kata Bernard Shawn menyerah.


"Kau, Duff?" Tanya Daren.


"Aku jelas ingin bersaing dengan kalian. Kita lihat saja!" Kata Duff.


"Hey. Jaga bicaramu, Daren! Gadis itu bukan siapa-siapa mu lagi. Dia hanya mantan mu. Di mana salahnya?" Kata Duff membela diri.


"Sialan kalian ini semuanya. Aku tidak perduli. Jika kita bermusuhan, biarkan saja. Aku tetap akan mengajak Aurelie untuk balikan," kata Daren kukuh dengan pendiriannya.


"Kita lihat saja!" Kata Duff sambil berdiri dan berjalan melenggang meninggalkan mereka.


"Celaka kau, Duff. Kau adalah teman yang suka memakan teman!" Jerit Daren berteriak membuat semua mata kini memandang kearah dirinya dan Duff.


"Apa yang kau katakan tadi? Coba katakan sekali lagi!" Kata Duff membatalkan niatnya meninggalkan tempat itu dan kini berbalik untuk menghampiri Daren.


"Kau itu, Celaka. Sialan. Kau itu bangsat yang suka memakan sahabat!" Semakin keras suara Daren memaki ke arah Duff.


Plak!


Suara tamparan keras jelas terdengar disusul dengan tubuh Daren yang terhuyung-huyung.


"Jaga bicara mu dihadapan Tuan mu ini! Aku tidak pernah dipermalukan didepan ramai orang. Sebaiknya kau berkaca. Jika bukan karena aku, kau itu hanyalah sampah!" Kata Duff Clifford dengan telunjuk lekat di hidung Daren.


"Ku balas kau, Duff!" Kata Daren segera meluruk ke arah Duff dengan maksud ingin menyundul perut Duff dengan kepalanya. Namun itu gagal dia lakukan karena Bernard dan Dilon telah terlebih dahulu mencegahnya.


"Lepaskan aku! Orang yang tidak menghargai persahabatan seperti ini harus di balas," kata Daren berusaha untuk melepaskan diri.


"Dengan Reynold saja kau kalah, apalagi dengan ku. Berpikir lah seribu kali untuk melawan ku. Saat ini, jika aku tidak memiliki masalah dengan Naomi, sudah pasti kau akan menderita. Kau tunggu saja giliran mu!" Kata Duff lalu segera beranjak pergi. Dia tidak lagi memperdulikan Daren yang berteriak seperti orang gila.


Di tempat yang tidak jauh dari pertengkaran itu, Joe, Sylash dan Tye hanya bisa menjadi penonton saja.


Sambil tersenyum, Tye berbisik kepada kedua sahabatnya itu.


"Umpan mu berhasil, Joe!" Kata Tye.


"Manusia-manusia sampah yang serakah seperti mereka bersahabat tidak akan tulus. Mereka itu sama-sama tidak bermoral. Makanya sebentar mereka baik, namun jika ada kesempatan, mereka akan saling telan," kata Joe.


"Sepertinya akan ada tontonan menarik seusai kelas nanti," kata Sylash dengan senyuman jahatnya.


"Yang pastinya adalah, tontonan gratis," kata Joe sambil meletakkan selembar uang di meja.


"Kau pergi bayar semau yang kita makan ini! Aku ada kelas sekitar 10 menit lagi. Aku duluan!" Kata Joe berjalan meninggalkan kedua sahabatnya itu setelah terlebih dahulu bersalaman.


"Hebat sekali cara berfikir Joe ini. Dia bisa memanfaatkan apa saja yang berada di sekitarnya. Dengan begini, Duff tidak akan memiliki kesempatan untuk menggangu kita. Karena, saat ini dia sibuk mengurusi masalah baru yang akan mereka hadapi," kata Sylash memberikan analisisnya terhadap buntut dari permasalahan yang baru saja tercipta.


"Aurelie sungguh sangat pandai berakting. Sebentar lagi persahabatan kelima orang itu akan tinggal nama saja. Aku bahagia jika itu terjadi," ujar Tye pula yang dari dulu memang sudah sangat jengah dengan kelakuan mereka yang sok berkuasa itu.


"Sudah! Aku juga ada kelas sebentar lagi. Kau tunggu aku di sini! Aku akan membayar yang sudah kita makan ini terlebih dahulu," kata Sylash sambil berjalan dengan memegang uang pemberian dari Joe tadi.


Bersambung...