
Kriiiing...!
Kriiiing...!
Tigor baru saja tiba di rumah. Baru saja dia hendak duduk setelah menempuh perjalanan dari kota Tasik Putri ke kota Kemuning.
Belum sempat dia duduk dan menikmati secangkir kopi buatan sang istri, ponsel di sakunya tiba-tiba berdering.
"Siapa lagi ini?" Pikir Tigor dalam hati.
Dia langsung mengeluarkan ponselnya. Ketika melihat nama pemanggil, dia segera menjawab panggilan tersebut.
"Ada perkembangan apa, Karman?" Tanya Tigor begitu panggilan itu terhubung.
"Banyak, Bang! Saat ini Irfan mulai menunjukkan belangnya. Dia sama sekali tidak kembali ke kompleks elite Tasik Putri setelah pertemuan itu," lapor Karman.
"Lalu, bagaimana dengan tanggapan dari Marven?"
"Marven saat ini pastinya sangat pusing. Oh ya bang. Aku menduga adanya konspirasi antara Butet dan Irfan ini. Marven bisa saja dalam bahaya. Apa menurut Abang, kita harus menolong Marven ini?" Tanya Karman ingin mengetahui apa rencana dari Tigor.
"Setiap orang, akan menuai apa yang dia tanam. Kehidupan ini ada timbal baliknya. Hari ini kau jahat kepada orang lain. Besok, akan ada orang lain yang jahat kepadamu. Apa yang mengherankan dari masalah ini? Dia juga dulu memperlakukan Martin dengan curang. Apa menurutmu hukum karma itu tidak ada?" Tigor balik bertanya kepada mata-matanya itu.
"Tapi Abang harus ingat! Marven seperti itu karena hasutan dari Beni. Jika tidak termakan hasutan, bukankah dulu dia sangat baik kepada mu?!"
"Aku akan memikirkannya. Untuk saat ini, kau juga mungkin dalam bahaya. Jika benar Butet bekerjasama dengan Irfan untuk menjatuhkan Marven, ini jelas masalah dendam. Dan kau juga ikut andil dalam menjebak Butet. Kalau bisa, kau kembali saja ke kota Kemuning! Kau tidak perlu lagi berada di sisi Marven!"
"Aku tidak bisa bang. Anak dan istri ku ada di Blok B Tasik Putri. Jika aku kembali ke kota Kemuning, bagaimana dengan anak dan istri ku di sini? Aku tidak terbiasa jauh dari mereka. Jika mau tumbang, biarkan tumbang di sini. Jika menjulang, menjulang lah sampai menyentuh awan. Alang-alang menyeluk pekasam, biar sampai ke pangkal lengan! (pribahasa Melayu)" jawab Karman yang menolak untuk kembali ke kota Kemuning.
"Wah. Dalam sungguh makna dari kata-kata mu itu. Apakah ombak yang menerjang mu yang mengajarkan kau mendadak menjadi bijak seperti itu?" Tanya Tigor antara kagum dan mencibir.
"Hahaha. Abang ini ada-ada saja. Bang. Saran ku, selamatkan Marven. Dia hanya korban dari konspirasi antara Beni dan Martin. Sekarang, dia juga menjadi korban dari Butet dan Irfan. Aku jelas sangat mengetahui bahwa yang memiliki masalah dan sering menghina mu dulu adalah Irfan. Sedangkan Marven tidak pernah menghina mu. Aku juga minta seratus orang anak buah mu. Irfan pasti akan ku bekuk!"
"Tidak. Aku tidak mengizinkan! Jika kau telah kenyang makan uang Marven, itu adalah urusan antara kau dan dia. Jika kau ingin membalas Budi, maka balas lah! Tapi, aku masih tidak bisa menerima kematian Martin. Apapun alasannya. Jika menentang ku, berarti musuh bagiku. Dan kau tau sendiri seperti apa aku. Jika Birong saja mampu aku porak porandakan, apa lah arti Marven bagiku," tegas Tigor. Baginya, menolong Marven pasti akan menimbulkan petaka di kemudian hari. Ibarat menolong anjing terjepit. Setelah di tolong, pasti akan menggigit. Jangankan hanya Tigor, sedangkan Martin yang membesarkan dirinya dari kecil dengan penuh kasih sayang saja sanggup dia bunuh.
"Anak dan Istri mu biar aku yang urus. Kau segera kembali ke kota Kemuning! Jika Irfan meminta bantuan kepada Zacky, kau juga pasti akan di buru!"
"Baiklah! Aku akan gerak dulu bang!"
"Hmmm...!" Jawab Tigor lalu mengakhiri panggilan.
Kini tinggallah Karman termenung sendirian di dalam mobil yang terparkir di bahu jalan.
Dia kasihan dengan Marven. Tapi di sisi lain, alasan Tigor juga sangat masuk akal. Jika hanya dia sendirian, apa yang bisa dia lakukan. Mungkin inilah karma bagi Marven. Tangannya pernah berlumuran darah orang yang telah membesarkannya.
Lama juga Karman termenung sampailah pada akhirnya telepon genggam miliknya berdering.
"Istri ku?" Tanya nya dalam hati.
Dia lalu buru-buru menjawab panggilan tersebut.
"Hallo sayang?!"
"Hallo bang. Kami sudah tiba di gang Kumuh. Saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju kota Kemuning. Bang Tigor telah menyuruh kami untuk berangkat. Sampai ketemu di kota Kemuning!"
"Hah? Secepat itu bang Tigor bergerak?"
"Tidak ada yang sulit bagi bang Tigor. Anak buahnya berserakan dimana-mana. Abang saja yang tidak tau," jawab Istri Karman.
"Ya sudah. Jika begitu, aku akan segera berangkat ke kota Kemuning!" Kata Karman yang langsung mematikan ponselnya kemudian menginjak pedal gas.
Tak lama setelah itu, mobil miliknya pemberian Marven pun menderu meninggalkan kawasan yang masih dalam area kompleks elite Tasik Putri menuju ke kota Kemuning. Diperkirakan, dia akan tiba besok subuh di kota Kemuning.
Bersambung...