
Seorang pemuda berkulit hitam legam sedang duduk di kursi yang menghadap di jendela sambil memperhatikan kota Starhill ini dari ketinggian.
Dia dapat membayangkan anda dia bisa mendapatkan kesempatan kerja sama dengan salah satu pemerintah daerah di Indonesia, ingin rasanya dia membangun kota seperti Starhill ini.
Ketika itu terjadi, dia akan dengan sangat senang hati untuk berada sepanjang waktu di sana. Karena selain memiliki beberapa sahabat akrab, dia juga merasa betah berada di negara yang memiliki ribuan pulau serta keberaneka ragam bahasa dan budaya tersebut.
"Huh. Belum sebulan aku di sini, tapi sudah sangat merindukan Kuala Nipah." Batin pemuda itu dalam hati.
"Belum sampai satu bulan di sini, tapi sudah menjadi buron saja. Aku berjanji akan kembali ke Villa dalam tiga hari. Tapi nyatanya sudah empat hari berlalu. Semoga saja kakek uyut ku benar-benar tidak datang ke Mountain Lotus." Katanya lagi dalam hati.
Dia terus bermain dengan pikirannya sendiri sambil sesekali memperhatikan ke arah lengan dan tangannya. Ada kesedihan dihatinya ketika melihat selain kuku, semuanya hitam belaka.
"Aku masih ingin menggali makna dari alasan kakek Tengku mengubah ku seperti ini. Apa maksudnya?"
"Sudah sepuluh hari. Masih ada delapan puluh hari lagi untuk kembali normal. Oh Tuhan ku. Apa alasan kakek Tengku?" Jerit nya dalam hati.
"Ah. Terlalu lama mengurung diri di kamar ini, bisa gila. Sebaiknya aku pulang saja ke Mountain Lotus." Katanya lagi lalu bangkit berdiri berjalan ke arah meja dimana ponselnya berada.
Setelah mencari nomor telepon beberapa saat, dia lalu menekan tombol panggil dan menunggu beberapa saat sebelum panggilan tersebut tersambung.
"Hallo Tuan muda." Sapa satu suara di seberang sana.
"Senior Black. Jemput aku di hotel Mutiara ini. Aku ingin kembali ke Mountain Lotus!" Perintah nya kepada lelaki yang dia sebut sebagai Senior Black itu.
"Saya akan segera ke sana Tuan muda!" Kata Lelaki itu.
"Baiklah. Aku tunggu." Katanya singkat lalu segera mengakhiri panggilan.
Satu jam kemudian, terdengar suara pintu diketuk dari luar diiringi suara lelaki setengah baya bertanya.
"Tuan muda. Apakah anda berada di dalam?"
"Ya. Sebentar Senior Black. Sebentar lagi aku keluar." Jawab Tuan muda itu.
Tak lama setelah itu, tampak seorang pemuda memakai Jaket Hoodie hitam dengan masker lambang kucing yang juga hitam keluar dari dalam kamar hotel itu lalu menghampiri lelaki yang menunggu di luar tadi.
"Anda sudah selesai Tuan muda?" Tanya Black.
"Sudah. Mari, Senior! Ayo kita pulang!" Ajak pemuda itu.
Mereka pun lalu bersama-sama berjalan menuju lift yang akan membawa mereka turun ke ruang parkir bawah tanah.
Tiba di bawah, tampak puluhan pengawal berbaris dengan rapi sambil membungkuk hormat ketika pemuda serba hitam itu lewat di depan mereka diiringi oleh Black dibelakang.
"Untuk apa mereka ini, Senior?" Tanya Pemuda itu.
"Tidak apa-apa Tuan muda. Anda adalah seorang Tuan muda. Putra dari orang paling kaya di negara ini. Tunjukkan status anda sebagai seorang Tuan muda. Beginilah caranya agar dunia tau siapa anda." Kata Black.
"Aku lebih percaya kepada jarum perak serta bola besi ku dibandingkan dengan mereka ini." Kata pemuda itu dalam hati. Namun dia tidak mengatakannya. Khawatir nantinya Black akan merasa berkecil hati.
"Kembalikan kartu ini kepada Manager Tom di hotel ini. Mulai hari ini dan seterusnya, kamar itu tidak boleh ditempati oleh orang lain. Katakan seperti itu kepada Manager Tom!" Kata pemuda itu sambil memberikan kartu kepada salah satu dari orang yang berada di barisan itu.
"Siap Tuan muda." Kata pengawal itu. Bangga benar hatinya walaupun hanya disuruh mengembalikan kartu saja.
*********
Hanya ini Villa satu-satunya yang berada di kawasan ini. Dan itu adalah Villa milik Jerry William yang dibangun sekitar dua belas tahun yang lalu.
Dua orang lelaki setengah baya dengan salah satu diantaranya memiliki rambut jabrik yang lumayan panjang tampak keluar dari mobil lalu menghampiri pengawal yang bertugas jaga hari ini.
Begitu melihat siapa yang berada di luar pagar, pengawal tadi langsung tersenyum kemudian menyapa. "Wah. Ada angin apa yang membawa Kak David dan Kak Kevin ke mari?" Tanya pengawal itu.
"Hahaha. Masih hidup saja kau ternyata. Tapi bukan hanya kami berdua. Di dalam dua mobil itu ada empat naga dari Metro City." Kata David merujuk kepada Tuan besar William, Smith, Walker dan Patrik.
Mendengar David menyebutkan empat naga, pengawal tadi langsung gemetar dan tanpa di suruh langsung memencet tombol lalu pintu pagar itupun terbuka.
Tak lama kemudian tampak dua mobil mendahului dua mobil lainnya lalu segera parkir tepat di halaman luas Villa itu secara sesukanya.
Kini tampak dua orang yang juga setengah baya yang dikenal oleh pengawal itu bernama Kenny William dan Ivan Patrik setengah berlari lalu membukakan pintu bagian penumpang.
"Silahkan kek!" Kata Ivan lalu kembali mengitari mobil dan membukakan pintu yang satunya lagi.
Kini di halaman Villa itu berdiri lah empat orang lelaki tua berusia nyaris delapan puluh tahun dengan masing-masing tongkat kuning keemasan tampak tergenggam erat di tangan masing-masing. Merekalah empat naga yang sudah tidak bergigi dari Metro City.
Karena mendengar suara mesin mobil dari luar, kini tampak seorang pemuda berkulit hitam legam meninjau dari pintu.
Ketika melihat ada empat lelaki tua yang tidak dia kenal, namun dapat mengenali Kenny dan Ivan, pemuda berkulit hitam itu mendadak merasakan perutnya tiba-tiba mulas. Dia berusaha untuk menghindar. Namun kepalang tanggung, salah satu dari keempat lelaki tua tadi keburu melihatnya.
"Heh anak hitam. Kemari kau!"
"Aduh mak. Mati lah aku ini." Kata pemuda itu dalam hati namun menuruti juga perintah lelaki tua yang memanggilnya tadi.
"Apakah Tuan mu ada di dalam?" Tanya lelaki tua tadi begitu pemuda itu sampai di hadapannya.
"A-ad-ada. Sebentar akan saya panggilkan." Kata pemuda berkulit hitam legam itu sambil membalikkan tubuhnya kemudian memasuki Villa itu.
"Senior Black. Apakah itu adalah kakek uyut ku? Tanya pemuda berkulit hitam itu.
"Benar Tuan muda. Dua dari kiri dan yang paling kanan itu adalah kakek uyut anda. Yang pertama adalah Tuan Walker. Yang ke dua dari kiri adalah Leon Smith. Yang ke tiga adalah Tuan besar Aaron Patrik. Dan yang terakhir adalah Tuan besar William King." Kata Black menjelaskan.
"Mati aku. Kemana lagi aku mau Kabur? Baru satu jam tiba di rumah. Memang nasib ku tidak baik." Kata Joe mengomel sambil menggaru-garu kepalanya yang tidak gatal.
Kegelisahan pemuda berkulit hitam itu membuat Black merasa lucu juga. Ini karena, beberapa hari yang lalu ketika berada di Garden Hill, bukan main garangnya. Tapi hari ini, pemuda itu persis seperti maling kesiangan.
"Panggil ayah ku! Cepat panggil! Aku mau Kabur." Kata pemuda itu seperti cacing kepanasan berlari. Sebentar dia lari kebelakang. Sebentar kemudian dia kembali lagi ke ruang tengah itu.
"Ada apa dengan mu Joe?" Tegur seorang lelaki setengah baya yang tampak baru turun dari lantai dua.
"Kakek Uyut. Kakek Uyut telah sampai. Dia pasti kemari karena ingin menghukum ku, Ayah."
"Mengapa kau begitu takut? Kau kan bisa berterus terang tentang duduk masalahnya?!" Kata sang Ayah.
"Mana boleh bocor. Aku tidak boleh mengatakan masalah sebenarnya. Daripada bocor ke pihak musuh, lebih baik aku kabur saja." Kata Joe pula.
"Mau sampai kapan kau kabur? Apakah dengan kabur, masalah mu akan selesai?"
"Hehehe. Lalu, bagaimana dengan kulit ku yang hitam legam ini? Tadi saja aku sudah dikira pembantu di rumah ini."
"Kau kan pintar. Kau cari sendiri lah alasan mengapa kau bisa hitam seperti ini." Kata Sang Ayah lalu melangkah menuju keluar untuk menyambut sang kakek yang baru tiba dari Metro City itu.