Joe William

Joe William
Terbunuhnya Irfan



Puluhan petugas kepolisian berpakaian ala preman tampak berada di sekitar gang Kumuh dan sekitarnya. Mereka sengaja ditugaskan oleh Rio yang kali ini tidak ingin kecolongan.


Tepat ketika para anggota kepolisian tiba di gang Kumuh, di sana juga sudah ada anggota Tiger Syam yang menyamar dan berjaga-jaga di sekitar kawasan tersebut secara sembunyi-sembunyi.


"Cek cek cek!"


"Merpati satu. Masuk!"


"Merpati satu, siaga!"


"Awasi traffic light gang Kumuh menuju kompleks elite!'


"Di copy, Komandan!"


"Merpati dua!"


"Merpati dua siaga!"


"Awasi sekitar jembatan kota Tasik Putri!"


"Di copy!"


"Jangan biarkan tikus-tikus lolos. Segera atur posisi kalian masing-masing!"


Begitu mendapat perintah, satu persatu dari mereka mulai berpencar menempati posisi yang telah ditetapkan.


"Komandan, masuk!"


"Bagaimana? Apakah target sudah menampakkan diri?"


"Saat ini buruan sedang berada di pusat hiburan Dunia gemerlap malam. Buruan sepertinya akan meninggalkan pusat hiburan tersebut!"


"Atur jarak. Tugas kalian hanya menangkap pelaku yang telah mencederai buruan. Tangkap agar kita bisa mengintrogasi mereka!"


"Siap!"


Memang saat itu, Irfan baru saja melakukan pertemuan dengan Zacky untuk mengadukan perihal perseteruan tiga segi antara dirinya, Butet dan juga Marven. Tapi sialnya, Zacky sama sekali tidak memperdulikan masalah internal dalam tubuh organisasi kucing hitam. Yang mereka inginkan adalah, keuntungan yang mereka keruk dengan bisnis yang mengatasnamakan Martins Group. Bagi keluarga Miller, siapapun pemegang saham 30% dan CEO di Martins Group, sama saja. Sama-sama akan dijadikan bantalan bagi bisnis haram yang mereka jalankan.


Dengan menahan kekecewaan, akhirnya Irfan pun meninggalkan pusat hiburan tersebut dengan tujuan, mencari keberadaan Marven. Rencananya, dia ingin membongkar borok Butet. Dengan begitu, dia memiliki alasan mengapa menghilangkan diri beberapa hari ini.


Kini, mobil Irfan benar-benar telah tiba di traffic light antara Gang Kumuh, Kompleks elite, kita batu dan Kuala Nipah.


Ketika lampu telah menunjukkan warna hijau, Irfan pun segera memacu kendaraannya ke kiri, dengan tujuan Gang Kumuh.


Awalnya perjalanannya sangat lancar. Namun, begitu tiba di jalan sepi, beberapa kendaraan mulai menyalib mobilnya.


Irfan sedikit kebingungan ketika dia merasa sesuatu yang tidak wajar. Karena, kini mobil yang dia kendarai benar-benar terjepit diantara kepungan beberapa mobil dengan plat nomor kendaraan kota Batu.


"Celaka. Apakah mereka mengendus rencana ku?" Pikir Irfan dalam hati.


Gubrak!


Criiiiit!


Terdengar suara benturan diselingi dengan suara berderit ban yang di rem secara mendadak.


Irfan berusaha membanting stir mobil yang dia kendarai ke kiri. Namun, walaupun dia mengalah, tetap saja mobil di sebelah kanannya semakin mendesak. Hingga akhirnya, mobil milik Irfan benar-benar terpojok dan sudah tidak menapaki aspal lagi.


Criiiit...! Mobil yang di belakang menekan rem secara mendadak. Begitu juga dengan mobil yang di kanan tadi, dan juga yang berada di belakangnya.


Dari dalam, keluar sekitar delapan orang lelaki muda dengan dipimpin oleh dua orang lelaki tua.


"Mau apa kalian?" Tanya Irfan ketika orang-orang itu sudah mendekati mobilnya.


Sebagai jawaban, mereka mulai memukuli kaca mobil milik Irfan baik yang di samping, maupun yang di depan sehingga berderai.


Mendapat perlakuan seperti itu, Irfan segera melindungi wajahnya dari pecahan kaca mobil tadi.


"Seret pengkhianat itu keluar!" Perintah lelaki setengah baya tadi.


Delapan orang tadi langsung membuka paksa pintu mobil Irfan, lalu menyeret lelaki itu dengan paksa.


"Heh. Ada apa dengan kalian hah? Ini aku, Irfan. Apakah kalian salah meminum obat?"


"Kami tidak memiliki waktu untuk berbicara panjang kali lebar kali luas dan kali tinggi. Kau adalah pengkhianat. Kami telah membuntuti mu dalam dua hari ini. Kau ingin melindungi Marven hah? Sekarang, cobalah untuk melindungi nyawa mu sendiri!"


Bugh!


"Uhuk.., uhuk.., uhuk..!"


Pukulan dan tamparan kini mendarat di tubuh dan wajah Irfan, membuat orang itu tertunduk menahan mual.


Sejenak dia merasakan apa yang dia makan tadi, akan segera melompat keluar dari mulutnya.


"Selesaikan segera!" Perintah lelaki tua yang menjadi pemimpin rombongan pengejar tadi.


"Aku memberimu waktu satu menit untuk berdoa. Kemudian, ucapkan selamat tinggal kepada dunia!"


"To.., tolong. Tolong jangan bunuh aku!" Pinta Irfan ketakutan.


"Waktu mu sudah habis!"


Begitu kata-kata dari lelaki tadi selesai diucapkan, sebatang pemukul baseball pun mendarat dengan telak ke arah kepala Irfan.


Prak!


Bugh!


Darah berhamburan dari kepala yang dihantam dengan pemukul baseball tersebut disusul dengan ambruknya tubuh Irfan mencium bahu jalan.


"Cepat tinggalkan tempat ini!"


Mereka lalu segera berlari menuju ke arah mobil masing-masing dengan niat melarikan diri. Tapi sebelum itu...,


"Jangan ada yang bergerak, atau kami akan menembak kalian!"


"Harap untuk menyerah, karena kalian telah terkepung!" Terdengar suara dari orang yang mengenakan pengeras suara, membuat para anggota geng Tengkorak yang membunuh Irfan tadi menjadi kalang kabut.


Dor! Dor! Dor!


Beberapa butir peluru melesat ke arah kaki mereka, membuat tiga orang segera ambruk dan mengerang kesakitan.


"Kita telah terjebak!"


"Bagaimana ini pak Anggiat?" Tanya yang lain panik.


"Lawan. Jika kita tertangkap, kita juga akan menerima hukuman yang berat!" Jawab lelaki tua tadi.


"Kalian tidak punya pilihan selain menyerah. Angkat tangan kalian, dan merapat ke arah mobil!"


"Persetan dengan kalian!" Teriak pak Anggiat yang mulai mengarahkan pistol yang berada di tangannya ke arah polisi berpakaian preman itu secara acak. Namun belum lagi dia menarik pelatuk pistolnya, tiba-tiba dari arah Gang Kumuh melesat sebutir peluru yang tepat menghantam pergelangan tangannya.


"Arrrrrgh...!"


Pak Anggiat menjerit kesakitan. Sedangkan pistol yang berada di tangannya tadi entah kemana perginya.


"Kami telah memperingatkan bahwa tidak ada yang bisa melarikan diri dari tempat ini. Jangan mengira bahwa kami tidak menempatkan beberapa orang sniper di kawasan gang Kumuh ini!"


"Kami hitung sampai tiga. Jika kalian tidak menyerah, maka kalian akan terbunuh, atau mengalami cacat tembak pada kaki!"


"Satu!"


"Dua..!"


Ketika hitungan ke dua, mereka semua mulai mengangkat tangan mereka, lalu bertiarap di body mobil.


Begitu mereka menyerah, puluhan anggota kepolisian segera membekuk mereka dan mulai memborgol satu persatu dari anggota geng Tengkorak yang terlibat melakukan pembunuhan tadi.


"Komandan. Misi berhasil. Harap untuk mengirim armada!"


"Di copy!"


Sekitar tiga puluh menit, dua unit mobil tahanan yang memiliki kerangkeng pun tiba di kawasan tersebut. Akan tetapi, sebelum mereka tiba, para wartawan telah terlebih dahulu meliput kejadian tadi.


Kontan saja berita tentang pembunuhan dan penangkapan oleh pihak kepolisian kota batu yang bekerjasama dengan kepolisian kota Tasik Putri itu menjadi trending topik di setiap platform media.


Masyarakat kini mulai memuji kinerja anggota kepolisian yang sigap dan tanggap dalam memberantas premanisme.


Kini, para tahanan langsung dimasukkan ke dalam mobil setelah beberapa orang yang terluka tadi, mendapatkan perawatan medis. Untuk selanjutnya, akan segera di interogasi. Jika benar mereka adalah anggota dari geng Tengkorak, maka sudah pasti mereka akan di buru.


Bersambung...