Joe William

Joe William
Irfan dan Butet menghilang



Sekembalinya dari pertemuan di salah satu restoran elit di kota Kemuning, kini Marven merasa sangat frustasi sekali dengan Irfan.


Dikatakan frustasi adalah, dia sama sekali tidak memiliki apapun untuk menghukum Irfan. Bahkan saat ini saja, hanya dia, ibunya dan Karman saja yang berada di rumah. Sementara Butet, Debora dan Irfan tidak berada di rumah saat ini.


Dalam rasa frustasinya, hanya ada Karman tempatnya saat ini untuk bertukar pikiran.


"Carmen Bond. Apa menurut mu, aku telah dikhianati oleh Irfan?" Tanya Marven.


Karman hanya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Marven. Inilah masanya dia memainkan kembali peranannya. "Abang terlalu berambisi. Terlalu banyak moments yang Abang buang begitu saja hanya karena urusan dendam. Coba Abang pikirkan saja! Berapa banyak waktu yang berharga, berapa banyak perhatian yang tersita? Berapa banyak tenaga yang terkuras hanya mengurusi masalah dendam yang tidak berujung? Maaf jika aku terlalu menasehati. Tapi, jika Abang termotivasi hanya karena dendam, maka setelah dendam itu terbalas, maka Abang tidak akan memiliki motivasi lagi. Memang Abang mendapatkan kepuasan. Tapi, setelah itu? Abang pasti akan melihat kembali kebelakang. Prestasi berdasarkan dendam atau hancur termakan dendam itu sendiri," jawab Karman.


"Entahlah. Kadang aku juga merasa terlalu berlebihan. Aku terlalu mempercayai Irfan. Apakah aku tertipu oleh Irfan ini?"


"Menurut hemat saya, Irfan sama sekali tidak membutuhkan Abang. Dia hanya membutuhkan tanda tangan Abang atas kesepakatan kerjasama dengan keluarga Miller. Begitu Abang membubuhkan tandatangan, maka misinya sudah terlaksana. Martins Group akan habis bang. Bisnis mereka ini bukan bisnis main-main. Mereka hanya membeli nama perusahaan untuk mereka gunakan sebagai kedok busuk mereka. Bahkan, kabar yang aku dengar, mereka malah membuang limbah pabrik ke sungai yang langsung mengalir ke Kuala Nipah. Saat ini, penduduk Kuala Nipah menjerit akibat kesulitan untuk menangkap ikan. Semua ikan lari ke tengah akibat pinggiran perairan laut di Kuala Nipah sudah tercemar oleh limbah pabrik yang entah jenis limbah apa namanya itu!"


"Semakin runyam masalah ini. Aku benar-benar telah terjerumus,"


"Jelas Abang terjebak dengan bujuk rayunya Irfan. Abang bayangkan saja ya! Dua tahun sebelum Abang bebas dari penjara, Irfan dan orang utusan keluarga Miller telah membuat kesepakatan. Bukan mustahil bahwa Butet juga ikut terlibat," kata Karman pula.


"Apa maksud mu, Carmen?" Tanya Marven mendadak seperti tersadar dari tidur panjangnya.


"Aku hanya mencerna semua yang dikatakan oleh Tigor. Coba simak kembali bang! Butet tidak keguguran. Dia sengaja menggugurkan kandungannya. Apa itu kalau tidak pengkhianatan? Abang juga jangan melupakan bagaimana dulu kita menjebak Butet?! Dulu, Butet tidak benar-benar suka sama Abang. Dia hanya dijadikan alat oleh Birong untuk melemahkan geng kucing hitam melalui Abang. Mereka telah merencanakan semuanya dengan matang dan Beni adalah motor dari semua yang terjadi. Buntut dari semuanya adalah, ketika Abang membunuh Martin. Setelah itu, Abang berhasil meniduri Butet. Dia tidak benar-benar mencintai Abang. Dia terpaksa menikah dengan mu atas desakan dari Birong!"


Kini Marven menatap Karman dalam-dalam. Seluruh yang dikatakan oleh Karman tadi adalah seratus persen kebenaran. Mereka berdua lah yang menjebak Butet. Jika Marven menjebak Butet untuk tujuan agar memiliki gadis itu, maka Karman ketika itu ikut andil karena misi dari Tigor. Walaupun misi itu gagal dan nyaris membuat geng Tigor di kota Kemuning hancur. Beruntung Tigor cepat meminta bantuan kepada Jerry William. Dan Jerry William pun segera mengutus Arslan untuk membantu Tigor. Di sinilah awal mula mengapa Tigor bergabung dengan Dragon Empire yang saat ini dipimpin oleh Joe William.


"Mr. Carmen Bond. Saat ini aku hanya mempercayai dirimu saja. Jika kau memiliki orang yang bisa dipercaya, aku menginginkan agar kau meminta orang tersebut untuk memata-matai pergerakan Irfan ini!" Pinta Marven penuh harap.


"Kalau ada uang, semuanya bisa diatur!" Jawab Karman pula. Baginya, asal gerak, harus ada uang.


"Uang tidak masalah. Aku akan mengirimkan ke nomor rekening mu!" Balas Marven yang membuat wajah Karman berseri-seri.


"Saran dari ku untuk Abang. Jual saja 30% saham Abang di Martins Group! Kemudian, letakkan jabatan Chief Executive Officer Abang. Dengan begitu, Abang tidak akan ada lagi hubungannya dengan Martins Group. Jika suatu hal terjadi, Abang bisa lepas tangan. Biarkan Irfan yang menanggung semuanya!"


"Siapa yang ingin mewarisi kesengsaraan bang? Orang waras pasti akan menolak!" Bantah Karman dengan cepat.


"Satu lagi. Bisnis keluarga Miller ini adalah bisnis yang melanggar hukum di dunia. Abang kan tau sendiri. Segera lepaskan bang! Jika mereka memang tidak perhitungan dengan uang. Tapi, masalah ini sudah merembet kemana-mana. Anak buah yang dikirim Irfan sudah kehilangan jari kelingking mereka. Ferdy sudah diburu oleh Majikan Tigor. Apa Abang masih berani mengambil resiko? Ingat Bang! Dragon Empire tidak lemah. Abang pasti ingat ketika mereka menyerang kota Batu kan? Berapa puluh ribu orang yang dikirim, sehingga membuat kita ketika itu seperti sebutir gula yang dikerubungi oleh semut. Aku menduga, mereka sengaja memancing keluarga Miller ini untuk menghimpun seluruh kekuatan yang mereka miliki. Dengan begitu, mereka bisa menggulung keluarga Miller ini sampai habis. Di lipat-lipat seperti bungkus belacan!"


"Menurut mu, apakah keluarga Miller ini mau membayar harga saham milikku itu?" Tanya Marven ragu-ragu.


"Jika Abang berani berkorban sedikit saja, maka Abang bisa terlepas dari masalah ini!"


"Caranya?" Tanya Marven penasaran.


"Andai Honor tidak mau membayar sisa saham yang Abang miliki, Abang buat saja surat pelepasan saham kepada Irfan. Dia pasti mau. Yang ada didalam otaknya kan hanya bisnis haram tersebut. Setidaknya, dengan 30% saham yang dia miliki, dia akan memiliki andil besar untuk keluarga Miller. Dan pula, kan memang dasarnya kesepakatan itu antara Irfan dan orang utusan dari keluarga Miller ketika itu,"


"Kau sangat banyak mengetahui tentang mereka ini. Apakah kau memang memperhatikan mereka? Tanya Marven penasaran.


Sempat juga Karman gugup menjawab pertanyaan dari Marven ini. Tapi itu sebentar saja. Ilmu padinya segera melakukan pertahanan dan langsung menangkis.


"Bang. Walau bagaimanapun, aku adalah bagian dari organisasi. Aku bisa saja terbuang sampai ke Tanjung Karang. Tapi, itu adalah raga ku. Hati dan jiwa ku tinggal di sini. Tidak ada satu hal pun yang bisa lepas dari perhatian Carmen Bond!" Tegas Karman dengan sombong. Padahal, semua yang dia ketahui itu berasal dari Tigor dan orang-orangnya.


"Baiklah. Aku akan memikirkannya lagi. Saat ini yang terpenting adalah, kau harus mencari tau kemana Irfan pergi. Dan kemana pula Butet dan Debora pergi. Perasaan ku saat ini benar-benar tidak tenang."


"Bang. Buat persiapan. Sembunyikan uang mu! Aku pergi dulu!" Kata Karman memperingatkan, lalu segera berlalu meninggalkan lelaki gondrong dengan rambut diikat ke atas tersebut.


Mendengar peringatan ini, Marven segera tersadar. Dengan cekatan, dia segera mengambil kunci yang tersembunyi di tempat penyimpanan rahasia miliknya, kemudian dia segera memasuki satu ruangan.


Tak lama berselang, Marven kini keluar dari ruangan itu dengan menenteng dua koper besar di tangannya.


Tanpa ba bi bu lagi, Marven segera keluar menuju ke mobil. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, dan dengan cepat memasukkan koper tersebut ke dalam mobil, lalu setelah dia juga memasuki mobil, tak lama kemudian mobil itu pun menderu dan meninggalkan perumahan elite Tasik Putri dengan kecepatan tinggi.


Bersambung...