
Segerombolan lelaki berjas tampak ngos-ngosan mendorong Vespa butut yang ditunggangi oleh pemuda dekil.
Kalau ada orang luar yang melihat, maka, ini pasti akan menjadi pemandangan yang sangat membagongkan sekaligus membingungkan.
Tidak ada yang tidak mengenal Tigor bersama dengan Empat Mister Dadakan. Tidak juga bagi Ucok, Jabat, Sugeng dan Thomas. Terlebih lagi di sana juga ada Roger. Sungguh pemandangan yang memprihatinkan.
Bagaimana bisa mereka rela mandi keringat mendorong sepeda motor Vespa butut yang ditunggangi oleh seorang bocah tengik yang sangat dekil tersebut secara bergantian.
"Ayo Paman! Dikit lagi ini!" Teriak pemuda itu sambil sesekali menoleh kebelakang.
"Masukkan gear satu!"
"Masoooook!" Jerit Ucok dengan kesal.
"Iya. Ayo lebih kencang lagi!" Pekik pemuda itu sambil menoleh kebelakang.
Ngeeng!
Ngeeeeeeng....!
Gubrak!
Grusak!
"Aduuuuh!" Pekik pemuda itu sambil nyungsep di bawah pohon yang terdapat di pembatas jalan.
Entah bagaimana ceritanya, begitu dia memasukkan gear satu tadi, tiba-tiba Vespa butut itu mengaung dan melompat hingga menabrak pembatas jalan membuat si penunggang mencelat dan langsung nyungsep di bawah pohon tepat di tengah-tengah pembatas jalan. Beruntung tidak ada mobil yang lewat. Jika tidak, kemungkinan besar pemuda itu akan tinggal nama.
"Heh. Joeeee!" Pekik Tigor seraya berlari ke arah pemuda yang nyungsep nyerangsang di bawah pohon seukuran betis orang dewasa itu.
Jika melihat kejadian tadi, pemuda itu layaknya seperti Superman yang gagal mendarat dengan benar. Bisa dipastikan bahwa banyak tulang yang patah. Karena seperti orang yang menanggung kerinduan yang teramat sangat, dia tadi menerkam pohon itu sebelum jauh terbanting.
"Aduh Paman! Apakah ini yang dinamakan kualat?" Kata Pemuda itu meringis kesakitan.
Beberapa bagian pada tubuhnya tergores batu kerikil walaupun tidak ada tulangnya yang patah.
"Anak ini benar-benar liat sekali. Jatuh seperti itu, dia masih bisa bangun dan cengengesan!" Bisik Ucok ke telinga Jabat.
"Kualat itu namanya. Kau mengerjai orang tua. Sekarang, rasakan penderitaan yang haqiqi. Benjut kening mu kan?!" Kata Tigor sambil berkacak pinggang. Dia tadi sempat ketakutan juga melihat gaya Superman yang gagal mendarat itu. Tapi, begitu melihat bahwa pemuda itu tidak mengalami cedera yang berarti, akhirnya dia lega dan malah bisa mengejek pemuda itu.
"Ambulance, Paman! Panggil Ambulance!" Kata pemuda itu sambil kesulitan untuk menoel hidungnya.
"Sini aku bantu menoel hidungmu itu!" Kata Tigor. Lalu, enak saja dia menoel hidung pemuda itu dengan penuh geram.
"Aku akan memanggil Ambulance!" Kata Ucok sambil tertawa.
"Hahaha. Aku becanda, Paman! Aku akan mengobati luka ku sendiri. Vespa ku itu tolong dimuseumkan! Aku sudah cukup menderita karenanya. Benar kata Namora dan Tiara. Tidak ada beban, batu digalas."
Pemuda itu kini segera melangkah. Melemparkan helm kura-kura miliknya di aspal dengan geram, lalu mengusap-usap bekas luka di siku tangannya, lutut dan beberapa bagian lainnya.
Dia segera merogoh ke saku celananya dan tampak kebingungan.
Tigor yang melihat langsung bertanya. "Apa yang anda cari, Ketua?"
"Uang ongkos taksi! Aku akan kembali dan akan mengobati luka-luka ku ini. Mungkin akan meminta bantuan kepada Tiara. Hehehe. Lama juga kami saling menjaga jarak," kata pemuda itu.
"Saya yang akan mengabari Tiara. Anda pulang saja segera ke Apartemen. Jika tidak ingin kami antar, saya akan memanggilkan Taksi!" Kata Ameng pula yang segera melambaikan tangannya ketika dia melihat ada taksi yang lewat.
*********
Berita tentang Joe yang menabrak pembatas jalan dan jatuh nyungsep di bawah pohon ternyata sampai juga ke telinga Xenita Patrik dan Talia Gordon.
Maka, mereka berdua segera mengambil inisiatif untuk mengunjungi apartemen milik Joe untuk sekedar melihat keadaannya, kalau-kalau ada yang bisa mereka lakukan untuk membantu pemuda tampan namun tertutup oleh penampilan dekilnya.
Ting tong!
"Masuk!" Kata Joe yang segera berpura-pura mengerang kesakitan sambil berbaring sedikit menggigil.
"Kau tidak apa-apa kak?"
"Ah. Sialan. Mengapa mereka yang datang?" Kutuk Joe dalam hati.
"Mengapa bisa begini kak?" Tanya Talia yang langsung duduk di sisi tempat tidur milik Joe.
"Tadi aku menabrak pembatas jalan. Ya beginilah jadinya," kata Joe sambil memaksakan dirinya untuk seramah mungkin.
"Sini aku bantu!" Kata Talia yang langsung mengambil obat dan kapas dan langsung membantu Joe untuk membalut lukanya.
Ketika mereka sedang sibuk bergotong-royong membantu membersihkan luka-luka di tangan Joe, tiba-tiba pintu ruangan itu di buka dengan suara seseorang yang sangat dikenal oleh Joe berseru memanggil namanya.
"Joe. Aku datang!"
Brugh!
Terdengar suara sesuatu terbanting di lantai.
Pucat Pasih wajah Joe melihat seorang gadis berdiri mematung di depan pintu.
Di lantai tampak beberapa buah-buahan berserakan. Mungkin suara itu lah tadi yang terdengar jatuh ke lantai.
"Tiara!" Seru Joe yang langsung bangkit.
Xenita Patrik hanya bisa menarik nafas dalam.
Sesuatu yang ada dalam fikirannya saat ini adalah, pasti kedua orang ini akan bertengkar.
"Maaf. Aku datang tidak pada waktu yang tepat!" Kata Tiara yang langsung membalikkan badannya menuju ke luar.
"Tiara, tunggu!" Pinta Joe yang langsung mengejar gadis itu.
"Sudah ada yang merawat mu. Berarti, aku sudah tidak dibutuhkan lagi!" Kata gadis itu begitu Joe berhasil menahan gadis itu untuk pergi.
Kelu lidah Joe. Dia sama sekali tidak tau harus bicara apa. Semua kata-katanya terbang sampai ke Starhill dan ketika ingin kembali, tidak ada ongkos.
Saat ini yang bisa dia lakukan hanya garu-garu kepala.
"Kau menjauhi ku dengan alasan agar aku tidak celaka ditangan musuh-musuh mu. Ok! Aku bisa menerima. Tapi, apa alasan mu dekat dengan kedua gadis itu? Apa kau ingin mencelakakan mereka? Aku ingin satu alasan yang masuk akal dari mu!" Walaupun suara Tiara terdengar sangat lembut, tapi ada kedinginan di nada bicara itu. Hal ini yang membuat Joe tidak mampu berkata-kata.
Ini untuk pertama kalinya dalam hidup Joe harus mati kutu dalam menghadapi suatu masalah. Dan peliknya, masalah itu datang dari seorang gadis yang sedang cemburu.
"Aku minta maaf, Tiara. Aku tidak tau bahwa mereka akan datang. Aku memang meminta kepada Paman Ameng untuk memberitahu dirimu. Tapi, sudah jadi begini. Apa aku harus mengusir mereka?" Tanya Joe yang berusaha meminta pengertian dari gadis yang berada di depannya itu.
"Hahaha. Apakah ini pertama kalinya mereka datang ke Apartemen mu ini?" Tanya Tiara dengan tatapan tajam.
Semakin mati kutu Joe untuk menjawab pertanyaan yang penuh dengan jebakan itu.
"Jadi lelaki itu harus punya prinsip! Jika kau tidak menginginkan aku celaka, dan kau memilih menjauhi ku, seharusnya kau juga berbuat yang sama kepada orang lain. Atau, kau memang sengaja meminta kita untuk berjauhan agar bisa dekat dengan siapa saja? Bagaimana jika itu aku? Apakah boleh jika aku dekat dengan lelaki lain?"
"Aku bunuh lelaki itu!" Bentak Joe dengan nada tinggi.
Tiara terlonjak mendengar bentakan itu.
"Enak ya jadi lelaki. Bisa egois. Bisa semau nya," kata Tiara. Dia langsung melangkah meninggalkan Joe yang tampak menyesal karena telah membentak gadisnya tadi. Ini pertama kali dia membentak kekasihnya itu.
Tiba di dalam ruangan dimana tadi dia bersama dengan Xenita Patrik dan Talia Gordon, Joe sama sekali tidak bersemangat lagi. Bahkan dia hanya diam dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menutupi dirinya dengan selimut.
"Dia cemburu kak?" Tanya Xenita.
"Begitulah!" Jawab Joe singkat.
"Mengapa tidak kau kejar?" Tanya gadis itu lagi.
"Apa kau kira ini drama Korea?"
"Maafkan kami. Kami lah yang sebenarnya datang tidak tepat waktu!" Ujar Xenita lagi. Sementara Talia sama sekali tidak berbicara.
Bersambung...
Berusaha lah berkomentar dengan baik. Jika tidak suka dengan novel karya ku, silahkan cari bacaan yang lain. Jangan menjadi pembaca yang kurang bijak dalam memilih bacaan!