
Seorang pemuda yang cukup tampan dan berkarisma berjalan menghampiri kumpulan para gadis yang saat itu baru saja akan beranjak menuju ke kelas mereka.
Pemuda itu adalah Jericho yang saat ini seperti sedang mencari-cari seseorang.
Ketika dia berada tepat di depan para mahasiswi yang baru saja akan melangkah meninggalkan tempat duduk mereka, Jericho yang baru saja tiba langsung bertanya kepada salah seorang dari mereka. "Tania. Apakah kau melihat anak cupu itu?"
"Tadi ada bang. Dia bersama dengan Tiara di bangku batu sana. Hanya saja, Mira, Dewi dan Janet mengganggu mereka. Sekarang aku sudah tidak melihatnya lagi. Ada apa bang?" Tanya gadis bernama Tania itu sedikit heran. Karena, tidak biasanya orang-orang mencari keberadaan Joe. Apa lagi itu adalah Jericho.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan kepadanya. Oh ya. Apakah kau merasa bahwa semenjak dia di sini, anak-anak dari geng Cobra tidak pernah lagi datang ke kampus kita ini?" Tanya Jericho dengan serius.
Tania dan ke-lima gadis yang lainnya seperti terdiam sejenak. Mereka lalu serentak menggelengkan kepala mereka.
"Benar juga kata Abang. Semenjak pentolan mereka diguyur oleh Joe itu menggunakan kuah bakso, mereka tidak pernah lagi datang membuat kekacauan di sini. Dan, aku juga melihat sepertinya Joe sama sekali tidak merasa takut atas ulahnya itu. Terlihat jelas kepura-puraan dari cara dia ketakutan ketika itu," ujar salah seorang dari gadis yang lainnya.
"Itu dia yang membuat aku heran. Biasanya, mereka akan membuat kekacauan di sini. Tapi semenjak Joe ini berada di sini, kampus ini menjadi aman,"
"Mungkin bukan karena Joe itu, Bang! Tapi karena Namora. Siapa yang tidak kenal dengan cowok tampan, dingin dan sadis itu?" Bantah Tania.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Hanya saja, Namora ini sangat sulit untuk didekati. Kelasnya berbeda. Diantara anak-anak pentolan dari Dragon Empire, dia berbeda dengan Udin dan Hendro. Hendro walaupun sangat arogan, tapi dia cukup bisa diajak akrab. Udin lebih baik lagi. Tapi Namora ini, aku heran. Dia tidak sombong, suka menolong,. Tapi, mengapa dia begitu tertutup?" Gumam Jericho seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
Mereka tidak tau apa sebenarnya yang terjadi dibelakang mereka. Ketika itu, Joe di ganggu oleh empat orang pemuda di gerbang kampus. Dan Joe berhasil menghajar tiga dari empat pemuda itu dan menjadikan seorang lagi sebagai mata-matanya di sana.
Yang kedua, Sekitar empat hari yang lalu dia kembali diganggu oleh anak-anak geng Cobra. Bahkan bukan tanggung-tanggung. Pentolannya sekaligus ikut mengeroyok Joe.
Apes bagi mereka. Karena, Joe saat itu sedang tidak bersama Tiara. Jadilah mereka dibuat seperti samsak oleh Joe.
Puncak dari kesialan geng Cobra adalah, sepasang kaki milik Dhani patah dan saat ini, Dhani harus lumpuh untuk sementara waktu karena beberapa persendian otot di sekitar paha dan betisnya ada yang lepas. Jadi, Jika anak-anak geng Cobra tidak datang ke kampus, bukan berarti takut dengan Namora. Lebih tepatnya, ketika mereka kini melihat Joe, mereka seperti melihat malaikat maut saja.
"Aku akan menuju ke kelas tempat Joe belajar. Maaf karena telah menyita waktu kalian!" Ujar Jericho yang dibalas dengan senyuman oleh mereka. Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan perhatian dari pemuda itu.
*********
Jericho berjalan cepat menuju ke kelasnya Joe. Dia harus segera tiba dan bertemu dengan pemuda itu. Ada beberapa hal yang ingin dia bicarakan dan sekaligus dia ingin mengajak pemuda itu untuk Touring bersama, kerja bakti bersama dan berkemah di pegunungan bersama. Hanya saja, sepertinya Jericho pagi ini mengalami nasib sesial.
Tanpa berprasangka apapun, Jericho yang tidak mengetahui bahwa Mira, Dewi dan Janet telah menyiapkan jebakan untuk Joe William, segera mendorong pintu. Dan...,
Byuuuur!
Begitu pintu kelas tersebut didorong, dari arah atas mencurahlah seember air yang langsung tumpah tepat di atas kepala Jericho.
Ledakan tawa di ruangan itu bergema. Terlebih lagi Mira, Dewi dan Janet. Mereka bertiga yang paling keras suaranya. Namun, seperti direnggut oleh setan, suara tawa itu seketika berhenti dan berganti dengan keheningan ketika mereka melihat siapa yang berdiri di ambang pintu tersebut.
Suasana berubah menjadi sunyi-senyap.
"Katakan kepada ku siapa yang melakukan ini?" Dingin suara Jericho bertanya kepada mereka yang ada di kelas tersebut.
"Kalian harus mengatakan siapa yang melakukannya! Atau aku akan memberikan hukuman kepada kalian secara adil dan tanpa pandang bulu. Siapa yang melakukan ini???" Menggelegar suara Jericho. Di tambah lagi kini dia berada di dalam ruangan kelas. Jadi, jelas saja suara itu terpantul oleh dinding ruangan tersebut.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang lainnya ketakutan. Mereka tidak menjawab. Hanya saja, ujung jari telunjuk mereka serentak menunjuk ke arah Mira, Dewi dan Janet.
Jericho yang saat ini sudah sangat marah segera menghampiri ke-tiga gadis itu lalu mengangkat tangannya.
"Kau...!"
"Aaaa... Ampun bang!"
Belum lagi tangan Jericho mendarat di pipi mereka, dan memang Jericho tidak ingin menampar. Dia hanya menggertak saja. Itupun sudah membuat Mira hampir terkencing.
"Apa kalian bertiga sudah bosan kuliah di sini? Apa aku harus memberikan memo di loker kalian masing-masing?"
"Ampuni kami bang! Sebenarnya itu bukan untuk Abang. Tapi untuk mahasiswa cupu itu. Tolong ampuni kami," kali ini Dewi yang memelas meminta pengampunan.
"Kalian bertiga ikuti aku. Tidak boleh mengikuti kelas! Dan kalian harus di hukum. Jika aku kedinginan karena ulah kalian, maka kalian harus kepanasan. Sekarang, keluar dari kelas ini dan berjemur di bawah tiang bendera sana sampai kelas berakhir. Jika tidak, selamanya kalian tidak akan aman di sini!" Perintah Jericho dan langsung meninggalkan kelas tersebut.
Ketiganya saling pandang. Mereka ingin memberontak. Tapi apalah daya. Kali ini yang terkena oleh keisengan mereka adalah pentolan dari J7 yang sangat berpengaruh di kampus kota Batu ini. Bahkan, presiden persatuan seluruh mahasiswa di kampus ini pun tidak berani kepada Jericho dan Jul ketika itu.
Dengan langkah terseret-seret, Ketiga gadis itu segera keluar meninggalkan ruangan kelas dan segera berjalan menuju lift untuk menjalani hukuman dari Jericho.
"Sialan sekali. Ini semua gara-gara si cupu itu. Aku akan membuat perhitungan dengan sialan itu di lain kesempatan," kata Mira menggeram.
"Lain kali saja. Saat ini, kita jangan memikirkan si bangsat culun itu. Bagaimanapun, kita jalani dulu hukuman ini,"
"Reputasi kita pasti rusak. Oh Tuhan! Kenapa harus bang Jericho? Kacau sudah rencana ku untuk bersaing dengan Tania,"
Mereka bertiga kini telah tiba di pelataran kampus dan mulai berbaris berdiri di bawah tiang bendera. Sakitnya memang tidak seberapa. Tapi, malunya itu yang luar biasa.
Bersambung...