
Pagi itu, dengan ditemani oleh Harvey dan Lilian, Joe pun berangkat menuju bukit landai tempat Villa milik Joe yang dibangun oleh Drako kakeknya sebagai hadiah ulang tahun yang ke 17 tahun sekitar beberapa bulan yang lalu.
Awalnya, tujuan Joe datang ke sini adalah untuk melihat bagaimana cara Moreno mengerjakan renovasi Villa miliknya itu dan menemukan kesalahan untuk semakin membenamkan pemilik perusahaan Garden Company ini. Namun yang tak diduga oleh Joe adalah, di depan Villa itu kini tampak beberapa unit mobil mewah terparkir di depan Villa tersebut.
Dentuman suara musik juga menggema memenuhi Villa mewah itu membuat Joe, Harvey dan Lilian hanya saling pandang dengan ekspresi wajah yang sangat heran.
"Joe. Di sini lah bukit landai Garden Hill. Hanya ada satu-satunya Villa di sini yaitu Villa Top ini saja. Apa mungkin ini adalah Villa milik mu yang dibangun oleh kakek mu?" Tanya Lilian.
"Kakek ku juga bilang begitu. Hanya ada satu Villa di bukit landai Garden Hill." Jawab Joe. Bibirnya berucap. Namun matanya tidak lepas memperhatikan beberapa unit mobil yang terparkir di depan Villa itu.
"Sepertinya sedang ada pesta yang berlangsung di dalam." Kata Harvey pula.
"Ini benar-benar membuatku muak. Ini jelas menyalahi kontrak yang disepakati antara Tuan Barry dan Moreno. Jika suara mesin gerinda atau mesin drill, aku bisa maklum. Namanya juga renovasi. Tapi ini suara bising musik. Jelas mereka ini sedang mengadakan pesta, bukan melakukan pekerjaan renovasi." Kata Joe dengan geram.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Lilian.
"Ayo masuk saja!" Ajak Joe.
"Joe. Kendalikan amarah mu nanti. Kau tentu tidak ingin rencana mu gagal kan?!" Kata Harvey mengingatkan.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan." Jawab Joe acuh tak acuh.
"Tidak ada penjaga sama sekali Joe! Kita mudah untuk masuk."
"Ayo lah!"
"Vey. Usahakan kau dapat merekam beberapa Video nanti ya. Aku juga akan melakukan hal yang sama." Kata Joe sambil berbicara di dekat telinga Harvey.
Ketiga pemuda itu tampak berjalan santai menuju depan Villa itu.
Ketika mereka tiba di depan pintu, barulah mereka bertemu dengan seorang pengawal dengan pakaian hitam bergambar naga warna merah kecil di bagian dada sebelah kirinya.
"Hey. Apa yang kalian lakukan di sini?" Bentak lelaki itu dengan garang.
"Oh. Maaf pak. Saya adalah anak Tuan Riot. Nama saya adalah Lilian." Jawab Lilian sedikit gugup.
"Hahaha. Sampah Riot itu. Apa kau kira dengan menjual nama Riot itu, aku akan sungkan terdapat mu, hah? Pulang sana atau aku hajar kau!" Bentak pengawal itu.
"Anda hanya pengawal pak. Mengapa begitu kasar?" Tegur Joe yang sejak tadi sekuat tenaga menahan sabar.
"Berani sekali kau menegur ku. Apa kau tidak tau bahwa aku adalah anggota dari organisasi terbesar di negara ini. Perhatikan lambang ini! Jangan sampai aku membuatmu terkencing di dalam celana." Bentak lelaki itu.
"Begini pak pengawal. Ayah ku meminta aku untuk melihat-lihat Villa ini. Ini karena dia mendapat perintah dari pak Moreno untuk melakukan renovasi yang tertunda." Kata Lilian berbohong.
"Apa kau tidak tau bahwa di dalam ada Tuan muda Charles dan Tuan muda Milner? Di dalam juga ada Tuan muda Mario. Pulang saja dan datang lagi besok!" Kata Pengawal itu tetap tidak mengizinkan ketiga pemuda itu untuk memasuki Villa tersebut yang akhirnya menimbulkan pertengkaran diantara mereka.
Suara ribut-ribut di luar ternyata menarik perhatian Mario yang sejak tadi samar-samar mendengar suara orang yang lagi bertengkar di luar Villa itu.
Kini tampak seorang lelaki berusia sekitar 22 tahun keluar dari dalam Villa itu menghampiri keempat orang yang sedang terlibat pertengkaran tadi.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya lelaki muda itu.
"Oh. Tuan muda Mario. Ini ada anaknya Riot ingin melihat Villa ini atas perintah dari Ayahnya. Katanya Ayahnya mendapatkan perintah langsung dari Tuan Moreno." Jawab si pengawal itu.
"Hmm... Lilian. Ternyata itu kamu. Siapa kedua orang ini? Oh ya. Apakah kau menemukan seekor beruk di jalan? Mengapa yang satu ini persis seperti anak gorila?" Tanya Mario dengan kata-kata yang sangat melecehkan ketika melihat Joe.
Mendengar ini, Joe ingin segera mendamprat. Namun dicegah oleh Lilian.
"Mario. Kami ingin melihat-lihat keadaan Villa ini. Ayahku mendapat perintah dari Tuan Moreno." Kata Lilian kembali berbohong.
"Lilian.., Lilian. Mengapa kau tidak mengajak Renata kemari sekalian? Akan semakin indah jika dia juga ikut dalam pesta ini. Biar aku bisa menunjukkan seperti apa itu surga dunia kepada kakak mu itu." Kata Mario sambil tertawa.
"Bersabarlah Mario. Malam ini aku akan membawa kakak ku segera ke tempat acara peresmian kantor baru cabang Garden Hill ini." Kata Lilian.
"Ada apa Mario?"
Tampak dua orang pemuda dengan diapit oleh tiga wanita berjalan menuju mereka tadi.
"Lihatlah Charles! Lilian dengan dua sahabatnya anak beruk ini datang ke sini." Kata Mario menjawab pertanyaan pemuda yang baru tiba itu.
"Harvey?! Kau kah itu Harvey? Hahaha. Sudah lama aku tidak melihat mu. Apa kabar mu sahabat ku?" Tanya Charles dengan senyum mengejek. Sedikitpun dia tidak memperhatikan Joe William yang berada tepat di samping Lilian.
"Kabar ku baik-baik saja." Jawab Harvey singkat.
"Hahaha. Aku tau kau sangat kesusahan sampai-sampai tidak bisa melanjutkan kuliah mu. Mana yang katanya bersahabat baik dengan Joe William itu? Dia sama sekali tidak mengingat mu. Andai kau dulu bersahabat dengan ku, tentu kau tidak akan berhenti seperti ini. Kasihan sekali. Oh ya. Aku mengadakan pesta di Villa ini. Aku harap kau mau bergabung. Yah minimal lah sebagai pelayan."
"Kau?!"
"Alah sudahlah Harvey. Aku akan memberi mu uang. Tenang saja. Aku juga tau kau orang miskin. Kau belum pernah merasakan masuk ke dalam Villa mewah kan? Ayo lah. Ajak juga sahabat mu yang hitam itu untuk masuk!" Kata Charles lalu segera menggandeng seorang wanita muda kembali memasuki bagian dalam Villa itu.
Geram sungguh hati Joe mendengar bahwa dia dikatakan hitam legam, lalu dikatakan anak beruk dan anak gorila. Padahal dia anak Jin iprit.
"Tunggu apa lagi? Tadi kalian ingin masuk. Sekarang sudah dipersilahkan, mengapa tidak segera masuk?" Bentak pengawal itu.
"Ayo Lilian. Ayo Joe. Bukankah kau ingin mengambil rekaman Video?!" Bisik Harvey.
"Ya sudah ayo!" Kata Joe.
Sekuat tenaga Joe William ini menahan kemarahan yang meluap-luap. Sejak dulu sampai sekarang ternyata Charles dan Milner ini sama sekali tidak berubah. Sukanya hanya menghina orang saja.
"Nah. Kalian lihatlah Villa ini. Megah bukan. Hahaha. Kalian jangan bermimpi bisa masuk ke dalam Villa super mewah ini. Apa kau tau bahwa Villa ini seharga seratus delapan puluh juta? Jangankan memasuki Villa ini. Berdiri di depan pagar nya pun kalian pasti sudah di usir oleh petugas keamanan. Sekarang berterimakasih lah kepada ku!" Kata Charles dengan bangganya.
Sementara itu, Mario dan Miller tampak sedang asyik berjoget dengan beberapa orang lagi anak-anak muda yang sebaya dengan mereka.
Tampak mereka semua dalam keadaan mabuk dengan banyak botol minuman keras berserakan di atas meja panjang yang terbuat dari batu giok itu merah itu.
"Terimakasih Tuan Charles!" Kata Harvey membungkuk membuat Charles tertawa terbahak-bahak dengan cuping hidung semakin mengembang.
"Baiklah. Kalian bisa membereskan botol minuman itu. Masukkan ke dalam kotak yang ada di sana itu!" Kata Charles dan langsung bergabung dengan yang lainnya untuk kembali menari.
"Sudah kau ambil rekaman video nya Joe?" Tanya Lilian.
"Sudah. Kalian cepatlah turuti keinginan Charles itu. Aku akan mencari tempat untuk menyembunyikan ponsel ku." Kata Joe.
Setelah dapat merekam Video dan beberapa gambar di Villa itu, Joe pun kini memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya.
Untung tadi Lilian sempat berbohong mengatakan bahwa dia ingin melihat-lihat Villa ini dan mengambil beberapa gambar. Jadi, mereka tidak ada yang curiga ketika Joe seolah-olah mengambil gambar. Padahal yang dilakukan oleh Joe adalah merekam seluruh aktivitas mereka di Villa milik nya ini.
"Kalian tunggu lah. Waktunya akan tiba." Kata Joe dalam hati.
Ketika semuanya sudah selesai, kini Lilian berpamitan untuk kembali sambil diiringi oleh teriakan Mario agar Lilian jangan lupa membawa kakaknya untuk menghadiri acara peresmian kantor cabang milik Future of Company itu nanti malam.
Lilian tidak menggubris teriakan dari Mario ini. Dia hanya berjalan dengan cepat menyusul Joe dan Harvey yang sudah hampir mendekati seorang pengawal yang duduk santai di dekat pintu dengan sebotol anggur tergenggam di tangannya yang besar itu.
"Kemana lagi kita Joe?" Tanya Lilian setelah mereka sampai di luar pagar.
"Pulang saja. Istirahat untuk persiapan malam nanti." Jawab Joe singkat.
"Ayo Vey. Kita cari Taxi." Ajak Lilian.
Mereka bertiga lalu berjalan cepat melewati depan rumah kepala desa di Garden Hill bagian barat ini. Setelah mereka tiba di depan jalan raya, mereka lalu duduk di sebuah halte bus menunggu kalau-kalau ada taksi yang lewat untuk mengantar mereka kembali ke perumahan staf milik Garden Company itu.
JANGAN LUPA SETELAH SELESAI BACA, DI LIKE!