
Sore itu, suasana di Tower Mall mendadak gempar. Hal ini dikarenakan, adanya seorang pemuda menaiki troli didampingi oleh enam orang gadis yang sangat cantik. Mereka adalah, Joe William, Xenita Patrik, Talia Gordon dan ke-empat R4 pengawal pribadi Joe William.
Dengan memakai jaket Hoodie, masker lambang kucing, pemuda itu persis seperti cacing kepanasan berteriak kesana-kemari mengatakan akan memberi diskon 20% kepada siapa saja yang belanja di atas 20 juta hingga pukul delapan nanti malam.
Kejadian ini persis seperti sekitar setahun yang lalu ketika Joe baru saja menginjakkan kakinya di Tower Mall ini.
Beberapa orang lelaki dan wanita berpakaian serba putih dengan paduan celana dan rok hitam segera kalang kabut berdatangan dari berbagai arah menuju ke satu tempat, yaitu Joe William yang berada di atas troli.
Mereka langsung membentuk barisan, lalu segera membungkuk hormat seraya berucap, "selamat datang Tuan muda!"
"Ya ya ya! Terimakasih atas sambutan kalian! Aku ke sini untuk mengajak kedua sahabat ku ini untuk sekedar melihat-lihat kalau-kalau ada sesuatu yang berkenaan di hati mereka."
"Pegang troli ini erat-erat! Aku akan turun," kata Joe yang segera melompat dengan ringan.
Bagaikan seorang raja yang didampingi oleh permaisuri dan selir, Joe pun berjalan melenggang dengan tengilnya melewati barisan para pramuniaga dan manager di Tower Mall tersebut.
"Talia dan kau Xenita. Anggap saja rumah sendiri, dan jangan sungkan-sungkan!. Tapi jangan lupa! Kartu kredit mu berikan kepada pak Manager itu!" Kata Joe lalu terkikik geli.
"Kalau itu, bukan rumah sendiri namanya. Itu pemerasan!" Balas Xenita Patrik yang juga ikut tertawa.
"Apa saja lah! Yang penting, aku tidak mau rugi dengan kalian!" Joe terus saja menggoda mereka berdua.
"Pak manager, mana Miss Aline?" Tanya Joe kepada seorang lelaki paruh baya yang dulu menjadi tukang dorong troli miliknya.
"Ada, Tuan muda! Mungkin sebentar lagi beliau akan tiba," jawab sang Manager.
"Hmmm. Baiklah! Kalian temani kedua gadis ini untuk melihat-lihat! Nanti, suruh Miss Aline menemui ku di ruangan ku!" Pinta Joe. Lalu, tanpa menunggu jawaban, dia langsung saja berjalan menuju pintu lift yang akan mengantarkan dirinya ke lantai atas.
"Kak. Mengapa kau tidak bersama dengan kami saja?" Tanya Xenita.
"Aku tidak suka menemani wanita berbelanja. Satu barang satu jam. Kalau sepuluh barang?, sia-sia waktu ku terbuang begitu saja!" Jawab Joe sambil mengibaskan tangannya.
Talia dan Xenita hanya bisa saling pandang dengan jawaban dari Joe tadi. Memang ada benarnya juga. Bahkan, banyak benarnya.
Mereka hanya pasrah saja dan mengikuti saja ketika sang Manager mempersilahkan mereka untuk melihat-lihat.
*********
Tok tok tok!
"Masuk!"
"Kau sudah datang, Joe? Bagaimana dengan kuliah mu?" Tanya seorang wanita paruh baya namun masih cantik itu.
"Silahkan duduk Bi!" Kata Joe mempersilahkan.
"Terimakasih. Tapi, kau belum menjawab pertanyaan dari ku tadi?" Desak wanita itu.
"Kuliah ku berjalan dengan baik. Tidak ada hambatan yang berarti," jawab Joe singkat.
"Oh ya Bi. Bagaimana dengan perkembangan Tower Mall ini. Selama setahun, aku tidak mendapat laporan dari anda. Apakah anda memberikan laporan pembukuan langsung kepada ayah ku?" Tanya Joe yang mulai serius.
"Uhuk uhuk uhuk. Hahaha. Untung ada kalian. Memang, saat ini aku belum bisa fokus ke bisnis ku sendiri. Bibi tau seperti apa ancaman yang akan merongrong kita nantinya?! Itu lah mengapa aku seperti ini. Aku juga menginginkan ketenangan. Tapi untuk saat ini, semua itu belum bisa aku dapatkan.
Jika memang pembentangan budget telah diselesaikan dengan ayah ku, maka, sama saja. Yang penting, keuntungannya masuk ke rekening ku!" Kata Joe sambil tersenyum. Dia lalu segera bangkit dari kursinya dan melangkah menuju ke arah pintu.
"Joe. Hati-hati dengan ancaman yang akan datang dari kota Kemuning! Kabar yang aku dengar, mereka juga sudah mendirikan pusat hiburan dan perbelanjaan untuk menandingi Tower Mall," kata Aline sebelum Joe benar-benar meninggalkan ruangan itu.
"Aku sudah mengetahuinya, Bi. Biarkan saja. Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya. Mereka pasti akan menyenggol ku. Mau tidak mau, mereka pasti akan menyenggol ku. Setelah itu, peperangan terbuka akan terjadi. Kita lihat saja!" Joe dengan acuh segera meninggalkan Aline yang masih terus menatap ke arah kepergiannya.
Tiba di bawah, Joe segera duduk di dekat kursi milik pramuniaga yang dulu pernah mereka singgahi bersama dengan Tiara dan Lestari. Ketika itu, Lestari dan Joe sempat merusakkan salah satu perhiasan yang dipajang di toko tersebut.
Kehadiran Joe di sana kontan saja membuat pramuniaga itu menjadi salah tingkah. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin seorang Boss besar di Tower Mall ini bisa duduk seenaknya saja di kursi yang seharusnya milik seorang pelayan yang menyambut para pelanggan.
"Mengapa kau melihatku seperti itu? Apakah aku ini seperti hantu?" Tanya Joe berusaha serius.
"Tid-tidak. Tidak, Tuan muda!" Kata wanita itu tergagap.
"Kau mau makan eskrim? Aku akan memesankan untuk mu!" Kata Joe lalu segera melangkah menuju ke salah satu toko eskrim.
Setelah eskrim tersebut berada di tangannya, dia segera menghampiri wanita tadi, lalu menarik kursi tempatnya duduk tadi, kemudian mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
"Silahkan!" Kata Joe.
Setelah wanita itu duduk, Joe segera membuka bungkus eskrim tadi kemudian menyodorkannya kepada wanita itu.
"Tu-tu-Tuan," wanita itu tergagap ketika mendapat pelayanan seperti itu dari boss mereka.
"Kendorkan ketegangan mu. Ini eskrim, lalu nikmati saja. Aku akan di sini menemani mu!" Kata Joe. Dia lalu enak saja bersandar di dekat pintu masuk ke toko itu sambil memperhatikan para pengunjung.
"Siapa nama mu, Nona?" Tanya Joe seraya tersenyum.
"Na-nama saya Arum," jawab wanita itu.
"Aku memiliki seorang sahabat. Apakah di sini masih ada lowongan?" Tanya Joe lagi.
"Aneh. Dia yang boss, dia pula yang bertanya tentang lowongan," kata Gadis itu dalam hati.
"Seorang gadis sebaya dengan mu. Mungkin kau masih ingat dengannya. Karena, setahun yang lalu, dia dan aku yang menyebabkan salah satu perhiasan di sini jadi rusak. Dan kau ketakutan ketika itu. Dia akan bekerja di sini. Aku harap, kau bisa memberikan bimbingan kepadanya nanti. Apa kau bersedia?" Tanya Joe penuh harap.
"Saya bersedia, Tuan!" Jawab gadis itu lagi.
"Baiklah! Nikmati eskrim mu. Aku pergi dulu. Lain kali, jika aku memiliki waktu, kita akan mengadakan acara makan bersama. Kau akan di undang untuk acara itu. Bagus-bagus bekerja. Aku menilai semuanya dari kualitas mereka. Jika kau bisa bekerja dengan baik, tidak mustahil kau akan mendapatkan kedudukan yang lebih baik!"
Joe menepuk pelan pundak gadis itu, lalu meninggalkan gadis itu dengan wajah seolah-olah tidak percaya.
"Mimpi apa aku tadi malam," kata gadis itu dalam hati.
Bersambung...