
Kedua muda-mudi yakni Joe dan Tiara tampak berlari lintang pukang menjauh dari kejaran orang-orang yang mengendarai sepeda motor yang membentak mereka tadi.
Ketika sampai di tikungan, mereka berdua lalu berbelok dan berbaur dengan orang-orang yang sedang berjalan kaki kemudian memasuki gang-gang kecil untuk menghindari kejaran mereka.
Sementara itu, orang-orang yang mengejar Joe dan Tiara tadi tampak celingukan memandang ke sana ke mari.
"Kemana larinya orang tadi?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Entahlah. Tadi dia berada di sini. Tiba-tiba saja menghilang,"
"Goblok kalian semua. Kepung semua jalan keluar! Jangan biarkan orang itu lolos! Aku akan membalas perbuatannya yang menumpahkan kuah bakso di atas kepala ku. Mana itu kuah benar-benar pedas lagi," kata ketua dari anak-anak muda yang tampak dibeberapa bagian pada wajahnya seperti melepuh.
Kini mereka mulai berbagi menjadi beberapa kelompok lalu bergegas memacu kendaraan masing-masing untuk melihat di beberapa jalan dan lorong-lorong gang.
Begitu mereka semua sudah pergi meninggalkan tempat dimana mereka berkumpul tadi, dari arah lorong sempit, tampak Joe dan Tiara keluar dari persembunyiannya.
"Ayo Tiara! Gila ah. Mereka terlalu ramai," kata Joe yang saat ini sangat mengkhawatirkan keselamatan gadisnya.
"Kemana kita akan pergi, Joe?" Tanya Tiara yang ketakutan.
"Aku juga bingung. Aku belum terlalu mengerti kota Batu ini," jawab Joe sambil menggaru kepalanya.
"Coba kau hubungi paman Ameng atau Namora. Mereka pasti bisa membantu kita!" Pinta Tiara kepada kekasihnya itu.
"Sebentar ya. Aku akan menghubungi salah satu dari mereka," kata Joe lalu merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Tapi sialnya, dia baru teringat bahwa ponselnya tadi dia gadaikan di kantin kampus.
"Ada apa Joe?" Tanya Tiara yang sejak tadi memperhatikan.
"Handphone ku tidak ada. Tadi aku tidak bisa membayar makanan di kantin. Jadi, aku menggadaikan Handphone ku sebagai jaminan," jawab Joe dengan perasaan tak karuan.
"Lalu bagaimana ini?"
"Musuh tidak ku cari. Jika tidak dapat dihindari, apa boleh buat. Mereka pasti akan mandi darah!" Kata Joe dengan wajah yang berubah bengis.
Tiara jelas tau bahwa ucapan Joe ini bukanlah omong kosong belaka. Dia adalah saksi seperti apa Joe ini di didik oleh Tengku Mahmud di Kuala Nipah dulu.
"Kau tau jalan di sini kan? Aku akan mengantar mu pulang. Ayo Tiara!" Ajak Joe sambil menarik tangan gadis itu. Tapi dia segera berhenti karena Tiara tampaknya enggan untuk beranjak.
"Ada apa lagi ini? Ayo lah!" Ajak Joe.
"Jangan Joe. Kau jangan sampai berkelahi. Ingatlah bahwa kau baru saja satu hari menjadi mahasiswa di universitas Kota Batu ini. Jika bermasalah terus, kapan kau akan bisa belajar dengan tenang?"
"Huhf...!" Joe menarik nafas dalam-dalam. Dia sangat kesal hari ini. Mana Handphone nya tergadai, uang tidak punya, perut lapar, dikejar-kejar seperti kelinci, bawa cewe lagi! Benar-benar sial.
"Lalu, bagaimana menurutmu?" Tanya Joe pasrah.
"Sembunyi dulu! Kita tunggu saja sampai malam tiba. Barulah kita keluar dan kembali ke rumah!"
"Ya sudah. Terserah kau saja lah. Aku menurut saja," kata Joe sambil mengangkat pundaknya.
Tiara segera menarik tangan Joe untuk mencari tempat persembunyian di balik tumpukan bakul ayam.
Setelah merasa bahwa tempat itu aman, mereka pun bersembunyi di tempat tumpukan bakul-bakul tersebut menunggu malam menjelang.
*********
Kreeeok!
"Suara apa itu?" Tanya Tiara sambil menahan tawa.
"Suara cacing ku!" Jawab Joe sewot.
"Kau lapar, Joe?" Tanya Tiara sambil mengelus-elus rambut Joe di bagian belakangnya.
Joe mengangguk malu-malu. Seumur hidupnya, baru kali ini dia mengalami nasib sesial ini. Walaupun dulu dia selalu digebuk oleh Tengku Mahmud dan Kakek Malik, tapi dia tidak pernah kelaparan.
"Ternyata wajah mu imut juga ketika malu," kata Tiara menggoda pemuda itu.
"Sudah gelap. Ayo kita keluar dari tempat ini!" Ajak Joe lalu bangkit berdiri.
Mereka berdua lalu melangkah beriringan menyusuri lorong sempit menuju ke jalan tempat mereka melarikan diri tadi. Kebetulan sudah banyak warung makan yang buka di pinggir jalan tersebut.
"Ayo kita makan dulu! Kau mau kan?" Tanya Tiara. Manis sungguh senyum gadis ini. Mendadak Joe melupakan rengekan cacing dalam perutnya ketika melihat senyuman itu.
"Kau punya uang?" Tanya Joe ragu-ragu.
"Masih ada lima puluh ribu. Cukuplah untuk makan seadanya," jawab Tiara.
Joe mengangguk lalu mengikuti gadis itu dari belakang sambil celingak-celinguk melihat kalau-kalau di kota Batu ini ada Citibank. Namun sampai lehernya pegal, dia tetap tidak menemukan bank yang dia cari.
"Kau melihat apa Joe?" Tanya Tiara heran.
"Untuk apa?"
"Menarik uang. Tapi tampaknya memang sudah nasib ku malam ini harus ditraktir oleh seorang wanita. Kau ikhlas kan, Tiara?" Tanya Joe malu-malu.
"Bicara apa sih? Ayo lah. Malu tidak membuat perut kosong mu terisi," kata gadis itu.
Mereka berdua pun langsung memasuki warung pinggir jalan tersebut dan memesan makanan seadanya saja.
Setelah selesai makan, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah kontrakan Tiara.
"Kau lelah, Tiara?" Tanya Joe yang melihat gadis itu sesekali terduduk sambil mengurut betisnya.
"Iya. Tapi tak apa. Sudah dekat!"
"Ayo aku gendong. Aku tidak tega melihat mu seperti ini," kata Joe lalu berjongkok.
"Apaan sih? Ogah ah!" Tolak Tiara malu-malu.
"Sudah lah. Kapan lagi digendong oleh Tuan muda yang melarat seperti aku ini?" Kata Joe yang meledak tawanya.
Dalam hati, Tiara sebenarnya sangat rindu dengan kebersamaan seperti ini. Dulu memang mereka selalu bersama. Namun, itu dulu. Kini, setelah usia mereka bertambah, ada sedikit rasa ingin memilki di hati masing-masing. Dan Tiara tidak ingin melewatkan kebersamaan yang sangat jarang ini begitu saja.
"Ayo sayang! Aku tidak ingin melihat gadis milik ku mengalami kesusahan. Aku akan melakukan apa saja agar kau selalu merasa nyaman, damai, tentram dan terlindungi. Karena, aku sangat menyayangi mu. Sumpah demi apa saja!" Kata Joe. Sepertinya ucapan itu benar-benar keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Tiara tidak menolak lagi. Dia segera merapatkan tubuhnya ke arah punggung Joe. Dan setelah Joe bangkit dari berjongkok tadi, maka kini Tiara sudah berada dalam gendongannya di belakang.
"Masih jauh, Sayang?" Tanya Joe.
"Setelah melewati rumah cat putih itu, maka kita akan sampai di rumah Kontrakan ku!" Jawab Tiara yang saat ini masih digendong oleh Joe.
"Mengapa begitu cepat sampainya ya? Padahal aku masih ingin bersama dengan mu," kata Joe.
"Masih ada hari esok, lusa dan seterusnya. Apakah setelah malam ini, kau akan meninggalkan aku?"
"Separuh nyawa ku ada bersama dengan diri mu. Aku mohon agar kita tidak akan berpisah. Apa lagi kedua orang tua ku tidak mempermasalahkan hubungan kita ini," kata Joe meyakinkan.
"Kalau gombal itu, kira-kira dong!"
"Apa itu gombal?" Tanya Joe tidak mengerti.
"Emmm.., apa ya? Gini. Maksud ku, kalau merayu itu, jangan berlebihan!" Jawab Taira.
"Oh ternyata itu artinya. Tidak! Ini bukan rayuan. Aku kan memang mencintaimu. Buktinya, aku rela menunggu mu sampai subuh. Sampai-sampai aku ketiduran di bawah jendela kamar mu. Jika aku gambol, eh apa tadi namanya?" Tanya Joe lupa.
"Gombal," jawab Tiara sambil tertawa.
"Eh iya. Gombal. Kalau aku gombal, mana mungkin aku akan menunggumu sampai subuh. Tapi ya maaf. Maafkan jika sampai saat ini aku belum bisa membuatmu bahagia,"
"Begini aku sudah bahagia kok. Dari dulu sampai sekarang, kau selalu ada untuk ku. Hanya saja, kemana kau selama hampir setahun ini? Mengapa tidak memberi ku kabar?" Tanya Tiara.
"Panjang ceritanya. Sebenarnya ini bukan keluhan. Tapi, asal kau tau saja. Tidak enak menjadi Joe William. Orang yang selalu memiliki musuh. Aku tidak ingin kau menjadi sasaran mereka. Jika mereka tau bahwa aku memiliki hubungan khusus dengan dirimu, maka, satu kelemahan ku telah diketahui oleh musuh. Ketika mereka mengancam dirimu, aku pasti akan kalah. Lagi pula, aku tidak ingin melibatkan mu dalam masalah ku. Ingat perkataan ku dulu kan? Jika aku menjauhi dirimu, itu tandanya bahwa aku sangat menyayangimu."
"Iya. Aku ingat itu. Karena kalimat itu pula lah sampai detik ini aku masih bertahan," jawab Tiara sembari merebahkan kepalanya di pundak pemuda itu.
"Aku mencintaimu, Tiara. Benar-benar mencintaimu. Ada beberapa wanita yang mendekati diriku. Namun aku tidak bisa. Setiap kali aku ingin dekat dengan wanita lain, bayangan dirimu selalu datang. Dan aku tidak bisa mengkhianati dirimu. Itu terlalu kejam dan aku tidak akan memaafkan diriku sendiri,"
"Aku percaya kepada mu. Maafkan jika sikap ku yang kemarin itu. Itu adalah luapan rasa cinta ku, rinduku dan rasa memiliki. Aku gagal menyikapi rasa itu sehingga begitulah jadinya," kata Tiara menjelaskan tentang sikapnya ketika itu.
"Eh Joe! Kita kebablasan!" Kata Tiara yang buru-buru sadar bahwa mereka telah jauh meninggalkan rumah kontrakan nya.
"Hahaha. Kau ini bagaimana? Gagal kau pemandu wisata kalau begitu!" Rungut Joe. Namun dia tertawa juga. Baginya, semakin lama bisa berduaan, maka semakin baik.
"Kita telah sampai, Joe. Lalu, bagaimana dengan mu?" Tanya Tiara. Kasihan juga dia melihat pemuda itu yang akan kembali berjalan kaki untuk kembali ke apartemen yang dia sewa di bukit batu.
"Tidak apa-apa. Kau jangan mengkhawatirkan diriku. Aku akan ke rumah paman Rio terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan meminta Namora untuk mengantar ku ke bukit batu," jawab Joe untuk menghilangkan kekhawatiran Tiara.
"Hati-hati di jalan ya. Kalau bertemu dengan geng Cobra, berusaha lah menghindar! Jangan berkelahi! Ingat pesan ku itu!"
"Siap, sayang ku. Sekarang, kau masuk lah. Aku akan pergi jika kau sudah masuk ke dalam rumah!"
"Kau saja. Aku akan melihat mu. Setelah kau hilang di tikungan itu, barulah aku akan masuk!"
"Kau saja!" Suruh Joe yang sebenarnya enggan untuk berpisah.
"Kau saja!" Tolak Tiara tak mau kalah.
"Ya sudah. Aku pamit ya sayang. Mimpikan aku ya!" Kata Joe sambil mengelus pipi gadis itu. Lalu dia segera membalikkan badannya kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah kontrakan sang kekasihnya itu.
Bersambung...