Joe William

Joe William
Joe tidak memberikan maaf



"Abang berikan perintah! Aku akan menuruti perintah Abang!" Kata Panjol yang sangat ketakutan ketika ini.


"Kalian bertiga harus bisa menjebak Ferdy! Aku ingin menyeret lelaki tua itu ke dalam perangkap yang dia buat sendiri," kata Tigor. Dia lalu menghentikan kata-katanya ketika keempat pengawal Joe William memapah istri Rio dan menggendong anak perempuan nya yang tidak sadarkan diri. Kali ini kemarahan Tigor dan Joe meledak saat melihat anak dari Rio yang pingsan dengan beberapa luka gores pada tubuhnya.


"Bangun kau Rio! Berhenti berpura-pura pingsan! Aku tidak butuh hukum dari kepolisian. Hukum mafia berlaku kali ini! Dan kalian bertiga.., jika dalam waktu 1 kali dua puluh empat jam Ferdy tidak bisa kalian bawa ke hadapan ku, keluarga kalian sebagai tebusan!" Merah padam wajah Tigor. Dengan rasa kasih sayang, dia segera mengambil anak gadis kecil itu dari gendongan salah satu dari R4.


"Tanpa tiga orang sialan ini pun aku mampu membekuk Ferdy. Aku tidak butuh mereka!" Kata Joe William sambil menadahkan tangannya.


"Pisau!" Katanya kemudian.


"Mau apa kau Joe?" Tanya Tigor keheranan.


"Pisau!" Sekali lagi Joe meminta pisau. Dan kali ini, R2 memberikan sebilah pisau ke tangan Joe.


"Aku ingin jari kelingking kalian! Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini tanpa cacat! Kalian terlalu menjijikkan. Aku tidak suka dengan cara seperti yang kalian lakukan. Andai kalian dan Paman Rio terlibat perkelahian, aku tidak ada urusan tentang itu. Tapi, ketika orang yang seharusnya tidak bersalah menjadi korban, aku pasti akan marah.


Sekarang, kalian menyerahkan jari kelingking kalian dengan suka rela, atau aku yang merenggutnya dengan paksa?!"


"Bang. Siapa pemuda yang mengenakan masker itu bang? Apa yang dia inginkan?" Tanya Panjol kepada Tigor.


"Dia adalah ketua dari Dragon Empire. Adapun apa yang dia mau, kalian sudah mendengar. Aku tidak ikut campur. Masalah ku dengan kalian adalah menjebak Ferdy. Apapun caranya!" Jawab Tigor membuang muka.


"Tolong bela kami bang!"


"Hahaha. Bela? Tidak ada diantara kalian yang mampu melawan ku ketika aku marah. Jangan katakan bahwa aku murid Tengku Mahmud jika tidak bisa memotong jari kelingking mu!"


Slash...!


"Akkkkkh....!"


Jerit Panjol membahana menyusul jari kelingkingnya yang putus. Ketika dia mengangkat tangannya yang diinjak oleh Tigor tadi, kini tampak jari kelingking tersebut tergeletak di aspal.


"Bang. Jari ku!" Pekik Panjol.


"Lawan aku! Jika kalian tidak mau melawan, maka jari tangan kalian akan putus sia-sia!"


Mereka melihat bola mata Joe seperti biji saga. Merah dengan nafsu membunuh yang tinggi.


Wuzzz...!


"Arrrrrgh...!" Kali ini Ganjang pula yang terpekik. Karena rusuknya sudah cedera akibat bola besi yang dilemparkan oleh Joe, maka pergerakannya menjadi lamban. Akibatnya, bukan hanya jari kelingking saja yang putus. Jari manis dan jari tengahnya juga ikut putus.


Joe mengedipkan matanya ke arah Rachel. Rachel yang mengetahui kode tersebut, segera bergerak cepat mengirim tendangan ke arah sembilan orang anak buah Panjol.


Kini mereka semua babak belur akibat tendangan dari sepatu berujung besi dari keempat gadis sadis tersebut.


"Urusan mu dengan Paman Tigor, itu bukan urusanku. Bagiku, kalian harus dibinasakan!"


"Ampuni kami, Joe William!" Pinta Mokmok berlutut. Saat ini, hanya dia yang masih memiliki jari utuh.


"Boleh. Tapi, sembuhkan luka gores pada tubuh gadis kecil itu! Buat seperti semula! Apa kau bisa?" Tanya Joe dengan sinis.


"Aku tidak bisa! Tapi tolong ampuni aku!"


"Hahaha. Sini tangan mu! Kau pilih saja. Yang kiri atau kanan, bagiku sama saja!" Kata Joe dengan tangan kiri terulur, dan tangan kanannya menggenggam gagang pisau.


"Bang Tigor sudah menjamin bahwa kami tidak akan diapa-apakan. Mengapa kau malah memperbesar masalah?"


"Kau terlalu banyak bicara. Aku tidak pernah ditolak. Apa yang aku inginkan harus terpenuhi!" Kata Joe yang langsung mengirim tendangan yang tepat menghantam bagian bawah dagu Mokmok. Walaupun tubuh si Mokmok bulat dan besar dengan bobot yang tidak ringan, tapi tendangan itu berhasil membuat kaki Mokmok terangkat beberapa jengkal ke atas.


Bruk...!


Terdengar suara seperti karung pasir terhempas ke atas aspal yang rusak tersebut.


"Mau menyerahkan tangan mu atau aku potong tangan mu sebatas siku?"


"Sekarang tawaran yang tadi sudah tidak berlaku. Aku menginginkan keduanya sekalian!" Kata Joe. Dia langsung menginjak dada Mokmok, dan..,


Wuzzz...


Slash...!


"Maaaaaaak! Huhuhu.... Putus jari ku!" Pekik Mokmok meraung kesakitan.


"Satu lagi!" Bentak Joe sambil mengulurkan tangannya.


"Amp...,"


"Diaaaaaaam! Binatang seperti kalian tidak perlu mendapat pengampunan!"


Joe semakin memperkuat injakan kakinya di atas dada Mokmok.


"Uhuk.., uhuk...!"


Semakin Mokmok batuk, semakin kuat pula Joe menginjak dada Mokmok.


Kini, Joe mulai membungkuk dan menarik tangan Mokmok dengan paksa.


Crash...!


Mokmok mengetapkan bibirnya. Dia sudah tidak memiliki suara lagi untuk menjerit. Dia hanya menatap sayu ke arah jari kelingkingnya yang sudah buntung.


Semua orang yang berada di tempat itu bergidik melihat cara sadis Joe menghukum dua belas orang yang menghadang perjalanan Rio. Bahkan, Rio sendiri merasakan bahwa metode yang digunakan oleh Joe ini sangat sadis. Dikatakan sadis karena, tidak ada ekspresi apapun pada wajah pemuda itu. Bahkan, dia mengambil seutas tali, mengikat jari kelingking milik Mokmok tadi, kemudian mengalungkannya ke leher sang pemilik jari kelingking tersebut.


"Sekarang, aku ingin tau bagaimana caramu untuk menjebak Ferdy?" Tanya Joe yang saat ini sudah berpaling kearah Panjol.


Panjol berpikir sejenak. Tapi dasar dia sudah ketakutan, maka otaknya saat ini sama sekali tidak bisa diajak bekerjasama.


"Keluarkan ponsel mu! Kau hubungi Ferdy. Katakan kepadanya bahwa Rio sudah berhasil kalian ringkus! Jika dia menginginkan agar Rio di bunuh, sebaiknya akhiri saja panggilan itu. Tapi jika Ferdy ini menginginkan Rio di sekap, maka itu adalah kesempatan kita untuk meringkusnya!" Suruh Tigor kepada Panjol.


"Iya. Iya bang. Akan aku lakukan!" Kata Panjol.


Dengan tangan gemetaran, dia segera mengeluarkan ponselnya, dan mulai menelepon orang yang menyuruhnya!"


Tut.., Tut.., Tut...


"Hallo Panjol. Bagaimana tugas yang kau jalankan?" Tanya satu suara di seberang sana.


"Pak Ferdy. Rio saat ini berada di tangan kami. Bagaimana sekarang?" Tanya Panjol kepada Ferdy.


"Apa masalah seperti itu harus kau tanyakan kepada ku? Kau bisa menyelesaikannya!" Jawab Ferdy di seberang sana.


Mendengar jawaban itu, Panjol segera mengakhiri panggilan tersebut. Kini, dia segera mendongak menatap ke arah Tigor.


"Abang sudah mendengar jawaban dari Ferdy kan?"


"Hmmm. Ternyata dia sangat licik. Baiklah! Kau kembali lah dulu. Katakan bahwa Rio sudah berhasil kalian singkirkan. Sekarang, kalian boleh pergi!" Kata Tigor mengusir Panjol.


"Ba-ba-baik Bang. Kami.., kami pergi!" Jawab Panjol. Dia segera beringsut dan melarikan diri menuju ke mobil.


"Pulang!" Ajak Joe.


"Joe. Bagaimana menurutmu?"


"Tiger Syam akan melakukannya untuk ku. Ferdy adalah target ku. Tidak ada yang bisa lepas jika Tiger Syam telah bergerak. Sekarang, kita pulang dulu. Kasihan Paman Rio!" Jawab Joe.


R1 segera membukakan pintu mobil untuk majikannya tersebut. Lalu, setelah itu, semua mereka sudah mulai meninggalkan kawasan tersebut dengan mobil Toyota hardtop milik Rio tinggal di tempat itu. Nanti, akan ada yang menjemput.


Bersambung...