
Malam itu jua, satu unit mobil berangkat menuju rumah sakit di Quantum City dengan tujuan untuk menjenguk Daren yang dirawat di sana.
Setelah Aurelie meminta kepada Ruby untuk mencari tau di rumah sakit mana Daren di rawat, maka mereka pun mengatur janji untuk segera bertemu di salah satu tempat, kemudian sama-sama berangkat menuju ke rumah sakit.
Rombongan Naomi, Ruby, Melissa, Tye dan Sylash akhirnya bertemu juga dengan Joe dan Aurelie di salah satu kafe yang mereka sepakati. Setelah itu, barulah mereka berangkat bersama-sama menuju rumah sakit.
Tiba di sana, hampir saja mereka semua tersedak melihat penampilan Aurelie yang sangat sekarat.
Mata di plaster, kepala di perban, tangan di gendong, sialnya, bukan hanya satu tangan saja yang digendong. Melainkan, keduanya sekaligus. Bibir gadis itu juga dipermak sedemikian rupa sehingga tampak dower.
Singkat cerita, penampilan Aurelie ini persis seperti mumi hidup.
"Idea siapa ini?" Tanya Naomi terbungkuk Manahan tawa.
Aurelie hanya memandang ke arah Joe tanpa menjawab. Dalam hatinya dia kesal juga harus tersiksa karena menuruti ketengilan Joe ini.
"Setting wajah kalian seserius mungkin! Sebentar lagi kita akan memasuki rumah sakit. Jangan sampai pengorbanan Aurelie ini jadi sia-sia. Bukan begitu Rel?" Tanya Joe. Dia juga nyaris tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal yang ditunjukkan oleh Aurelie.
Setelah semuanya menguasai diri masing-masing, barulah mereka memasuki rumah sakit tersebut dengan dipimpin oleh Naomi.
Setelah bertanya kepada petugas administrasi, mereka akhirnya mengetahui di mana kamar tempat Daren di rawat.
Menyusuri koridor rumah sakit tersebut sambil melihat-lihat, akhirnya mereka bertemu juga dengan kamar dengan nomor yang sesuai petunjuk dari petugas administrasi tadi.
Sambil mengetuk pintu, dan mendapat jawaban dari dalam, mereka pun memasuki kamar itu. Di dalam, tampak orang tua Daren dan orang tua Dilon telah berada di sana.
Seorang wanita terlihat sedang menangis dan matanya sudah membengkak pertanda, bahwa wanita paruh baya itu sangat bersedih atas kejadian yang menimpa putra mereka.
"Silahkan masuk nak! Dari mana kalian ini? Apakah kalian sahabatnya Daren?" Tanya salah satu dari dua pasang, pasangan paruh baya itu.
"Benar Bu. Kami adalah sahabat Daren dari kampung," jawab Naomi.
"Naomi!" Panggil Dilon yang melihat ke arah rombongan pemuda yang baru saja sampai itu.
"Bagaimana kondisi Daren?" Tanya Naomi.
"Kondisinya sudah stabil. Tapi, beberapa tulangnya patah," jawab Dilon berat.
Dilon kini memandang ke arah mereka satu- persatu dan berhenti di satu sosok yang berpenampilan sangat mengenaskan.
"Aurelie. Kau juga terluka?" Tanya Dilon.
Aurelie hanya mengangguk saja sebagai jawaban atas pertanyaan pemuda itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Ruby tidak tau.
"Menurut saksi mata, Daren dipukuli oleh orang-orang dari Kryptonite Club' saat berada di salah satu gedung hiburan di pusat kota," jawab Dilon.
"Harusnya kau bertanya kepada Aurelie. Dia kan bersama dengan Daren ketika kejadian itu," kata Dilon pula.
"Aku menemukan Aurelie tergeletak pingsan dengan pakaian compang camping dan tubuh penuh luka di jalan masuk menuju asrama. Setelah dirujuk ke rumah sakit, katanya Aurelie pingsan akibat benturan benda tumpul yang tidak tajam di bagian belakang kepalanya," jawab Joe.
"Dimana-mana yang tumpul itu memang tidak tajam," sela Sylash sambil menyikut tulang rusuk Joe.
"Pokoknya begitu lah!" Kata Joe dengan suara tertahan.
"Benar Bu. Sahabat saya ini adalah Aurelie," jawab Naomi.
"Kemari nak. Kau tentu sangat menderita," kata Ibu Daren sambil memeluk gadis itu.
"Aw..." Kata Aurelie berpura-pura kesakitan.
"Aurelie ini, andai jadi artis, pasti setiap jam dia akan memenangi penghargaan Ballon d'Or," kata Tye yang mengagumi drama yang dilakukan oleh gadis itu.
"Sialan. Ballon D'or itu bukan perhargaan untuk artis. Tapi itu adalah penghargaan untuk pemain sepakbola," kata Joe meluruskan kesalahan Tye.
"Apalah itu. Pokoknya itu-itu juga," jawab Tye sambil nyengir.
"Mahasiswa tapi bodoh nya selangit tembus," maki Sylash sewot.
"Kau! Apa kau mau jadi penghuni rumah sakit ini menemani Daren?" Tanya Tye mengancam.
"Sssssst! Kalian ini. Kita sedang di rumah sakit. Jangan ribut!" Tegur Ruby membuat kedua pemuda itu mengatupkan mulutnya.
Kini, setelah wanita paruh baya itu selesai dengan tangisannya, dia langsung menanyakan kepada Aurelie apa sebenarnya yang terjadi.
"Sebenarnya, apa yang terjadi Nak? Mengapa Daren bisa diserang oleh orang-orang dari Kryptonite Club itu?" Tanya ibu Daren.
"Saya juga kurang pasti, Bu. Namun, ketika kami baru saja keluar dari pusat hiburan, tiba-tiba ada sekitar dua belas orang yang datang. Mereka lalu menyerang Daren. Saya berusaha untuk membela. Namun, saya juga dipukuli dan akhirnya pingsan," jawab Aurelie berbohong.
"Apa kau tau apa penyebab kejadian ini, Nak?" Tanya Ayah Daren pula yaitu Tuan Brownson.
"Saya kurang tau. Tapi, siang tadi di kampus, saya melihat bahwa Daren berkelahi dengan Duff Clifford," jawab gadis itu menceritakan apa yang dia ketahui. tapi, dia tidak menceritakan apa penyebab dari perkelahian itu.
"Duff Clifford. Celaka kita. Apakah mereka nanti akan menyerang kita juga?" Kali ini wajah ayah Daren mendadak pucat. Dia dapat membayangkan bahwa putra mereka ini telah menggali lubang kuburnya sendiri.
"Daren juga berkelahi dengan Reynold Law yang membuat orang itu terluka," kata Aurelie pula menjelaskan.
"Bertambah lagi musuh. Ah sialan. Apa yang dilakukan oleh anak ini?" Kata Tuan Brownson sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Bukan salah Daren, Paman. Mereka lah yang terlebih dahulu memulai perkara. Aku mengetahui penyebabnya adalah mereka ingin memperebutkan Aurelie ini. Tentu saja Daren marah," jawab Dilon menceritakan yang dia ketahui.
"Hmmm. Masalah wanita ternyata. Sudah, kau diam saja Dilon! Jangan membuat silang sengketa lagi yang bisa menyebabkan keluarga kita mengalami masalah!" Kata ayah Daren memperingatkan.
"Baiklah, Paman. Saya berjanji tidak akan membuat masalah," ujar Dilon menurut.
"Anak ku, Aurelie.., kau tentu sangat menderita. Jika kau mengalami kesulitan, jangan sungkan untuk menghubungi Paman ya! Paman akan membantu mu sebisanya," kata Tuan Brownson sambil menatap iba ke arah gadis yang berpenampilan sekarat itu.
"Terimakasih, Paman!" Jawab Aurelie sambil tersenyum. Tapi, tidak ada yang bisa melihat senyuman itu karena wajahnya yang dipermak sedemikian rupa.
"Paman Brownson dan Nyonya Brownson, jika begitu, kami pamit dulu. Semoga Daren lekas sembuh!" Kata Naomi sambil meletakkan buah-buahan di meja kecil dalam kamar tersebut lalu menyalami dua pasang pasangan paruh baya di ruangan itu.
"Baiklah Nak. Hati-hati di jalan dan terimakasih karena telah menyempatkan mengunjungi Daren," kata mereka.
Setelah saling bersalaman, Naomi, Joe dan yang lainnya pun segera meninggalkan kamar tempat Daren di rawat tersebut.
Bersambung...