
Sebulan sudah Joe menjalani pendidikannya di Universitas Kota Batu ini. Dan selama itu, banyak moments yang dia lalui baik itu yang manis serta yang pahitnya juga. Pahit ketika dia harus menerima hinaan dan cacian walaupun tidak sesering hari-hari pertama dia kuliah, manis ketika dia sedang bersama dengan Tiara yang semakin romantis saja.
Pagi Senin ini, Joe sangat kelelahan setelah baru saja kembali dari Gang Kumuh bersama dengan Tigor, Ucok, Jabat, Sugeng, Thomas, Roger serta empat Mister dadakan yang mengunjungi proyek Tower Sole propier yang saat ini tinggal 15% lagi rampung dikerjakan.
Baru pukul tiga subuh dia di antar oleh Tigor kembali ke bukit batu, pukul enam dia harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Praktis, Joe hanya mempunyai dua jam untuk beristirahat.
Ketika itu, dia sempat tertidur di bangku batu tepatnya di taman. Baru saja dia terlena, satu tangan lembut membelai rambutnya membuat pemuda itu terbangun kembali.
"Tiara. Sejak kapan kau di sini?" Tanya Joe. Dia segera mengusap matanya dengan punggung tangannya.
"Baru Lima menit. Sepertinya kau sangat kelelahan, Joe?!"
"Iya. Sabtu sore aku dijemput untuk berangkat ke kota Kemuning. Kemudian berangkat lagi ke Tower Mall mengadakan rapat. Setelah itu, Minggu pagi aku berangkat ke gang Kumuh untuk meninjau proyek yang ada di sana. Baru pukul tiga subuh aku diantar ke bukit batu. Tidak ada dua jam, aku harus sudah siap-siap lagi untuk berangkat ke kampus. Untung saja Vespa kesayangan ku itu tidak bandel," jawab Joe dengan senyum yang paling kecut.
"Namanya juga usaha. Oh ya. Aku dengar, Minggu depan anak-anak J7 dan beberapa mahasiswa dan mahasiswi akan mengadakan touring bersepeda motor untuk melakukan kerja bakti. Setelah itu mereka akan berkemah di pegunungan. Kau mau ikut, Joe?"
"Apa kau suka?" Joe balik bertanya.
"Kalau kamu ikut, aku ya suka saja. Tapi jika kau tidak ikut, aku juga tidak akan pergi," jawab gadis itu.
"Kalau di ajak, kita akan pergi bersama. Tapi jika tidak, juga tidak apa-apa. Agenda ku sebenarnya padat. Aku juga pusing. Aku ke sini entah untuk kuliah, bekerja atau menyembunyikan identitas," ujar Joe sambil geleng-geleng kepala.
"Jalani saja, Joe!"
"Aku lelah. Boleh aku numpang tidur sejenak?" Tanya Joe yang tanpa menunggu jawaban, langsung saja merebahkan kepalanya di atas pangkuan gadis itu.
Tiara tadinya merasa malu juga karena beberapa pasang mata melirik ke arahnya. Namun, dia tidak terlalu perduli selama itu tidak mengganggu orang lain.
"Wah. Lihatlah pasangan ideal itu! Romantis sekali?!" Ejek salah seorang gadis kepada sahabatnya yang lain.
"Sssst! Hei Janet! Mereka itu adalah Pangeran dan Putri kodok. Jangan di ganggu!"
"Kau iri melihat kemesraan mereka, Dewi?" Tanya gadis bernama Janet tadi.
"Hoeeek. Aku mendadak mau muntah!" Balas Dewi.
"Sebelas dua belas lah sama Dewi. Kalau bisa, aku akan memuntahkan isi perutku karena meraja jijik melihat mereka,"
Hinaan demi hinaan yang diterima oleh Joe dan Tiara akhirnya membuat panas juga telinga Joe. Beruntung ada Tiara yang meredam kemarahan pemuda itu sehingga dia tidak jadi melakukan tindak balas.
"Suara gonggongan dari mana itu sayang?" Tanya Joe yang berpura-pura celingukan mencari-cari sumber suara tadi.
Tiara tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Namun, dia juga ikut-ikutan mencari dengan menolehkan kepalanya.
"Apa kau menemukan sumber suara itu?" Tanya Joe.
Kembali Tiara menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Joe tadi.
"Sudahlah Joe! Jangan dipusingkan. Anggap saja itu adalah nyanyian penghantar tidur. Selagi tidak menyebabkan badan kita tumbuh bisul, biarkan saja!" Kata Tiara.
"Benar juga. Lagi pula, anjing mana tau apa itu yang dinamakan romantis. Ibarat bertanya tentang warna kepada orang buta. Sampai pingsan, lalu pingsan dan pingsan di dalam pingsan pun mereka tidak akan bisa menjawab. Seumur hidup jomblo terus. Basah kehujanan, kering kepanasan dan lapuk dimamah usia. Pilih-pilih ruas tebu, terpilih bonggolnya. Maka, nikmati saja derita mu!" Kata Joe sambil bangkit dan menarik tangan Tiara untuk pergi meninggalkan bangku batu tempat dia berbaring tadi.
Janet, Dewi dan Mira benar-benar terkena serangan balik oleh sindiran dari Joe tadi. Selama ini, baik Joe maupun Tiara tidak pernah membalas setiap perlakuan dari mereka. Tapi kini, sepasang kekasih itu sudah berani melakukan perlawanan.
"Mereka sudah mulai berani melawan kita?" Tanya Mira dengan mata mendelik. Dia tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar tadi.
"Huuuh! Gemes aku. Lihat saja nanti. Aku akan mengerjai dia sekali lagi. Kita buat dia basah seperti dulu itu!" Dewi tersenyum jahat membayangkan bahwa Joe sekali lagi akan mandi dengan air seperti sebulan yang lalu.
Sementara itu, dari belakang mereka, lewatlah Tania bersama dengan lima orang gadis lainnya sambil tersenyum mengejek ke arah ketiga gadis tadi.
"Heh. Apa yang kalian tertawa kan?" Tanya Mira tidak senang.
"Aku bebas mau tertawa, mau menangis bahkan apa saja yang aku suka! Mengapa? Kau kesal karena mendapat perlawanan dari anak yang kau anggap cupu itu? Ingatlah oleh kalian bertiga! Besi jika terus-menerus di pukul akan berubah menjadi pisau yang tajam. Kalian bisa terluka karenanya," balas Tania sambil mencibir.
"Kau?!"
"Kenapa? Heh! Jangan samakan aku dengan mereka. Atau kau akan menyesal berurusan dengan ku!" Dingin kata peringatan dari Tania membuat ketiga gadis itu terdiam. Mana berani mereka mengusik keenam gadis itu. Apa lagi mereka sangat dekat dengan anak-anak J7 yang sangat disegani di kampus ini. Sekali saja anak-anak dari J7 memberikan memo di loker milik mereka, maka seumur hidupnya di universitas ini tidak akan aman. Jadi, daripada mencari penyakit, lebih baik jangan melawan dan mencari gara-gara dengan gadis-gadis tersebut.
Bersambung...