Joe William

Joe William
Pembantaian



Mobil yang dikendarai oleh Ucok dan Jabat yang ditugaskan oleh Tigor dan Joe untuk menjemput Albern di bandara, terus melaju dengan kecepatan tinggi.


Ucok, yang saat itu menjadi juru kemudi, tampak sangat lihai dan benar-benar menguasai daerah tersebut. Namun, secepat apapun kendaraan yang dia kemudikan, beberapa unit mobil yang membuntuti mereka tetap mampu mengejar. Bahkan, jumlahnya kini malah bertambah.


Di belakang, tepat di dalam mobil Audi Q3 yang dikendarai oleh dua orang anak muda, Joe tampak beberapa kali menggeram menahan kemarahan.


Sesekali dia melirik ke arah layar ponsel nya, apakah panggilan group masih berlangsung atau tidak. Setelah memastikan bahwa panggilan tersebut masih berlangsung, dia segera memberikan perintah. "Paman Tigor! Persiapkan orang-orang kita. Aku sudah tidak tahan. Gatal sekali rasanya!"


Namora yang berada disampingnya hanya melirik saja tanpa ekspresi. Persis seperti boneka karet. Sesekali, dia melirik ke arah Joe. Kemudian, matanya dengan tajam menatap ke depan.


"Baik, Ketua. Sepertinya, dalam lima menit lagi, Ucok dan Jabat akan tiba di titik yang sudah kita tentukan."


"Perkebunan kelapa?" Tanya Joe.


"Benar, Ketua!"


"Baiklah!"


"Paman Ucok! Kurangi kecepatan!" Perintah Joe.


"Siap, Ketua!" Jawab Ucok. Lalu, di depan sana, mobil yang dikendarai oleh Ucok, Jabat dan Albern memperlambat kecepatannya.


Dengan tangan kirinya, Joe mengeluarkan kotak kayu kecil penuh ukiran.


Sambil meraba-raba kedalam peti kayu tersebut, kini di tangan kirinya tergenggam sebilah rencong Atjeh baik dari gagang dan sarungnya berwarna kekuningan.


Mendadak bola mata Joe berubah kemerahan dan sedikit berair, membuat Namora yang tidak pernah merasa takut dalam hidupnya terpaksa bergidik juga.


Dia jelas tau riwayat senjata itu dari Ayahnya dan juga dari Pamannya yaitu, Rio.


Tepat ketika mereka mulai mendekati area perkebunan kelapa di Tanjung Karang menuju ke kota Kemuning, tiba-tiba saja Joe mempercepat laju kendaraannya dan menyalib beberapa mobil yang sejak tadi mengekori mobil yang dikendarai oleh Ucok.


Ketika kedua mobil itu telah sejajar, Joe melambaikan tangannya membuat Ucok segera menepi dan berhenti total di bahu jalan.


Hal ini membuat para penguntit berpikir bahwa mobil Audi Q3 itu adalah bagian dari mereka. Tapi, apa sial? Ketika mereka turun dan hendak mengepung mobil yang dikendarai oleh Ucok, Jabat dan Albern yang sudah berhenti tadi, tiba-tiba mobil Audi Q3 itu maju beberapa belas meter ke depan, kemudian berbalik arah, lalu merempuh pintu kendaraan mereka yang baru terbuka. Akibatnya, beberapa orang terjepit oleh pintu mobil yang baru saja terbuka tadi.


Bruuuum!


Bruuum..!


Criiiiit.... Suara rem diinjak dengan paksa. Lalu...,


Praaaak


Boom!


Beberapa kaki tampak kelojotan dengan tubuh mereka sudah terjepit oleh pintu mobil. Jerit dan pekik keterkejutan menambah lagi suasana yang mengerikan itu.


Keadaan mobil Audi Q3 itu juga tidak kalah parah. Bumper mobil tersebut sudah tidak karuan bentuk lagi. Mungkin inilah alasan Joe tadi menanyakan berapa harga mobil Audi Q3 ini kepada Namora.


Baru saja Joe keluar dari mobil bersama dengan Namora, dari arah Kota Kemuning tampak puluhan bahkan ratusan sepeda motor dengan pengendaranya membawa pentungan, berhenti tepat di tengah jalan, sehingga kini, tidak ada satupun mobil yang bisa lewat di jalan tersebut.


"Suruh Albern Miller itu keluar, Paman!" Perintah dari Joe tadi segera dituruti oleh Ucok.


Begitu Albern keluar dari mobil tadi, para penguntit yang sempat terkejut atas kejadian yang spontan itu langsung saling pandang dengan yang lainnya.


"Jangan buang waktu! Segera bereskan!" Bentak Joe yang langsung menghunus rencong yang berada di tangannya. Akibatnya, banyak diantara mereka yang jatuh mencium aspal akibat serangan yang sangat cepat dari Joe tadi.


Terhitung jumlah penguntit yang ingin mencelakai Honor hampir 20 orang. Dan kini, sebagian besar dari mereka telah tewas ditangan Joe. Sisanya, persis seperti tilam yang dijemur. Di pukuli dengan rotan oleh puluhan orang-orang yang datang dengan sepeda motor tadi.


Saat ini, Joe tampak sedang mengayunkan rencong yang berada di tangannya. Dia bermaksud untuk menikam seorang lelaki setengah baya yang sepertinya adalah ketua dari para penguntit tadi. Tapi, belum lagi senjata itu mengenai sasaran...,


"Joe. Jangan bunuh orang itu! Biarkan saja dia pulang membawa kabar kepada majikannya!"


Joe mengurungkan niatnya untuk menikam orang tadi. Lalu, dia pun menoleh ke arah datangnya suara yang ternyata adalah Albern Miller.


"Idea yang bagus!" Kata Joe sambil tersenyum jahat.


"Kemarikan kedua tangan mu!" Pinta Joe.


"Ampun. Ampuni saya, Tuan!" Kata lelaki itu ketakutan. Kini, di bagian bawah celananya sudah basah oleh cairan kekuningan dengan aroma khas yang sangat syahdu menerpa hidung.


"Kau yang menyerahkan, atau aku renggut dengan paksa?!"


"Ampuni saya Tuan!"


"Namora! Tarik tangan lelaki ini!"


Namora segera melompat sambil mengirim tendangan ke arah perut lelaki itu. Setelah lelaki tadi terbungkuk akibat tendangan dari Namora, dia pun segera menarik tangan lelaki itu dan mengarahkannya kepada Joe.


"Katakan kepada tuan mu, jadilah tamu yang baik! Ini rumah orang. Kalau masuk, berikan salam!"


Crash...!


Crasssss...!


"Arrrrrgh...!" Melengking tinggi suara lelaki itu ketika Joe memotong dua kelingking jari tangannya.


"Katakan juga kepadanya, bahwa aku, akan menyelesaikan hitung-hitungan. Satupun dari kalian, tidak akan bisa kembali ke Hongkong dengan selamat. Boleh kembali, tapi harus tanpa nyawa!"


"Lepaskan dia! Lalu, bakar semuanya! Pastikan bahwa semuanya terlihat seperti kecelakaan beruntun!"


Baik Ucok, Jabat, Sugeng, Thomas, Ameng, Acong, Albern serta yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Joe yang dengan santai memotong jari kelingking orang tadi. Sama sekali dia tidak memiliki ekspresi. Lebih dingin dari Namora.


Setelah kepergian Joe dan Namora yang diikuti oleh pentolan yang lainnya, Kini anak-anak Dragon Empire cabang kota Kemuning mulai melakukan pembersihan.


Gerak cepat pun tampak terlihat ketika mereka dengan cekatan mengangkat mayat-mayat orang-orang suruhan Honor dan memasukkan kembali ke dalam mobil.


Setelah semua mayat-mayat tadi dimasukkan kedalam mobil, mereka beramai-ramai mulai mengangkat mobil tersebut hingga ada yang melintang, terbalik, miring, dan lain sebagainya.


Tak berapa lama, api pun menyala membakar kendaraan tadi, seiring dengan perginya mereka.


Setelah beberapa menit mereka meninggalkan tempat pembantaian itu, barulah dari arah kota Tanjung Karang, berdatangan beberapa mobil polisi dan mobil pemadam kebakaran.


Kerja-kerja investigasi pun langsung dilakukan oleh pihak kepolisian tanjung karang. Tapi, dengan keadaan terbakar seperti itu, sangat sulit untuk menemukan bukti. Hingga sampai saat ini, pihak kepolisian hanya bisa merumuskan kejadian itu sebagai kecelakaan beruntun. Padahal, sekitar satu jam yang lalu, ada peperangan kecil yang terjadi di tempat itu.


Bersambung...