Joe William

Joe William
Perubahan rencana menurut perkembangan



Kriiiing..!


Kriiiing..!


Suara deringan dari telepon genggam berdering memekakkan telinga, membuat seorang pemuda yang baru saja akan tidur terperanjat dan kalang kabut karena tergulung oleh selimut.


Dengan susah payah dan megap-megap, pemuda itu menyingkirkan selimut yang menutupi wajahnya dengan kesal.


"Dasar selimut sialan!" Maki pemuda itu. Dia segera beranjak dari tempat tidurnya, lalu meraba-raba ke arah dimana dia meletakkan telepon genggam miliknya.


"Bent!" Katanya setelah menggesek layar ponselnya untuk menjawab telepon tadi.


"Hallo, Ketua!"


"Hmmm. Malam sekali anda menelepon, Bent?"


"Ketua.., saya baru saja mendapatkan berita bahwa Villa yang anda curigai di bukit batu itu adalah kelompok yang menamai diri mereka dengan nama Geng Tengkorak! Komplotan ini dipimpin oleh seorang wanita!" Jawab Bent sekaligus menerangkan apa yang dia ketahui.


"Itu aku sudah tahu. Apakah kau sudah bertemu dengan Alex?" Tanya pemuda itu.


"Maaf, Ketua. Saya belum bertemu dengan Alex. Hanya saja, Alex ada menelepon kalau dia akan menunggu ku di apartemen milik anda. Katanya ada tugas dari anda. Saya menanyakan, tapi dia tidak menjawab,"


"Ya. Sebaiknya memang kalian harus bertemu langsung. Tidak perlu mengawasi Villa itu lagi!"


"Begini, Ketua. Pada pertemuan tadi sore, mereka merencanakan untuk membunuh orang bernama Irfan. Bukankah Irfan itu adalah orang yang fotonya anda kirim ke WhatsApp saya?" Tanya Bent.


"Hah? Kalau begitu bisa kacau urusan. Bent! Kau cepat temui Alex di apartemen ku. Setelah kalian bertemu, segera menelepon ku kembali!"


"Siap, Ketua. Saya akan berangkat sekarang!" Jawab Bent.


Setelah mendengar jawaban itu, pemuda tadi segera mengakhiri panggilan. Lalu mulai mencari nomor kontak yang lain, kemudian menghubunginya.


Tut.., tut.., tut..,


"Ketua!" Jawab orang di seberang sana setelah beberapa saat menunggu.


"Hanya kita. Panggil Joe saja, Paman!" Pinta pemuda yang menelepon tadi.


"Mengapa kau belum tidur, Joe? Sudah larut malam. Jangan bandel!" Omel orang di seberang sana.


"Orang-orang dari Tiger Syam baru saja menelepon ku. Informasi yang aku dapat darinya adalah, bahwa bukan hanya kita saat ini yang mengincar Irfan. Melainkan, Geng Tengkorak juga merencanakan untuk membunuh Irfan atas perintah dari wanita bernama Butet," kata pemuda yang ternyata adalah Joe.


"Alamak! Mengapa bisa berbenturan gitu?"


"Itu lah masalahnya, Paman. Lalu, menurut paman, apa yang harus kita lakukan? Aku jelas menginginkan keuntungan dari benturan ini!"


Lama suara di seberang sana tidak terdengar. Dan Joe pun tidak mendesak. Dia memberi ruang kepada orang yang dia telepon tadi untuk berfikir.


Setelah lama terdiam, akhirnya lelaki di seberang sana pun berkata juga. "Joe. Tarik orang-orang mu. Fokusnya adalah melindungi Marven. Aku tidak ingin dia mati begitu saja. Aku ingin dia membayar perbuatannya kepada mendiang Martin sekali lagi.


Dan tadi kau mengatakan ingin mengambil keuntungan kan? Keuntungan yang bisa didapatkan adalah dengan cara menghubungi Rio. Aku akan menyuruh dia untuk membuntuti Irfan. Setelah mereka melakukan rencana mereka, maka Rio akan mengejar dan menangkap mereka. Geng Tengkorak akan tenggelam sekali lagi!"


"Paman. Sepenuhnya aku mendukung rencana paman ini!" Kata Joe pula.


"Kau tidur lah. Paman mau bekerja sebentar. Namora selalu mendesak supaya paman memberinya adik. Dah ya..!"


Tut.., Tut.., Tut.., suara panggilan diakhiri.


Joe melongo mendengar kalimat akhir dari orang yang diteleponnya tadi.


*********


Pagi-pagi sekali, Tigor sudah menelpon Karman dan menyuruhnya untuk menemuinya di perumahan elite Tasik Putri.


Setelah Karman datang, dia segera menemui Tigor yang tampak memang sudah menunggu kedatangannya.


"Selamat pagi Bang!" Sapa Karman.


"Pagi juga. Apa kau sudah sarapan?" Tanya Tigor.


"Sudah!" Jawab Karman singkat.


"Karman. Apa akhir-akhir ini kau ada menghubungi Marven?"


"Ada bang. Aku menyuruhnya untuk bersembunyi. Karena, aku mencurigai bahwa dia akan dicelakai oleh Irfan. Ternyata dugaan mu tidak meleset," jawab Karman berterus terang.


"Kau tidak meminta izin dari ku terlebih dahulu, Karman. Aku sudah katakan. Jangan bawa perasaan dalam masalah ini. Sekarang, katakan di mana Marven bersembunyi?" Tanya Tigor dengan nada tidak senang.


"Maafkan aku bang. Saat ini Marven berada di Gang Kumuh,"


"Katakan kepada Marven bahwa semuanya dalam kendali. Jika dia bertanya di mana keberadaan mu, maka katakan saja kau juga bersembunyi dari kejaran orang-orang dari geng Tengkorak. Apa dia sudah tau kalau Butet telah membangun kekuatan?"


"Sudah bang. Aku memberitahu kepadanya sore kemarin!"


"Jika bukan karena kau teman lama, sudah ku patahkan gigi mu itu. Mulai besok kau tidak boleh memegang handphone!" Marah Tigor kepada Karman.


"Siap Bang! Dan, maafkan aku!"


"Ini lah susahnya perhitungan dengan sahabat. Sudah lah! Kau bebas melakukan apa saja. Yang penting, jangan terlalu banyak membocorkan rahasia kepada Marven. Ingat! Dia juga masih memiliki hubungan dengan keluarga Miller. Keluarga Miller tidak perduli masalah internal mereka. Yang dia tau, bisnisnya lancar walau siapapun yang memegang saham di Perusahaan Martins Group. Dan informasi dari mu bisa menjadi boomerang yang akan berbalik menyerang kita!"


Karman segera mengangguk. Dia juga menyesali kenapa terlalu kasihan kepada Marven. Padahal, jelas-jelas Marven adalah musuh mereka bersama.


***


Di apartemen milik Joe yang berada di Bukit Batu, Bent, Alex dan delapan orang lainnya dari Tiger Syam segera berangkat meninggalkan Apartemen milik Joe setelah mendapatkan perintah untuk melindungi Marven dari ancaman Butet.


"Bent. Di seperti apa wajah dari Marven ini?" Tanya Alex kepada lelaki besar di depannya itu yang tampak sedang memasang peredam di ujung moncong pistol miliknya.


"Aku akan mengirim gambarnya. Tunggu saja!" Jawab Bent.


"Mari! Kita bisa melakukannya sambil bergerak,"


"Ayo!"


Kesepuluh orang tadi segera keluar dari apartemen milik Joe, lalu berbagi menjadi lima kelompok, kemudian mengendarai sepeda motor meninggalkan kota Batu, menuju ke Kota Tasik Putri.


Persis seperti yang telah direncanakan antara Tigor dan Joe. Bahwa, setelah saling berbagi tugas, Tigor pun segera menghubungi adiknya yang seorang kepala kepolisian resor.


Rio, yang telah dihubungi oleh Tigor tentang pembunuhan berencana ini, langsung menyiagakan bawahannya, dan langsung bergerak disepanjang perbatasan kota Batu-gang Kumuh. Tidak lupa juga dia melakukan kerjasama dengan beberapa sahabatnya di kepolisian kota Tasik Putri.


Kini, semua orang telah bersiap-siaga, dan mulai menjalankan tugas mereka masing-masing.


Bagi anggota tentara bayaran, Tiger Syam, mereka sekarang mulai menelusuri jejak Marven setelah diberitahu oleh Joe yang mendapat informasi dari Tigor, bahwa Marven saat ini sedang berada di gang Kumuh.


Sedangkan pihak kepolisian, mulai memusatkan perhatian mereka di Villa mewah Bukit Batu. Karena, dari sana lah tercetusnya pembunuhan berencana. Andai semua ini berhasil, maka mereka pasti akan digulung habis. Juga, benih-benih tumbuhnya kembali geng Tengkorak bisa dicegah dan dipatahkan sebelum tumbuh mekar dan semakin kuat. Ini lah keuntungan yang diinginkan oleh Joe.


Bersambung...