Joe William

Joe William
Bertemu dengan Tuan Baron



Tujuh unit kendaraan BMW X5 tampak bergerak di belakang satu unit mobil mewah Rolls-Royce phantom.


Begitu tiba di sebuah gedung dengan papan nama bertuliskan 'Luxury Clubs,' rombongan itu pun berhenti dan dari dalam, tampak puluhan lelaki berbadan tegap keluar dari tujuh mobil BMW X5 tersebut sambil salah satu dari mereka membukakan pintu untuk mobil Rolls-Royce phantom yang berada di depan.


Kini, dari dalam mobil Rolls-Royce phantom itu, keluar tiga orang lelaki diantaranya dua orang berusia sekitar 40-an dan seorang lagi berusia sekitar 30-an.


Sambil menatap ke arah depan, kini mereka melihat seorang pemuda berambut cokelat kepirangan dengan memakai kaos berwarna abu-abu dan celana jeans yang sobek di sana sini sedang duduk sambil menoel-noel hidungnya.


Setelah melihat pemuda itu, lelaki berusia sekitar 50-an mengenakan kacamata itu pun berkata kepada dua orang lelakinya. "Itu dia orangnya,"


"Tuan Baron. Apakah anda yakin bahwa Pemuda itu adalah Tuan muda kita, yaitu Joe William?" Tanya lelaki yang paling muda di antara ke-tiga orang itu.


"Menurut ciri-ciri yang dia katakan tadi, memang dia lah orangnya," jawab Tuan Baron.


"Tapi Tuan, mengapa dia terlihat seperti gelandangan?"


"Jaga bicara mu, Xavier! Kalau dia mendengar, bisa susah hidupmu tujuh turunan," kata Tuan Baron memperingatkan.


Xavier, lelaki yang berusia 30-an itu segera menutup mulutnya dengan tangan begitu mendengar peringatan dari Tuan Baron.


Sementara itu, dari dalam bangunan Luxury Clubs, tampak puluhan staf berkeluaran karena mengetahui Founder sekaligus CEO di Quantum entertainment ini sedang berada di luar bersama dua bawahannya dan para pengawalnya.


Tiba di luar, mereka lalu membuat barisan dengan seorang lelaki berbadan tinggi tegap yang tampak seperti orang yang dipercayakan untuk mengelola tempat hiburan itu berjalan di tengah-tengah barisan orang-orang yang baru keluar tadi.


Lelaki tinggi tegap itu baru ingin menghampiri rombongan Tuan Baron. Namun, dia segera mengurungkan niatnya ketika sudut matanya menangkap sosok pemuda yang duduk di dan bersandar di salah satu tiang penyangga bagian luar bangunan itu.


Sejenak lelaki itu berhenti antara langsung menemui Tuan Baron, atau menegur pemuda itu.


Sambil mengangkat tangannya ke arah Tuan Baron, lelaki itu segera menghampiri pemuda yang berpenampilan seperti gelandangan tadi.


Tuan Baron tau apa maksud dari lelaki berbadan tinggi tegap itu. Namun dia terlambat mencegah karena lelaki tadi telah mengatakan sesuatu kepada pemuda berpenampilan seperti orang terbuang itu.


"Anak muda. Apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau adalah salah satu member's di Luxury Clubs ini?" Tanya lelaki itu.


"Maaf Pak. Saya bukan member di Clubs ini. Saya hanya sedang menunggu seseorang untuk menjemput saya," jawab pemuda itu dengan hormat.


"Anak muda. Kau tau apa nama tempat ini? Tempat ini adalah tempat elite dan hanya orang-orang yang memiliki kekuasaan dan berduit saja yang bisa berada di tempat ini. Sebaiknya kau segera meninggalkan tempat ini. Karena, saat ini aku sedang kedatangan Presiden di Quantum entertainment ini. Jangan menjadi perusak pemandangan di sini!" Kata lelaki itu memperingatkan.


"Baiklah. Jika tidak boleh berada di sini ya tidak apa-apa. Aku akan pergi," kata pemuda itu sambil berdiri. Sejenak dia menoel hidungnya lalu akan melangkah meninggalkan tempatnya duduk tadi.


Belum juga dia beranjak, tiba-tiba rombongan Tuan Baron telah tiba dan langsung membungkuk hormat di depan pemuda yang diusir oleh lelaki bertubuh tinggi tegap tadi.


Melihat pemandangan yang tersaji dihadapannya, membuat lelaki yang mengusir pemuda tadi tercengang dengan tatapan tidak percaya.


Bagaimana mungkin seorang yang sangat di kenal sebagai penguasa di pusat elite Quantum entertainment dan Highland Park bisa membungkuk di hadapan seorang pemuda gelandangan.


"Tu-tu-Tuan.., ini?" Tanya lelaki bertubuh tinggi tegap itu seakan tidak percaya.


Sambil terus membungkuk, Tuan Baron segera menjambak rambut lelaki tadi dan memaksanya untuk ikut membungkuk.


"Selamat datang di Quantum entertainment, Tuan muda," kata Tuan Baron masih terus dengan sikap membungkuk nya.


"Apakah anda yang bernama Tuan Baron?" Tanya Pemuda itu dengan lagak acuhnya.


"Menjawab anda, Tuan muda. Saya adalah Baron Gilbert. Orang yang dipercayakan oleh Tuan besar Jerry William untuk mengurus perusahaan miliknya di Quantum City ini," jawab Tuan Baron.


"Luruskan tubuh anda, Tuan Baron! Aku tidak nyaman berbicara dengan orang yang seperti terserang penyakit encok," tegur pemuda itu.


"Tuan muda. Apakah kita bisa bicara di dalam?" Tanya Tuan Baron.


"Aku bukan members di Luxury Clubs ini. Aku tidak memiliki kualifikasi untuk memasuki gedung yang mewah ini," kata Joe sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah lelaki bertubuh tinggi tegap tadi.


Mendapatkan kedipan seperti itu, lelaki tadi tampak salah tingkah sekaligus merasa aneh. Ini karena, dia banyak melihat anak-anak orang kaya di kota ini, namun yang dia tidak mengerti, bagaimana bisa seorang anak kaisar bisnis di negara ini bisa berpenampilan seperti gembel.


Pemuda itu segera mengeluarkan ponselnya dan melihat ke arah layar.


Di layar, dia melihat nama pemanggil adalah Ayah nya. Tanpa menunggu lagi, pemuda itu langsung mengusap layar untuk menjawab panggilan itu.


"Apakah kau sudah bertemu dengan Baron itu, Joe?" Terdengar suara di seberang sana mengandung pertanyaan.


"Sudah, Ayah. Saat ini dia sedang membungkuk di hadapan ku," jawab pemuda itu.


"Kau jangan berbuat hal yang aneh-aneh di sana Joe!" Tegur suara di seberang sana.


"Ayah bicara saja lah dengan Tuan Baron ini. Baron Gilbert maksud ku. Hehehe,"


"Tuan Baron.., Ini! Kau bicaralah dengan Ayah ku!" Kata Joe menyerahkan ponselnya ke tangan lelaki berkacamata itu.


"Hallo..," kata Tuan Baron ketika ponsel milik Joe telah berpindah ke tangannya.


Entah apa yang mereka bicarakan, namun sepertinya Tuan Baron sangat patuh sekali dengan si penelepon.


"Iya, Tuan besar!"


"Ba-baiklah, Tuan besar!"


"Saya mengerti. Saya mengerti, Tuan besar!" Kata Tuan Baron sedikit tergagap.


Selesai berbicara dengan si penelepon, Tuan Baron segera menyerahkan kembali ponsel tersebut ke tangan pemiliknya dengan sangat hormat.


"Apa yang dikatakan oleh Ayah ku, Tuan Baron?" Tanya pemuda itu sambil enak saja dia merangkul pundak lelaki berkacamata itu.


Perbuatan Joe William ini membuat Tuan Baron merasa sangat salah tingkah. Bagaimana bisa Joe William yang sangat berkuasa ini merangkul pundaknya seolah-olah mereka ini sangat akrab sekali.


"Tu-tu-Tuan besar menyuruh saya untuk menjaga keselamatan anda selama berada di Quantum City ini, Tuan muda!" Kata Tuan Baron gugup.


"Itulah mengapa aku menolak untuk menemui mu, Tuan Baron. Ini karena, kebebasan ku akan dibatasi oleh para pengawal. Aku tidak ingin di kawal atau kau akan aku buat menyesal!" Kata Joe sambil tersenyum lalu segera mengelus pundak Tuan Baron.


"Hehehe. Lupakan. Kau iyakan saja apa kata Ayah ku. Tapi, aku tetap tidak ingin di kawal. Memangnya di sini banyak penjahat sehingga aku harus di kawal?" Tanya Joe sambil terus tersenyum.


"Anda tidak tau seperti apa Quantum City ini, Tuan muda. Quantum City memang tampak seperti surga dunia bagi para pengunjung. Namun, keramahan itu akan segera sirna ketika mengetahui di dalam kota yang tenang ini memiliki banyak serigala pengincar mangsa," kata Tuan Baron yang membuat kening Joe sedikit mengernyit.


"Maksud anda?" Tanya Joe penasaran.


"Makanya, sebaiknya kita bicara di dalam saja. Atau, apakah anda ingin kita langsung berangkat ke Highland Park?" Tanya Tuan Baron.


"Orang berbadan tinggi tegap itu. Aku ingin dia menggendong ku masuk ke dalam," kata Joe sambil menunjuk ke arah lelaki yang mengusirnya tadi.


"Dengan senang hati, Tuan muda," kata lelaki tadi dan langsung berjongkok di depan Joe.


"Besar sekali tubuh anda, Tuan. Enak apa yang anda makan sehingga bisa memiliki tubuh sebesar ini," kata Joe lalu memanjat pundak lelaki itu.


"Tubuh anda langsing, Tuan muda. Tapi, mengapa anda begitu berat?" Tanya lelaki tadi.


"Tutup mulut mu, Eagle! Atau ku sumbat nanti!" Bentak Tuan Baron.


Lelaki bertubuh tinggi tegap yang dipanggil dengan nama Eagle tadi langsung mengatupkan mulutnya dan bangkit berdiri sambil menggendong tubuh Joe di pundaknya.


"Hahaha. Anak buah mu semuanya bertubuh gemuk. Makmur sekali hidup mereka," kata Joe sambil menggenjot-genjot tubuhnya di atas pundak Eagle.


Eagle hanya bisa menyeringai dengan raut wajah sangat tertekan.


...Selesai baca wajib Like!...


Bersambung...