
Seorang pemuda berambut sedikit gondrong berwarna kemerahan tampak sedang menyandang tas ransel di punggungnya.
Dia tampak melangkah keluar dari sebuah Villa mewah dikawasan Mountain Lotus sambil diiringi oleh sepasang suami-istri paruh baya yang mengiringinya sampai di depan pintu.
"Apa kau sudah siap dengan pengembaraan mu Putraku?" Tanya seorang lelaki setengah baya sambil mengusap kepala pemuda itu.
"Sudah Ayah. Aku akan memulai segala sesuatunya dari bawah mengikut anjuran dari Guru ku," jawab pemuda itu.
"Hmmm... Tidak ada salahnya. Dulu ayah juga memulai dari bawah. Tapi, jangan biarkan dirimu terlalu ditindas oleh orang lain. Cukuplah ayah saja yang merasakan penindasan. Ayah harap kau bisa membedakan antara rendah hati dan rendah diri!"
"Aku mengerti, Ayah,"
"Ibu. Putra mu pamit!" Kata pemuda itu sambil menyalami wanita setengah baya yang masih tampak cantik itu.
"Di mana kau akan melanjutkan kuliah mu Putraku?"
"Aku belum tau, Ibu. Tapi yang pasti, aku akan melanjutkan kuliah ku dimana tiada satupun yang mengenaliku,"
"Bukankah kulit tubuh mu sudah tidak hitam lagi? Lalu, mengapa kau ingin menghindar dari orang-orang yang pernah dekat dengan mu?" Tanya Wanita itu penasaran.
"Ayah, Ibu.., memang kulit ku sudah tidak hitam legam lagi. Namun, sahabat ku dari kecil pasti masih mengenali walaupun kulit ku ini berubah belang. Aku tidak terlalu suka kepada orang yang sengaja mencari muka dengan mengetahui identitas ku. Bahwa aku adalah generasi ke empat dari keluarga William. Sebagian memang tulus. Tapi akan banyak yang dengan sengaja memanfaatkan kedekatan mereka dengan ku hanya untuk mencari muka. Dan aku tidak menyukai jenis orang seperti ini,"
"Baiklah. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa menghubungi siapa saja dari perusahaan untuk segera memenuhi kebutuhan mu," kata sang Ayah berpesan.
"Aku rasa, aku tidak membutuhkan apa-apa lagi, Ayah. Uang ku kan banyak. Aku saja bingung cara menghabiskannya," jawab pemuda itu sombong sambil menoel hidungnya.
"Ya sudah. Berangkat lah. Ingat pesan Ayah! Jangan bertindak sesuka mu. Kau harus bisa mengendalikan amarah mu. Jangan mudah menjatuhkan tangan kasar kepada siapa saja hanya karena masalah sepele!"
"Putra mu, menuruti nasehat!" Jawab pemuda itu sambil membungkuk hormat.
"Aku pamit dulu, Ayah.., Ibu!" Kata pemuda itu sambil menyalami dan memeluk kedua orang tuanya lalu mengenakan masker kemudian berjalan menuju pagar Villa itu menuju ke jalan raya untuk mencari taksi.
Sepasang suami-istri paruh baya itu hanya memperhatikan saja punggung putra mereka satu-satunya itu dengan tatapan dan perasaan campur aduk antara bangga, dan khawatir.
"Kak. Apakah keputusan putra kita itu sudah tepat?" Tanya sang istri.
"Itu mungkin yang terbaik menurut dirinya. Ingat sayang! Misinya belum tuntas. Dia harus menyelesaikan peperangan akhir dengan lawannya yang mungkin lebih tangguh dari sebelumnya," jawab sang suami.
"Aku merasa berat untuk melepaskan kepergian Putra kita satu-satunya itu, Kak!"
"Orang tua yang mana yang mau berpisah dengan putranya? Tapi ini sudah menjadi jalan takdir nya. Untuk menjadi orang besar, harus ada pengorbanan dan perjuangan. Baru lah dia mengerti apa itu arti dari sebuah keberhasilan. Jika dia mencapainya hanya dengan menjentikkan jari, maka dia tidak akan pernah merasa bersyukur atas apa yang dia nikmati. Biarkan putra kita berusaha mencari dirinya sendiri. Kita sebagai orang tua harus mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk dirinya,"
"Iya. Aku mengerti,"
"Nah. Begitu seterusnya. Mari kita masuk!" Ajak lelaki setengah baya itu kepada istrinya.
*********
Sudah tiga hari ini beberapa orang tampak menyatroni rumah milik Rudolf Miller di Macau.
Beberapa orang tampak memang sengaja mengintai setiap pergerakan yang akan dilakukan oleh lelaki setengah baya itu.
Semenjak putranya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, kini Rudolf hanya tinggal bersama Istrinya dan pembantu rumah. Dia kini merasa tenang setelah memisahkan diri dari perusahaan induk yang terus menerus membuatnya sama sekali tidak mendapat keuntungan dari saham yang dia miliki.
Kini, dia mulai fokus mendirikan perusahaan sendiri yang bergiat di bidang kuliner dan juga traveling.
"Tiger. Aku mendapat kabar bahwa Rudolf Miller ini akan segera berangkat ke Taiwan tidak lama lagi," kata seseorang memberikan laporan melalui sambungan telepon.
"Zacky.., terus amati orang itu. Aku akan segera mengatur rencana untuk membuat jebakan seolah-olah dia mati karena kecelakaan lalulintas," kata Tiger.
"Baiklah, Tiger. Aku akan segera mengatur beberapa orang anak buah ku untuk terus mengintai kediaman Rudolf ini," jawab lelaki bernama Zacky itu lalu mengakhiri panggilan.
Setelah selesai melakukan panggilan, dia pun kini mengatur beberapa orang anak buahnya untuk mengintai setiap pergerakan dari Rudolf ini dari jarak tertentu. Singkat cerita, Rudolf Miller kini benar-benar menjadi target utama orang-orang suruhan dari Tiger Lee ini.
Sementara itu, Di Victoria peak, tepatnya di Villa besar milik keluarga Miller, Tiger Lee tampak datang lalu membisikkan sesuatu ke telinga Honor membuat pemuda itu tersenyum senang.
"Kapan Rudolf ini akan berangkat, Paman Tiger?" Tanya Honor seperti tak sabaran.
"Mungkin dalam dua hari lagi. Saya sudah mempersiapkan jebakan untuk mereka. Ketika mereka mendekati jalan sepi, kami akan..," Tiger Lee pun langsung membisikkan sesuatu ke telinga Tuan besarnya itu.
"Hahaha. Bagus, Paman. Aku sudah tidak sabar melihat Albern juga menangis darah seperti yang aku alami beberapa hari yang lalu. Dia harus merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang sangat dia cintai. Itu adalah balasan yang setimpal untuk seorang pengkhianat seperti mereka berdua itu," kata Honor sambil mengepalkan tinjunya.
"Anda tenang saja Tuan! Sebentar lagi Anda akan bersulang untuk Albert sebagai bentuk belasungkawa anda atas kematian ayahnya," kata Tiger pula sambil terus tersenyum jahat.
"Lalu, apa rencana anda hari ini, Tuan?" Tanya Tiger sekedar ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Honor.
"Aku memiliki agenda untuk meninjau hotel, pusat hiburan, kasino dan lokasi-lokasi lainnya bersama dengan Paman Lim Guan dan Laman Kiem. Saat ini semuanya harus di tata ulang. Aku tidak ingin ada staf yang sengaja memanfaatkan keadaan untuk meraup keuntungan dari musibah yang aku alami," jawab Honor.
"Baiklah jika begitu. Kalau begitu, saya mohon diri dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan saat ini. Ingat untuk menelepon saya jika ada sesuatu yang anda butuhkan!" Kata Honor berpesan.
"Baiklah Paman Tiger. Kau silahkan sibuk dulu dengan pekerjaan mu. Aku akan segera berangkat sekitar satu jam dari sekarang,"
"Kalau begitu, saya izin dulu!" Kata Tiger Lee lalu segera berbalik untuk meninggalkan ruangan dimana dia menemui Honor Miller tadi.
Jangan lupa like nya!
Bersambung...