Joe William

Joe William
Rencana membeli hadiah



Kelas telah selesai untuk hati ini. Terlihat para mahasiswa yang mengikuti kelas hari ini telah keluar meninggalkan ruangan.


Berbagai ekspresi tampak di wajah masing-masing mahasiswa. Tidak terkecuali Joe. Dia yang terkenal ketengilan nya berulang kali mendapat teguran dari Dosen.


Kini Joe tampak berlari mendahului Tye dan Sylash. Entah apa yang dia kejar untuk pergi duluan ke bawah. Mungkin dia lapar atau mungkin juga ingin cepat-cepat meninggalkan kampus, sehingga dia tidak menyadari bahwa ketika dia akan turun melalui tangga, dia bertabrakan dengan seorang gadis.


Gusrak!


Brugh!


"Aw..,"


Tampak seorang gadis jauh terduduk sambil memegangi keningnya yang berbenturan langsung dengan dagu, Joe.


Sementara Joe juga tidak bisa dikatakan baik. Dia kini merasakan bahwa tulang rahangnya nyaris copot akibat bertabrakan tadi.


Melihat seorang gadis mengaduh kesakitan, dia segera melupakan rasa sakitnya lalu bergegas membantu gadis itu berdiri.


"Ma-maafkan.., maafkan aku Nona!" Kata Joe sambil mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri.


Sementara itu, dibelakangnya, tampak Tye dan Sylash menghentikan langkah kaki mereka dan berbisik. "Matilah Joe kali ini. Dia menabrak anak pemilik Globe's University ini. Bisa kacau balau ini," bisik Tye ke telinga Sylash.


Perlahan namun pasti, kedua pemuda itu melangkah mundur berharap mereka tidak terkena dampak dari perbuatan Joe barusan.


"Nona. Apakah anda tidak apa-apa?" Tanya Joe sambil berusaha membantu gadis itu untuk berdiri.


"Aku tidak apa-apa. Lain kali, hati-hati kalau berjalan. Kau hampir membunuhku. Bagaimana jika aku kembali terjun dari tangga?" Kata gadis itu. Walaupun tampak marah, namun tetap saja nada bicaranya lembut terdengar di telinga Joe.


"Sekali lagi aku mohon maaf Nona. Jika ada yang sakit, aku akan mengantarmu ke rumah sakit dan akan menanggung pembiayaan. Bagaimana?" Tanya Joe memberi penawaran sebagai bentuk permohonan maafnya.


"Tidak perlu. Aku sedang buru-buru,"


"Oh. Silahkan Nona! Hati-hati ya. Jangan sampai bertabrakan lagi dengan dua orang itu!" Kata Joe sambil menunjuk kearah Sylash dan Tye.


Gadis itu hanya tersenyum saja lalu segera berpaling meninggalkan Joe yang saat ini diomelin oleh Sylash.


Enak saja kau membawa-bawa nama kami dalam masalah mu!"


"Hahaha. Aku kan hanya memperingatkan saja. Supaya, kalian tidak ketiban sial seperti ku," kata Joe.


"Kau ini, Joe. Kau tau siapa gadis itu?" Tanya Tye dengan mimik wajah serius.


"Oh Tuhan. Mengapa aku lupa menanyakan kepadanya siapa tadi namanya. Huh bodohnya aku!" Joe tampak menepuk jidatnya sendiri saking kesalnya karena lupa menanyakan nama gadis itu.


"Sudah Joe. Jangan mencari penyakit lagi. Gadis itu bernama Naomi Johnson. Putri dari pemilik Globe's University ini," kata Tye memberitahu kepada Joe siapa sebenarnya gadis yang cantik yang telah bertabrakan dengan dirinya tadi.


"Hah..? Mati aku. Untung dia tidak kenapa-napa. Andai tadi kepalanya retak, bisa babak belur aku," gumam Joe. Lalu dia menggelinjang seperti sedang merinding.


"Ayo Joe kita turun. Jangan berlari lagi. Jika kau sampai menabrak Dosen Laura, bisa mati kau dikerjai oleh Dosen jumbo itu," kata Tye sambil tertawa.


"Hei, Joe. Sore ini, kemana kau akan pergi?" Tanya Tye.


"Aku tidak memiliki agenda sore ini. Paling hanya tidur-tidur di asrama. Ada apa memangnya?" Tanya Joe ingin mengetahui apa alasan Tye menanyakan tentang kegiatannya di sore ini.


"Jika kau tidak memiliki kegiatan, bagaimana jika kita jalan-jalan sore ini. Sahabat kecilku sedang berulang tahun malam nanti. Aku ingin membelikan sesuatu untuknya sebagai kado ulangtahun nya nanti," kata Tye mengemukakan alasannya sekaligus mengajak kedua sahabatnya itu untuk menemaninya.


"Oh iya. Sahabatmu yang bernama Ruby itu kan?" Kata Sylash pula. Dia baru ingat dan memang dia juga diundang oleh sahabat dari Tye ini yang belajar di kampus yang sama. Hanya saja, beda jurusan.


"Kalian pergi lah. Kalian kan yang di undang. Sedangkan aku tidak," kata Joe merengut.


"Kemarin kau kemana saja seharian? Ini dia menitipkan kartu undangan kepada mu. Makanya jangan suka kelayapan. Nyasar baru tau," kata Tye sambil menyerahkan selembar kartu undangan berwarna pink kepada Joe.


"Baiklah. Jika begitu, mari kita berangkat. Kau kan orang sini. Kau tau jalan. Kami berdua akan mengikuti kemana kau pergi. Ongkos, kau tanggung sendiri," kata Joe sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Hahaha. Kau tenang saja. Nanti kita singgah sebentar ke rumah ku. Rumah ku tidak jauh dari sini. Ada di kompleks Krypton," kata Tye.


"Baiklah. Kita pulang dulu ke rumah masing-masing! Pukul 3 aku akan menjemput kalian berdua di depan gerbang kampus. Setelah kembali dari membeli hadiah, kita langsung berangkat ke rumah Ruby. Bagaimana?"


"Siap lah. Aku setuju," kata Sylash.


Ketiga pemuda itu pun berjalan menuju ke pintu gerbang kampus, lalu mereka pun berpisah untuk kembali ke tempat kediaman masing-masing.


Tye yang memang penduduk asli di Quantum City ini kembali ke rumahnya. Sedangkan Sylash, dia memilih mengontrak rumah kos dan Joe pula kembali ke asrama dengan berjalan kaki. Karena, kebetulan jarak antara asrama dan kampus tidak terlalu jauh.


Setelah menempuh jarak yang memakan waktu sekitar lima menit, akhirnya Joe pun tiba di asrama.


Dia segera menaiki tangga menuju ke lantai tiga dan berhenti di salah satu kamar yang dia tempati.


Sambil duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu, Joe pun memeriksa isi dompetnya yang kebanyakan kartu daripada uang.


Tatapannya kini tertuju ke arah kartu Diamond VIP member yang diberikan oleh Tuan Baron kemarin.


Dia ingat kata-kata dari Tuan Baron yang mengatakan bahwa dengan kartu ini, dia bebas memasuki mana saja tempat yang ingin dia kunjungi di Quantum entertainment maupun di Highland Park.


Dia lalu teringat bahwa sebentar lagi dia akan berangkat bersama dengan kedua sahabatnya untuk membeli sesuatu untuk dijadikan hadiah bagi ulang tahun sahabatnya Tye yang bernama Ruby.


"Apakah perlu mengajak Tye dan Sylash untuk berangkat ke Quantum Jewelry? Di sana kan banyak menjual berbagai jenis yang bisa dijadikan sebagai hadiah untuk acara ulangtahun. Tapi.., jika nanti Tye bertanya, apa alasanku?" Kata Joe dalam hati. Dia tentu tidak ingin terlalu mencolok terhadap kedua sahabat barunya itu. Walaupun sebenarnya tidak masalah, namun dia yang terbiasa hidup sederhana merasa sedikit canggung juga.


"Ah. Lihat saja nanti seperti apa. Jika memang diperlukan, maka aku akan mengeluarkan kartu ini. Jika tidak, ya sudah!" Kata Joe langsung bergegas mengambil handuk dan segera menuju ke kamar mandi umum.


"Enak jadi Sylash. Dia mengontrak rumah sendiri. Aku khawatir juga jika terus di asrama ini, aku tidak akan memiliki tempat untuk latihan. Bisa-bisa aku lupa semua yang diajarkan oleh Kakek Tengku kepada ku," batin Joe sambil terus menuju ke kamar mandi umum.


"Ah. Biarkan si Eagle yang akan mengurusnya untuk ku," kata Joe pula.


Setelah selesai mandi dan berpakaian alakadarnya, dia pun turun menuju ke bawah dan kembali berjalan menuju gerbang kampus menunggu kedatangan Tye dan Sylash untuk sama-sama berangkat membeli kado untuk mereka hadiahkan kepada Ruby.


Bersambung...