
Pagi-pagi sekali, Frank dan Diana Regnar sudah bangun dari tidurnya. Ini karena dia trauma disiram sekali lagi dengan air oleh pemilik toko tempatnya menumpang tidur di terasnya tersebut.
Sambil mengusap-usap kedua matanya dengan punggung tangannya, kedua kakak beradik itu pun mulai melangkah terseok-seok menyusuri jalan didepan deretan toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan pinggiran kota Metro City ini.
Hari ini adalah hari ke tiga mereka menjadi gelandangan. Tiga hari yang terasa sangat berat untuk dilalui oleh orang seusia mereka. Ini terlebih lagi karena seumur hidup mereka tidak pernah merasakan penderitaan seperti ini.
Lelah berjalan, kini mereka berdua duduk di samping sebuah restoran kecil, dan dengan sisa uang yang diberikan oleh Tuan Gordon kemarin, Frank pun mendatangi restoran kecil itu lalu membeli dua bungkus nasi dengan lauk ikan goreng saja.
Mereka harus berhemat. Karena, mereka tidak tau kapan mereka bisa mendapatkan uang lagi untuk membeli nasi.
Karena mendapatkan pelajaran pertama kelaparan di hari pertama mereka menjadi gelandangan, maka dengan sendirinya mereka harus berhemat cermat.
Saat ini sudah pukul sembilan pagi.
Sambil membawa sebuah karung plastik yang dia temukan di pinggir jalan, mereka berdua mulai memunguti botol-botol bekas air mineral yang akan mereka jual di pasar loak.
Tepat ketika mereka akan mengambil botol yang terbuang di pinggir jalan, tiba-tiba saja satu unit mobil berhenti tepat di samping mereka dan tampak seseorang keluar dari dalam mobil tersebut lalu menghampiri mereka.
"Apakah anda adalah Tuan Frank Regnar dan Miss Diana Regnar?" Tanya orang yang menghampiri mereka tadi.
"Be-benar Tuan. Apakah anda mengenal kami?" Tanya Diana.
Kini, seberkas harapan muncul di dalam hatinya. Berharap orang ini adalah salah seorang yang mengenal mereka berdua. Dengan begitu, mereka bisa meminta walau hanya sepuluh Dollar saja buat mengisi perut.
"Anda silahkan masuk ke mobil. Saat ini Tuan muda kami menunggu anda di Mountain Lotus." Jawab lelaki tadi yang langsung disambut oleh rasa heran dari kedua kakak beradik itu.
"Mak-maksud anda Tuan?" Tanya Frank tergagap.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Perjalanan ini sangat jauh dan memakan waktu yang tidak sebentar. Sebaiknya lekas masuk ke mobil atau kalian akan menjadi gelandangan seumur hidup?!" Kata lelaki itu dengan tegas.
Wajar saja lelaki ini terburu-buru. Ini karena, jarak tempuh antara Metro City ke Starhill memakan waktu setengah hari jika melewati Hillstreet. Dan akan memakan waktu sekitar dua puluh jam jika dari Country home.
"Bagaimana kak?" Tanya Diana.
"Ya sudah. Ayo kita ikuti saja. Apa kau pikir kita ini mempunyai pilihan?" Jawab Frank.
"Baiklah kak." Kata Diana dan dengan tangan gemetaran, dia lalu membuka pintu mobil tersebut dan duduk di kursi belakang. Sementara itu, Frank langsung membuka pintu di bagian samping sopir.
Setelah mereka berdua memasuki mobil tersebut, lelaki tadi langsung masuk dan duduk di belakang stir. Dan tak lama setelah itu, mobil itu pun bergerak dengan kecepatan tinggi membelah jalan Metro City menuju Starhill.
*********
"Apa kalian sudah makan?" Tanya lelaki itu kepada Tuan Frank yang duduk disebelahnya.
"Sudah Tuan. Kami sudah makan. Tapi maaf Tuan, jika saya diizinkan untuk bertanya. Siapakah Tuan muda anda dan untuk apa dia menyuruh Anda untuk menjemput kami?" Tanya Tuan Frank dengan takut-takut.
"Tuan muda kami adalah Tuan muda dari keluarga William." Jawab lelaki itu dengan santai.
"Hah?"
Frank dan Diana sangat terkejut begitu mendengar orang itu menyebutkan bahwa tuan muda itu adalah tuan muda dari keluarga William. Siapa lagi jika bukan Joe William.
"Apakah Joe ini belum puas dan akan menghukum kami?" Tanya Diana membatin dalam hati. Namun dia tidak berani lagi untuk bertanya lebih lanjut.
Mobil itu kini berhenti di sebuah rumah di kompleks elite Metro City.
Begitu mobil itu berhenti, sekali lagi Frank dan Diana terkejut. Karena, ini adalah rumah milik mereka yang telah di sita oleh pihak bank.
"Tuan Frank dan Anda Miss Diana! Anda punya waktu tiga puluh menit untuk mandi dan membersihkan diri. Pakai pakaian terbaik anda! Aku akan menunggu kalian di sini. Segeralah karena kita tidak memiliki banyak waktu!" Kata lelaki itu lalu menyerahkan kunci rumah kepada Frank.
Kembali kedua orang ini saling pandang. Namun, begitu mendapat teguran, mereka berdua langsung keluar dari mobil dan segera membuka pintu pagar.
"Kak. Apakah ini mimpi?" Tanya Diana.
Dia sama sekali tidak berani berharap bisa memasuki rumah itu sekali lagi setelah diusir keluar oleh pihak bank manyusul kebangkrutan perusahaan Regnar Group.
Namun, ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan bahwa mereka kini telah berada di depan rumah besar warisan dari orang tua mereka.
Saat ini, dengan terburu-buru mereka langsung membuka pintu rumah dan melihat bahwa tidak ada yang berubah dari ruangan itu.
Segala perabotan masih sama seperti ketika mereka meninggalkan rumah itu tiga hari yang lalu. Begitu juga dengan kamar mereka di mana terdapat banyak perhiasan milik Diana. Satu pun tidak ada yang hilang atau bergeser dari tempatnya.
Ketika melihat bahwa dia telah membuang waktu selama sepuluh menit, Diana yang masih belum bisa menguasai dirinya segera menuju ke kamar mandi.
Terasa sangat segar setelah tiga hari tidak mandi.
Rambutnya terasa sangat kaku dan kulit keriput nya pun sudah sangat berdaki.
Selesai mandi, Diana pun langsung memakai pakaian terbaiknya dan memakai banyak perhiasan baik itu kalung berlian seharga ratusan ribu Dollar, tas tangan Hermes dan banyak lagi. Dengan harapan, andai mereka kembali menjadi gelandangan, mereka bisa menjual perhiasan itu dan menyewa rumah. Bahkan dengan perhiasan itu mereka bisa menyewa sebuah kafe dan membuka usaha di sana.
Begitulah yang ada di dalam fikiran Diana saat ini.
Hampir sama dengan Diana, Frank juga segera memakai pakaian terbaiknya, memakai cincin batu giok yang langka dan mahal. Memakai jam tangan buatan Swiss dengan berlapiskan emas serta memiliki butiran zamrud hijau yang jelas sangat mahal itu.
Harapannya juga sama seperti Diana. Andai mereka kembali harus hidup di jalanan, mereka akan menjual semua yang mereka bawa dan uangnya akan mereka gunakan untuk membuka usaha.
Ketika mereka berdua keluar dari dalam rumah yang sudah di sita oleh pihak bank itu, lelaki yang mendapat tugas untuk menjemput mereka pun hanya geleng-geleng kepala melihat penampilan mereka.
Terlebih lagi Diana. Wanita tua ini persis seperti toko mas berjalan.
Mulai dari lehernya digantungi banyak kalung, sampai pada lengan tangannya terdapat banyak gelang. Bahkan tidak hanya sampai di situ saja. Kaki nya juga dipasangi perhiasan. Pokonya, Diana Regnar kali ini persis seperti tukang jualan perhiasan.
"Apakah kalian sudah selesai? Jika sudah, mari segera berangkat agar kita tidak terlambat." Kata lelaki itu.
"Baik Tuan!" Kata Frank dan Diana segera berlari-lari kecil menuju mobil.
Setelah mereka berdua masuk, sang sopir pun langsung tancap gas menuju jembatan penghubung Metro City dan MegaTown lalu berbelok ke kanan menuju Hillstreet untuk segera tiba lebih cepat ke Mountain Lotus di Starhill.
Perkiraan sang sopir, mereka akan tiba di kantor besar Future of Company paling lambat pukul empat sore jika tidak ada halangan.
BERSAMBUNG...