Joe William

Joe William
Pertemuan di Tower Hotel



Tower Hotel di perbatasan kota Batu dan kota Kemuning kini tampak ramai dikunjungi oleh orang-orang besar baik itu berwajah lokal maupun berwajah asing.


Di mulai dari wajah yang ganteng, yang manis, yang cakep, yang garang, yang jelek dan lain sebagainya berdatangan di hotel yang baru saja beroperasi dalam tiga bulan ini.


Terlihat juga area parkir baik itu yang di luar, di dalam, bahkan di ruang bawah tanah pun penuh sesak dengan berbagai jenis kendaraan roda empat.


Terakhir, satu unit Vespa butut terseok-seok dari arah universitas Kota Batu dengan asap yang mengepul dari kenalpotnya berhenti tepat di area parkir.


Seorang pemuda dekil, yang sangat compang-camping tampak berusaha keras untuk menopang sepeda motor berat itu dengan cagak dua.


Sedikit usaha yang keras, akhirnya pemuda yang mengenakan helm kura-kura itu berhasil juga. Setelah memastikan bahwa sepeda motor Vespa miliknya dalam keadaan aman, karena dia sudah mengikat rantai yang digembok dengan gembok laksana peti harta Karun, pemuda itu pun tersenyum puas.


"Hehehe. Kau aman sekarang. Aku sudah merantai ban mu dan sudah ku kunci dengan gembok kapal. Tunggu di sini ya sayang. Aku akan mengadakan pertemuan dulu. MuuuuuuuuuuaaaaaaaaaCh!" Kata si pemuda sambil mencium sepeda motor Vespa butut itu.


Beberapa orang yang melihat kejadian itu mendadak tertawa geli dalam hatinya. Tapi mereka tidak berani menunjukkan tawa itu. Karena, mereka tau siapa pemuda yang layaknya seperti tukang pemulung tersebut. Jika dia tersinggung, tamat lah riwayat mereka.


Berjalan menuju lobby hotel, pemuda itu segera mencopot helm kura-kura miliknya dan enak saja dia memberikan kepada resepsionis hotel tersebut.


"Apa yang lain sudah tiba?" Tanya nya kepada sang resepsionis.


"Menjawab anda Tuan muda! Semuanya sudah tiba dan kini berada di lantai paling atas."


"Terimakasih. Jaga sepeda motor kesayangan ku itu!" Kata pemuda itu berpesan. Dia lalu segera melangkah dengan lagak tengil menuju ke pintu lift.


Tiba di atas, beberapa orang yang sangat dia kenal sudah menunggu dan langsung menepuk pundak pemuda yang baru saja keluar dari ruang lift tadi.


"Paman Tigor, Paman Andra, Paman Ameng, dan paman-paman lainnya. Ada apa mengundang ku untuk mengadakan pertemuan ini?" Tanya pemuda tadi sambil memandang mereka yang berada di depan pintu lift tersebut.


"Silahkan, Ketua! Ada banyak informasi yang didapat oleh Ucok dan Jabat. Kita akan membahasnya di dalam!" Ajak Tigor mempersilahkan.


"Baiklah. Mari!" Kata pemuda itu sambil melangkah mendahului.


Tiba di pintu ruangan yang akan mereka jadikan sebagai tempat untuk membahas semua informasi yang didapat oleh Ucok dan Jabat, pemuda itu ternyata sudah ditunggu oleh empat orang gadis muda yang baik umur, postur tubuh, kulit dan usianya sama. Merekalah yang digelar dengan panggilan, R4.


"Hmmm. Sepertinya ini masalah yang sangat penting. Baiklah! Aku ingin tau sepenting apa berita yang mereka bawa?!" Kata pemuda dalam hatinya.


Dia kembali melangkah dengan didampingi oleh keempat gadis tadi dengan dua di sisi kiri dan dua di sisi kanannya.


"Silahkan Tuan!" Kata salah satu dari keempat gadis itu mempersilahkan pemuda itu untuk duduk di kursi kepala.


Setelah pemuda itu duduk, barulah yang lainnya juga ikut duduk. Dan kini, wajah penuh keseriusan terpancar dari masing-masing orang.


*********


"Paman Ucok dan Paman Jabat. Silahkan memberitahu kepada kita semua yang berada di ruangan ini, tentang semua hal yang anda ketahui!" Pinta pemuda itu mengawali pembicaraan pada pertemuan kali ini.


Selain Jabat dan Tigor, semua orang yang berada di ruangan itu menjadi terkejut mendengar berita ini.


"Ini lebih cepat dari yang aku bayangkan!" Sela Andra.


Joe juga kaget. Dia yang berada di kota Batu bahkan tidak mendengar berita ini.


"Saya telah menyebarkan anak buah kita di seluruh kota Tasik Putri terlebih lagi di pusat hiburan Dunia gemerlap, perumahan Blok B Tasik Putri, kompleks elite Tasik Putri dan gang Kumuh. Dan kabar yang saya dapatkan adalah, si Marven ini memang pulang ke rumah milik mendiang Martin di komplek elit. Kami juga melihat bahwa di sana ada dua orang asing yang ikut menjemput dan mengantar Marven," kata Ucok lagi.


"Douglas dan Bruno. Apakah orang asing itu adalah mereka?" Tanya Joe.


"Benar, Ketua. Kedua orang asing itu memang Douglas dan Bruno adanya," jawab Jabat pula.


"Kabar yang kami dapat dari anak buah kita, bahwa hari ini juga Marven dan Irfan akan mengadakan pertemuan dengan para mantan anggota dari Geng Tengkorak, Geng kucing hitam, dan bekas anak buah Jordan. Saya juga melihat si Panjol ada di sana ketika menjemput Marven dari pusat tahanan,"


"Baiklah. Sekarang aku ingin bertanya kepada Paman Tigor. Apa rencana anda, Paman?"


"Ketua. Saat ini yang ada dalam benak ku hanya satu. Yaitu, Karman. Setelah Rio memberitahu kepada saya bahwa Marven telah bebas, saya telah mengirim orang suruhan untuk menemui sahabat lama ku itu untuk segera mempersiapkan diri. Karman memang telah lama saya persiapkan. Dia akan menjadi mata kita untuk mengetahui apa saja rencana kotor dari pihak musuh," jawab Tigor.


"Bagus! Sebarkan juga mata-mata kita di pelabuhan, dan juga bandara. Yang kedua, jangan memamerkan kekuatan. Aku ingin agar mereka memandang rendah terhadap kekuatan yang kita miliki. Hanya rasa terkejut saja yang bisa melumpuhkan semangat juang lawan secara cepat. Amati dan pelajari cara main mereka. Karena, ketika waktunya sudah tepat, mereka akan kita kubur secara massal. Aku pasti akan minum darah lagi!" Kata pemuda itu dengan senyum dingin.


Yang lain juga menganggukkan kepala masing-masing. Memang benar. Untuk saat ini, tidak perlu memamerkan kekuatan. Buat lawan memandang rendah terhadap mereka. Ketika saatnya tiba, mereka akan membuat lawan terkejut dengan kekuatan yang ada. Hanya dengan begitu mereka bisa memukul lawan secara fisik maupun mental.


"Baiklah ketua. Rencana lebih lanjut akan kita diskusikan sesuai dengan perkembangan."


"Ya. Memang harus seperti itu. Percuma terlalu banyak rencana jika akan berubah ditengah jalan,"


"Aku akan kembali ke bukit batu. Siapa yang Sudi membantu ku mendorong Vespa butut milikku? Tadi aku sudah sesak nafas karena Vespa ku tidak bisa diengkol," kata pemuda itu tanpa Tedeng aling-aling.


"Hah?!"


Seperti di seruduk kambing bandot, mereka semua ternganga mendengar permintaan dari pemuda yang mereka panggil dengan sebutan ketua itu.


"Ketua. Mengapa anda sangat suka sekali menyiksa diri?" Tanya Timbul sambil bangkit dari kursinya.


"Hahaha. Itu sangat menyenangkan!" Jawab pemuda itu dengan lagak cueknya. Tapi dia segera tertawa sambil menoel hidungnya.


"Em lah. Penyakit lamanya kambuh. Pakai acara toel hidung. Perasaan ku jadi tidak enak," kata Ameng pula.


"Ayo Paman-paman sekalian. Apa kalian tidak kasihan dengan keponakan mu ini. Aku ini adalah seorang musafir di sini. Hahahaha!" Katanya lalu segera mendahului meninggalkan ruangan tempat mereka melakukan pembahasan rencana tadi.


Bersambung...