Joe William

Joe William
Mulai berulah



Pagi itu di Villa William tampak Joe sedang mengendap-endap seperti pencuri menyelinap dan menghindari cctv yang akan menangkap gambarnya.


"Celaka jika aku terkurung begini. Bagaimana aku bisa membantu Paman Ryan dan yang lainnya di sana jika aku tidak bisa keluar begini." Kata Joe dalam hati.


Tadi malam di kamarnya, Black sudah bercerita banyak tentang segala informasi yang dia dapat baik dari Arslan maupun Leo bahwa saat ini Arslan membutuhkan banyak tenaga untuk membantu melancarkan rencana yang sedang mereka atur. Senada dengan apa yang dikatakan oleh Ryan yang terlebih dahulu meneleponnya semalam.


"Gila benar kalau begini." Kata Joe.


"Heh. Mau kemana kau seperti maling begitu?" Bentak seorang lelaki tua persis di dekat pintu membuat Joe terperanjat kaget.


"Hehehe. Aku mau keluar kek. Mau mencari angin." Kata Joe beralasan.


"Kau ini nakal. Jika kau aku izinkan keluar, kau pasti akan membuat onar. Baiklah. Kau boleh keluar. Asalkan di kawal." Kata lelaki tua itu sambil bertepuk tangan.


Tak lama setelah itu, tampak sekitar lima orang lelaki bertubuh kekar dan berotot menghampiri mereka berdua.


"Kami siap menjalankan perintah, Tuan besar!" Kata mereka serentak.


"Kalian kawal Tuan muda kalian ini! Keselamatannya ada di tangan kalian. Jika sedikit saja kulitnya lecet, aku akan memotong satu jari kalian." Kata Lelaki tua itu.


"Kami mengerti Tuan besar." Kata mereka lagi.


"Kakek Uyut. Untuk apa ini semua. Aku mana bisa seperti ini di kawal kemana-mana." Kata Joe membantah.


"Diam kau! Kau harus di kawal kemana pun kau pergi. Jika tidak, kau pasti akan berulah. Ingat untuk kembali nanti sore. Karena akan ada acara malam ini. Kakek akan memperkenalkan dirimu kepada orang-orang kaya di kota ini. Mereka harus tau bahwa kau adalah calon pewaris tunggal dari keluarga William yang kaya raya ini. Juga nanti kakek uyut akan memperkenalkan dirimu dengan seorang gadis dari keluarga kaya. Mereka baru saja kembali ke negara ini dari Kanada." Kata Tuan besar William.


"Ha? Apa-apaan ini kek? Joe tidak mau."


"Diam kataku. Di sini aku Tuan nya. Kata-kata ku adalah sabda yang harus kau patuhi. Sekarang kau pergi ke meja di ruang makan sana. Pergi sarapan dan minum susu sebanyak mungkin biar supaya kau bisa putih." Kata Tuan William sambil menunjuk ke arah ruang tengah dengan ujung tongkat nya.


"Heh mau kemana kalian?" Bentak Joe melihat ke-lima orang pengawal tadi mulai mengikutinya.


"Maaf Tuan muda. Tuan besar telah memerintahkan kepada kami untuk menjaga anda. Tolong jangan mempersulit diri kami!" Kata mereka dengan hormat.


"Mati aku kalau begini. Lama-lama bisa berasap kepalaku." Kata Joe dalam hati sambil garu-garu kepala.


"Ya sudah lah. Sesukanya kalian saja lah." Katanya dengan jengkel lalu segera melangkah menuju ruang makan untuk sarapan.


*********


Di ruang makan, tepatnya di sebuah meja, tampak empat orang pelayan wanita-wanita muda berdiri dengan mengenakan seragam putih-putih langsung membungkuk hormat begitu melihat Joe berjalan ke arah meja tersebut.


"Silahkan Tuan muda sarapan!" Kata mereka sambil menarik sebuah kursi untuk Joe.


"Terimakasih!" Kata Joe lalu duduk di kursi tersebut dan mulai ingin menyantap sarapan paginya itu.


Belum lagi dia memasukkan makanan itu ke mulutnya, dia sengaja melirik ke kiri dan ke kanan. Ternyata keempat wanita ditambah lima orang lelaki tadi masih berada di situ. Hal ini semakin membuat selera makan Joe langsung hilang.


"Mengapa kalian masih di sini?" Tanya Joe dengan heran.


"Tuan muda. Kami adalah pelayan pribadi anda. Tugas kami adalah memastikan bahwa anda menikmati sarapan Anda dengan benar dan baik." Kata mereka menjawab pertanyaan Joe tadi.


"Kau. Apa tugas mu di sini?" Tanya Joe kepada seorang yang berdiri di samping kirinya.


"Tugas saya menyediakan makanan untuk anda Tuan muda."


"Lalu, kau. Apa tugas mu?" Tanya Joe kepada wanita yang berdiri di samping kanannya.


"Tugas saya menyediakan air minum untuk anda Tuan muda." Jawabnya.


"Tugas kami adalah, jika anda membutuhkan sesuatu, kami akan mengambilnya untuk anda. Jika kepala anda gatal, kami bisa membantu menggarukannya." Jawab mereka.


"Aish... Aku bisa mati berdiri kalau begini!" Kata Joe sambil membanting piring di meja membuat ke-empat pelayan itu ketakutan.


"Maafkan kami Tuan muda. Tolong ampuni kami." Kata mereka sambil berlutut.


Kasihan juga hati Joe melihat mereka yang tidak tau apa-apa ini. Lalu dengan lembut dia menyuruh mereka untuk kembali berdiri.


"Sudahlah. Lupakan saja. Mari kita sarapan bersama-sama." Kata Joe lalu memotong roti di piringnya menjadi beberapa bagian lalu menyuapi mereka satu persatu termasuk ke-lima pengawal berbadan tegap itu.


"Tuan muda. Jika Tuan besar melihat, kami bisa di hukum." Kata mereka sambil menolak.


"Itu kan kalau dia melihat. Buktinya, tidak ada. Dia tidak di sini. Ayo lah. Aku ini tidak terbiasa menjadi tontonan ketika sedang makan." Kata Joe sambil memasukkan potongan roti itu dengan paksa ke mulut mereka.


"Enak kan. Ini lagi. Makanya kau harus makan biar makin besar." Kata Joe sambil menyuapi roti ke mulut mereka.


"Duduk di sini. Ayo minum susu ini!" Kata Joe sambil menyuruh mereka duduk.


Tidak ada satupun yang berani untuk duduk di kursi itu. Malah mata mereka kini sesekali melirik ke arah cctv di ruangan itu.


"Oh. Kalian takut dengan alat itu ya? Tunggu ya!" Kata Joe lalu mengambil satu permen karet, mengunyahnya sebentar lalu dikeluarkan kembali.


Sebentar kemudian..,


Wuzzz!


Permen karet yang tadi sempat dikunyahnya kini melesat ke arah cctv itu dan menempel menutupi bagian kamera.


"Hahaha. Beres. Ayo! Kalian tidak perlu takut lagi." Kata Joe mengajak mereka untuk duduk.


Ke-lima orang lelaki pengawal itu tampak kaget dan hanya bisa saling pandang melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Joe tadi.


Mereka mulai berfikir bahwa anak muda hitam legam ini bukanlah orang sembarangan. Terlihat dari caranya menjentikkan permen karet tadi dan ketepatan sasaran membuat mereka merasa ini bukanlah tehnik yang mudah untuk di lakukan. Tapi Joe melakukannya bahkan tanpa melihat. Ini yang membuat mereka merasa sangat takjub.


"Apakah kalian akan menuruti apa saja yang aku perintahkan?" Tanya Joe kepada empat orang pelayan dan lima orang pengawal itu.


"Tuan besar memang memerintahkan kami untuk melayani anda." Jawab mereka.


"Bagus. Aku ingin mendengar musik. Ingat! Putar lagu Hindustan! Dan kalian harus menari. Jika aku suka, kalian akan tetap bekerja di sini. Jika aku tidak suka, aku akan mencelakai diri ku sendiri agar kalian mendapat hukuman." Kata Joe mengancam membuat mereka setengah mati ketakutan.


"Ayo mulai musiiiik!" Kata Joe sambil bertepuk tangan.


Tak lama kemudian musik pun berdentum memenuhi ruangan itu.


"Hahaha. Hahaha. Ayo menari kalian. Ah kau ini kaku sekali." Kata Joe sambil berjingkrak-jingkrak.


"Aku kelelahan Tuan muda." Kata mereka mengeluh.


"Badan saja yang tegap. Payah kalian ini. Lagi ayo lagi!" Kata Joe.


Entah bagaimana bentuk ruang tengah ini. Semuanya habis diobrak-abrik oleh Joe sehingga seperti kapal pecah saja.


Dari lantai atas, Jackson hanya bisa tersenyum saja melihat cucu ponakannya itu.


"Lumayan lah. Sudah lama Villa ini seperti kuburan. Sepi." Kata Jackson sambil terus tertawa.