Joe William

Joe William
Membekuk pengintai



Joe, yang baru saja tiba di area parkir sambil menunggang troli nya dengan didorong oleh ke-empat pengawal wanitanya berhenti sejenak lalu memandang ke arah belakang begitu mendengar ada suara memanggil namanya.


Ketika dia menoleh, tampak seorang gadis muda belia yang dia kenal dengan nama Xenita berlari-lari kecil menghampiri dirinya.


"Mau kemana kak? Mengapa buru-buru sekali?" Tanya gadis itu.


"Ternyata kamu Xenita. Ada apa?" Tanya Joe sambil tersenyum.


"Ah. Tidak apa-apa. Hanya ingin sekedar bertanya saja. Oh ya Kak. Kapan Kak Joe akan pergi lagi ke Kuala Nipah?" Tanya Xenita.


"Mengapa? Kau rindu dengan Namora?" Tanya Joe menggoda.


"Ah. Eh.., tid-tidak.., tidak juga." Jawab gadis itu tergagap.


"Aku masih punya urusan di sini. Mungkin dua tahun lagi aku baru kembali ke sana. Aku masih harus kuliah. Ini saja aku sudah terlambat mendaftar gara-gara banyak urusan. Mungkin menganggur dulu lah satu satun. Setelah itu baru melanjutkan kuliah." Kata Joe menjawab pertanyaan dari Xenita.


Dia tau maksud dari pertanyaan gadis ini. Hanya saja sebagai seorang gadis, dia pasti malu untuk terlalu terbuka.


"Dua tahun lagi kak?" Hmmm... Ada apa dengan dua tahun lagi?" Tanya Xenita.


"Dua tahun lagi akan ada penguburan jenazah secara massal di Kuala Nipah dan di kota Batu. Makanya aku memutuskan untuk kembali ke sana dalam waktu dua tahun lagi." Jawab Joe.


"Penguburan jenazah secara massal?"


"Ah sudahlah. Otak mu belum sampai untuk memikirkan ke arah sana. Sebaiknya jangan dipikirkan, dan tutup mulutmu! Anggap saja aku tidak pernah bicara seperti itu kepada mu!" Sergah Joe dengan cepat.


"Kak. Kemana kau nanti akan melanjutkan kuliah mu?" Tanya Xenita.


"Aku tidak tau. Beberapa rencana sudah gagal. Awalnya dulu aku ingin melanjutkan kuliah di Golden University. Tapi gagal. Lalu ayah berencana untuk memasukkan ku ke Garden university. Juga gagal gara-gara beberapa masalah. Makanya tidak perlu berencana. Ikuti alur nya saja lah."


"Bagaimana kalau kita kuliah di Amerika atau Eropa? Lebih seru tuh." Ajak Xenita.


"UNIMED ada. Trisakti ada. ITB ada. Sudahlah. Jangan membuat jiwa tak mampu orang lain jadi berdarah karena menyebutkan nama-nama university luar negri seperti itu. Hanya menang nama saja. Padahal kualitas nya tidak jauh beda. Jangan terlalu bangga dengan luar negeri kalau produk lokal saja tidak kalah bagusnya."


"Xenita. Kau masuk lah ke dalam! Aku tidak ingin terjerat nantinya. Setelah aku terlepas dari rencana gila kakek uyut ku yang gila kuasa itu, malah dia nanti akan mengalihkan perhatiannya kepada dirimu. Apa kau mau dijodohkan dengan ku? Lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut komodo. Makin parah." Kata Joe sambil memanggil salah seorang pengawal yang berdiri di depan hotel mutiara itu.


"Ya Tuan muda. Apakah ada perintah?" Tanya pengawal itu.


"Aku ingin mobil. Siapkan dua mobil untuk mengantar ku ke Villa Smith!" Kata Joe.


"Kau buru-buru sekali kak?! Apa kau tidak punya waktu untuk berbicara sebentar saja dengan ku?" Tanya Xenita setelah pengawal itu berlalu untuk melaksanakan perintah dari Joe.


"Xenita. Sekali ini tolong jauhi aku. Tugas ku berat. Aku tidak mau nanti kakek William ku salah faham. Tolong menjauh dari ku!" Pinta Joe dengan lembut.


"Tapi Kak?"


"Pergi kata ku!" Bentak Joe yang mendadak berubah jadi sangat bengis.


Xenita mendadak terkejut dan tidak menyangka ternyata Joe bisa marah juga.


Sambil tertunduk menahan tangis, Xenita pun akhirnya mundur beberapa langkah lalu segera berpaling dan lari memasuki lobby hotel.


"R1. Pimpin saudara mu! Kejar orang yang berada di balik gang itu!" Perintah Joe.


Sejak tadi dia melihat ada dua orang lelaki berpakaian hitam mengintai dirinya dari seberang jalan raya.


Begitu mendapat perintah, keempat wanita itu langsung menyebar dan bertemu di satu arah dan langsung menikung dua orang lelaki yang bersembunyi sambil memata-matai Joe William tadi dari arah samping, depan, dan belakang.


Bugh!


Plak!


"Hoegh.."


Tidak ada jawaban dari keempat wanita itu. Sebagai bentuk tindakan, mereka hanya menjambak kerah baju lelaki itu lalu menyeretnya memasuki gang tersebut semakin ke dalam lalu menghajar mereka berdua sampai babak belur di lorong gelap itu.


Tak lama berselang, dua unit mobil BMW pun berhenti di depan gang itu dan tampak Joe keluar sambil diiringi oleh dua orang pengawal.


"Kalian tunggu di sini saja! Aku akan mengorek keterangan dari orang itu." Kata Joe lalu segera melangkah dengan santai memasuki gang gelap tersebut.


Sampai di depan pengintai tadi, Joe langsung menanyakan apa maksud dari kedua orang itu memata-matai dirinya.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut mereka selain rintihan dan erangan kesakitan karena dihajar oleh empat pengawal wanita tadi.


"Apa kalian yakin tidak mau menjawab pertanyaan ku?" Tanya Joe dengan masih tetap menahan kesabaran.


"Tuan muda. Mereka ini tidak akan membuka mulut jika tidak di siksa. Saya memiliki metode penyiksaan yang sangat pedih untuk mereka agar mau membuka mulut." Kata R1.


"Seret mereka ke dalam mobil. Nanti kita fikirkan kemana kita akan membawa orang ini." Kata Joe lalu berjalan mendahului untuk keluar dari lorong yang gelap itu.


"Pengawal. Apa kau tau di sini tempat sepi yang bisa menyiksa orang?" Tanya Joe.


"Ada Tuan muda. Sekitar satu jam perjalanan dari sini. Tepatnya di sebuah jembatan penghubung antara Metro City dan MegaTown." Jawab pengawal itu.


"Ayo kita ke sana!" Kata Joe memberi perintah.


Kini dua unit mobil BMW itu segera tancap gas menuju jembatan yang dikatakan oleh pengawal tadi.


Tiba di ujung jembatan, salah satu dari pengawal Joe langsung menendang lelaki pengintip tadi dan langsung jatuh berguling-guling ke tanah berumput di bawah jembatan itu.


Kini sambil mengikuti Joe, mereka lantas berjalan perlahan mendekati kedua lelaki tadi dan langsung menjambak kerah bajunya untuk berdiri.


"Aku peringatkan sekali lagi. Jangan katakan bahwa aku tidak haus darah. Namun, jika kau menjawab dengan jujur, maka aku akan melepaskan mu." Kata Joe masih tetap mencengkram kerah baju lelaki itu.


"Tu-tu-Tuan Miller. Tuan Miller yang menyuruh ku untuk mengintai pergerakan anda." Jawab lelaki tadi.


"Bagus. dengan begini, aku tidak perlu menyuruh pengawal ku untuk melakukan metode penyiksaan terhadap kalian."


"Pisau!" Kata Joe sambil menampung kan telapak tangannya.


Tampak salah satu dari pengawal wanita itu memberikan pisau kepada Joe.


"Hahaha. Aku akan mengirim mu untuk kembali ke rumah milik keluarga Miller. Tetapi sebelum itu aku akan memberikan sedikit kenang-kenangan untuk mu." Kata Joe.


"Buka telapak tangannya!"


Begitu perintah keluar, mereka semua langsung menjambak rambut lelaki tadi dan dua orang lainnya langsung menarik tangan kiri lelaki itu.


Crash!


"Argh..."


Terdengar suara jeritan melengking dari mulut pengintai tadi bersamaan dengan jatuhnya potongan jari kelingking ke tanah.


"Satu lagi!" Perintah Joe.


Cras..!


"Akh...!"


"Katakan nanti kepada Tuan mu itu. Tidak mudah untuk memata-matai Joe William. Suruh dia untuk mencari orang yang lebih hebat lagi. Karena aku di didik dengan berbagai kekerasan dan berbagai metode yang sangat kasar. Untuk mengelabui ku, kalian yang seperti ini belumlah cukup." Kata Joe.


"Kalian tunggu di sini dan jangan ikuti aku. Aku akan mengirim sialan ini ke rumah milik keluarga Miller di MegaTown." Kata Joe lalu memerintahkan agar kedua orang itu di masukkan kembali ke dalam mobil.