Joe William

Joe William
Serangan keluarga Clifford terhadap Keluarga Moralez



Quantum Housing area


Mobil BMW yang dikendarai oleh Joe sebagai sopir dan Tye serta Sylash yang menjadi penumpang akhirnya tiba di sebuah rumah di bagian barat Quantum Housing area ini.


Setelah mengetahui bahwa rumah itu adalah rumahnya Tye, Joe pun langsung memasuki halaman rumah tersebut yang kebetulan pagarnya tidak di kunci dan dibiarkan terbuka begitu saja.


"Aneh sekali. Sudah pukul dua subuh. Tapi mengapa pagar rumahmu pintunya tidak di kunci? Rumahmu juga terlihat terang benderang. Sepertinya kedatangan kita sedang di tunggu," kata Joe yang membuat Tye segera meluruskan posisi duduknya agar lebih tegak.


"Benar katamu Joe. Hatiku merasa tidak enak," kata Tye pula dengan raut wajah penuh dengan tanda tanya.


"Sylash. Kau tunggu lah di sini ya. Nanti aku akan membantu mu. Siapa tau Tye nanti kena marah, kau tidak ikut-ikutan terkena imbasnya," kata Joe kepada Sylash yang saat ini masih saja mengerang kesakitan.


Joe William pun kini membatu Tye berjalan dengan cara memapah tubuh nya menuju ke arah pintu rumah yang sepertinya juga tidak di kunci.


"Sepertinya kita memang sedang di tunggu, Tye," bisik Joe.


"Dorong saja pintunya, Joe! Kemungkinan keluarga ku dalam masalah," ujar Tye yang sudah membayangkan apa yang bakalan menimpa keluarganya.


"Nah. Itu dia anak celaka ini sudah pulang? Ada apa dengan mu hah? Mengapa kau tampak seperti sekarat seperti itu?"


Baru saja Joe dan Tye menjenguk 'kan kepalanya di depan pintu, mereka sudah dikejutkan oleh bentakan dari Tuan Moralez.


"Ayah..," kata Tye melangkah memasuki rumah sambil masih berpegangan pada pundak Joe.


"Kenapa dengan mu, Tye?" Tanya Nyonya Moralez heran melihat anaknya berjalan dengan kaki pincang dan bertumpu di pundak seorang pemuda yang sebaya dengannya.


"Aku di keroyok oleh orang-orang suruhannya Duff," jawab Tye.


"Apa yang kau lakukan di luar sana hah? Mengapa kau mencari masalah dengan anak keluarga Clifford? Kau tau sekarang apa yang telah menimpa keluarga kita?" Bentak Tuan Moralez.


"Aku tidak melakukan apa-apa, Ayah. Semua ini berawal dari aku menghadiri undangan dalam acara ulang tahun, Ruby," lalu Tye pun menceritakan semuanya. Dari mulai dia mendapat hinaan, sampai pada akhirnya dia dicegat dan dikeroyok di pinggir jalan.


Mendengar penjelasan dari anak lelakinya ini, Tuan Moralez hanya tertunduk lesu.


"Semuanya sudah berakhir. Hancur sudah usaha Mebel ku," kata Tuan Moralez seperti meratap.


"Sebenarnya, apa yang terjadi, Ayah?"


"Tuan Clifford telah menyerang perusahaan kita. Dia melobi semua perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan mebel kita untuk memutuskan seluruh kesepakatan kerja sama. Mulai besok, kita sudah tidak lagi bisa memasok barang-barang milik kita ke perusahaan furniture milik mereka. Hancur sudah. Bahkan, kesepakatan dengan nilai 100 ribu dollar pun dibatalkan secara sepihak. Padahal stok barang perabotan kita tinggal dia hari lagi rampung sesuai dengan permintaan mereka. Kacau sudah. Ayah saat ini malah berhutang dengan bank sebanyak 50 ribu dollar. Dari mana uang untuk membayar hutang tersebut jika barang-barang dari perusahaan mebel milik kita tidak laku?" Keluh Tuan Moralez hampir menangis.


"Kejam sekali mereka ini," gumam Joe pelan. Namun, cukup jelas untuk sampai ke telinga ibu dan ayah Tye.


"Siapa sahabat mu ini? Suruh dia duduk!" Kata Nyonya Moralez menyuruh anaknya untuk mengajak Joe agar duduk di kursi.


"Hallo Paman. Nama saya, Joe William," kata Joe membungkukkan sedikit badannya.


"Duduk lah nak," suruh Nyonya Moralez sambil memaksakan untuk tersenyum.


"Beruntung ada Joe ini, Bu. Jika tidak, mungkin Tye sudah mati dihajar oleh orang-orang dari Kryptonite," kata Tye.


"Tye tidak mencari masalah dengan Duff Clifford itu, Ayah. Apakah salah jika Tye menghadiri pesta ulang tahun sahabat Tye. Ayah juga tau kan bagaimana aku sangat akrab dengan Ruby,"


"Paman. Jika hanya berhutang 50 ribu USD saja, apakah saya boleh membantu Paman? Nanti untuk masalah perabotan yang masih menumpuk di gudang karena tidak laku, saya akan mencoba menanyakan kepada kenalan ayah saya di Starhill. Mudah-mudahan ayah saya bisa mencarikan pembeli ataupun mencarikan mitra usaha untuk perusahaan mebel milik paman," kata Joe mencoba meringankan beban keluarga itu.


"Uang dari mana Joe? Kau jangan mempersulit dirimu sendiri. Berapa kandang lagi sapi ayah mu akan kau jual untuk membantu keluarga ku?" Tanya Tye yang merasa tidak enak dengan sahabatnya itu. Baru juga sekali menginjak rumahnya, sudah harus merasakan beban keluarga itu. Malu juga rasa hatinya.


"Kau tenang saja. Kalau aku mengatakan mampu, berarti aku mampu."


"Bagaimana, Paman? Jika paman bersedia, saya akan mentransfer uang dengan jumlah yang paman butuhkan ke nomor rekening Paman," kata Joe.


Tidak menunggu jawaban, Joe langsung mengeluarkan ponsel miliknya dan membuka aplikasi salah satu bank tempatnya menyimpan uang.


"Terimakasih nak. Tapi, bagaimana dengan dirimu nanti? Paman tidak bisa berjanji akan mengembalikan uang mu dalam waktu dekat," kata Tuan Moralez yang tampak ragu dan sungkan.


"Tenang saja, Paman! Saya masih memiliki lembu sekitar dua ratus ekor lagi. Itu saja cukup untuk saya sampai tua," jawab Joe berusaha serius. Dia khawatir akan tertawa dengan tingkahnya itu. Tentu tidak lucu jika tertawa dihadapan orang yang sedang mengalami kesulitan.


"Baiklah, Nak," kata Tuan Moralez terharu. Lelaki paruh baya itupun meraih ponselnya yang terletak di atas meja tidak jauh dari kursi duduknya.


Setelah membuka kunci pada ponsel itu, dia segera menunjukkan kode QR kepada Joe yang langsung di scan oleh pemuda itu.


Kring!


Terdengar suara notifikasi masuk ke ponsel Tuan Moralez yang menandakan satu pesan baru saja masuk.


Begitu lelaki paruh baya itu membuka isi pesan tersebut, wajahnya mendadak berubah ceroa, karena di dalam pesan tersebut, seseorang baru saja berhasil mentransfer uang sebanyak lima puluh ribu dollar ke dalam akun bank miliknya.


"Terimakasih, Nak Joe. Paman berjanji akan secepatnya membayar uang yang kau pinjamkan ini," tampak mata Tuan Moralez berkaca-kaca sambil menatap penuh syukur kearah Joe.


"Ah. Paman jangan terlalu sungkan dengan saya. Anggap saja saya ini anak Paman juga. Saya dan Tye berteman akrab. Selayaknya anda juga saya anggap sebagai orang tua saya," kata Joe dengan senyuman mengembang di wajahnya.


"Joe.., bagaimana dengan Sylash?" Tanya Tye sambil mendelikkan matanya.


"Ya ampun. Aku sampai lupa," kata Joe bergegas bangkit berdiri.


"Sylash? Siapa lagi itu?" Tanya ibu Tye.


"Sylash. Dia juga adalah sahabat Tye. Dia saat ini tidak jauh berbeda dengan Tye. Sama-sama babak belur. Hanya Joe saja yang tampak masih segar bugar," jawab Tye.


"Heh. Mengapa sahabat mu kau tinggalkan di dalam mobil? Cepat lah ajak dia masuk!" Perintah Tuan Moralez.


"Ba-ba-baik, Paman!" Kata Joe lalu segera keluar rumah menuju mobil untuk menjemput Sylash yang sudah mendengkur tertidur.


Jangan lupa like nya setelah baca!


Bersambung...