
Di ruangan tengah Villa milik keluarga William di bukit Metro - Metro City itu, tampak lima orang lelaki terengah-engah dengan nafas kembang kempis seperti kerbau baru selesai membajak sawah.
Keadaan ke-lima orang ini menjadi bahan tertawaan seorang pemuda berkulit hitam legam dan memiliki rambut kaku seperti ijuk aren itu.
Ke-lima lelaki ini baru saja dikerjai oleh Joe untuk menari bersama empat wanita muda pelayan yang ditugaskan oleh Tuan besar William untuk melayani Tuan muda dari keluarga itu.
"Heh. Aku letih juga ketika melihat kalian seperti ini." Kata Joe sambil duduk di sebuah kursi.
Baru saja dia duduk, ponselnya berdering menandakan ada pesan yang masuk.
Saat ini dia mendapat pesan suara dari Black yang tidak berani dia dengar karena adanya lima orang pengawal dan empat orang wanita muda yang bertugas sebagai pelayan itu.
Dengan cepat, Joe langsung mengetik pesan mengatakan agar Black mengirim pesan teks saja. Hal ini karena di sisinya ada lima orang pengawal.
"Tuan muda. Saya sudah tiba di Metro City. Apakah anda memiliki tugas untuk saya?" Tanya Black melalui pesan teks itu.
"Senior Black. Saat ini aku tidak bisa bergerak kemana-mana. Aku juga tidak bisa menghubungi para anggota lainnya yang berada di Metro city ini." Kata Joe.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan Tuan muda? Saat ini orang-orang Ryan juga sedang membutuhkan tenaga bantuan."
"Senior Black. Anda jemput kakek Drako dan Kakek Syam. Berhenti di depan pagar Villa William. Aku akan membungkus lencana milik ku ini lalu membuangnya ke tong sampah. Ambil lencana itu dan kumpulkan semua anak buah Dragon Empire lalu berangkat ke Garden Hill!" Kata Joe.
"Baiklah Tuan muda. Nanti setelah saya tiba, saya akan mengirim pesan lagi kepada anda." Kata Black.
"Baiklah. Jangan lupa hubungi juga Paman Daniel. Suruh dia bersiap-sedia untuk menerima perintah dari ku.
"Dilaksanakan Tuan muda!"
***
"Oh Tuhan ku. Heeeei anak setan. Apa yang kau lakukan di sini hah? Mengapa ruangan ini seperti kapal karam?"
Tampak lelaki tua dari arah belakang berjalan tergesa-gesa sehingga ujung tongkat nya berdetak-detak menyentuh lantai ruangan itu.
Lelaki tua itu sejenak terperangah begitu tiba di ruangan itu. Bagaimana tidak? Kini dia melihat lima orang pengawal yang tadi dia tugaskan sudah terduduk dengan nafas tersengal-sengal.
"Heh. Ada apa dengan kalian semua ini hah?"
"Kau! Matikan musik itu!" Kata Tuan William menyuruh kepada salah satu dari mereka untuk mematikan alat pemutar musik tersebut.
"Ya Tuhan... Bisa gila aku kalau begini terus." Kata Tuan William berniat ingin menjambak rambutnya sendiri. Namun apa daya, dia sudah tidak memiliki rambut lagi. Terpaksalah hanya garu-garu kepala botak nya saja.
"Hehehe. Kakek Uyut juga harus joget kek! Ini demi kesehatan. Coba lah untuk jangan suka marah. Soalnya kemarin ada yang mati mendadak gara-gara suka marah." Kata Joe.
"Kau Joe. Aku sudah tidak kuat lagi melihat tingkah mu ini. Besok, aku akan mengirim mu ke Villa Smith." Kata Tuan William sambil berlalu meninggalkan ruangan itu.
*********
"Ada apa Ayah? Mengapa memarahi anak itu? Bukankah Ayah yang membawanya ke Bukit Metro ini? Jika tidak suka, kemarin mengapa diajak datang ke sini?" Tanya Jackson kepada Ayahnya yaitu Tuan besar William.
"Hah. Aku bisa terserang stroke kalau begini terus." Kata Tuan William sambil duduk di kursinya.
"Tidak ada Stroke kalau Ayah bisa mengendalikan emosi. Anak itu bagus tinggal di Starhill, sengaja Ayah jemput. Sudah sampai di sini, malah Ayah kekang tidak boleh kemana-mana. Di kawal seperti tahanan. Anak itu boring jika begitu terus. Di tambah lagi Ayah memarahinya. Ini maksud nya apa?" Tanya Jackson tidak mengerti dengan cara berfikir orang tua ini.
"Anak itu harus di hukum. Dia sedang menjalani hukuman dari ku. Jika tidak di hukum, sesuka hatinya saja mengambil keputusan. Memecat Ryan, Riko dan Arslan yang sudah berjasa kepada perusahaan. Sekarang mereka sudah bergabung dengan perusahaan Arold Holding Company. Itu tandanya perusahaan Future of Company berada dalam bahaya." Kata Tuan besar William membentak.
"Kalian semua terlalu mendewakan Ryan, Daniel, Riko dan Arslan itu. Dulu pun tanpa mereka William Group tetap berdiri. Smith Group juga untung besar. Ayah memang terlalu anti dengan Jerry. Dari dulu ayah begitu. Sudahlah Ayah. Ayah tidak akan bisa kembali muda lagi. Ayah hanya bisa menasehati. Bukan mencampuri urusan mereka. Jika Kenny melakukan kesalahan. Bukan hanya dia yang mendapat hukuman dari Ayah. Tapi aku juga terkena imbas nya. Begitu juga dengan Ryan. Dia sama sekali tidak becus mendidik keponakan nya. Jika ada sepuluh orang seperti Ryan yang masing-masing memiliki dua keponakan seperti Charles dan Milner, perusahaan akan lebih hancur lagi." Kata Jackson pula.
Saat ini Joe memasuki ruangan dimana sedang berlangsung perdebatan antara Kakek Uyut nya dan kakek sepupunya itu.
Sambil menundukkan kepalanya, Joe pun berkata. "Kakek. Aku akan pamit untuk kembali ke Starhill. Aku sudah cukup di sini. Aku juga berjanji tidak akan sudi mewarisi William Group. Permisi!" Kata Joe sambil membungkuk hormat lalu segera memasuki kamarnya.
Tak lama kemudian, Joe pun keluar dengan menyandang tas ranselnya yang sudah buruk dan memeluk peti kayu kecil berukir kemudian melangkah keluar dari Villa itu.
"Mau kemana kau hah? Sudah berani melawan orang tua ya?" Bentak Tuan besar William.
"Aku sudah bersumpah. Sejak mengetahui jati diriku, tidak ada yang boleh mengintimidasi dan menindas ku. Selain kepada Tuhan, di dunia ini aku hanya takut kepada Ayah dan Ibuku. Yang ke dua adalah kakek Tengku Mahmud. Selain itu, tidak akan aku biarkan siapapun menindas ku."
"Beruntung aku masih sabar. Jika mengikuti kemarahan, Paman Ryan sudah ku bunuh. Dan Paman Arslan serta Riko sudah dijatuhi hukuman menurut organisasi. Di kuliti hidup-hidup. Sekarang nama ku Joe Iprit. Bukan Joe William lagi." Kata Anak muda itu lalu pergi menuju pintu untuk keluar meninggalkan Villa milik keluarga William itu.
"Kembali kau Joe! Kembali kata ku!" Jerit orang tua itu sambil menyusul. Tapi seperti di telan bumi. Joe sudah menghilang entah kemana.
Kini lelaki tua itu tampak celingak-celinguk melihat di sekitar halaman Villa itu. Namun tidak ada Joe terlihat di sana. Dia juga bertanya kepada para pengawal. Namun semuanya tidak melihat keberadaan Joe.
"Kemana anak setan itu perginya?" Kata Lelaki tua itu bertanya dalam hati.
"Kalian semua! Coba periksa rekaman cctv!" Kata lelaki tua itu.
"Baik Tuan besar!" Kata mereka bergegas memeriksa rekaman cctv. Namun tepat di jam sekian, layar di alat pemantau itu mendadak menjadi putih.
"Aneh." Kata mereka dalam hati lalu bergegas keluar untuk melihat kamera pengintai.
"Waduh. Apa itu?" Kata mereka melihat sesuatu yang berwarna putih menempel di setiap kamera pengawas.
"Tuan besar. Tidak ada rekaman video yang menunjukkan kemana perginya Tuan muda. Ini karena kamera pengawas telah tertutup oleh permen karet." Kata mereka melaporkan.
"Benar-benar anak setan!" Kata Tuan William dengan geram.