Joe William

Joe William
Panjol ketakutan



Sekitar dua belas orang dari tiga kendaraan yang membuntuti mobil yang dikendarai oleh Rio beserta istrinya menuju ke kota Kemuning tampak sedang mengelilingi mobil tersebut.


Ketika beberapa orang akan membuka pintu, tiba-tiba Panjol menghalangi mereka. "Hati-hati! Bagaimanapun, orang ini adalah Kapolres kota Batu! Tidak mustahil jika dia berpura-pura pingsan!"


"Jadi, bagaimana Jol?" Tanya Mokmok.


"Ancam dulu istrinya. Ayo cepat! Kau backing aku dari belakang!"


Mokmok tampak mengeluarkan sepucuk pistol yang terselip di pinggangnya, lalu mengarahkan ke arah istri Rio yang sejak tadi sudah pingsan.


"Jangan coba-coba melawan, jika tidak ingin kepala istri mu pecah oleh peluru ku ini!" Ancam Mokmok yang berdiri di belakang Panjol.


Rio tidak punya pilihan lain selain terus berpura-pura pingsan. Karena tangannya yang memegang senjata terkulai di bawah, maka dengan mudah dia menyelipkan pistolnya di bawah kursi mobilnya.


Krek!


Terdengar suara pintu mobil di buka dengan paksa. Kemudian, Rio merasakan sepasang tangan menarik kerah bajunya dengan kasar lalu..,


Bugh..!


Enak saja mereka menarik tubuh Rio dari dalam mobil, lalu terbanting di jalan aspal yang rusak tersebut.


"Hanya segini saja kemampuan mu hah? Menjaga anak bini pun kau tak becus. Inikan lagi kau mau menjaga kota Batu?!" Cibir Panjol.


Panjol segera melangkah mendekati mobilnya, membuka pintu, lalu mengambil sebotol air mineral.


Ketika dia kembali ke tempat dimana Rio sedang tergeletak, dia segera menyiram wajah kepala kepolisian resor kota Batu itu hingga basah kuyup.


"Uhuk..," Rio tersedak dan langsung membuka matanya. Kini, satu tangan kasar telah menjambak rambutnya dan memaksa dirinya untuk duduk.


"Duduk kau, polisi sok suci!" Bentak Panjol.


Bugh...!


"Uhuk!"


"Andai kau mau bekerja sama dengan kami, sudah pasti kau akan menjadi kaya raya. Tapi, kau terlalu keras kepala. Sekarang, kau rasakan ini!"


Plak!


"Hahaha. Kalian, anjing-anjing kotor dari kota Kemuning. Ingin membeli seragam ku dengan uang haram milik kalian itu? Jangan mimpi!" Rio tertawa mengejek membuat Panjol semakin geram.


"Kau akan tau ketika aku akan mengerjai istrimu yang cantik itu!" Ancam Panjol.


"Biadab kalian semua. Sedikit saja istri ku kau sentuh, aku akan memburu kalian!" Ancam Rio sambil berusaha untuk bangkit.


Bugh!


"Apa kau kira, bahwa kau bisa selamat? Kau akan segera mati. Tapi, sebelum kau mati, aku akan memberikanmu tontonan yang menarik!"


"Bawa istrinya kemari!" Perintah Panjol kepada bawahannya.


Ganjang, yang terkenal mata keranjang segera menawarkan diri dan berjalan ke arah mobil Rio yang terjepit.


Berulang kali Ganjang menjilati bibirnya sebelum membuka pintu mobil yang kacanya sudah pecah tersebut.


Krek...! Terdengar suara pintu mobil di buka. Tapi, sial bagi Ganjang. Begitu pintu mobil terbuka, dan dia akan menarik tubuh istri Rio, sebuah bola-bola kecil yang terbuat dari besi tepat menghantam tulang rusuknya.


Wuzzz!


"Aduh!" Ganjang tampak meringis kesakitan dan menoleh ke arah belakang.


Kini, dia melihat dua unit mobil telah berhenti di belakang mobilnya, dan mobil anak buahnya.


"Panjol! Ada orang lain yang datang. Cepat kau lihat!"


Mendengar jeritan dari Ganjang, Panjol segera melihat ke bagian belakang mobil mereka. Kini, dia melihat sesosok tubuh serba hitam, berdiri diapit oleh empat orang gadis berwajah imut.


"Siapa kalian?" Tanya Panjol.


Tidak ada jawaban dari pertanyaan Panjol tadi, karena dia sudah keburu kaget begitu melihat ke arah pintu mobil BMW yang terbuka dan dari dalam, muncul sosok yang sangat dia kenal, bahkan sangat dia takuti.


"Kita bertemu lagi, Panjol!" Sapa lelaki yang baru keluar dari mobil tadi.


"Ba-ba-bang..., Bang Tigor!" Gumam Panjol terkejut.


"Ku tembak kau Bang Tigor!" Kata Mokmok pula sambil mengacungkan senjatanya.


"Heh.., apa? Tembak katamu? Hahaha... Simpan senjata mu itu! Ayo simpan! Atau tidak ada lagi ampun bagi mu! Kau pilih sekarang! Letakkan senjata mu, atau mati!" Dingin suara Tigor yang kini maju ke arah Panjol dan Mokmok.


Bergetar tangan Mokmok menggenggam senjatanya. Dia ingin menembak, tapi telunjuknya terasa seperti mati rasa.


"Simpan kataku! Apa kau ingin melihat aku seperti kau melihatku sekitar dua puluh tahun yang lalu? Ayo jawab? Jangan pancing aku menjadi Black Cat! Karena, bukan hanya kau saja yang akan aku bantai, tetapi seluruh keluargamu akan aku binasakan. Jangankan hanya kau, Jordan dan Ronggur pun tidak sepadan dengan ku. Simpan kataku!"


Gubrak!


Pistol yang berada di genggaman tangan Mokmok terjatuh di atas aspal.


Dengan wajah pucat, Mokmok segera merapatkan badannya ke arah Panjol.


"Tamat riwayat kita Njol!" Bisik Mokmok ketakutan.


Joe, yang melihat kejadian ini menjadi terheran-heran. Dia tadinya mengira akan ada perkelahian yang seru. Tapi, sepertinya lawan sudah kalah sebelum bertarung.


"Ilmu apa yang dipakai oleh Paman Tigor ini? Mengapa mereka menjadi ketakutan?" Pikir Joe dalam hati. Tapi itu hanya sebentar. Dia segera sadar dan menyuruh keempat pengawal wanita miliknya untuk menolong istri dan anak perempuan Rio.


"Siapa yang menyuruh mu, Panjol?" Tanya Tigor.


"Ampun Bang! Ampun!" Kata Panjol sambil jatuh berlutut.


Kreeeek!


"Arrrrrgh...!" Panjol menjerit ketika telapak sepatu Tigor menginjak tangannya yang tertumpu di aspal.


"Bukan itu jawaban yang aku inginkan. Aku hanya ingin mengetahui, siapa orang yang menyuruh mu?" Pelan sekali suara Tigor. Yang keras hanyalah injakan kakinya di atas tangan Panjol.


"Fe.., Ferdy bang. Ampuuuun...! Bang. Tolong jangan injak lagi bang. Sakit bang, sakiiiit!"


Seeeer...!


"Sialan. Kau kencing, Panjol? Jika kencing mu mengalir dan mengenai sepatuku, ku pancung leher mu!" Ancam Tigor.


"Woi. Apa yang kalian lihat? Cepat lap air kencing ku itu!" Kata Panjol memerintahkan kepada anak buahnya.


"Hah?" Anak buah Panjol celingukan sejenak. Mereka bingung dengan apa harus mengelap air kencing Panjol yang baunya minta ampun itu.


"Pakai baju kalian, Goblok!" Bentak Panjol.


"Oh. Iya.., iya iya iya!"


Semua anak buah Panjol segera membuka baju mereka dan meletakkan di atas aliran air kencing Panjol tadi.


Tigor ingin tertawa. Tapi, dia menahan rasa lucu yang menggelitik hatinya.


"Panjol. Dulu, aku melepaskan mu. Dengan baik hati, aku membiarkan kau dan kedua sahabat mu ini untuk membuka usaha di kota batu. Apa kau kira aku melepaskan mu begitu saja? Semua gerak-gerik mu selalu aku pantau. Apakah kau akan menjadi anjing terjepit yang apa bila ditolong, malah menggigit?"


"Ampuni aku bang. Aku termakan rayuan Irfan!" Jawab Panjol dengan perasaan bersalah.


"Anak bau kencur itu berhasil memperdayai mu? Apa kau sudah bosan hidup?"


"Maafkan aku bang. Aku memang orang celaka. Tapi, jangan bunuh aku bang. Aku mohon pengampunan darimu!"


"Kalau aku ampuni, apa yang bisa aku dapatkan?" Balik Tigor bertanya.


"Abang mau apa? Katakan bang! Akan aku lakukan!" Jawab Panjol penuh harap. Dia berharap agar Tigor mau mengampuni dirinya.


"Aku ada pekerjaan untuk mu. Ingat, Panjol! Aku telah mengirim Ucok dan Jabat untuk menyandra istri dan anak mu. Bahkan, saat ini anak lajang mu berada dalam pantauan Sugeng!"


"Ampun bang. Jangan apa-apa kan anak dan istri ku!"


"Oh. Begitu ya? Lalu, bagaimana dengan anak dan istri Rio? Kau terlalu berani, Panjol! Kau tau Rio adalah adikku. Cari penyakit kau ini!"


"Sumpah bang! Berikan perintah. Aku akan melakukannya. Aku menyesal. Aku gelap mata. Sumpah semi kakek dan nenek ku, aku tidak akan melawan mu lagi. Aku mohon bang!"


"Sekarang, dengarkan perkataan ku! Aku memberimu perintah untuk menjebak Ferdy!"


Bersambung...